selasar-loader

Sekelumit Catatan: Berguru di Korea Selatan

LINE it!
Fau Lamis
Fau Lamis
Exchange Student at Kangwon National University, South Korea
Journal Aug 10, 2017

oczPAhJzNGs4tULXptt3omtpyIKyQmKL.jpg

"Pergi keluar negeri itu untuk memahami negeri kita dari jarak yang cukup," tulis Kak Erda Rindrasih, salah satu mahasiswa asal Indonesia yang saat ini sedang mengenyam pendidikan PhD di Utrecht University, di akun media sosialnya. 

Menjadi seorang exchange student di Korea Selatan membuat saya melihat tanah air dari sudut pandang yang berbeda. Di tanah rantau saya saat ini, ternyata jarak berhasil membuat yang tiada menjadi ada. Betapa cinta dan rindu terhadap tanah air menjadi makin besar saat saya berada di sini.

Betapa bangganya ketika saya memperkenalkan diri di hadapan mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang lain, "I come from Indonesia." Bagi saya, kalimat tersebut tidak hanya diucapkan sebagai perkenalan biasa, melainkan sebuah perkenalan untuk memperkenalkan sesuatu yang amat saya cintai. Betapa air mata tak kuasa saya bendung saat mendengar bait demi bait lagu "Indonesia Raya" dikumandangkan walau hanya melalui dunia maya.

Indonesia. Satu kata yang berhasil membuat hati saya begitu bergetar. Saya menyadari, keberadaan saya di sini tidak hanya sebagai representasi dari institusi semata, yaitu Institut Pertanian Bogor. Namun, juga sebagai representasi sebuah negara, yang tak lain representasi dari Indonesia. Tak peduli dari suku mana, tak peduli dari wilayah Indonesia bagian mana, saat saya berada di sini, saya datang dari Indonesia.

Setiap tingkah laku yang dilakukan, buah pikiran yang saya tuangkan, bahkan perkataan yang saya lisankan, semuanya berujung pada pemikiran "orang Indonesia begitu ya?" Padahal, sejatinya saya hanya satu dari dua ratus juta lebih masyarakat Indonesia. Namun, begitulah kenyataannya. Ada beban moral tersendiri di pundak pelajar Indonesia yang sedang berguru di negeri asing.

Kurang lebih sudah setengah tahun saya berada di sini. Saat mendengar nama Institut Pertanian Bogor dan Indonesia, respon dari lawan bicara saya senantiasa begitu baik. "Your campus is really good, especially in agriculture field," ucap seorang mahasiswa Korea yang saya temui beberapa bulan lalu di kafetaria saat jam makan siang.

Begitupun saat mendengar nama Indonesia, "Your country is very good," ucap Mr. Moon Kook-hyun selaku President & CEO Hansoll Textile pada acara Global Leadership bulan lalu. Lantas, masih haruskah saya, Anda, dan kita semua meragukan rasa kebanggan kita terhadap Institut Pertanian Bogor dan Indonesia?

Namun, tentu, jika rasa bangga tersebut tidak diiringi sebuah tindakan nyata, maka hanya akan berujung sebagai isapan jempol belaka. Justru rasa kebanggaan tersebut merupakan langkah awal untuk terus senantiasa memperbaiki citra baik yang sudah ada. Di bulan pertama kedatangan saya di Korea Selatan, pihak OIA (Office International Affair) Kangwon National University mengadakan welcome party bagi seluruh exchange students.

Pada kesempatan itu, saya menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang tampil dengan membawakan satu tarian daerah Sunda. Saya tampil bukan tanpa keraguan. Bahkan beberapa jam sebelum saya tampil, berbagai pertanyaan muncul dalam diri saya. "Mampukah saya membawakan tarian dengan baik? Bagaimana jika saat tampil saya lupa apa gerakan selanjutnya?"

48SP1J0GZuLFHyXmQxDuY5JPYOCmpb_j.jpg

Namun, saya sadar, jika bukan kita sendiri yang memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luar bahkan dunia, lantas harus siapa lagi? Dengan mengucap beribu rasa syukur, akhirnya sebuah tarian dari tanah Sunda berhasil saya tampilkan di negeri ginseng ini walaupun pada awalnya saya harus mengalahkan keraguan di dalam diri saya sendiri.

Di lain kesempatan, rasa kebanggaan saya terhadap Indonesia makin terpatri. Sebanyak enam belas mahasiswa Kangwon National University mengadakan sebuah kegiatan mengajar secara sukarela di SMPN 26 Bandung selama satu bulan. Program ini adalah program yang dirintis oleh Kementrian Pendidikan Korea Selatan.

Dalam kesempatan ini, saya membantu mahasiswa Kangwon National University mempelajari bahasa Indonesia beberapa hari sebelum keberangkatan mereka pada akhir bulan Juli lalu. Hari itu, yang saya lakukan adalah mengecek dan membenarkan pelafalan bahasa Indonesia yang mereka ucapkan.

Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika satu per satu dari mereka melafalkan bahasa Indonesia dengan sedikit terbata-bata. Tidak hanya sampai di situ, mereka juga menghujani saya dengan beragam pertanyaan mengenai Indonesia.

Mereka menanyakan seperti apakah bentuk nasi goreng, apa perbedaan ayam goreng khas Indonesia dengan ayam goreng yang ada di tempat makan cepat saji, apa perbedaan es campur dengan es krim pada umumnya, dan masih banyak pertanyaan yang lain. Ada rasa kebahagiaan tersendiri saat mereka antusias mencatat setiap informasi yang saya berikan tentang Indonesia.

Dari berbagai pengalaman yang saya dapatkan selama di sini, saya sadar bahwa ternyata jarak kian menguatkan rasa cinta saya terhadap Institut Pertanian Bogor dan Indonesia. Akan selalu ada ruang rindu di lubuk hati terdalam saat kita berjarak dengan apa yang kita amat cintai. Pergi untuk mengukir jarak tak selamanya berarti pergi untuk meninggalkan.

Hanya saja, kadang diperlukan jarak tertentu untuk bisa memahami makna cinta dan mencintai dengan lebih baik. Sebagai penutup, ada pesan yang ingin saya sampaikan untuk diri saya pribadi, Anda, dan kita semua.

Bergurulah ke negeri orang, dan kembali pulanglah untuk benar-benar mencintai negeri sendiri. Karena dengan begitu, kita akan sadar bahwa ternyata negara yang telah kita tinggalkan amat berharga untuk benar-benar ditinggalkan.

Ditulis di Gangwon-do, Korea Selatan

Sumber gambar 1: PT. Century Investment Futures
Sumber gambar 2: dokumentasi penulis

626 Views

Author Overview


Fau Lamis
Exchange Student at Kangwon National University, South Korea

More Journal from Fau Lamis


Momen Kemerdekaan di Korea Selatan
2 years ago