selasar-loader

Merawat Kebhinekaan melalui Sikap Kebijaksanaan

LINE it!
Mujahid  Al Fadhlullah
Mujahid Al Fadhlullah
Mahasiswa Antropologi Budaya UGM, Peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 8
Journal Aug 21, 2017

ULzpcoeAAxCpTCQz6VmFRzLZEI5KKtgQ.jpg

“Jika sejarah menjadi guru kebijaksanaan, tokoh sejarahlah yang mengkonkritkan keteladanan. Tokoh sejarahlah yang mengkonkritkan api inspirasi bila dipelajari secara rinci” merupakan kata bijak dari Mata Najwa. Kata-kata ini merupakan perkataan yang strategis untuk kita kontekskan ke dalam realitas yang sedang kita hadapi, baik itu nasional maupun internasional.

Mengapa? Karena saat ini republik Indonesia sedang dihadapkan perubahan sosial yang begitu cepat sehingga membuat masyarakat Indonesia terombang-ambing diterpa oleh isu-isu teroris, radikalis, pluralis, dan sebagainya. Dengan mengetahui sejarah, dengan membaca tokoh sejarah, diharapkan Republik Indonesia dapat mengambil kebijaksanaan dalam menyikapi isu-isu yang sedang dihadapi.

Berbicara tokoh sejarah dunia, ada beberapa tokoh sejarah yang bisa kita ambil hikmahnya dan pelajaran dari perjalanan hidupnya mereka. Kedua ilmuwan tersebut adalah Ibnu Al-Syatir dan Copernicus. Ibnu Al-Syatir dan Copernicus hidup berbeda zaman, Ibnu Al-Syatir hidup pada abad ke-14 dengan karya yang monumentalnya Lemma Al-Urdi, teori yang menjelaskan fenomena peredaran planet-planet luar. Sedangkan, Copernicus yang hidup abad ke-18 mengungkapkan teori Heliocentris yang mengguncang gereja.

Selama perjalanan hidup mereka berdua, Ibnu Al-Syatir dan Copernicus telah memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan, terutama bidang astronmi. Namun, siapa sangka di balik perjalanan sejarah Ibnu Al-Syatir dan Copernicus ada catatan yang perlu diketahui oleh manusia abad ini.

Suatu ketika Kepler menulis surat kepada seorang gurunya dengan mempertanyakan teorema yang dibangun oleh Copernicus tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya keganjilan dalam “pentransferan teori dari Ibnu Al-Syatir kepada teori Copernicus yang Kepler tidak meneruskan atau tidak mengkaji lebih dalam dari apa yang dicurigainya terhadap teorema yang dibangun oleh Copernicus.

Pada tahun 1957, Otto Neugerbaue menyambungkan firasat dari Kepler untuk meneliti antara teorema Ibnu Al-Syatir dan Copernicus. Dalam perjalanan penelitiannya, Otto meyimpulkan bahwa Copernicus telah meniru teorema pergerakan bulan dari Ibnu Al-Syatir dan At-Tusi. Bahkan Otto pun mengatakan bahwa teorema tentang pergerakan bulan tersebut tidak ada sebelumnya di peradaban Yunani.

Hal ini diperkuat juga bahwa Copernicus tidaklah mencantumkan namanya sebagai pemilik orisinal dari teorema tersebut. Tidak hanya Otto yang menggali kebenaran, tetapi kegiatan serupa juga dilakukan oleh Victors Roberts dan Edward Steward Roberts. Akhirnya, firasat keganjilan dari Kepler dibuktikan oleh Otto, Edward, dan Roberts dengan bijaksana. Bijaksana sambil menelusuri kebenaran dan keilmiahan dari teori Copernicus tersebut.

Otto Neugebeur, Edward Kennedy, dan Roberts mencontohkan kepada kita menjadi seorang yang bijaksana dalam menyikapi sebuah isu kebenaran demi terjaganya tradisi budaya intelektual. Otto Neugebuer dan Edward menempatkan diri dalam sikap pertengahan antara keraguan dan keyakinan. Berlandaskan rasa penasaran, Otto Neugebuer mencari rujukan-rujukan yang bisa menyambungkan benang merah antara Ibnu Al-Syatir dan Copernicus, tidak mengedepankan sikap keraguan, dan juga keyakinan sepenuhnya terhadap isu yang beredar.

Begitu pun dengan Victor Roberts dalam jurnal Isis volume 48 nomor 4 Desember 1957 menyatakan, “Kalau selama ini orang yang meyakini bahwa sains Eropa di zaman Renaisans itu muncul dengan sendirinya dari nol, atau jika berutang budi pun, hal itu karena terinspirasi oleh karya-karya saintis Yunani kuno, maka dengan adanya temuan penting ini, sejarah perkembangan sains di Eropa perlu ditulis dengan mengaitkannya dengan perkembangan sains di dunia Islam.

Saat ini banyak orang yang semakin jauh dari sejarah, salah satunya di kalangan pemuda Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya isu-isu yang di-frame oleh media kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak bangga dan sulit untuk berkomentar. Tidak hanya dalam kehidupan nyata kita dapat menemui orang yang phobia dengan suatu identitas keagamaan tertentu, tetapi dalam media sosial pun terjadi hal sedemikian rupa.

Padahal sebenarnya kalau melihat sejarah, peradaban yang kita nikmati saat ini merupakan hasil usaha dari peradaban-peradaban sebelumnya, yaitu peradaban Yunani, peradaban Islam, dan terakhir adalah peradaban Eropa. Salah satu peradaban yang berkontribusi dalam ilmu pengetahuan dunia adalah peradaban Islam. Mengutip perkataan dari Professor Cuyler Young dalam salah satu seminarnya mengatakan, “Ini adalah presentasi sejarah yang dimaksudkan untuk mengingat utang tradisi besar terhadap Islam, tepatnya semenjak milenium ini."

Berdasarkan pemaparan di atas, apakah kita sebagai seorang bangsa Indonesia masih phobia dengan identitas suatu kelompok tertentu? Apakah kita tidak minder atau pun sedih begitu melihat bijaksananya pahlawan dan para ilmuwan terdahulu dalam menyikapi perbedaan dan isu publik? 

Janganlah hanya karena polemik sederhana dapat memicu konflik di antara kita. Inilah yang dihindarkan oleh kita bersama, yaitu “sumbu pendek”. Hindari sumbu pendek. Pakailah sumbu panjang agar tidak langsung terbakar. Pakailah sikap kebijaksanaan agar tidak langsung emosian. Agar kerukunan hidup kembali di tengah-tengah masyarakat dan nihilnya permusuhan antargolongan. Begitulah sejarah, ia mengajarkan begitu banyak sikap-sikap kebijaksanaan yang perlu kita petik dan aplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.   

Sudah 72 tahun Republik Indonesia merdeka, itu berartinya sudah 72 tahun kurang lebih semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika” disepakati dan ditetapikan. Dari semboyan ini, masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Marauke merasa satu tanah air, satu tumpah darah, dan satu bahasa. Tidak rumit untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia selama 72 tahun tersebut.

Kita memerlukan cara-cara baru untuk saling mengisi kemerdekaan dan menjaga persatuan kesatuan Republik Indonesia. Salah satu caranya adalah membangun kebijaksanaan di masing-masing pribadi bangsa Indoensia yang berlandaskan penghayatan sejarah. Agar ketika diteriakkan kata-kata “merdeka”, maka kekuatan bunyinya tidak hanya berasa dari lisan atau pita suara, tetapi berasal dari hati nurani bangsa Indonesia yang dapat menguncang semangat merdeka.

Sumber gambar: daengbattala.com

363 Views