selasar-loader

Finally... South Korea

LINE it!
Ganis Sanhaji
Ganis Sanhaji
Graduate Student in Wonkwang University, Iksan, South Korea
Journal Nov 29, 2017

IMG_0889.JPG

Alhamdulillah, semester pertama di sini sudah selesai, walaupun masih ada satu kelas yang masih akan terus berlanjut entah sampai kapan. Hal ini terjadi karena kesibukan profesor yang sangat sering bolak-balik luar negeri karena amanah yang dia miliki yang menyebabkan saya tidak ada kelas selama setengah semester kemarin.

Pada kesempatan kali ini, pertama kalinya saya menulis di musim gugur dengan suhu mencapai 0 derajat Celsius. Insya Allah, akhir bulan ini saya akan merasakan dinginnya musim dingin dan melihat yang namanya salju.

Mimpi untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri sebenarnya adalah salah satu mission impossible yang saya coba perjuangkan. Hal ini bukan tanpa alasan, teman-teman saya di Fisika UI angkatan 2009 sangat tahu siapa itu makhluk bernama Ganis Sanhaji dengan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) 0906637411.

Saya di kampus dikenal sebagai orang yang cukup jauh dari dunia akademis, maksudnya orang yang cukup jarang menghabiskan waktu untuk belajar (walaupun saya anak UI). Pada saat di kampus, saya lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan futsal atau di ruang himpunan/ BEM.

Motivasi awal saya menginjakkan kaki di UI ialah untuk menjadi dosen di masa depan agar dapat bermanfaat untuk orang-orang di sekitar saya. Hal ini sesuai dengan salah satu hadits favorit saya yang disahihkan oleh al Albani.

“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Namun Karena saya sadar kemampuan akademis saya kalah jauh dibanding teman-teman saya, jadi saya mencoba mencari “lahan ibadah” di tempat lainnya. Jadi saya memutuskan untuk aktif di organisasi dan dunia keolahragaan.

Singkat cerita (ini salah saya, jangan ditiru) selama kuliah, saya saking keasyikan di organisasi, olahraga dan mengajar anak SD/SMP/SMA, membuat prestasi akademik saya tidak terlalu baik. Namun saya tetap bersyukur karena hal tersebut, saya mendapatkan lingkungan yang sangat baik untuk peningkatan soft-skill saya.

Finally saya lulus dari Fisika UI 2009 pada bulan Febuari 2014 (4.5 tahun). Setelah kelulusan saya pertanyaan ini muncul “apa yang saya akan saya lanjutkan setelah ini?” Beberapa minggu kemudian, salah satu teman baik saya mengajak untuk mencoba memasukkan berkas aplikasi untuk beasiwa ke korea, beasiswa tersebut bernama Korean Government Scholarship Program (KGSP) 2014.

Saya sadar pasti tidak akan lolos dari percobaan pertama itu karena Bahasa Inggris saya sangat berantakan. IPK saya tidak cumlaude, saya tidak punya penghargaan akademik baik tingkat universitas atau nasional apalagi internasional. Penghargaan yang saya punya semua ialah dari bidang olahraga itupun paling tinggi hanya tingkat fakultas.

Setelah itu saya merasa tertarik untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri (padahal dalam negeri saja tidak beres). Pengambilan keputusan ini berdasarkan 3 hal. Pertama, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah).

Kedua, “Barang siapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju surga” (HR. Muslim).

Serta yang ketiga ialah niat saya yang ingin “menebus dosa” karena telah jarang belajar pada saat S1. Hal pertama yang saya lakukan ialah bertemu orang yang sekiranya punya pengalaman terkait kuliah di luar negeri. Alhamdulillah, saya dekat dengan salah satu senior saya di Instrumentasi Fisika UI. Senior saya yang satu ini sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Saya cerita ke senior saya tersebut terkait keinginan saya untuk kuliah ke luar negeri. Alhamdulillah, saya mendapatkan tanggapan yang positif walaupun saya sadar kalau modal saya kuliah ke luar negeri itu bisa dibilang tidak ada.

Selanjutnya, teman saya yang pernah mengajak saya untuk memasukkan aplikasi KGSP, menyarankan saya untuk ke Pare, kampung Inggris. Sebagai informasi, saya sangat buruk di Bahasa Inggris. Alasan utama saya tidak suka Bahasa Inggris karena insiden pada saat UN SMP.

Pada saat itu ujian yang diujikan ialah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPA. Pada saat itu ujian Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris diujikan pada hari yang sama. Pada saat ujian Bahasa Indonesia, ternyata soalnya cukup banyak sehingga menyebabkan saya agak mengantuk pada saat ujian Bahasa Inggris dan akhirnya saya tertidur pada saat ujian Bahasa Inggris.

