selasar-loader

Negara Terbaru di Luar Angkasa

LINE it!
Muhammad Rizky Nurawan
Muhammad Rizky Nurawan
Undergraduate Student of Physics at Unpad | Rumah Kepemimpinan Bandung #8
Journal Jul 29, 2017

Hasil gambar untuk asgardia

Pasti sahabat selasar bertanya-tanya memangnya adakah negara yang baru saja dibuat dan letaknya ini berada di luar angkasa? 

Negara apakah itu ? Mengapa bisa terletak di luar angkasa?

Negara terbaru di luar angkasa ini adalah Asgardia. Asgardia, secara resmi disebut Space Kingdom of Asgardia, adalah proposal pendirian negara yang diumumkan pada tanggal 12 Oktober 2016 oleh Igor Ashurbeyli, pendiri Aerospace International Research Center dan Ketua Komite Luar Angkasa UNESCO. Negara yang diusulkan tersebut dimaksudkan untuk membuka akses ke luar angkasa, bebas dari kendali negara-negara yang ada, untuk diakui sebagai sebuah negara berdaulat. 

Gagasan negara pertama di luar angkasa bernama Asgardia oleh ilmuwan Rusia, Igor Ashurbeyli, diminati ratusan ribu warga dunia. Dari jumlah itu, sebanyak 5.336 orang Indonesia ikut mendaftar menjadi warga negara di luar angkasa tersebut.

Angka itu data terbaru yang dikutip dari situs Asgardia. Total warga dunia yang daftar jadi warga negara Asgardia mencapai 273.991jiwa. Jumlah itu berasal dari 225 negara di dunia, termasuk dari Indonesia. Tercatat hampir sebanyak 6.000 warga negara Indonesia (WNI) yang mendaftar untuk menjadi warga negara di luar angkasa tersebut. 

Diumumkan pada tanggal 12 Oktober 2016, tujuan akhir dari proyek itu adalah untuk menciptakan negara baru yang memungkinkan akses ke luar angkasa, bebas dari kendali negara-negara yang ada. Kerangka hukum ruang angkasa saat ini, Outer Space Treaty mengharuskan pemerintah untuk memberi wewenang dan mengawasi semua kegiatan di luar angkasa, termasuk kegiatan entitas non-pemerintah seperti organisasi komersial dan nirlaba; dengan mencoba menciptakan sebuah negara, orang-orang di balik Asgardia berharap untuk menghindari pembatasan ketat yang dikeluarkan sistem saat ini. "Asgardia" dipilih sebagai referensi ke salah satu dari sembilan dunia mitologi Norse yang dihuni oleh para Dewa.

Orang-orang yang diundang untuk mendaftar sebagai warga negara dengan tujuan Asgardia kemudian melamar ke Amerika Serikat untuk pengakuan sebagai negara bangsa. Kurang dari dua hari, ada lebih dari 100,000 lamaran, dalam tiga pekan mencapai 500,000. Setelah persyaratan verifikasi diperkenalkan, pendaftar berkurang, dan pada Juni 2017 mencapai angka 210,000. 

Tidak ada niat untuk benar-benar memindahkan warga ini ke luar angkasa. Asgardia bermaksud untuk mengajukan keanggotaan PBB pada tahun 2018. Disokong oleh beberapa ahli luar angkasa internasional, proyek ini diinisiasi oleh ilmuwan dan pengusaha Russia, Igor Ashurbeyli, pendiri Aerospace International Research Center dan Ketua Komite Luar Angkasa UNESCO. Sebagai bagian dari proses pengajuan, para warga diminta untuk mengonfirmasikan sebagai "kepala bangsa"; Ashurbeyli berharap bisa pindah ke sistem demokrasi selama 2017. Secara resmi, proyek ini dinamakan "Space Kingdom of Asgardia".

Hasil gambar untuk asgardia

Tujuan didirikannya negara Asgardia ini untuk mendorong perdamaian dunia serta melindungi bumi dari puing-puing dan asteroid yang beredar di luar angkasa. Nama negara Asgardia ini diperoleh dari nama untuk kota langit yang diperintahkan oleh Dewa Odin dalam mitologi Norwegia.

