selasar-loader

16 Agustus: Menelisik Memori Bersejarah Peristiwa Rengasdengklok

LINE it!
Muhamad Iman Abdurahman
Muhamad Iman Abdurahman
Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada / RK 8 Yogyakarta
Journal Aug 16, 2017

iQjBBMc6jSR938M5dorKat3eyXtTUlFv.jpg

Bulan Agustus merupakan bulan yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Kenapa? Itu karena di bulan ini telah terjadi peristiwa yang sangat penting bagi kedaulatan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia, yaitu terengkuhnya kemerdekaan Indonesia dari jajahan bangsa lain pada tanggal 17 Agustus 1945.

Semangat membara mengiringi pembacaan teks proklamasi oleh Ir Soekarno, dengan lantang menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi bangsa yang terjajah, bukan lagi para budak bagi para penjajah, dan bukan lagi seekor macan yang sedang tertidur. Indonesia siap untuk mengelola pemerintahannya sendiri dan berdiri di atas kakinya sendiri.

Perjalanan menuju kemerdekaan tidaklah mudah, butuh perjuangan, keringat, darah, dan air mata. Rentetan perjalanan mampu menjadi medan peristiwa bersejarah dalam rangka merengkuh kemerdekaan Indonesia. Peristiwa Rengasengklok menjadi peristiwa bersejarah dalam rentetan perjalanan dalam meraih kemerdekaan.

Rengasdengklok, peristiwa yang menggambarkan perbedaan idealisme antara kalangan muda dan kalangan tua. Perbedaan idealisme yang tentunya membuahkan kemerdekaan satu hari setelahnya. Ya, tepat sehari sebelum proklamasi dikumandangkan oleh Ir Soekarno, pada tanggal 16 Agustus 1945, peristiwa Rengasdengklok hadir mengisi berbagai peristiwa bersejarah bangsa Indoneisa.

Peristiwa Rengasdengklok merupakan peristiwa yang dilakukan oleh sejumlah pemuda, antara lain Soekarni, Wikana, Aidit, dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" untuk menculik Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai bentuk reaksi atas harapan pemuda untuk mneyegerakan proklamasi dan menjauhkan pengaruh Jepang yang semakin gencar dari kedua tokoh itu.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB. Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan, terutama setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik.

Dalam beberapa literasi sejarah, Peristiwa Rengasdengklok berawal ketika Marsekal Terauci selaku Panglima Angkatan Perang Jepang di kawasan Asia Tenggara memanggil Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Widiodiningrat agar datang ke Dalath, Vietnam, untuk mendapatkan janji kemerdekaan.

Dr. Radjiman Widiodiningrat turut dipanggil ke Dalath dalam kepastiannya sebagai ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaam Indonesia/Dokuritsu Junbi Cosakai. Mereka bertolak ke Dalath tanggal 9 Agustus 1945, sedangkan pertemuan dengan Marsekal Terauci baru dilangsungkan pada tanggal 12 Agustus 1945.

Sementara itu, berita penyerahan Jepang kepada Sekutu didengar oleh Sutan Syahrir dan para pemuda yang termasuk orang orang Menteng Raya 31 Jakarta, antara lain Chaeril Saleh, Abu Bakar Lubis, dan Wikana melalui radio Amerika Serikat. Terkait dengan hal tersebut, golongan muda mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta.

Rapat yang dipimpin oleh Chaerul Saleh tersebut menghasilkan keputusan berupa tuntutan-tuntutan golongan muda yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan kepada bangsa lain. Hubungan dan janji kemerdekaan harus diputus. Selain itu, perlu juga diadakan pertemuan dengan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta agar kelompok pemuda diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi.

Bung Karno dan Bung Hatta yang baru pulang menghadap Marsekal Terauci di Dalath Vietnam tanggal 15 Agustus 1945, pada pukul 22.00 WIB didesak oleh kelompok pemuda yang dipimpin oleh Wikana dan Darwis untuk segera memproklamasikan kemerdekaan negara Indonesia. Namun, Bung Karno dan Bung Hatta (golongan tua) belum bersedia karena akan mencari kebenaran resmi terkait berita tersebut dan membicarakan pelaksanaan proklamasi dalam rapat PPKI.

Pada waktu itu, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta serta tokoh-tokoh lainnya menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI, sedangkan golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, oleh golongan pemuda, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.

Golongan pemuda khawatir jika kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang. Karena tidak ada kesepakatan antara golongan tua dan golongan muda, akhirnya pemuda dengan idealismenya melakukan penculikan terhadap Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai dua tokoh yang paling berpengaruh untuk kemudian dilakukan diskusi secara intensif dengan para pemuda.

Singkat cerita, sekembalinya dari Rengasdengklok, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Achmad Soebardjo, dan para pemuda menuju ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1 Jakarta, pukul 23.00 tanggal 16 Agustus 1945 untuk menyusun teks Proklamasi. Sebelumnya, Bung Karno dan Bung Hatta menemui Mayjend Nisyimura untuk menjajagi sikapnya tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dengan agak segan, Nisyimura tidak menghalanginya asal tidak ada sikap anti-Jepang. Keesokan harinya, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, teks proklamasi dibacakan secara lantang oleh Ir. Soekarno di rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur No.56 yang sebelumnya direncanakan di lapangan IKADA (sekarang lapangan Monas).

Pemindahan tempat terjadi sebagai bentuk antisipasi terhadap para tentara Jepang karena sebelumnya, kabar pembacaan proklamasi di lapangan IKADA sudah tersebar. Dengan begitu, kemungkinan besar tentara Jepang sudah siap berjaga-jaga disana.

Peritiwa Rengasdengklok merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam rentetan perjuangan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan, jika tidak terjadi peristiwa ini sebagai bentuk sikap kritis para pemuda terhadap golongan tua, dimungkinkan kemerdekaan Indonesia tidak terjadi pada tanggal 17 Aagustus 1945 dan kemungkinan lain yaitu golongan tua, khususnya Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, bisa terpengaruh oleh Jepang.

Rengasdengklok memiliki arti penting yang menunjukkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak dikendalikan atau merupakan hadiah dari Jepang, melainkan ditentukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Di samping itu, peristiwa tersebut mampu menyatukan pendapat golongan tua dan golongan muda dalam menentukan waktu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan.

Berdasarkan peristiwa tersebut, sudah sepantasnya para pemuda di zaman sekarang mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Hikmah yang bisa diambil antara lain sebagai berikut.

1. Pemuda harus memiliki sikap kritis.
2. Seperti perkataan Tan Malaka, idealisme adalah kenikmatan terakhir yang dimiliki pemuda.
3. Perjuangan mencapai kemerdekaan butuh berbagai pendapat dan pemikiran dari berbagai golongan.
4. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai perbedaan.
5. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.
6. Pemuda harus bersatu, perjuangan dalam mencapai suatu tujuan yang berorientasi kebaikan harus dilakukan dengan bekerja sama (berjamaah), bukan bekerja bersama-sama.
7. Pemuda sebagai agent of change, social control, dan iron stock.

Perbedaan pendapat antara golongan tua dan muda, atau antargolongan apapun, tidaklah menjadi hal untuk memecah-belah bangsa Indonesia. Perbedaan adalah hal yang lumrah dan wajar. Sementara itu, kesepakatan bersama adalah suatu keniscayaan yang harus diperjuangkan dalam bingkai kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Sumber gambar:  Berdikari Online

1026 Views