Dan alhamdulillah, saya tebangun setengah jam sebelum ujian berakhir. Saya terbangun karena teman saya melempari saya dengan penghapus. Yang saya kesalkan ialah, mengapa dua orang pengawas pada ruangan itu tidak membangunkan saya pada saat ujian. Alhasil hampir setengah dari jumlah soal saya asal jawab dan nilai UN Bahasa Inggris saya hanya 6,8. Alhamdulillah, saya tertolong oleh nilai matematika 10, Bahasa Indonesia 8.4 dan IPA 9. Namun saya gagal masuk SMA favorit saya.

 

Kembali ke Mission Impossible saya, setelah minta izin orang tua, Alhamdulillah, saya diberikan izin ke Pare. Awalnya saya hanya ingin belajar di sana selama satu sampai dua bulan, namun nyatanya saya menghabiskan hampir 8 bulan di sana (5 bulan diajar, 3 bulan mengajar).

Saya memilih Test English School sebagai tempat saya bernaung. Di Test-ES dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama dengan saya yaitu orang-orang yang memiliki keinginan besar untuk melanjutkan kuliah di luar negri. Karena tergabung di lingkungan yang sangat kondusif, keinginan saya untuk keluar negeri makin membara. Sedikit cerita tentang TEST-ES juga bisa dibaca di TEST ENGLISH SCHOOL.

 

2.jpg

 

Setelah “lulus” dari Test English School, saya membuat kelompok belajar Bahasa Inggris di Depok. Saya memiliki dua kelompok belajar. Yang pertama untuk teman-teman cowok yang biasa dilakukan di kosan saya setiap Sabtu pagi banget (05.00) dan di perpustakaan pusat tiap Rabu pagi (09.00) sebagai tambahan terkadang juga diadakan di kampus UI.

drawingmmn.png

Tim belajar Futsal Fisika 09

drawing.png

 

Mulai September 2014, dengan kemampuan Bahasa Inggris saya yang secukupnya, saya mulai memberanikan diri untuk mengirim email ke profesor seluruh dunia untuk menanyakan kemungkinan saya bergabung di laboratorium mereka. Sekiranya saya mengirim lebih dari 100 email ke profesor-profesor di seluruh dunia (Brunei, Korea, Jepang, Rusia, Arab Saudi, Turki, Belanda, Jerman, Inggris, dan Singapura).

Hanya beberapa yang membalas email saya namun 98% mengucapkan mohon maaf dan terima kasih. Saya hanya mendapat dua email yang cukup serius. Pertama dari Tomsk, Rusia, di bidang High-Voltage Physisc. Alhamdulillah, pada saat itu saya mendapatkan beasiswa universitas, namun karena bahasa yang digunakan pada perkuliahan bukan Bahasa Inggris jadi saya mengurungkan diri untuk melanjutkan kuliah ke Rusia.

Salah satu alasan saya “menolak” Rusia karena saya mendapatkan email yang sangat positif dari profesor dari salah satu universitas bagus di Korea Selatan yang menyarankan saya untuk mengikuti KGSP 2015. Singkat cerita saya gagal dalam perebutan KGSP 2015, mungkin saya akan menceritakan di tulisan saya selanjutnya.

%25EC%25A0%259C%25EB%25AA%25A9%2B%25EC%2

Pengumuman beasiwa di TOMSK, Russia

 

%25EC%25A0%259C%25EB%25AA%25A9%2B%25EC%2

 

Akhirnya saya menurunkan standar saya. Di kepala saya saat itu ialah yang penting kuliah S2. Titik. Pada bulan Juni 2015, saya mengikuti ujian masuk UI dan ITB. Dan alhamdulillah, saya lolos keduanya.

Setelah salat istikharah cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung. Alasan utamanya karena saya tidak bisa kuliah di luar negri jadi minimal saya bisa kuliah di luar kota (Depok) walaupun masih sama-sama Jawa Barat. Ceritanya bisa dilihat di Graduate School of ITB.

Akhir Agustus, saya menjalani kuliah magister pertama saya di ITB. Awalnya saya ingin bergabung dengan tim riset Computational Material Design (CMD) di bawah supervisi Prof. Hermawan K. Dipojono, guru besar dalam bidang ilmu rancang bangun material komputasional.

Sejujurnya saya sangat nge-fans dengan beliau, karena kemampuan leadership beliau dan kemampuan beliau untuk mengimbangi pengetahuan agama dengan ilmu teknologi. Setelah saya mencari tahu rekam rejak beliau sampai menjadi profesor membuat makin nge-fans dengan beliau dan niat saya untuk menjadi dosen makin tinggi, dan di ITB saya mendapatkan lingkungan riset tingkat internasional.

