selasar-loader

PCC, Pil X, dan Fenomena Penyalahgunaan Obat Ilegal

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal Oct 4, 2017

CpQwmA9f8lXYSsvtth8BMv7jpNHGzbmX.jpg

Beberapa waktu yang lalu, publik digemparkan dengan pesan viral di berbagai grup sosial media berupa kabar sekelompok remaja mengalami kejang-kejang, halusinasi, bahkan beberapa diantaranya meninggal dunia.

Pesan berantai tersebut seolah tak terbendung, apalagi video remaja yang mengalami efek penggunaan obat tersebut juga beredar, hingga menarik perhatian media-media mainstream dan seketika menjadi isu nasional.

Jika kita cermati, reaksi yang terjadi dari masyarakat kita baik aparatur pemerintah maupun kelompok masyarakat biasa, cenderung panik dan reaktif, apalagi jika ada bumbu dalam pesan berantai tersebut dengan mengganti nama rumah sakit, lokasi, dan tanggal. Berita viral yang demikian, juga rentan untuk diikuti berita bohong lain (hoax) seperti kabar di Ambarawa yang mengatakan ada permen yang mengandung PCC. Sebetulnya penyalahgunaan obat-obat resep telah banyak terjadi, namun tak banyak orang menaruh perhatian, sebagaimana PCC, penyalahgunaan obat dengan komponen paracetamol-carisprodol-caffein telah lama terjadi, yaitu penyalahgunaan obat dengan merek dagang Somadril. Begitu juga dengan Pil X yang mengandung obat psikiatri Chlorpromazine dan Trihexyphenidyl, atau obat-obat resep lain, sebutlah carnophen (dijalanan dikenal dengan istilah zenith), dextrometorphan, tramadol, obat-obat golongan benzodiazepine seperti alprazolam, trihexyphenidyl (THP, Hexymer) sudah demikian lama terjadi.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa obat-obat tersebut bisa diakses demikian mudah?, padahal banyak diantaranya merupakan obat-obatan yang harus diberikan dengan pengawasan atau resep dokter. Ada beberapa hal yang barangkali menjadi penyebabnya, yaitu:

1. Kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai obat-obatan.

Banyak masyarakat yang tidak paham mengenai obat-obat mana yang dapat dibeli bebas, mana yang harus dengan resep dokter, bagaimana menyimpan obat, bagaimana memusnahkan obat sisa atau yang sudah kadaluwarsa, apa itu penyalahgunaan obat-obatan (tidak tepat indikasi, dosis, cara pakai, cara mendapatkan).

2. Kebiasaan masyarakat membeli obat sembarangan

Fenomena ini banyak terjadi, tak hanya di kota kecil namun juga kota besar. Kecenderungan masyarakat beranggapan bahwa semua obat bisa dibeli dengan bebas, dan enggan untuk memeriksakan diri ke dokter dengan berbagai macam alasan, mereka lebih suka berkonsultasi dengan penjaga toko obat yang sering kali tidak mempunyai latar belakang untuk mendiagnosis, memahami patofisiologi penyakit, dan bagaimana memberikan terapi.

3. Petugas kesehatan yang nakal

Tak dipungkiri, ada saja oknum petugas kesehatan, baik tenaga medis, paramedis, maupun petugas apotek yang nakal dan memberi kemudahan kepada mereka yang mengalami kecanduan obat-obat resep untuk mendapat apa yang mereka inginkan. Beberapa kali di media massa terekam penangkapan oknum-oknum yang nakal ini.

4. Aparatur hukum dan terkait yang tidak tanggap

Tidak semua anggota masyarakat tidak mengetahui fenemona penyalahgunaan obat-obatan ini, beberapa kelompok masyarakat sebetulnya tahu dan paham bagaimana obat-obatan tersebut bisa beredar, dan siapa yang menjual, namun ketika mereka melaporkan hal tersebut, jarang ada tanggapan dari aparatur terkait, sehingga menjadikan masyarakat apatis, dan tidak mau berperan aktif.

