selasar-loader

Menumbuhkan (Kembali) Budaya Malu yang Terkikis

LINE it!
Ridwan Hidayanto
Ridwan Hidayanto
Dokter Gigi Muda | Unair | Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 Regional 4 Surabaya
Journal Aug 3, 2017

cpjCbz5VxIG9qSoBrECwEEjCOrqPtWSe.jpg

Perilaku merupakan cerminan diri kita sendiri. Begitulah pepatah mengatakan. Sebagai manusia, kita diciptakan oleh Tuhan dengan karakter yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing. Setiap kita adalah unik, bahkan pada dua mereka yang kembar identik sekalipun.

Dari sekian banyaknya karakter itulah di dalam diri manusia terdapat rasa malu. Rasa malu: sebuah perasaan yang erat kaitannya dengan budaya bangsa, termasuk bangsa Indonesia itu sendiri.

Rasa malu merupakan sebuah budaya yang makin lama makin terkikis oleh perkembangan zaman. Padahal, budaya malu ini merupakan budaya yang telah mengakar kuat dan menjadi pondasi awal generasi-generasi pendahulu kita.

Sudah semestinya bangsa ini belajar menumbuhkan kembali budaya malu itu. Dengan memiliki rasa malu ini, setiap individu dari bangsa yang besar ini akan mampu mengendalikan diri, mengatur, sekaligus menjaga lisan dan perilakunya agar tetap terhormat dan menjunjung tinggi rasa kebersamaan.

Kita ambil contoh politisi atau wakil rakyat. Mereka akan malu jika perilakunya tak mencerminkan peran strategis mereka sebagai “wakil” rakyat, bahkan mencederai kehendak rakyat yang diwakilinya.

Begitu juga sebagai seorang mahasiswa, mereka tentunya akan sangat malu ketika apa yang diucapkan tidak sesuai dengan perilaku kehidupannya sehari-hari di kampus. Bisa jadi ia seorang aktivis terkenal di kampusnya yang bisa berbicara dengan dialektika dan bahasa yang melangit, mengkritisi kebijakan kampus, bahkan menghadiri diskusi di sana dan di sini. Namun, dalam hal amanah akademik, ia tidak sanggup menjalankannya dengan baik.

Kian terkikisnya budaya malu itulah yang kini terasa sangat mengganggu perjalanan bangsa ini. Budaya malu yang sedemikian tipis, bahkan bisa dikatakan sama sekali tak ada, itulah yang menyebabkan politisi negeri ini selalu ingin menang sendiri. Mereka tak peduli soal rakyat.

Hal terpenting bagi mereka kekuasaan ada di tangan, sekalipun langkah mereka keliru atau bahkan mengkhianati aspirasi publik. Oleh karena itu, jangan heran ketika kita melihat mereka yang jadi tersangka korupsi malah tersenyum lebar ketika media menyoroti wajah mereka.

Sudah semestinya juga kita merasa malu jika gagal mengemban amanah. Belajar memiliki rasa malu itu sesungguhnya amat penting bagi kita untuk memelihara negeri ini. Sudah saatnya kita yang merupakan generasi penerus bangsa kembali untuk memulai belajar dan membudayakan rasa malu itu. Budaya malu ini wajib tumbuh di berbagai sektor, baik dalam dunia politik, pemerintahan, pendidikan, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya.

Selama kita tidak menumbuhkan rasa malu, selama itu pula kita akan gagal menciptakan keadaan yang lebih baik bagi bangsa ini. Sebab, rasa malu itulah budaya asli bangsa kita yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dengan menjaga rasa malu itu pulalah, kita akan menjadi bangsa yang bermartabat.

#InspirasikuJuli2017 #Rumah Kepemimpinan #RK Regional Surabaya

Sumber gambar: giisquierdo.com

381 Views