selasar-loader

Thukul Bikin Saya Resah

LINE it!
Supriyadi
Supriyadi
Freelancer
Journal Jul 31, 2017

zHkBE80zuvuhDzndiAMZE6P5so0zK9oP.jpg

Kecewa, menyesal, putus asa, gamang, dan dipenuhi rasa semacamnya saya rasakan setelah saya menemui Thukul di rumahnya di Kalangan, Solo. Pertemuan kami terjadi pada tahun 1994, saat saya masih mencari “kiblat” untuk menyongsong masa depan.

Saya merasakan Thukul hatinya membeku, seolah sedang menyembunyikan banyak hal. Mungkin saja, ketika itu Thukul sudah mulai berhati-hati menerima orang asing di rumahnya. Setelah mempersilakan duduk di kursi, mirip kursi bekas, Thukul bertanya wajar kepada saya, "dari mana?" Saya menjawab, "dari Surabaya." Thukul bertanya lagi, "Tahu rumah saya dari siapa?" Saya menjawab sekenanya, "Saya tahu dari koran."

"Surabaya akeh penyair hebat, Mas. Kenapa harus belajar ke saya?"

Wiji Thukul

Selanjutnya Thukul bertanya, "Ada keperluan apa datang kemari?" Saya menjawab, "Saya ingin belajar sebagai penyair dan penulis." Tertawa Thukul berderai sambil berkata, "Sampeyan guyon. Surabaya akeh penyair hebat, Mas. Kenapa harus belajar ke saya," ucap Thukul.

Maksudnya, saya dikatakan tidak serius. Di Surabaya sendiri banyak penyair lebih bagus. Begitu kira-kira ketika itu, ia menyambut kedatangan saya sebelum menyuguhkan air putih.

Sebagai tamu yang tidak diundang, saya boleh juga disebut lancang. Sebab, saya telah membuyarkan obrolan serius Thukul dengan seseorang. Saya sedikit ingat, seseorang yang diajak ngobrol Thukul memakai hem warna biru pupus lengan panjang digulung. Lebih rapi daripada Thukul yang jelang sore itu mengenakan kaos oblong dan celana agak kedodoran.

Sepertinya belum lama keduanya terlibat obrolan serius. Namun, karena keburu saya datang, Thukul meminta izin kepada saya melanjutkan obrolan di ruangan sebelah. Itu seingat saya, entah dapur atau teras belakang, karena saya kurang cermat mengamati rumah sempit itu. Saya memilih diam di ruangan yang penuh buku itu dengan suguhan air putih. Untuk mengalihkan kejenuhan, saya sesekali membaca kliping koran.

Hari sudah melangkah dari magrib. Seseorang yang saya ingat, seumuran Thukul dan berambut agak panjang, itu keluar rumah melintasi saya sambil melempar senyum. Thukul tak menampakkan diri ketika beberapa jeda seseorang itu keluar. Baru setelah seseorang itu kembali dengan membawa dua nasi bungkus, Thukul keluar sambil berkata, “Silakan makan dulu."

Saya segera menyantap nasi itu. Thukul yang terlihat tidak makan membuat saya memberanikan diri bertanya, "Mas Thukul tidak makan?" Ia segera menyahut, “Saya sudah makan. Ayo silakan. Itu nasi khas Solo lho. Murah meriah. Di Surabaya pasti tidak ada," ucapnya bersamaan dengan tawanya.

“Kalau mau minum ambil sendiri saja,” ucap Thukul lagi dengan menunjuk arah kendi, tempat air minum. Seseorang itu pun menikmati nasi HIK. Belakangan baru saya ketahui bahwa itu nasi khas Solo: Hidangan Istimewa ala Kampung.

Di tengah suasana menikmati makan, mata saya mengamati Thukul terus. Thukul duduk di lantai. Masih terbayang samar, ia duduk menghadap ke utara, posisi samping dari arah saya. Hingga kini pun, karena saya tak mudah hafal arah, saya membayangkan rumah Thukul menghadap ke timur dan di depannya ada sebuah jalan dengan luas satu meter mengarah ke utara.

Thukul membaca majalah Tempo. Saya ingat cover majalah itu: Marsinah. Kala itu saya belum mengenal istilah skets untuk menyebut foto Marsinah di cover majalah Tempo itu. Begitu pula soal edisi yang diterbitkan: saya tidak tahu kapan!

Seseorang itu bertanya kepada saya, "Sudah lama di Solo?" Saya menjawab, "baru dua malam." Seseorang itu bertanya lagi, "Tinggal di mana di Solo?" Saya menjawab, "saya menginap di Masjid Terminal."

Lalu, ada pembicaraan Thukul yang tidak saya pahami, di sela saya diajak ngobrol seseorang itu. Tetapi, seseorang yang kemudian Thukul panggil Ham itu berdiri mengambil selembar kertas dari rak buku. Ia mendekat ke arah Thukul dan menyodorkannya. Thukul menuliskan sesuatu di atas kertas itu, yang dibarengi anggukan Ham. "Sore nyampek kita," ucap Ham.

