selasar-loader

Seandainya Bapakku Mau Korupsi

LINE it!
Wanda Ponika
Wanda Ponika
Blogger
Journal Oct 9, 2017

zWgjoZmCSWgwbjLURqCBHmHhUs2TpZUx.jpg

Pak, waktu bapak seenaknya borong
bus bikinan Eropa untuk Trans Jakarta,
Waktu bapak seenaknya bikin jalan
Tol lingkar Semanggi,
Aku mikir... bapakku royal sekali ya?

Waktu bapak seenaknya bikin rusun dengan semua fasilitasnya
Taman bermain, bus gratis, sekolah gratis, pakai dokter jaga pula,
Ala apartemen orang gedongan.
Aku mikir... emang bapak dapat uang dari mana?

Waktu bapak dengan gahar menutup Kalijodo untuk bikin RPTRA,
Gambarnya keren sekali.
Desainnya sombong, sesombong Ahok.
Aku mikir... Yakin uangnya cukup?

Apa lagi waktu ingin buat 
Rumah Sakit Kanker di Sumber Waras.
Dilengkapi apartemen
Untuk tinggal dan menghibur orang-orang yang stadium akhir.
Aku mikir.. si bapak ini sok sekali.
Cita-cita menembus awan,
Cari uang di mana dia?

Bikin pasukan pelangi.
Merah, biru, ungu,
Dan yang paling fenomenal si oranye itu.
Gaji dan fasilitas besar.
Aku mikir... astaga sok kaya sekali bapak yang satu ini.

Tapi semuanya berjalan baik,
Beneran jadi...keren pula.
Ternyata biarpun songong, 
dia memang tidak omong kosong.
Aku mulai mikir,
DKI ini uangnya banyak.

Selama ini apa yang terjadi?
Mengapa kotanya kotor,
Warganya seperti gembel,
Semua fasilitas jelek bikin ngedumel.

Berarti bapakku ini kerjanya benar,
Uang dipakai untuk kesejahteraan warga.
Berarti omongannya tentang mewujudkan keadilan sosial,
Bukan retorika semata,
Bukan lip service.

Seandainya bapakku mau korupsi,
Banyak sekali uang yang bisa ia dapat, dan dia pasti sudah kaya.
Seandainya bapakku mau korupsi,
Pasti dia tidak dimusuhin.
Seandainya bapakku mau korupsi,
Pasti tidak akan ada fitnah untuknya.
Seandainya bapakku mau korupsi,
Pasti semua dukung dia,
Kalau bisa jadi gubernur selamanya.

Tapi syukurlah,
Bapakku imannya kuat.
Dia berani dimusuhin orang, 
Dia berani kehilangan jabatannya,
Dia berani kehilangan kebebasannya.

Bolak-balik diperiksa KPK,
Syukurlah dia tidak pernah berakhir dengan pakai rompi oranye.

Kena kasus keseleo lidah,
Tidak dipanggil malah dateng sendiri ke kantor polisi.
Sidang tidak pernah absen,
Tidak pura-pura sakit maag atau diare.
Giliran vonis yang menyakitkan pun,
Dia membungkuk hormat ke hakim.

Dia di rutan, Ahoker menggila .
Menjerit, menangis dalam demo.
Dia malah ambil mikrofon,
Dari dalam rutan dia berseru,
Menenangkan para pendemo.

Astaga...
Terbuat dari apa hatinya?
Sekuat apa pikirannya?

Apa kami harus menyesal punya bapak seperti itu?
Apa kami harus menyesal mendukung dia?
Apa kami harus malu mengakuinya sebagai bapak kami?

Dia memang bukan dewa,
Dia tidak sempurna,
Banyak salahnya.
Banyak membuat orang marah,
Tapi dia tidak mau janji palsu,
Dia anti pencitraan.

Sekarang bapak kami ada di tahanan,
Nasibnya masih terombang-ambing.
Kami terus berdoa dan berjuang,
Kami masih menyayanginya,
Kami masih bangga padanya,
Dan akan selamanya begitu.

Tapi kami tidak khawatir sama bapak,
Bapak pasti baik-baik di sana,
Bapak tidak cengeng, bapak tidak cemen.
Karena bapak imannya kuat,
Selalu curhat dengan Tuhan.

Seandainya bapakku mau korupsi,
Pasti jadinya tidak begini.
Tapi syukurlah bapak tidak korupsi,
Walau harus dibalik jeruji.

We'll always stand by you, bapak.

Sumber gambar: kompasiana.com

577 Views

Author Overview


More Journal from Wanda Ponika


Rindu Pak Anies yang Dulu
2 years ago