selasar-loader

Transportasi Umum dan Superioritas Motor

LINE it!
Rinhardi Aldo
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta
Journal Sep 8, 2017

http://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/20140115_232024_ribuan-motor-bikin-macet-jakarta.jpg

Belakangan ini sedang heboh aturan soal dilarangnya motor masuk ke jalan protokol ibu kota, yang ditanggapi pro dan kontra oleh berbagai kalangan masyarakat. Tentu, ini sangatlah wajar mengingat pengguna motor di ibu kota sudah sangatlah banyak.

Bagi kebanyakan pemotor, aturan ini sangatlah “tidak adil sejak dari pikiran” dan “perlu win-win solution” sambil ada yang membeberkan sekian ratus data yang berkesimpulan bahwa “motor itu ‘bersih’ daripada mobil”. Bahkan, di Facebook, Pak Dandhy Dwi Laksono menyebut kebijakan ini sebagai kebijakan bias kelas. Hmm, serem juga.

Saya toh memang tak paham soal perdebatan kelas menengah, kelas bawah, kelas atas, dan kelas papan cucian yang pada akhirnya menuntut saya yang jongos ini untuk mengeksplor lagi perdebatan-perdebatan tersebut secara akademis. Namun, saya merasa bahwa kebijakan ini sebenarnya cukup sia-sia (untungnya, kabar terbaru bilang kalau kebijakan ini ditunda). Oke, di poin ini saya masihlah sependapat.

Namun, titik berat saya bukan soal masalah solidaritas ataupun “penzaliman” oleh pemerintah yang katanya masih bias kelas. Saya menulis ini sebagai pengguna angkutan umum sehari-hari dan pengguna motor secara minimal yang umumnya saya gunakan ketika saya pulang.

Saat tulisan ini dibuat, saya sehari-hari naik bus Transjakarta, di koridor yang sekarang ini di ujung jalurnya kena dua proyek sekaligus: underpass dan MRT. Koridor di mana orang-orang perlente kelas menengah tinggal di perumahan kiri kanan jalur yang dilewatinya. Koridor yang juga ada beberapa pusat perbelanjaan terkenal yang sering dituding bikin macet. Betul, di koridor 8.

Keluhan-keluhan umum yang masyarakat rasakan soal transportasi umum juga saya rasakan. Ketika saya akan berangkat dan pulang, lebih pasti saya menunggu dalam waktu sekian menit hanya demi satu bus. Kadang-kadang, di jam sibuk pun saya bisa menunggu lebih lama lagi dan ternyata busnya penuh.

Saya baru bisa naik bus kedua atau ketiga. Padahal, headway antarbus bisa lama. Jika bus A perlu empat menit untuk menuju halte saya, maka bus B bisa sebelas menit. Kadang, bisa lebih lama lagi. Bus A perlu delapan menit, bus B perlu 21 menit. Ini artinya, bus B itu masih ada di sekitaran Lebak Bulus. Wah?

Mungkin kita bisa bilang: tambah saja jumlah busnya. Tentu, Transjakarta sudah mengekspansi jumlah busnya. Kenaikan yang cukup signifikan berdasarkan data mereka sendiri, di mana pada tahun 2015 sejumlah 605 bus menjadi 1.347 bus di tahun kemarin dan akhir tahun ini ditargetkan jadi 2.590 bus.

Namun, yang saya rasa memang bukan hanya persoalan jumlah busnya yang bikin ribet untuk melayani lebih dari 10 juta penumpang per bulan. Percuma saja jumlah busnya dinaikan kalau jalurnya tak steril, misalnya, yang membuat bus jadi sama-sama terjebak kemacetan. Jadi, kelihatan tak ada bedanya dengan bus Kopaja, Metromini, atau angkot KWK yang kini kelihatan sepi sejak dihajar bleh oleh transportasi online.

Saya bilang, jalurnya tak steril. Perdebatan lanjut dengan kenapa orang melanggar, yang notabene kebanyakan motor yang melanggar, meskipun mobil-mobil orang perlente juga banyak yang melanggar. Ada yang bilang, “Jangan minum obat diare kalau sakitnya migren”. Betul, memang jangan salah “minum obat”.

