selasar-loader

Belajar dari Negeri Gingseng

LINE it!
Muhammad Rizky Nurawan
Muhammad Rizky Nurawan
Undergraduate Student of Physics at Unpad | Rumah Kepemimpinan Bandung #8
Journal Aug 21, 2017

Hasil gambar untuk seoul korea

Pasti temen-temen Selasar sudah bertanya-tanya, mengapa Korea lebih maju daripada Indonesia? Track record kemerdekaan antara Korea dan Indonesia hanya berselang dua hari saja, mengapa mereka lebih unggul? Padahal, enam dekade lalu, Korea Selatan tercabik perang saudara dan penduduknya hidup dalam kemiskinan.

Namun kini, Korea Selatan menjadi salah satu Macan Asia dalam hal perekonomiannya. Melesatnya ekonomi Korea Selatan memang membuat dunia kagum. Tanpa memiliki sumber daya alam seperti minyak atau hutan dan geografisnya yang keras tidak membuat Korea tak bisa apa-apa. Selepas perang saudara dengan Korea Utara yang berlangsung 1950-1953, Korea Selatan terus bangkit membangun ekonominya hingga menjadi negara maju seperti sekarang ini.

Berdasarkan pengalaman saya saat meluncur ke negeri gingseng, ada banyak sekali perbedaannya. Dari hal yang sangat sepele hingga sangat kompleks. Hal sepele, contohnya dari budaya. Budaya orang-orang Korea terkenal dengan tepat waktunya, sedangkan orang Indonesia terkenal dengan ngaretnya.

Memang terbukti, saat diriku berada di sana dan janjian dengan orang Korea, mereka sangat tepat waktu. Ini berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali, dimulai dari pegawai biasa hingga orang elite sekalipun. Minimnya sumber daya alam membuat bangsa Korea tidak dimanjakan oleh alamnya, sedangkan sumber daya alam Indonesia justru sangat melimpah.

Terlihat SDM Korea memang sangat unggul dibandingkan dengan Indonesia. Dari segi pendidikan, orang tua di sana sangat menekankan betapa pentingnya pendidikan. Selain itu, sistem pendidikan juga mengajakarkan mereka menjadi pribadi yang lebih unggul dan mandiri. Kemandiriannya terlihat saat diriku naik sebuah kereta di Korea dan di sana ada anak-anak kecil setingkat SD atau SMP yang sudah berani berangkat sendiri naik kereta.

Orang Korea sangat tidak ingin mengganggu privasi orang. Terbukti ketika di kereta atau di manapun, mereka memang tidak ingin menanyakan atau ikut campur mengenai masalah pribadi orang. Akan tetapi, dengan begitu, mereka berujung pada sikap individualisme yang sangat kuat. 

Hasil gambar untuk transportasi umum korea

Dalam persoalan pariwisata, di setiap wisata atau tempat umum sekalipun, terdapat tourguide atau orang yang ditugaskan untuk selalu siap men-support wisatawan yang ingin bertanya ketika melancong ke negeri gingseng tersebut. 

Masyarakat Korea Selatan ini sangat menghargai produk bangsanya sendiri. Sebagaimana kita ketahui, Samsung, LG, bahkan produk transportasi kini mulai dikuasai Korea Selatan. Hal itu terlihat pada setiap adegan drama dan film Korea, mereka selalu bangga mempromosikan hasil karya bangsanya sendiri.

Pengalaman saya saat di sana, banyak dari mereka yang menggunakan HP LG dan Samsung. Tidak heran mereka sangat bangga dengan produknya karena telah dipakai oleh negara-negara lain, seperti Indonesia, yang justru menjadi konsumen tetap mereka. Mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Hal itu terbukti: kemampuan berbahasa Inggris mereka dapat dikatakan lebih buruk dari Indonesia karena bahasa Inggris mereka anggap hal yang biasa saja. 