Selain bergabung dengan CMD, saya juga bergabung dengan tim riset Advanced Functional Materials (AFM) di bawah supervisi Brian Yuliarto, ST., M.Eng., Ph.D. Menurut pendapat saya, Pak Brian ialah sosok pencerminan dari sukses di masa muda sebagai seorang dosen.

Karena kedua orang inilah, terkadang saya malu ketika mengatakan “tidak punya waktu”, karena waktu itu sebenarnya ada. Permasalahannya ialah bagaimana kita mengaturnya. Jadi saat kuliah di ITB, tidak jarang Sabtu dan Minggu saya juga ke lab minimal buat baca jurnal (sambil download film tentunya).

CdoxxAxXEAERxSK.jpg

Lab Meeting Computational Material Design (CMD) ITB

CUumQf-UwAEW78U.jpg

Lab Meeting Advanced Functional Materials (AFM) ITB

Untuk menjaga kemampuan Bahasa Inggris saya, (lagi) saya membuat kelompok Bahasa Inggris di ITB. Biasanya kita belajar bareng Bahasa Inggris hari Rabu pagi, dan kali ini kita fokus di IELTS.

Anggota kelompok belajar kali ini ialah alumni Fisika UI 2009, 2010, dan 2011 yang melanjutkan kuliah S2 di ITB. Kami membuat grup yang bernama FISIKA UI-ITB Karena hampir semua teman-teman tahu kalau saya sangat berminat kuliah Korea (walaupun sebenarnya tidak mesti Korea juga). Saya sering mendapatkan pesan singkat terkait kesempatan melanjutkan kuliah ke Negeri Ginseng itu.

drawingmmnq.png

Kelompok belajar Bahasa Inggris Fisika UI-ITB

Dan akhirnya, pada saat saya belajar dengan kelompok belajar Fisika UI-ITB, salah satu teman saya memberikan informasi tentang kesempatan kuliah di Wonkwang University. Awalnya saya tidak terlalu berminat karena saya sudah merasa cukup nyaman di ITB, namun karena saya memiliki persyaratan semua berkas beasiswa tersebut, saya masukkan berkas saya.

Tidak lama kemudian saya mendapatkan telepon dari nomor Indonesia. pada saat itu (karena ini di Indonesia dan yang menelepon saya nomor Indonesia) saya mengucapkan salam seperti biasa, dan orang yang menelepon saya tersebut tidak menjawab. Tetiba saya ingin menjawab panggilan tersebut dengan Bahasa Inggris dan pada saat itu akhirnya yang menelepon menjawab.  Rupanya itu adalah wawancara beasiswa Wonkwang University.

Jelas saya syok tetiba dilempari dengan beberapa pertanyaan Bahasa Inggris, namun alhamdulillah, karena saya tetap menjaga Bahasa inggris saya dengan belajar sedikit-sedikit, saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beberapa hari kemudian ada telepon lagi dari nomor terebut dan menyatakan saya lolos beasiswa Universitas Wonkwang.

Awalnya saya biasa saja karena saya tahu ini bukan universitas favorit saya. Setelah pengumuman tersebut, saya berbagi dengan orang-orang yang sekiranya bisa memberikan saya pendapat terkait beasiswa tersebut.

Setelah istikharah yang cukup panjang dan berdasarkan hasil berbagi cerita dengan orang-orang, akhirnya saya menerima beasiswa tersebut. Intinya mungkin ini cara yang Allah SWT berikan ke saya hasil dari kerja keras saya selama ini.

Mungkin apabila saya mendapatkan KGSP tahun 2014 atau 2015, Allah tahu kalau saya belum siap. Sekiranya saya siap, baru Allah SWT bukakan pintu rezekinya. Alhamdulillah, sekarang saya sudah ada di Korea dan bergabung dengan tim riset Mossbauer Spectroscopy dan melakukan riset tentang Ultrasonic Imaging.

IMG_9303.JPG

Makan-makan pertama penyambutan saya, tapi sayanya tidak ikut makan.

Insya Allah, cerita berikut akan berlanjut dengan berbagai kegiatan saya di sini. Sebagai penutup sementara yang cukup mengena dengan perjuangan saya ini ada di  Surat At-tur 48

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

 “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.”

618 Views

Author Overview


Ganis Sanhaji
Graduate Student in Wonkwang University, Iksan, South Korea

More Journal from Ganis Sanhaji


Korean Government Scholarship Program, Cerita Kegagalan
2 years ago