selasar-loader

Ortubis, Pemanfaatan Cornrice yang Memaksimalkan Kemampuan Penyandang Tuli Bisu

LINE it!
Said Afghani
Said Afghani
Hallo! :)
Journal Aug 22, 2017

4rrfP_Sr_URvFSNJYIZ9y_oazqvNQkEw.bmp

Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, lebih dari 10% merupakan penyandang tuli dan bisu. Tuli dan bisu umumnya dialami sejak kecil oleh anak-anak, yaitu sebelum memasuki usia sekolah. Mereka membutuhkan banyak pelatihan agar dapat berinteraksi dengan masyarakat lainnya melalui kemampuan tertentu serta bisnis yang mereka miliki. Namun, penyandang tuli bisu memiliki kelebihan, yakni kemampuan penglihatan yang baik.

Disabilitas bukan Batasan 

Salah satu sekolah yang memfasilitasi pengembangan anak-anak penyandang tuli dan bisu di Bandung adalah sekolah luar biasa (SLB) negeri Cicendo. Penyandang tuli dan bisu yang sedang menjalani sekolah menengah atas cenderung menjadi pengangguran setelah lulus karena tidak diberikan kesempatan untuk bekerja di lingkungan masyarakat. Hal tersebut karena berbagai alasan, seperti kemampuan yang kurang dalam mendengar dan berbicara. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menyediakan ekstrakurikuler tata boga sebagai media pengembangan soft skill agar memiliki pengetahuan di luar akademik.

Kegiatan tata boga dapat dilaksanakan karena penyandang tuli dan bisu memiliki penglihatan yang baik sehingga memungkinkan untuk melakukan gerakan dalam mobilitas yang tinggi. Sayangnya, kegiatan tersebut tidak diiringi dengan program pengembangan kewirausahaan yang diperlukan sebagai bekal untuk mempromosikan hasil tata boga. Untuk itu, dibutuhkan sebuah program yang dapat membimbing anak-anak penyandang tuli dan bisu dalam memasak dan bagaimana memasarkan produk yang dibuat.

Saat Mahasiswa Mengintervensi 

Dengan latar belakang tersebut, lima mahasiswa dari berbagai jurusan di ITB membuat Ortubis (Olahan Cornrice ala Penyandang Tuli Bisu). Peneliti Ortubis terdiri dari Ni Luh Putu Lilis (Teknik Industri 2014), M. Yusuf Febriyanto (Teknik Industri 2014), Ni Putu Amanda (Teknik Elektro 2014), Gede Aditya Pratama (Teknik Telekomunikasi 2015), dan Said Al Afghani (Matematika 2015). Program pengolahan cornrice (beras jagung) yang dikerjakan oleh penyandang tuli dan bisu ini dipilih karena kurangnya pelatihan-pelatihan khusus untuk penyandang tuli dan bisu, misalnya pelatihan produksi dan kewirausahaan.

aMsD1njsBqYY5c3W5kDlbzqPZmwFW2E3.bmp

Tim Ortubis bekerja sama dengan SLB Negeri Cicendo Bandung untuk menjalankan program ini. Harapannya, dengan adanya Ortubis kemampuan dari penyandang tuli dan bisu dalam memasak berbagai jenis makanan dengan bahan baku beras jagung dapat meningkat. Maka, angka pengangguran lulusan SMA dari SLB Negeri Cicendo akan berkurang dan penyandang tuli dan bisu dapat memperoleh kesempatan belajar berwirausaha.

Selain itu, Ortubis yang dilaksanakan dalam jangka panjang akan memunculkan individu-individu yang dapat memasak dan mengolah beras jagung dengan mahir dan nantinya dapat membantu penyediaan pembimbing memasak bagi penyandang tuli dan bisu terkait dengan sulitnya mencari tenaga kerja untuk SLB Negeri Cicendo.

Hasil produk dari Ortubis sendiri merupakan produk olahan beras jagung, misalnya Cornshi, yang merupakan sushi dengan bahan baku beras jagung. Beras jagung diharapkan dapat menjadi pengganti beras padi di masa mendatang, sebagai langkah untuk membantu diversifikasi pangan di Indonesia. Selain itu, kelebihan cornrice adalah ia dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes tanpa mengurangi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Dikutip dari: https://www.itb.ac.id/news/read/5610/home/ortubis-pkm-pemanfaatan-cornrice-yang-memaksimalkan-kemampuan-penyandang-tuli-bisu

Sumber gambar 1: Penulis
Sumber gambar 2: Penulis

210 Views

Author Overview