Di sini tidak berbicara mengenai stasiun luar angkasa / kota mengorbit ke sebenarnya, yang di mana manusia ini akan hidup di negara tersebut. Sebaliknya, itu lebih mengacu pada eksperimen ilmiah, hukum, teknologi yang dipimpin oleh nanoscientist berasal dari Rusia. Negara Asgardia ini dijadwalkan akan diluncurkan pada akhir tahun 2017 nanti.

Keberadaan ini akan diakui oleh PBB, tetapi para scientist ragu jika negara ini akan terealisasi mengingat adanya peraturan internasional yang melarang negara mengklaim wilayah yang berada di luar angkasa. Proyek ini dipimpin perusahaan swasta bernama Aerospace International Research Center yang didanai oleh peneliti dan pengusaha asal rusia. Di dalam website Asgardia mengklaim bahwa akan menawarkan platform mandiri yang terbebas dari ikatan aturan negara-negara yang ada di bumi. 

Asgardia, negara antariksa pertama, bisa lahir berkat tangan dingin Igor Ashurbeyli. Ilmuwan komputer berumur 53 tahun ini merupakan doktor di bidang komputer. 

Ashurbeyli merupakan lulusan Azerbaijan State Oil Academy pada 1985. Tiga tahun kemudian ia mendirikan Socium, sebuah perusahaan perangkat lunak dan konsultan dengan jumlah karyawan sekarang sudah mencapai 10 ribu orang.

Setelah pindah ke Moskow pada dekade 1990, Ashurbeyli menjadi salah satu tokoh besar di industri sains Rusia. Pada 2010, UNESCO menganugerahinya medali penghargaan State Science and Technology Prize. Tiga tahun setelah itu, dia mendirikan Aerospace International Research Center (AIRC) di Wina, Austria. Saat ini, ia menjadi Ketua Komite Science of Space UNESCO.

Singkatnya, Ashurbeyli bukanlah pemula dalam dunia industri antariksa. Dalam sebuah konferensi di Hong Kong, Ashurbeyli menyatakan kepada CNN, "Asgardia merupakan mimpi saya sejak kecil."

Mimpi tersebut telah terbentuk tahun lalu. Ashurbeyli dan tim kini sedang merancang undang-undang di Asrgardia. Asgardia juga menarik minat warga Indonesia. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, per Rabu, 26 Juli 2017, sudah ada 6.505 warga Indonesia mendaftarkan diri ke negara antariksa yang namanya terinspirasi dari tempat tinggal Dewa Thor itu.

Sebanyak 84 persennya merupakan laki-laki. Sedangkan 16 persen sisanya perempuan. Jumlah tersebut dapat dilihat langsung di halaman situs asgardia.space.

Hingga kini, sudah ada 275.246 orang dari seluruh dunia mendaftarkan diri sebagai warga negara Asgardia. Angka tersebut jelas akan terus meningkat mengingat pendaftaran masih terus dibuka. Sejak diumumkan oleh sekelompok miliuner Rusia dan ilmuwan di Paris, Prancis, Oktober tahun lalu, antusiasme yang tinggi itu menuntut pengelola Asgardia mengubah konstitusi seleksi warga.
?id=615620&width=620
Kini, seperti dikutip dari laman situs asgardia.space, pengelola Asgardia lebih ketat dan selektif dalam memilih warga negara mereka. Asgardia tidak akan memberikan warga negara bagi orang yang pelit memberikan informasi data diri. Dan menolak warga negara non-manusia misalnya robot dan hewan.

Oktober tahun lalu, para pemimpin proyek Asgardia membahas tempat tinggal futuristik yang dapat menampung 150 juta jiwa dalam sebuah konferensi pers di Paris, Prancis. Satelit pertama Asgardia rencananya akan diluncurkan pada tahun ini, awal dari sebuah proyek jangka panjang.

?id=550358&width=620

1910 Views