selasar-loader

Korean Government Scholarship Program, Cerita Kegagalan

LINE it!
Ganis Sanhaji
Ganis Sanhaji
Graduate Student in Wonkwang University, Iksan, South Korea
Journal Aug 30, 2017

4GnmwthLk-dRS96Tv6OCNIKCWV0hh1cs.jpg

​Asalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pagi di Iksan, South Korea.

Hari ini sudah bulan Febuari 2017, tidak terasa sudah empat tahun di mana saya pertama kali mencoba menjadi pengejar beasiswa pascasarjana. Pada Febuari 2014, saya untuk pertama kalinya mencoba membulatkan tekad untuk melanjutkan tingkat pendidikan ke jenjang S2, dengan niat untuk menebus “dosa” karena pada saat kuliah S1 saya kurang maksimal di bidang akademik.

Beasiswa yang pertama kali saya kejar ialah Korean Government Scholarship Program (KGSP) 2014. Awalnya cukup banyak alasan kenapa saya “mencoba” memberanikan diri untuk melibatkan diri dalam pengejaran beasiswa tersebut. Namun, yang akan saya ceritakan di sini bukan cerita keberhasilan saya mendapakan beasiwa tersebut, karena faktanya saya sudah gagal dua kali.

Saya akan ceritakan ialah terkait cerita kegagalan saya mendapatkan KGSP. Namun, berkat KGSP pula sekarang saya sedang melanjutkan kuliah di salah satu kampus swasta yang cukup besar di Iksan, Korea Selatan.

Secara garis besar syarat beasiswa KGSP adalah sebagai berikut:

  1. Pelamar beasiswa dan orang tua bukan warga negara Korea.
  2. ​Umur di bawah 40 tahun.
  3. Memiliki gelar sarjana.
  4. Indeks prestasi kumulatif (IPK) 2.64 dari skala 4.
  5. Sehat jasmani dan rohani.

Dilihat dari persyaratan tersebut secara umum, maka hampir bisa disimpulkan bahwa hampir seluruh lulusan S1 se-Indonesia bisa melampaui persyaratan umum di atas. Awalnya saya tidak berfikir jauh bahwa makin banyak orang yang memasukkan berkas sama dengan makin banyak saingan. Namun, memang niat awal saya hanya untuk pembenahan mental dan mencoba mengetahui lebih dalam terkait bagaimana cara untuk mendaftar diri untuk beasiswa.

Selain persyatan umum di atas, NIIED (badan yang mengurus KGSP) memberikan tambahan informasi terkait “syarat tambahan”. Dokumen ini hitungannya tidak wajib tetapi dianjurkan. Persyaratannya adalah sebagai berikut:

  1. Pelamar beasiswa memiliki kemampuan bahasa Korea (TOPIK) atau bahasa Inggris (TOEFL, TOEIC, atau IELTS Academic). Untuk KGSP 2017, TOEFL ITP tidak diterima.
  2. Pelamar beasiswa berasal dari bidang ilmu sains, atau teknik.
  3. Pelamar beasiswa memiliki jurusan yang berkaitan dengan Industrial Professionals Training Project dari pemerintah Korea.
  4. Pelamar beasiswa merupakan keturunan dari veteran perang Korea.

Nah, secara garis besar saya juga termasuk di syarat tambahan tersebut (kecuali yang terakhir).

Singkat cerita saya bersama beberapa teman saya mulai mengumpulkan satu persatu berkas yang dibutuhkan, di sini saya belajar untuk mulai menulis dengan bahasa inggris. Walaupun hanya “berguru” kepada Google translate, saya baru mengetahui bahwa berkas seperti kartu keluarga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris yang mendapatkan cap notaris, mengetahui di mana Kedubes Korea di Jakarta, dll. Intinya bukan hanya waktu yang terkuras, tetapi tabungan yang niatnya untuk menghalalkan orang akhirnya juga ludes untuk persiapan berkas ini. Hahaha.

