selasar-loader

Kemanusiaan yang Tersesat

LINE it!
Andrian Habibi
Andrian Habibi
Hidup dengan menulis karena menulis memberikan kehidupan
Journal Sep 2, 2017

8d3WXIR8FDdFGnx9vzm6kpE1PCRcmG1x.jpg

Tulisan ini saya tulis untuk melanjutkan opini “Rohingya, Ujian Kemanusiaan Manusia”. Dalam tulisan awal, tergambar kisah pergolakan batin sebagai fokus bahwa manusia memiliki kemanusiaan tanpa harus mencari-cari teori tentang manusia dan kemanusiaan. Karena sejak dilahirkan, manusia langsung berada di ruang sosial sehingga kemanusiaan manusia lain mengajari manusia baru tentang manusia dan kemanusiaannya.

Kegalauan saya tentang manusia dan kemanusiaan hadir dalam tulisan dengan alasan bahwa manusia secara fitrah memiliki hak yang melekat sebagai manusia yang harus dipenuhi oleh manusia lain yang terlebih dahulu lahir karena proses (siklus) kemanusiaan.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, rasanya penting untuk mengatakan kepada pembaca bahwa saya sedang dalam perjalanan Bandung – Jakarta. Dengan menempuh jalur kecil diperbukitan nan indah dengan signal internet yang lemah. Sehingga saya tidak tidak tahu, apakah tulisan ini bisa memuaskan kehausan pembaca atas wacana yang memiliki dalil teori atau data informasi yang terkonfirmasi.

Selain itu, saya lebih sering menuliskan apa yang terfikirkan, karena sejak awal belajar menulis, saya diajarkan menuliskan pendapat/pemikiran sendiri. Jadi, tulisan yang pembaca nikmati ini adalah coretan kegalauan selama perjalanan dan kelanjutan tulisan sebelumnya.

Biasa Mengabaikan Kemanusiaan
Kembali membahas soal kemanusiaan, bahwa sepanjang yang saya pahami, kemanusiaan adalah nilai-nilai dari kebaikan manusia atau sifat manusia. Bisa saja pernyataan ini salah secara teori, tetapi tidak begitu penting untuk diperdebatkan selama pembaca memahami maksud yang saya sampaikan. Karena membaca dan menilai juga sifatnya manusia untuk memperbaiki manusia lain.

Manusia, menurut saya, yang terbiasa meninggalkan kemanusiaannya karena kerasnya perjuangan pribadi mengarungi bahtera kehidupan atau akibat terbiasa menyepelehkan informasi kemanusiaan baik di berita maupun kisah kemanusiaan di media sosial. Sehingga, saat manusia yang lain membutuhkan manusia lain atas nama kemanusiaan, manusia itu bisa saja lengah tanpa sadar.

Akibatnya, manusia kehilangan kemanusiaannya secara perlahan-lahan. Seandainya ada kejadian yang membutuhkaan judul “kemanusiaan”, tanpa berniat menghakimi para manusia selain manusia yang sedang menulis opini, karena manusia ini pun masih belajar menjadi manusia yang kehilangan kemanusiaannya, kita sering lengah atau terlambat menjadi manusia dengan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, proses pembiasaan menilai dan membaca kehidupan melalui kacamata pribadi yang menjalani kehidupannya terkadang meninggalkan kemanusiaan secara sosial. Atau kritik yang terbangun dari proses menilai dan terus menilai juga berakhir menciptakan manusia personal bukan manusia sosial.

Apabila kita membaca peristiwa kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, Rohingya sejak akhir tahun 2016 sampai beberapa hari terakhir. Bisa dikatakan prilaku yang tidak berprikemanusiaan secara sah terjadi. Meskipun situasi bisa saja tidak seburuk foto “hoax” yang sengaja disebar atau lebaynya pembela kemanusiaan di media sosial. Tetap saja, kepergian penduduk Rakhine (Rohingya) adalah bukti bahwa terjadi peristiwa hilangnya kemanusiaan di Negara Myammar.

Gelombang eksodus manusia-manusia Rakhine, Rohingya, mencoba mengusik manusia se-dunia dengan kalimat tak terucap “wahai manusia yang ada diseluruh penjuru dunia, kami para perantau yang terpaksa dan dipaksa meninggalkan kampung halaman di Rohingya juga manusia sebagaimana manusia yang mengusir kami, seperti manusia yang menolak kedatangan kami, layaknya manusia yang hanya bisa melihat dan berwacana atau manusia yang berusaha sekuat tenaga membantu kami sebagai manusia yang sama sama”.

