selasar-loader

Membedah Enigma Rasionalitas Beragama

LINE it!
Hanifah Nisrina C
Hanifah Nisrina C
Co-founder, Field Researcher @Bantuternak | Rumah Kepemimpinan Batch 8
Journal Sep 7, 2017

https://i2.wp.com/answers-in-reason.com/wp-content/uploads/2016/06/blind-belief.png?fit=1440%2C885

"Apakah benar, orang scientific cenderung tidak beragama dan orang beragama cenderung tidak scientific?" Sebelum membahas lebih lanjut, ada dua pertanyaan ketika seseorang memutuskan untuk beragama.

Pertama, "Apakah kamu bertauhid?"

Pertanyaan ini termasuk pertanyaan yang relatif mudah untuk dijawab. Kebanyakan manusia ketika ditanya pasti menjawab,“Ya, saya bertauhid” atau “Tidak”. Atau apabila melihat wolrd view yang dikeluarkan gereja, ada empat macam jawaban, “ya”, “tidak”, “tidak tahu”, dan “tidak peduli”.

Kedua, "Apakah tauhid anda berdasarkan ilmu?"

Menginjak pertanyaan kedua, pertanyaan ini semakin sulit dijawab oleh orang modern. Mengapa demikian? Ada sebuah relasi antara keyakinan, ilmu, dan pandangan hidup: tidak ada manusia yang tidak mempunyai basic belief, menyakini dirinya ada, merasakan apa yang dia rasakan, dan meyakini bahwa apa yang dia lakukan berguna.

Namun, basic belief bukan hanya kodrat. Semakin dewasa, manusia semakin menyempurnakan basic belief-nya dengan ilmu. Seperti halnya keyakinan bahwa dirinya adalah muslim, dia juga memahami apa yang diyakininya. Tanpa adanya ilmu, basic belief pun menjadi mudah rapuh dan berujung pada problem kehidupan.

Tiga dasar basic belief yang ada adalah sebagai berikut.

1. Basic belief muslim 
Ilmu -> basic belief tauhid -> world view tauhid -> kembali pada ilmu.

2. Basic belief barat
Ilmu sekuler -> basic belief ateisme -> world view secular -> kembali pada ilmu sekuler.

Sekuler berarti menafikan unsur-unsur sakral di semesta. Sesderhana pertanyaannya: apakah Einstein percaya Tuhan? Ya. Lantas, apakah Anda pernah melihat Einstein mengekspresikan tindakan kepercayaannya? Sekuler sama artinya dengan tidak ada ekspresi menuhankan kepercayaannya.

3. Basic belief yang telah terdestruksi 
Ilmu sekuler -> basic belief tauhid -> world view (confused).

Basic belief terakhir ini sangat berbahaya. Apabila seseorang telah memahami ilmu sekuler kemudian tercampur dengan basic belief tauhid, pandangan world view otomastis rusak. Ada dua kemungkinan yang terjadi: menjadi seorang ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Keduanya sama-sama justitifikatif, seperti layaknya kubu sekuler yang sama berbahayanya dengan kubu konservatif.

Bahasan selanjutnya, apakah hubungan ilmu dengan iman? Apa objek-objek ilmu? Bagaimana cara mencapai ilmu tersebut? Sebelum manusia bertauhid, ia harus memasuki gerbang antara tauhid dan iman, yaitu syahadat. Syahadat dapat mempengaruhi cara pandang seseorang, membuat ia memiliki pengalaman dan cara pandang yang baru. Namun, masalah kemudian yang terjadi adalah tidak menjalankan keimanan berdasarkan ilmu. Padahal, iman dan ilmu diyakini dengan hati. Ada empat lapis hati menurut tafsir Alquran, yaitu

1. shadr berarti hati bagian luar,
2. qalb berarti hati bagian dalam,
3. fuad atau afidah berarti hati yang lebih dalam, sedangkan
4. albab berarti hati yang paling dalam atau hati sanubari atau hati nurani.

Implikasi syahadat dengan penegasan probabilitas islam

“Maka ilmuilah, bahwasannya tiada Tuhan selain Allah.” (Q.S. Muhammad: 19) Proses transfer ilmu mengikuti tahapan: Allah memberi kehendak -> manusia menerima atau semua manusia berpotensi menerima ilmu -> perintah berilmu.

Objek ilmu

Dalam surat tersebut, dapat kita ketahui bahwa objek ilmu yang paling dasar adalah mengilmui Allah. Oleh karenanya, itulah mengapa pernyataan “Allah dulu, Allah terus, Allah lagi” merupakan pernyataan yang serius. Menunjukkan ekspresi kebertuhanan karena kita diciptakan oleh Sang Pencipta. Bagaimana cara mengetahuinya? Proses bagaimana manusia mengilmui sesuatu kurang lebih sebagai berikut.

1. Indera: ayat, jejak, simbol.
2. Akal: mengikat.
3. Wahyu: Alquran dan sunah.
4. Khabar shadiq: bercerita dengan orang yang berjumpa, dinukilkan, kemudian diterima karena dianggap/dinyatakan benar.
5. Intuisi, pengalaman langsung kemudian baru pengetahuan ditransmisikan.

Kesimpulan

Seseorang memasuki gerbang tauhid mempersyaratkan ilmu. Sedangkan ilmu, kaitannya dengan Tuhan, beserta sifat alamiahnya, berkaitan erat dengan iman. Pada batas tertentu, berilmu berarti beriman, begitu pula sebaliknya.

Jika disimpulkan, pada akhirnya, berilmu menurut Islam adalah mengilmui Tuhan, lalu mengimaninya, kemudian mengembangkan ilmu-ilmu lain yang sejatinya mengilmui tanda-tanda Tuhan, sehingga iman semakin lama semakin kuat dan mantap.

Sumber: Kajian Epistemologi Islam. Tauhid & Ilmu: Relasi dan Implikasi. By Ust.Anton Ismunanto Zain Pengasuh Pondok Pesantren Mualimin Yogyakarta. Rabu 30 Agustus 2017.

Sumber gambar 1: Answers In Reason
Sumber gambar 2: penulis

645 Views