Setelah berkas lengkap, saya ke Kedubes Korea yang berada di Jalan Gatot Subroto kavling 57. Pada percobaan pertama saya mencoba untuk memasukan berkas untuk jatah Kedubes Korea. Untuk KGSP Febuari 2014, beasiswa dibagi menjadi dua, yaitu 10 untuk pendaftar melalui Kedubes Korea dan 10 untuk pendaftar melalui universitas.

Untuk yang memilih jatah Kedubes, maka pendaftar diberikan kesempatan untuk memilih tiga universitas yang mana kita (bagi yang lolos) akan dihubungi oleh pihak universitas apabila kita lolos pada penyeleksian berkas. Pertama kali dengan tingkat kepedean yang cukup tinggi saya memilih Hanyang Univeristy, Yonsei University, dan POSTECH University (yang masuk 10 universitas besar di Korea). Alhasil saya gagal pada percobaan pertama kali tersebut. Namun berkat trigger dari kegagalan tersebut saya mulai mencoba untuk menambah “sedikit” tingkat kesungguh-sungguhan dalam pengejaran beasiswa keluar negeri.

Oleh karena itu, saya mencoba untuk memberi atensi lebih ke setiap detail dari persyaratan beasiswa. Akhirnya berkat rekomendasi dari teman, saya memutuskan untuk berangkat menuju kampung Inggris di Kediri (niat awal cuma sebulan, eh betah jadi lebih dari elapan bulan di Pare).

Saya pergi ke Pare, Kediri, sendirian dari Depok. Itu untuk pertama kalinya saya bepergian jauh sendiri tanpa tahu persis letak tujuan kursusan saya di mana, dan alhamdulilah saya memilih Test English School. Di sana saya bertemu orang-orang dengan frekuensi yang sama dengan saya di mana orang-orang yang datang ke sana sebagian besar memang orang-orang yang memiliki tujuan unutk melanjutkan kuliah atau bekerja di luar negeri.

Kebetulan saya bertemu dengan pengajar saya yang juga menginginkan beasiswa KGSP. Di sana saya bertukar pikiran tentang persiapan-persiapan untuk membuat tulisan yang baik dengan bahasa Inggris, dan saya juga bercerita terkait kegagalan saya pada percobaan KGSP Febuari 2014.

xwyEJvdmmvcORZTRSd-Qd4ULg_Zfg7xP.jpg
Keterangan: Cari lingkungan yang bisa mempercepat kamu mendapatkan beasiswa

Setelah belajar yang cukup lama di Test-ES, saya memiliki hobi baru, yaitu ujian TOEFL/EPT. Cerita tentang tes TOEFL ITP saya bisa dicek di TOEFL ITP. Pada waktu yang bersamaan saya juga mencoba menghubungi profesor-profesor di Korea Selatan untuk memberikan saya kesempatan bergabung di lab atau riset grupnya. Tidak sedikit saya mencoba menghubungi mereka. Alhamdulillah, dari puluhan email saya itu, ada beberapa profesor yang menindaklanjuti keinginan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk hanya fokus ke satu universitas, karena pada kesempatan KGSP Febuari 2015 saya ingin mencoba memasukkan berkas untuk jatah universitas.

Universitas yang saya pilih adalah Pusan National University, pemilihan universitas ini karena beberapa faktor, di antaranya lokasi geografis yang berada di selatan Korea, yang artinya sedikit lebih hangat dibanding Korea bagian utara. PNU merupakan universitas top 10-nya Korea Selatan. PNU berada di Busan yang merupakan daerah dekat pantai, yang artinya banyak restoran seafood atau pun pasar ikan, yang artinya ikan (mungkin) murah di sana, dan mungkin pengeluaran di Busan tidak akan sebesar di Seoul.

Pada pengejaran beasiswa KGSP Febuari 2015, kali ini saya sangat teringat oleh perjuangan yang sampai meneteskan air mata ini (saya orangnya tidak cengeng, tetapi pada saat itu entah kenapa air mata sampai tak tertahankan untuk jatuh ke pipi). Permasalahnnya diawali karena kesalahan saya. Pada saat saya mencoba untuk meminta rekomendasi ke salah satu petinggi di jajaran fakultas saya, intinya di tempat saya berkuliah, ada salah satu dosen yang merupakan lulusan dari Korea Selatan.

