selasar-loader

Kemajuan Teknologi Tiongkok Semakin Pesat

LINE it!
Dasman Djamaluddin
Dasman Djamaluddin
Biographer, Journalist and Historian. Saya lahir di Jambi, 22 September 1955.
Journal Oct 23, 2017

D-PNrJ5vyzc-6adu0AXxPG3jZKKc31T_.jpg

Stasiun ruang angkasa China.

Hari Selasa, 28 Maret 2017, Nurman Diah, anak almarhum B.M. Diah mengirim naskah dari seorang temannya berinisial EJB. Tulisan itu sangat menarik, berbicara mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Republik Rakyat China.

Menurut tulisan itu, dunia terkejut ketika Lenovo yang dikomandani para alumni China Academic of Science (CAS) mengambil alih raksasa komputer dari Amerika Serikat (AS), IBM.

Dunia pun semakin terkejut ketika China mampu menciptakan processor lebih hebat dari Intel, sehingga China mandiri menghasilkan produk berkelas dunia. Semua ini lahir dari dapur China Academic of Science.

Sejauh ini, China memiliki 17 juta mahasiswa yang mayoritas mengambil bidang sains dan teknik. Setiap tahun China menghasilkan tidak kurang dari 325.000 insinyur. Setiap tahun, China membelanjakan 60 miliar dollar AS untuk penelitian dan pengembangan.

Untuk saat sekarang, penekanan dalam laboratorium-laboratorium China diarahkan secara besar-besaran mendukung inovasi kaum usahawan menghasilkan produk yang berkualitas dan murah. Hal ini merubah peradaban lebih baik bagi bangsanya.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, Republik Rakyat China memproklamirkan kemerdekaannya pada 1 Oktober 1949. Usia negaranya lebih muda dari Indonesia.

Tetapi kemajuan yang dicapai di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terbendung. Lihatlah misalnya di bidang teknologi ruang angkasa. China segera memiliki stasiun ruang angkasa sendiri. Mulai dibangun tahun 2018.

Menurut Wang Zhongyang, juru bicara ruang angkasa China sebagaimana dikutip laman BBC dari Kantor Berita Xinhua, "Jika Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) pensiun pada tahun 2024, maka China akan menjadi satu-satunya pihak yang mengoperasikan ruang angksa."

Di majalah Diplomat Indonesia, edisi 5 Oktober 2009 halaman 168-179, saya sudah menulis keunggulan China di bidang ilmu pengetahuan dan teknoligi. Ketika saya menulis profil Duta Besar China untuk Indonesia yang kebetulan seorang perempuan, Yang Mulia Zhang Qiyue, saya mengutip pernyataan Deng Xiaoping pada tahun 1978.

Ia mengatakan, bila China ingin memodernisasi pertanian, industri, dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dahulu adalah sains dan teknologi, serta menjadikannya kekuatan produktif.

Deng Xiaping adalah pemimpin tertinggi Republik Rakyat China generasi kedua setelah Mao Zedong. Deng meninggal dunia pada 19 Februari 1997 di usia 92 tahun. Di bawah arahannya, China menjadi salah satu negara dengan laju pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Di masa Deng, China sangat akrab dengan ilmu pengerahuan dan teknologi. Guru dan kaum profesional sangat dihargai, bahkan di tahun 1985, Deng mempertegas pentingnya pendidikan karakter. Orientasi hafalan hanya akan membunuh karakter anak.

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi China ini diumum Deng ketika memperingati hari nasional ke-60 pada 1 Oktober 2009. Prestasi yang dicapai waktu itu, selesainya peta seluruh permukaan bulan tiga dimensi (3-D) bersolusi tinggi.

Juga China bertekad akan terus mengembangkan program luar angkasa guna mengurangi kesenjangan dengan negara-negara Barat. Dengan demikian, China sudah sejajar dengan Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan India yang juga melakukan pemetaan bulan.

Tidak hanya itu, setelah mengirimkan orang pertama ke luar angkasa pada tahun 2003, China berambisi pula meluncurkan penjelajah tanpa awak ke permukaan bulan pada tahun 2012 dan misi berawak ke bulan sekitar tahun 2020.

Di Indonesia, di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, China membangun jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang sudag diresmikan pemakaiannya.Selain di Suramadu, para investor China membangun Proyek Asahan l dan Proyek PLTA Asahan lll di Sumatera Utara. Semua ini menunjukkan kemajuan China.

Tulisan ini telah dimuat diĀ kompasiana.com

Sumber gambar: Penulis

897 Views
Sponsored

Author Overview


Dasman Djamaluddin
Biographer, Journalist and Historian. Saya lahir di Jambi, 22 September 1955.