Untuk persoalan rumah tangga, mereka sangat berbeda orang Indonesia. Di Indonesia, ada pepatah mengatakan "Banyak anak, Banyak Rezeki". Pepatah itu tidak berlaku untuk orang Korea. Kebanyakan orang Korea, jika mereka ingin menikah, memikirkan hal yang sangat kompleks, seperti finansial dan apakah dapat membiayai hidup bersama pasangannya. Terlebih lagi, dalam hal memiliki anak, mereka memikirkan pasti akan repot untuk biaya hidup anaknya dan sebagainya sehingga rata-rata setiap keluarga hanya dikaruniai satu anak saja. 

Hasil gambar untuk kimchi

Untuk urusan kuliner, orang Korea kurang lebih sama seperti Indonesia. Dalam setiap makanan orang Indonesia pastilah harus ada sambelnya. Jika tidak ada, maka tidak enak atau tidak selera saat makan. Orang Korea pun kurang lebih sama, mereka setiap makan selalu ada yang namanya kimchi. Di setiap sesi makanan, ketiadaan kimchi akan memberikan kesan tidak lengkap.

Kimchi adalah suatu makanan yang biasanya merupakan sayuran yang rendah kalori dengan kadar serat yang tinggi (misalnya bawang, kacang panjang, selada, dan lain-lain) yang dimasak sedemikian rupa dengan bumbu dan rempah-rempah sehingga menghasilkan rasa yang unik dan biasanya pedas. Dalam kenyataannya (menurut hasil penelitian kesehatan WHO), jenis-jenis kimchi memiliki total gizi yang jauh lebih tinggi dari buah mana pun.

Ada beberapa faktor yang membuat kimchi menjadi makanan spesial. Faktor pertama adalah pembuatannya. Kimchi (dalam hal ini adalah kimchi yang dihidangkan untuk acara-acara spesial, bukan kimchi untuk acara makan biasa dan sehari-hari) dibuat oleh wanita dari keluarga bersangkutan yang mengadakan acara tersebut dan hanya bisa dibuat pada hari di mana acara tersebut dilaksanakan.

Semakin banyak wanita yang turut membantu dalam pembuatan kimchi ini, semakin “bermakna” pula kimchi tersebut. Kimchi juga merupakan faktor penentu kepintaran atau kehebatan seorang wanita dalam memasak. Konon katanya, jika seorang wanita mampu membuat kimchi yang enak, tidak diragukan lagi kemampuan wanita tersebut dalam memasak makanan lain. Faktor ketiga adalah asal mula kimchi. Kimchi pada awalnya dibuat oleh permaisuri dari Raja Sejong sebagai hidangan untuk perayaan Sesi.

Akan tetapi di balik indahnya hidup di Korea ada saja yang tidak menyenangkan. 

buzzfeed.com

Pendidikan di sana pun terbilang tidak menyenangkan. Bagaimana tidak? Sistem pendidikan di Korea tidak seindah di drama Korea!

Begini jam belajar di sana: untuk yang masih SD dan SMP, rata-rata mereka masuk pada jam 7 pagi dan pulang jam 4.30 sore. Sementara itu, untuk yang sudah SMA, mereka masuk pada jam 7.00 pagi dan pulang jam 9.30 malam. 

Lama? Jelas, karena mereka benar-benar disuruh belajar dengan keras untuk lolos ke perguruan tinggi. Persaingan masuk perguruan tinggi di Korea sangat ketat.

Jadi nggak heran, kalau para siswa ini "gila" belajar, bahkan meski sudah belajar 16 jam sehari, saat mereka pulang ke rumah, mereka kembali belajar, atau bahkan mengikuti les tambahan. 

Hari Sabtu pun mereka masuk! Di saat orang Indonesia berekreasi bersama keluarganya, mereka justru masih tetap masuk sekolah.

Sumber gambar 1: Return Of Kings
Sumber gambar 2: About South Korea
Sumber gambar 3: Eva
Sumber gambar 4: Pinterest

1561 Views