Awalnya saya hanya berfikir bahwa dengan mendapatkan rekomendasi dari dosen lulusan Korea akan menjadi nilai tambah dalam berkas saya. Namun, disayangkan karena sibuknya dosen saya tesebut pemberian rekomendasi agak lama. Satu-satunya berkas yang saya ingin penuhi, ya, rekomendasi dari dosen saya tersebut.

Sebenarnya saya tidak terlalu butuh rekomendasi tersebut karena saya sudah mendapatkan rekomendasi dari dosen yang lain. Tetapi karena saya sudah meminta, jadi kurang enak untuk membatalkannya. Akhirnya saya mendapatkan rekomendasi tersebut walaupun tidak sesuai dengan permintaan NIIED. NIIED minta rekomendasi rangkap tiga dan diberikan tanda tangan di amplopnya. Namun, ya sudahlah, pelajaran buat saya.

Sebagai dokumen tambahan saya juga menyantumkan lembar sertifikat bahwa saya sedang melakukan les bahasa Korea. Pada saat itu saya memang sedang mengikuti les bahasa korea di LBI Salemba. Niatnya hanya ingin tahu bahasa Korea itu apa, biar nanti kalau mendapat beasiswa ke Korea saya nggak terlalu kaget sama bahasanya. Hahaha.

Selain itu, saya juga mendaftarkan diri untuk mengikuti (Test of Proficiency in Korean) TOPIK di Jakarta International Korean School (JIKS), Cipayung, Jakarta Timur. Niatnya biar saya punya dokumen terkait TOPIK. Selain memasukan TOEFL ITP saya juga memasukan berkas Test of English for International Communication (TOEIC) untuk menunjukan kemampuan bahasa Inggris saya. Dua-duanya hasilnya nggak bagus-bagus banget, kok. Hehehe.

dD5UHg4dOz13jyTAv2SPVQdnag2T7z9_.jpg
Keterangan: TOPIK di JKIS

Masalah rekomendasi tersebut, saya kehilangan waktu cukup banyak untuk mengirim berkas ke Busan, karena pada kesempatan ini saya mencoba KGSP jatah universitas. Oleh karena itu, saya harus mengirim semua berkas saya langsung ke Busan, dan saya hanya memiliki waktu tiga hari sebelum waktu penutupan dari penerimaan berkas. Saya memilih DHL karena pengiriman berkas hanya tepat tiga hari. Berat berkas saya sekitar 1,2 kg. Untuk mengirim dokumen tersebut saya menghabiskan uang 1,2 juta rupiah. Jumlah yang tidak sedikit untuk saya pada saat itu.

BZv_EokvoDIZarg13LytrFWjHcPGqbxu.jpg
Keterangan: Berkas siap dikirim ke PNU

Setelah itu, tugas saya ialah berdoa dan memastikan bahwa berkas saya sampai ke PNU. Setelah berkas saya diterima di PNU, saya menghubungi calon profesor saya dan beliau memberikan kisi-kisi terkait wawancara yang akan saya lakukan via telepon.

Setelah wawancara via telepon selama 17 menit 17 detik, saya tinggal menunggu pengumuman untuk pelamar beasiswa yang lolos tingkat PNU. Alhamdulillah saya lolos. Selanjutnya ialah seleksi tingkat NIIED. Pada seleksi ini, seluruh pelamar beasiswa akan disortir berdasarkan negara dan berkas dokumen. Jatah dari Indonesia ialah 10 orang (untuk pelamar beasiwa melalui universitas) dan alhamdulilah saya ternyata tidak lolos seleksi NIIED.

Sedih tetapi senang, banyak ilmu yang saya dapat, saya jadi punya teman tingkat internasional, untuk tanya jawab terkait pertanyaan tentang KGSP saya bertanya dengan salah satu penerima KGSP berasal dari Jerman, namanya Lola. Dia sharing terkati pengalaman KGSP-nya di Youtube dan saya akhirnya menghubungi dia via email. Awalnya saya heran, dahulu saya paling tidak suka dengan bahasa Inggris tetapi pada saat itu saya “bisa” mengerti kata-kata di email pada saat saya saling membalas email dengan calon profesor saya di PNU, Lola, atau berapa teman saya dari Srilangka, Malaysia, Kamboja, dll.

