selasar-loader

Wirausaha: 9 dari 10 Pintu Rezeki

LINE it!
Dio Kuncoro
Dio Kuncoro
Teknik Transportasi Laut FTK ITS 2014 | Peserta Rumah Kepemimpinan 4 Surabaya '8
Journal Aug 15, 2017

3trbLbi6ecBLdXGcKmq4kr1FYdT1PDXQ.jpeg

Alhamdulillah lagi-lagi mendapatkan kesempatan luar biasa bisa sharing bersama seorang yang sangat rendah hati, yaitu Bapak Adi Dharma yang merupakan pengusaha properti dan kontraktor dalam dialog pasca kampus (DPK) pada Senin tanggal 8 Mei 2017 dengan tema “Langkah-langkah Menuju Kewirausahaan”. 

Pertanyaan diawali dengan, “Mengapa wirausaha?”. Dasar yang dijadikan sebagai pegangan mengapa penting menjadi wirausaha adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90% pintu rezeki” serta “Jalan tercepat menuju kekayaan adalah wirausaha, karena 9 dari 10 pintu rezeki adalah perdagangan.”

Berangkat dari dua hadis tersebut Bapak Adi Dharma memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha. Meskipun bukan berlatar belakang dari keluarga wirausahawan dan ekonomi berkecukupan, tetapi beliau bertekad untuk menjadi wirausahawan dengan segala macam jalan dan tantangannya.

Pada tahun 1993 ketika beliau masih sekolah di SMAN 5 Surabaya, orang tua (ayah) beliau jatuh sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya. Sehingga mau tidak mau beliau harus berhemat dan mencari cara untuk bisa tetap bertahan hidup. Hingga akhirnya tahun 1996 beliau masuk di perguruan tinggi di Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), di jurusan Arsitektur FTSP.

Saat ini, beliau tetap berusaha keras untuk menghidupi dirinya dengan mengejar beberapa beasiswa dan mencari pekerjaan. Selagi kuliah, tahun 1998 – 2000, beliau bekerja sebagai WEB Designer Uitset. Setelah lulus kuliah, tahun 2001, beliau semakin memiliki keinginan untuk berwirausaha di bidang kontraktor.

Lantas beliau mencoba menggali ilmu dengan bergabung di perusahaan BSG (Bersatu Sukses Group) sebagai Vice Project Manager. Di sini beliau menjalin relasi/networking yang akan berguna ke depannya saat beliau membangun usahanya sendiri. Beragam pengalaman menyenangkan maupun pahit beliau rasakan di sini. Hingga mulai tahun 2003 beliau mencoba berwirausaha sebagai subkontraktor dan terus berlanjut menjadi developer maupun kontraktor untuk beberapa proyek. Usaha beliau semakin meningkat hingga suatu ketika beliau tertipu sepuluh miliar oleh rekan bisnisnya.

Di saat itulah masa keterpurukan beliau. Namun, beliau mencoba terus ikhlas dan wawas diri. Beliau menyadari apa yang didapatkan selama ini banyak dari hasil riba, baik disadari maupun tidak. Terdapat banyak hak-hak orang lain pula di dalamnya. Sehingga menjadikannya tidak diridai oleh Allah dan beliau semakin sadar bahwa segala sesuatu itu hanya titipan dari Allah SWT, yang dapat diambil kapan saja darinya.

Dari situ beliau bangkit dan Alhamdulillah mulai mendapat titik terang. Beliau dipertemukan dengan kawannya yang nantinya akan membawa bisnis beliau menjadi bisnis yang syariat. Awalnya, beliau menjalankan bisnisnya dengan cara yang konvensional, masih melibatkan perbankan untuk masalah modal. Sehingga orang yang ingin membeli rumah dari hasil develop beliau harus mengikuti aturan bank dengan sedemikian rupa yang di dalamnya juga terdapat bunga.

Akhirnya setelah bekerja sama dengan kawan lama, beliau mengembangkan bisnis kontraktor dengan sistem syariat, yaitu tanpa back up bank. Hingga saat ini beliau sedang mengembangkan perumahan syariat di Bandung yang tergabung dalam perusahaannya yang bernama Royal Orchid Group.

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari sharing pengalaman Bapak Adi Dharma adalah:

  1. Prinsip yang selalu dipegang beliau, yaitu kerja keras, berani ambil risiko, ulet, dan pantang menyerah. Sebagai pemuda, tidak hanya yang ingin menjadi wirausaha, kita harus memiliki semangat tersebut untuk bisa melangkah maju dan sukses. 
  2. Ketika kita terjun di dunia bisnis kita harus memilah usaha dan produk yang baik sesuai syariat Islam. Sehingga hasil yang didapat akan halalan thoyyiban. Dan jangan lupa untuk selalu memperbanyak amalan. Karena semakin banyak kita memberi maka semakin banyak kita mendapat. 
  3. Wirausaha atau bisnis bukan hanya masalah untung dan rugi, tetapi juga masalah surga dan neraka. Oleh karena itu, kita harus banyak beramal dan menjalankan bisnis yang baik serta selalu jujur dan amanah. 
  4. Bisnis yang baik ialah bisnis yang halal, menghindari riba, dan tidak zalim. 
  5. Amalan yang dapat diperbanyak sehingga menambah keberkahan bisnis kita ialah sedekah, menyantuni anak yatim, salat Duha, dan selalu berbakti kepada orang tua.

Terakhir sebagai penutup, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda kepada Zubair bin Al-Awwam, "Hai Zubair, ketahuilah bahwa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah Azza Wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahmya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, niscaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan baginya."

Semoga kita semua mendapatkan hikmah. Amin. 
Rumah Kepemimpinan. Creates future leaders
RK 4 Surabaya.

Sumber gambar: Portal Investasi

519 Views