Kemanusiaan Peraih Nobel
Oleh sebab itu, kita patut juga mempertanyakan kemanusiaan penguji, pemberi dan peraih nobel, khususnya nobel perdamaian yang terpenting sang peraih Nobel di Negeri Myammar itu sendiri. Saat ini, sang peraih Nobel menjadi tokoh yang memiliki kekuatan politik untuk menjaga eksistensinya sebagai pejuang perdamaian sesuai dengan klasifikasi penguji dan pemberi Nobel.

Si Peraih Nobel Perdamaian seakan kehilangan kata “kemanusiaan” untuk setahun tetakhir. Kata kemanusiaan ini mungkin juga tertinggal disuatu tempat, disuatu masa atau hanya terkhusus untuk sejenis perjuangan saja tanpa ada keharusan menjaga kemanusiaan untuk manusia tanpa klasifikasi manusia-manusia.

Jikalau kemanusian manusia peraih Nobel tidak mampu memenuhi kemanusiaan manusia Rohingya, masih bisa kah penghargaan sebagai pejuang perdamaian melekat padanya? Namun pernyataan ini mingkin terasa menghakimi si peraih nobel. Karena penulis juga belum tentu memiliki klasifikasi kemanusiaan sehebat tokoh Myammar itu sehingga pantas mendapatkan nobel dari penguji dan pemberi nobel.

Oleh karena itu, mari kita memunculkan prasangka baik dengan konsep “praduga tidak bersalah”. Karena kita tidak tahu apa yang benar-benar terjadi di Rohingya. Pemerintah kita juga masih bermain-main di ruang wacana tanpa bisa memaksakan kemanusiaan atas nama Pancasila membantu manusia-manusia di Rakhine, Rohingya.

Demi menjaga asas “praduga tidak bersalah”, kita mengarahkan jalan pemikiran baru bahwa si peraih nobel mungkin sudah berjuang sekuat tenaga sesuai kemampuan yang dimiliki. Tidak mungkin kan, tokoh peraih nobel membiarkan krisis kemanusiaan kecuali telah habis usaha untuk memenuhi hak asasi manusia di Negerinya.

Perjuangan si peraih nobel dinilai masih sanggup untuk mempertahankan nobelnya, mungkin begitu menurut si pemberi nobel. Hanya saja, ikhtiar pemenuhan ham terkendala oleh kekuatan politik yang lebih kuat dari kekuasaan politiknya. Jadi, tidak bisa dikatakan kemanusiaan manusia peraih nobel telah hilang. Kalaupun tidak hilang, kemanusiaannya mungkin tertinggal disuatu tempat disuatu waktu tertentu.

Sikap Manusia Pancasila
Saya sempat mmengusik kata “manusia pancasila”, yaitu manusia-manusia yang ada di belahan nusantara dengan semboyan “saya Indonesia, saya pancasila”. Manusia Pancasila adalah manusia-manusia yang memiliki prikemanusiaan dengan sosialisme berdasarkan budaya lokal nusantara.

Manusia Pancasila ini adalah seluruh warga negara Indonesia, dari pemilik bangku kelembagaan eksekutif, legislatif, yudikatif, dan manusia-manusia lain yang mengikut pada pemerintahan Indonesia sesuai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang bersemboyankan kepada “Bhineka Tunggal Ika”.

Jelas, bahwa manusia-manusia yang merasakan peristiwa kehilangan kemanusiaan di Rakhine, Rohingya sedang menunggu sikap dan tindakan jelas, tegas dengan tempo sesingkat-singkatnya dari Manusia-manusia Pancasila, khususnya para Pemimpin bagi seluruh manusia-manusia Pancasila.

Sepanjang paragraf pertama Pembukaan UUD NRI 1945 yang berbunyi “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan  peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”. Kalimat sakti lanjutan memuat “....dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial” sebagaimana tertulis di alenia terakhir pembukaan.

Atas nama kepatuhan atas cita-cita kemerdekaan dan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia itulah maka para Pemimpin Manusia-manusia Pancasila wajib tegas dan segera memenuhi panggilan kemanusian manusia-manusia Rohingya.
Maka, Manusia-manusia Pancasila (penguasa/pemimpin) beserta alat negara untuk hadir fisiknya di Myammar demi membujuk atau memaksa manusia-manusia Myammar (khususnya manusia penerima nobel) memenuhi kemanusiaan manusia-manusia Rakhinr, Rohingya. Kalau manusia yang kemanusiaannya tertinggal atau bisa saja telah hilang, alat negara dari negeri Manusia-manusia Pancasila diizinkan bertindak sepanjang memenuhi kata-kata yang tertuang di Pembukaan UUD NRI 1945.

 

Ilustrasi via flickr.com

399 Views