 

WvFfbrqldAVIjleLPQEcqaGkG0-zC2q1.jpg
Keterangan: Wawancara via telepon

0bt-6GTUJOV84NadKnk1ZDno5_KqpMJR.jpg
Keterangan: Pengumuman KGSP 2015. Tidak ada nama saya.

Nah, berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya punya beberapa saran untuk para pengejar beasiswa ini:

  • Luruskan niat, niatkan beasiwa yang kita inginkan tersebut dapat mendekatkan diri kita untuk mendapatkan rida Allah. Kalimat ini serupa dengan kalimat yang diberikan oleh salah satu profesor favorit saya di ITB. Jadi, dengan niat tersebut akan membuat kita bersyukur pada saat kira dapatkan dan bersyukur juga pada saat tidak mendapatkan beasiswa tersebut

  • Minta restu dengan kedua orang tua. Minimal orang tua tahu kalau kita sedang berusaha untuk mencari beasiswa. Insyaallah doa orang tua akan mempermudah langkah kita.

  • Beasiswa itu jangan dikejar, karena beasiswa tidak lari. Beasiswa itu menerima pelamar-pelamar yang sesuai dengan kualifikasi yang mereka butuhkan, jadi pastikan kita memenuhi kualifikasi-kualifikasi yang pemberi beasiswa inginkan.

  • Mulai mencari orang-orang yang sekiranya punya pengalaman tentang beasiswa luar negeri baik itu dosen, kakak kelas, teman-teman yang sedang kulliah di luar negeri, atau orang-orang di dunia maya yang bisa kita download ilmunya.

  • Cari lingkungan yang membuat kita “malu” kalau semangat kita sedikit kendur. Dalam kasus saya, saya pergi ke Pare di mana orang-orang sibuk untuk belajar dibanding melakukan hal-hal yang kurang penting seperti pacaran.

  • Buat study group untuk membiasakan diri berbicara dengan bahasa Inggris, karena bahasa Inggris itu cuma “masalah” kebiasaan.

  • Cari orang dekat yang bisa mengoreksi bahasa Inggris kita. Pada saat kita bikin esai, mungkin di mata kita semua tulisan kita tidak ada cacatnya, tetapi belum tentu di mata orang lain.

  • Persiapkan uang. Dalam persiapan berkas, akan mengeluarkan dana yang tidak kecil. Misalnya, buat translate berkas ke bahasa Inggris atau Korea, legalisir ijazah dan transkrip, ujian bahasa Inggris atau bahasa Korea, ongkos muter-muter kedutaan, ongkos mengirim berkas, menyetak berkas-berkas, sedekah, mentraktir teman, dll.

  • Share ke seluruh dunia kalau kamu sedang mencoba untuk mencari beasiswa luar negeri. Konteks di sini bukan buat pamer, tetapi mungkin dengan memberi tahu seluruh orang di dekat kamu kalau kamu ingin kuliah ke luar negeri, kamu akan mendapatkan minimal bantuan doa dari mereka dan syukur-syukur kalau mereka memberi tahu kesempatan-kesempatan beasiswa lainnya.

  • Perbanyak ibadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Karena tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah terlibat dalam usaha kita.

Mungkin baru segini yang kepikiran, mungkin nanti kalau ada tambahan saya akan tambahin. NIIED sudah membuka KGSP 2017. Yuk, yang mau tanya-tanya bisa komen di bawah.

LKmvBk5cD8r73tk6qcCbw32DOHCIYZKl.jpg
Keterangan: Untuk mengecek kemampuan bahasa Inggris, jalan-jalan di Asia Tenggara bisa jadi pilihan.

bt8Fg81XJKlbx0FSJAEVHuUkg7pEu50Z.jpg

Sebagai penutup, surah An-Nahl ayat 128:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

1240 Views

Author Overview


Ganis Sanhaji
Graduate Student in Wonkwang University, Iksan, South Korea

More Journal from Ganis Sanhaji


Finally... South Korea
2 years ago