Namun, pertanyaan sebenarnya lebih dalam dari itu. Bagaimana caranya agar kita tak sampai harus “minum obat”? Alias, preventifnya bagaimana? Mosok iya kita misuh-misuh habis kena celaka dulu baru preventif?

Bagaimanapun juga, sebagai pengguna bus Transjakarta, saya melihat berbagai upaya dilakukan untuk menghalau pemotor dan pemobil nekat yang tak mau terjebak kemacetan panjang, seperti dengan menerapkan sistem buka tutup portal, dimana ada petugas jaga yang membuka portal ketika ada bus datang dan menutup kembali ketika bus sudah masuk. Namun, efektivitasnya jelas dipertanyakan. Nggak mungkin dong ah, petugasnya nongkrong terus, padahal layanan Transjakarta 24 jam. Selain itu, tak semua jalur kena portal ini dan tentu saja tak semua jalur yang dilewati bus ini ada jalur tersendiri karena satu dan lain hal.

Apa perlu pakai cara-cara nyentrik ala KRL Jabodetabek untuk menghalau para penumpang ilegal di atas atap, dari bola besi, disiram cat ke baju para penumpang sampai undang ustaz segala? Apa perlu pakai trik hujan buatan hanya di jalur Transjakarta, untuk menghalau pengguna jalan lain masuk ke jalurnya?

Maka, perlu cara yang efektivitasnya tingkat tinggi. KRL Jabodetabek akhirnya menghapus beberapa kelas KRL menjadi hanya 1 kelas saja. Salah satu alasannya adalah karena penumpang tak mau naik di atas kereta KRL yang ada mesin AC alias mesin pendingin ruangan, yang justru berhawa panas. “Belakang” bisa panas, Jon. Selain itu, sistem e-ticketing yang dibuat KRL juga “menghalau” tindakan nekat penumpang yang maunya gratisan.

“Ya, tapi itu kan di kereta, masih lebih mudah mencari solusinya, karena jalurnya lebih steril.” Memang betul, kasusnya lebih berat bebannya di Transjakarta. Itu karena hadapan bus ini adalah serangkaian angkot-Kopaja-Metromini yang sampai hari ini masih sebagian bobrok, tukang ngetem sembarangan, dan kalau kata Pak Rhenald Kasali, belum menerapkan distruption dan teknologi ala-ala transportasi online, serta menghadapi berjuta-juta mobil dan motor yang saling bertarung keras, padahal kita tak tahu mobil dan motor ini hasil cicilan atau cash keras, tetapi kita sudah men-judge bahwa pengguna mobil perlente dan motor orang kere.

Oleh karena itu, memang mendorong perbaikan dan penggunaan angkutan umum lebih penting. Perbaikan sarana prasarana serta soal kehandalan angkutan dan jarak headway antarbus, bukan hanya soal tepat waktu yang kelihatannya relatif menurut orangnya masing-masing, memang harus dilakukan. Mengajak angkot dan bus Kopaja-Metromini dalam satu integrasi Transjakarta mungkin bisa juga jadi solusi untuk pembenahan angkutan umum ibu kota.

Namun, superioritas pemotor “lebih bersih” dan “mobil menghabiskan space” yang lebih banyak inilah yang membuat saya masih ragu: mungkinkah mendorong penggunaan angkutan umum akan menjadi solusi efektif? Jangan-jangan, logikanya akan berubah jadi bus Transjakarta menghabiskan space yang lebih banyak daripada mobil dan motor.

Jika demikian, lagi-lagi motor yang jadi “juaranya” dan keberadaan Transjakarta akan percuma hanya karena berusaha membangun logika atas ketidakpuasan masyarakat terhadap layanan mereka. Kalau begini, selalu ada alasan wajar buat tetap naik motor dan menyuburkan kredit motor yang kian tak terkendali.

Sumber gambar: Tribunnews.com

536 Views