selasar-loader

"Harga" Seorang Perempuan

LINE it!
Kusuma Herawati
Kusuma Herawati
FIK UI/Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 Regional Jakarta
Journal Aug 31

http://www.lametropole.com/assets/application/articles/2//0ad1c85aa8f96f7_file.jpg

Dalam Islam, perempuan dikenal dengan sebutan muslimah. Seorang muslimah atau perepuan muslim salah satunya dicirikan melalui pakaian yang dikenakan. Adalah sebuah kewajiban ketika seorang muslimah menutup seluruh auratnya (aurat adalah bagian tubuh yang harus ditutup sesuai syariat Islam).

Hal tersebut menyebabkan memang sudah seharusnya jika perempuan muslim di seluruh dunia akan terlihat menutupi seluruh tubuhnya (kecuali wajah dan telapak tangan). Akan tetapi, tidak semua seperti itu, dikarenakan oleh berbagai hambatan baik yang sederhana ataupun kompleks. Seperti rahasia umum yang ada di muka bumi, di setiap golongan, di setiap agama, di setiap organisasi atau komunitas, dan berbagai bentuk kelompok lainnya, akan selalu dikenal dua istilah yang berlawanan. Ada yang baik, ada yang tidak. Ada yang mengikuti, ada yang tidak. Pun juga agama.

Kembali lagi pada bahasan mengenai perempuan. Tidak banyak (atau tidak sedikit) perempuan muslim yang menghargai dirinya sebagaimana Islam memuliakannya. Mari kita coba dengan menilik satu aspek terlebih dahulu, aspek yang paling luar yang akan memberikan ciri khas pada perempuan muslim. Juga aspek yang ikut serta menentukan "harga" seorang perempuan muslim (atau muslimah).

Dalam Islam, dikenal dua istilah yang berkaitan khusus dengan perempuan, yaitu izzah dan iffah, yang menunjukkan kemuliaan seorang perempuan. Katakan saat seperti perempuan yang "menututp diri".

Muslimah yang menutup diri, apanya yang spesial? Masih banyak di antara kita, para muslimah, yang belum mengerti betapa Islam sangat memuliakan kita dengan mewajibkan seluruh tubuh kita tertutup dengan rapi (sesuai syariat). Tidak sedikit juga dari kita yang memberontak mengatakan Islam tidak adil antara hak perempuan dan laki-laki, khususnya dalam hal berpakaian. Beberapa dari kita juga masih ragu dan takut akan pilihan menutup diri sebagaimana mestinya.

Dari semua kejadian itu, tidakkah kita pernah mendengar bagaimana Islam memuliakan sosok perempuan dari pakaian yang dikenakannya?

Banyak yang bertanya, “Perempuan diciptakan sebagai sosok yang memiliki keindahan. Lalu untuk apa ditutupi?”

Atau pertanyaan lain, “Islam tidak adil. Perempuan tidak diberi kebebasan untuk aktualisasi diri dalam hal berpakaian.”

Juga masih banyak yang lain lagi. Sebenarnya, dari setiap pertanyaan itu sudah ada jawabannya. Perempuan itu indah, jadi kenapa harus ditutupi? Jawabannya karena perempuan adalah keindahan, dan keindahan akan berharga ketika dilindungi. Tertutupnya perempuan itulah yang menjadikannya sosok istimewa dan sangat berharga dalam Islam, berharga lebih dari perhiasan apapun.

Analogi sederhananya seperti ini.

Mutiara tetap dicari meski harus menyelam lautan. Emas tetap menjadi primadona perhiasan meski mendapatkannya membutuhkan keringat bercucuran, menerobos lapisan tanah.

That’s all. Apalagi, seorang perempuan yang salihah yang senantiasa menutupi dan dan menjaga dirinya adalah perhiasan yang lebih berharga dari emas dan mutiara. Seperti ini yang dikatakan Islam tentang perempuan. “Dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salihah.” (H.R. Muslim)

Tidak cukup dengan analogi di atas, ada lagi yang melontarkan pernyataan, “Tetapi sekarang zaman telah berubah, ada kemajuan di segala aspeknya termasuk fashion wanita.”

Ya, betul sekali, "ada kemajuan di segala aspeknya". Namun, siapa yang mengatakan membuka aurat perempuan adalah sebuah kemajuan?

Sebuah pemikiran yang keliru. Justru semakin terbukanya pakaian perempuan di zaman sekarang ini adalah pertanyaan besar bagi kemajuan dunia global karena, sebaliknya, hal itu menunjukkan sebuah kemunduran. Kenapa?

Zaman dahulu, perbedaan antara perempuan kerajaan dan rakyat jelata, salah satunya, adalah dari segi berpakaian. Seorang perempuan bangsawan yang penuh dengan kemewahan mengenakan baju yang sangat tertutup dan tidak semua laki-laki diperkenankan melihatnya. Berbeda dengan rakyat jelata, sebaliknya, yang berpakaian seenaknya.

Dari gambaran sejarah tersebut, bisa kita lihat sendiri perbedaannya. Juga tentang Islam yang ternyata menunjukkan keistimewaan perempuan muslim dari pakaiannya, cara menutup auratnya.

Lalu, ketika saat ini sedang banyak perempuan yang mengenakan pakaian minim, pantaskah disebut sebagai sebuah kemajuan? Atau sebuah kemunduran? Dari yang awalnya perempuan terhormat, berpakaian tertutup, menjelma menjadi rakyat jelata yang memilih mengenakan pakaian seadanya? Kita bisa menentukan dan memilih sendiri jawabannya.

Atau muncul lagi pernyataan lain, “Banyak perempuan baik-baik tapi tidak berhijab. Banyak juga perempuan yang berhijab tapi kelakuannya tidak lebih baik dari yang tidak berhijab.”

Pernyataan seperti itu juga tidak dapat disalahkan. Namun, hal yang sangat penting untuk dicatat adalah bahwa menutup aurat dan perilaku adalah dua hal yang berbeda. Menutup aurat adalah kewajiban semua perempuan musim, tanpa terkecuali.

Sementara itu, perilaku yang kurang baik tidak dapat dikaitkan dengan pakaian yang dikenakan. Ketika perilaku tidak baik muncul dari seorang perempuan berhijab, maka bukan menjadi kesalahan hijabnya, bukan pakaiannya, melainkan karena kontrol diri yang belum matang.

Perempuan yang menjadi sebaik-baik perhiasan adalah perempuan salihah, perempuan yang tampak luar (penampilan) dan dalam (akhlak, perilaku) secara bersamaan menunjukkan yang sebagaimana mestinya. Sosok yang diistimewakan Islam adalah ketika dia bisa menjaga auratnya, menjaga diri dan sikapnya ketika berinteraksi baik dengan pencipta-Nya, juga dengan sesama makhluk ciptaan-Nya.

Mari kita terus memperbaiki diri dan meresapi indahnya segala aturan Islam pada diri kita, seorang perempuan muslim yang salihah. Semoga kita menjadi sebaik-baik perhiasan. Karena "harga" sesungguhnya seorang perempuan sangat jauh lebih berharga dari perhiasan. Bukan makna 'harga' secara harfiah, tetapi 'harga' yang tak ternilai harganya. Itulah kemuliaan perempuan.

Referensi
Al-Mishri, Muhammad. (2010). 35 Shirah Shahabiyah. Jakarta: Al-I'thisham Cahaya Umat.
Al-Syaikh, Badwi Mahmud. (2006). 100 Pesan Nabi untuk Wanita Shalihah. Jakarta: Mizan.

Sumber gambar: lametropole.com

351 Views