5. Masih adanya apotek atau toko obat yang tidak resmi.

Toko obat jalanan atau yang tidak resmi membuat sistem pengawasan tidak berjalan dengan baik, hal yang sama terjadi dengan fenomena obat-obatan yang dipasarkan melalui media daring atau media sosial, pengawasan akan menjadi lebih sulit.

Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan ini perlu suatu upaya yang komprehensif, tak hanya dari sisi peredaran atau penanganan dampak yang terjadi, namun juga upaya promotif dan preventif haruslah digalakkan. Masyarakat juga perlu diedukasi mengenai obat dan fenomena penyalahgunaan obat agar timbul suatu pemahaman yang baik. Edukasi ini meliputi pemahaman tentang obat-obat mana saja yang dapat dibeli tanpa resep dokter, bagaimana cara meminum obat, bagaimana menyimpan obat termasuk apa yang harus dilakukan jika menemukan obat-obatan yang tidak jelas asal usulnya.

Selain itu perlu ada suatu lembaga di mana masyarakat dapat melapor jika menemukan obat-obat yang mencurigakan, atau ada sisa obat dan tidak tahu bagaimana cara memusnahkannya, tak perlu dengan lembaga baru, bangsa ini dapat memanfaatkan lembaga yang sudah ada semisal Badan POM dan jajarannya. Belajar dari Belanda, masyarakat di Belanda dapat mengirimkan sampel obat-obat (terutama yang mengandung efek psikoaktif atau narkoba) kepada Trimbos Institute untuk dianalisis lebih lanjut, dan hasilnya dapat dilihat di kanal media daring lembaga tersebut. Tentu ada keuntungan yang bisa didapat, dari segi lembaga, mereka akan mengetahui obat-obat apa saja yang beredar di jalanan, komposisinya, dan lain sebagainya, yang dapat digunakan sebagai basis data untuk menyusun kebijakan selanjutnya.

Kita juga perlu belajar dari Amerika Serikat yang sedang mengalami epidemi penyalahgunaan obat narkotik (opioid) dan memaksa mereka  membuat sistem untuk mengembalikan obat-obat sisa (khususnya obat-obat narkotik) dan edukasi bagaimana memusnahkan obat yang tidak terpakai lagi. Hal ini penting untuk mencegah obat kadaluwarsa beredar kembali dengan mengganti kemasan, atau tanggal kadaluwarsa, menghindari intoksikasi yang tidak sengaja (semisal anak-anak yang tak sengaja meminum obat sisa orang tuanya).

Penegakkan hukum yang konsisten atas pelanggaran yang terjadi juga merupakan kunci yang harus dijaga. Kepercayaan masyarakat akan luntur jika penegak hukumnya tidak konsisten atau gampang diimingi suap. Fenomena “pembiaran” akan membuat masyarakat mempunyai persepsi negatif dan cenderung apatis. Selain itu, Penegak hukum dan aparat terkait juga harus diberikan sesuatu pengetahuan dan pemahaman mengenai penyalahgunaan obat-obat resep ini supaya dapat mengambil tindakan proporsional.

Pengawasan terhadap dunia maya merupakan salah satu hal penting saat ini, khususnya Online Shop yang menjual obat-obatan secara ilegal, atau akun sosial media yang berjualan obat-obat resep dengan tanpa hak. Tentu tidak mudah ketika melakukannya, namun perubahan zaman juga merubah cara berinteraksi, termasuk di dalamnya soal interaksi terhadap obat yang menjadi semakin mudah mendapatkannya. Situs-situs underground di dark web, seperti Silk Road akan membuat proses jual beli ini lebih sulit terlacak, terlebih transaksi juga sering dilakukan menggunakan BitCoin.

Pada akhirnya keputusan apakah akan menyalahgunakan obat-obat resep dan ilegal berasal dari kemauan individu, sehingga penguatan individu supaya dapat berpikir dan bersikap kritis, memikirkan untung rugi, dan sikap menolak dengan baik sehingga tidak menyakiti orang lain, harus menjadi perhatian bersama-sama, terutama dari segi pengasuhan.

***

Sumber foto: Liputan6.com

 

265 Views