selasar-loader

Dosa Rakyat kepada Pemerintah: Sebuah Pelajaran dari Korea

LINE it!
Ghulam Zaky
Ghulam Zaky
Mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung
Journal Aug 4, 2017

olRbyrW6OW9IhqfafoKq46iSTBXVUjqM.jpg

Kondisi politik negeri ini sedang memanas. Kasus-kasus korupsi kelas kakap mulai mencuat, manuver-manuver politik dilakukan untuk menyembunyikan kasus tersebut, pengalihan isu seperti beras palsu dan pengalihan dana haji disiarkan ke seluruh negri, para penyidik KPK diteror secara personal, lembaga KPK direncanakan untuk diperlemah secara legal formal, dan para tertuduh membawa-bawa nama Tuhan, mengatakan bahwa mereka tidak bersalah.

Masyarakat bawah skeptis dan apatis. Drama lakon politikus tak tahu malu digulirkan terus-menerus sejak Indonesia merdeka hingga menjelang ulang tahun kemerdekaan ke-73 dewasa ini.

Tujuh puluh tiga tahun berdaulat, pemegang amanah masih berkutat untuk memahami makna integritas, pelayanan, dan cinta. Maju terus membela yang benar bayar.

Oke, sebelum saya menambahkan daftar dosa dan kesalahan kepada para pengemban amanah, mari kita pause sejenak. Mari kita renungkan kembali.

Apakah ini murni salah mereka? Sedangkan kita hanya rakyat kecil lemah tanpa dosa yang menjadi korban kezaliman penguasa? Apakah kita memilki peran di dalam kezaliman ini?

Pengalaman saya berikut ini mungkin dapat menjawab renungan di atas.  

Ketika saya berada di Korea Selatan pada bulan Juli 2017, ada kuliah yang sangat menarik. Kuliah ini diisi oleh seorang profesor dari Pan-Pacific Studies Kyung Hee University, Prof. Keuk-Je Seung.

Beliau pernah menjabat sebagai ahli ekonomi kepresidenan, menjadi ketua delegasi Korea untuk World Trade Organization, dan sebagai dekan Pan-Pacific Studies Kyung Hee University.

gjgAbFDR_GKk6CNdx4ogAj_hvLY_Od1h.jpg

Presentasi beliau berisi pertumbuhan ekonomi Korea. Presentasi itu sangat menarik karena beliau menjadi saksi hidup sendiri bagaimana Korea tumbuh.

Beliau lahir tidak lama setelah Perang Korea, fase saat seluruh Korea hancur akibat Proxy War kapitalis dan komunis. Beliau menjadi saksi ketika para orang tua berkata “Jangan lari, Nak, nanti kalian lapar” karena langkanya bahan makanan, hingga para orang tua berkata “Larilah, Nak, atau kalian akan menjadi gemuk”.

Beliau menjadi saksi keajaiban ekonomi Korea yang tumbuh secara ajaib menyamai negara-negara maju hanya dalam kurun satu generasi, 30 tahun.

Saya tidak akan menceritakan presentasi tentang ekonomi Korea tersebut secara detail. Di tengah-tengah presentasi, beliau bercerita tentang Presiden Park Geun Hye (Presidan 2013-2017) yang turun dari jabatan akibat tuduhan korupsi dan nepotisme. Hal ini membangkitkan rasa penasaran saya. Di akhir presentasi, saya pun mengangkat tangan dan bertanya.

“Pak, bagaimana Korea bisa menurunkan presiden karena korupsi? Di negeri saya, korupsi sulit sekali ditangani, kasus korupsi sulit terbongkar karena para politikus dan konglomerat memiliki teman dimana-mana yang saling melindungi.

Hingga saat ini, kasus korupsi belum pernah menyentuh TNI dan presiden. Saya tidak menuduh mereka korupsi, hanya saja it’s too good to be true. Lalu kembali ke pertanyaan tadi, bagaimana Korea mampu memerangi korupsi hingga ke lingkaran Presiden?”    

Begini jawaban beliau.

“Korupsi adalah penyakit yang ada di seluruh dunia. Pemberantasan korupsi secara legal formal melalui institusi negara memiliki banyak macam, cara, dan model yang dapat diterapkan. Tetapi, menurut saya, ada yang lebih penting lagi dari itu semua, yaitu social consensus.”

“Sehebat apa pun instrument pengawas korupsi, hasilnya tidak akan hebat jika masyarakat tidak memiliki social consensus untuk memerangi korupsi. Jika masyarakat memiliki social consensus untuk memerangi korupsi dalam kehidupan sehari-hari, maka korupsi dengan sendirinya akan hilang. Tiga puluh tahun lalu, jika saya pergi ke kantor polisi, saya harus bayar. Sekarang, jika saya ke kantor polisi lalu saya bayar, maka saya akan ditangkap.”

Jujur, jawaban beliau membuat saya terpengarah. Social consensus secara bebas artinya kesepakatan sosial. Jawaban beliau secara halus mengatakan bahwa masyarakat (di mana saya juga bagian dari masyarakat) juga bertanggung jawab terhadap korupsi, bukan semata-mata korban.

Lalu, beliau menjelaskan panjang lebar mengenai social consensus di Korea. Masyarakat Korea adalah masyarakat yang homogen. Mereka memiliki wilayah yang kecil dengan bahasa yang sama.

Akar budaya konfusian membuat masyarakat Korea memiliki budaya menghargai satu sama lain dan konflik akibat SARA minim sekali terjadi. Itulah yang membuat social consensus masyarakat begitu kuat.