Ham kembali duduk di sebelah saya sambil bertanya, "Habis dari sini rencana akan ke mana?"

Saya tidak segera memberikan jawaban karena saya sedang menikmati kunyahan akhir makan dan saya sudah kelaparan kala itu. Baru beberapa saat, saya memberikan jawaban. “Saya ingin di sini, Mas. Belajar pada mas Thukul. Ingin bisa menulis," kata saya tetap pada jawaban saat ditanya Thukul.

Thukul dan Ham tidak berekspresi. Tak lama saling ngobrol, Ham lalu beranjak keluar rumah. Tanpa ada ucapan kata pamit. Ia hanya melambaikan tangan ke arah Thukul, lalu ditepukkan ke bahu saya.

"Ya wis, kowe wis dienteni nyang stasiun," kata Thukul kepada Ham. Ia mengatakan sudah ada seseorang yang menunggu di stasiun, tanpa menyebut nama sebuah stasiun kereta api.

Di ruangan itu tinggal saya dan Thukul. Kami tak ada obrolan karena saya menganggap Thukul sedang serius membaca tulisan pada lembaran kertas yang dipegang. Saya tidak mengganggu karena belum ada keberanian. Entah apa yang dibaca pria kurus itu. Ia sedang mengoreksi puisi yang dibuatnya, atau membaca sepucuk surat dari seseorang.

Kampung Kalangan sudah dilanda sepi. Celoteh pemukim dan anak-anak yang tadi terdengar riuh berlarian sambil berteriak-teriak sudah larut dalam hening malam. Lelah saya mulai terasa. Saya pun memberanikan diri bicara, "Mas, saya istirahat, ya?"

"Oh ngaso. Ya sik kana, wis wengi," jawab Thukul, mempersilakan saya untuk istirahat. Sudah malam, katanya. Saya pun menghampiri tikar terbuat dari wlingi yang sudah dipersiapkan Thukul. Tikar yang oleh perajinnya dikombinasi warna-warni itu begitu cepat melelapkan saya saat membaringkan tubuh.

Pagi saya membuka mata, seolah ada yang membangunkan. Suara riuh aktivitas penghuni kampung padat itu, kembali saya dengar dalam kesadaran. Namun, rumah itu terasa sepi. Ketika saya mencoba melongokkan ke sudut mana pun, tak menjumpai siapapun. Membuang rasa kebingungan, saya buat melipat tikar dan menata buku yang berserakan. Tiba-tiba, tanpa saya tahu, seorang perempuan masuk.

“Mas yang dari Surabaya, ya?" tanya perempuan itu. Saya meyakini itu istri Thukul, Sipon. Nama yang kemudian baru saya ketahui lewat koran ketika Thukul ramai dibicarakan bersama hilangnya 12 aktivis.

Saya pun mengiyakan. Sipon yang menyebutnya Mas Wiji lantas menjelaskan bahwa Thukul sedang pergi ke Yogjakarta. Mungkin agak lama, setelah itu ke Jakarta. Ia sepertinya banyak undangan. Kayaknya juga nanti ke Ngawi dan Surabaya.

Setelah Sipon memberitahu saya, rasa resah mulai muncul, berpikir antara bertahan tinggal di Solo atau kembali saja ke Surabaya. Ternyata, saya tidak bisa meredam keresahan itu. Akhirnya, saya memilih pamit kepada Sipon meski ketika itu Sipon meminta saya supaya menunggu Thukul sampai datang.

Jalan panjang Wiji Thukul membuat saya resah sudah 23 tahun dan makin terasa ketika Thukul dinyatakan hilang pada 1998. Keresahan itu pun terasa makin kilu pada setiap jelang pergantian rezim di negeri ini. Namanya selalu menjadi komoditi politik untuk meraih kekuasaan. Hingga kini, istri dan dua anaknya pun masih tetap menanti.

Saya sebenarnya tak ingin menceritakan pertemuan saya dengan Wiji Thukul. Bagi saya, pertemuan itu belum berarti. Saya datang ke rumah Wiji Thukul hanya karena dipengaruhi ghirah muda saya sebagai anak desa yang masih usia 22 tahun dan ketika itu ingin belajar.

Keresahan itu kini bak penyakit akut dalam diri saya, membuat saya harus menuangkan dalam tulisan ini. Wiji Thukul pasti akan marah dan protes besar jika tahu, atas namanya terpampang di bioskop-bioskop mal yang berdiri di atas gusuran tanah rakyat. Berkisah tentang dirinya.

Wiji Thukul adalah seniman kerakyatan, dekat dengan kaum komunal, dikisahkan sepenggal dalam bentuk industrial. Istirahatlah kata-kata. Saya tidak ingin menonton.

Surabaya, 23 Januari 2017

* Tulisan ini pernah dimuat di indeksberita.com pada 23 Januari 2017 dan saya posting di kumparan.com pada pada 24 Januari 2017

Sumber gabar: penulis

2267 Views
Sponsored