Selain itu, Korea memiliki tetangga yang hostile-powerful. Ada Rusia di utara, Jepang di timur, dan China di barat. Hal ini menimbulkan sense of emergency kepada masyarakat yang pada akhirnya turut memperkuat social consensus.

Tahun 1907, hutang pemerintah Korea terhadap Jepang sebesar 13 juta won. Imperialis Jepang menggunakan taktik penjajah, yakni meminjamkan modal besar kepada Korea. Ketika Korea tidak mampu membayar, Jepang memaksa pemerintah untuk tunduk pada perjanjian yang merugikan negara.

Namun, masyarakat Korea tidak menyerah pada keadaan. Mereka “patungan” untuk membayar hutang negara tersebut. Para pria tidak merokok (harga 0,2 won/pack) dan wanita menyumbang perhiasan. Dana sudah terkumpul hingga 2,3 juta won sebelum akhirnya digagalkan Jepang dan kemudian Korea dikolonisasi Jepang tahun 1910.

TwDQ_xevtd4xISaSv6R5pHGiSUPm4miU.jpg

Usai perang Korea pada tahun 1950-an, negara Korea hancur rata. Korea dinobatkan sebagai negara peringkat kedua “most heavily bombed country in history”. Jumlah amunisi yang dijatuhkan US selama Perang Korea setara dengan jumlah amunisi yang digunakan US untuk mengebom Jepang selama perang dunia kedua.

Namun, masyarakat Korea tidak berpangku tangan dan bertindak sebagai korban. Mereka bahu-membahu membangun kembali negeri mereka. Masyarakat bergotong royong mebantu pembangunan desa yang hancur, budaya masih hidup hingga saat ini di mana siswa Korea pergi ke desa saat musim liburan untuk membantu warga di sana.

Usai perang itu pula, pohon-pohon rata dengan tanah, perbukitan tandus dan gersang akibat perang. Masyarakat beramai-ramai menanam tanaman di perbukitan untuk menghijaukan kembali negeri mereka. Prof. Keuk-Je Seung pun turut andil mananam pohon ketika beliau masih kecil. Sekarang, jika kalian berkesempatan ke Korea, kalian akan menyaksikan seluruh perbukitan Korea hijau dan asri.

KrY0wawIhlGoQ5-dBWGJKSDtSBfAl2YE.jpg

Sejarah kembali berulang pada krisis Asia tahun 1997 yang juga menghantam Indonesia. Nilai won jatuh dan negara hampir bangkrut. Pada November 1997, pemerintah Korea mengumumkan bahwa mereka butuh pinjaman yang besar untuk menyelamatkan negara.

IMF pun memberikan pinjaman dana kepada Korea dengan persyaratan yang mencekik leher. Jumlah pengangguran meningkat drastis tiga kali lipat. Namun, masyarakat Korea tidak tinggal diam dan bertindak seolah korban.

Mereka “patungan” untuk membantu pemerintah membayar pinjaman IMF. Perhiasan emas disumbangkan kepada pemerintah. Tiga puluh lima juta orang berpartisipasi dan 227 ton emas dikumpulkan. Hutang IMF berhasil dilunasi lebih awal dari jadwal, dalam waktu tiga tahun.

Jawaban Prof. Keuk-Je Seung tersebut menyadarkan saya. Korea bukan negara sempurna, banyak masalah yang dihadapi. Pun Indonesia memiliki masalah yang dihadapi.

Namun, Korea memiliki social consensus yang membantu mereka mencapai level negara maju hanya dalam satu generasi (30 tahun). Sebuah rekor pencapaian ekonomi yang luar biasa.

Saya pribadi tidak tahu apakah negeri saya akan mampu seperti Korea, atau apakah model Korea dapat diterapkan di Indonesia. Kondisi Indonesia yang berpulau-pulau, bersuku-suku, membuat saya pesimis apakah Indonesia dapat mencapai social consensus. Saya tidak tahu.

Apa yang saya tahu adalah rakyat berdosa kepada pemerintah dan generasi penerus jika terus melakukan pembiaran, berlaku seolah korban, dan budaya korupsi masih melekat dalam diri.

Yang saya tahu, perubahan berasal dari bawah, dari tiap individu, dari diri kita sendiri.

Kyung Hee University Global Campus Suwon, 4 Agustus 2017
Ghulam Zaky / Teknik Mesin ITB 2014

Referensi
Sung, Keuk-Je. (July 2017). Korean Economic Development at a Glance for The Delegation from ASEAN.
Becker, Andreas. (2 April 2015). Koreans' gold donations - a model for Greeks?. Retrieved from http://www.dw.com/en/koreans-gold-donations-a-model-for-greeks/a-18357224  
The commemorative association of the national debt redemption movement. Significance of The Collection. Retrieved from http://www.gukchae.com/eng2/sub02/sub_0204.aspx
Asia for Educators. (2009). Korea as a Colony of Japan, 1910-1945. Retrieved from http://afe.easia.columbia.edu/main_pop/kpct/kp_koreaimperialism.htm
The Washington Post. (2017). 64 years after Korean War, North still digging up bombs. Retrieved from https://www.washingtonpost.com/world/the_americas/64-years-after-korean-war-north-still-digging-up-bombs/2017/07/23/111d29d6-7023-11e7-8c17-533c52b2f014_story.html?utm_term=.2978a19379b8

Sumber gambar 1: 민중의소리
Sumber gambar 2: Universidad Autónoma de Nayarit
Sumber gambar 3: City News Group
Sumber gambar 4: slideshare.net

1241 Views