selasar-loader

Meluruskan Makna Enterpreneur

LINE it!
Izzuddin Baqi
Izzuddin Baqi
Mahasiswa Transportasi Laut ITS 2016 | Blogger | Maritime-Concerned
Journal Jul 24, 2017

BUaiL4fBkbnylfDt1RYmKaPZwuhG067V.jpg

Perkembangan sebuah negara tidak akan lepas dari jumlah enterpreneur yang dimilikinya. Sebagaimana premis yang diungkapkan oleh Ciputra, negara Indonesia tidak kunjung maju karena kurangnya enterpreneur. Namun, sebelum membahas mengenai bagaimana mencetak para enterpreneur, mari coba kita temukan makna enterpreneur itu sendiri.

Enterpreneur diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai wirausaha. Berwirausaha tidak melulu berarti membuka usaha dagang atau menjual barang. Dr. Riant Nugroho menjabarkan bahwa kewirausahaan adalah nilai untuk menemukan sesuatu yang baru untuk kemudian diperkenalkan kepada masyarakat dan diterima sebagai sesuatu yang “membaikkan” masyarakat.

Dari pengertian tersebut, contoh yang ideal mengenai enterpreneur adalah para panemu barang atau mesin yang telah mendunia, misalnya Bill Gates dengan Microsoft-nya, Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya, dan Steve Job dengan Ipad-nya. Mereka menciptakan suatu hal, lalu dunia mengakuinya dan memanfaatkannya.

Lebih jauh, ada lima jenjang pemahaman tentang apa itu enterpreneur. Pemahaman paling dangkal adalah dengan memaknai enterpreuner sebagai kegiatan ekonomi atau bisnis. Pelaku kegiatan ekonomi atau bisnis ini ada yang berhasil, tetapi banyak pula yang gagal; ada yang bangkit dan banyak pula yang menyerah.

Sisi yang lebih dalam dari enterpreneur adalah memaknainya sebagai keterampilan yang ahli. Contoh yang mudah adalah orang-orang berikut. Bakrie adalah pengusaha yang ahli karena ia ahli dan terampil dalam perpipaan (Core bussines pertama Bakrie adalah perpipaan), Eka Tjipta Widjaja adalah pebisnis sejati sebagaimana ia ahli dalam industri kertas, Sudwikatmono adalah wirausahawan sejati sebagaimana ia ahli dalam mengembangkan industri film di Indonesia.

Tingkat ketiga adalah memaknai enterpreneur sebagai suatu profesi. Maksudnya adalah mereka yang mampu membangun sebuah kegiatan sebagai suatu profesi. Untuk memudahkan dalam memahami, sebagai contoh, Dahlan Iskan merupakan enterpreneur mengingat kemampuannya dalam mengolah Jawa Pos hingga BUMN. Ia merupakan pengelola usaha yang profesional dan bukan pemilik usaha.

Contoh lainnya adalah Agus Martowardjo, Tanri Abeng, dan Robby Jonan. Jika di kemudian hari mereka memiliki sebuah usaha sendiri, itu merupakan konsekuensi logis akibat perluasan keprofesionalan yang mereka miliki.

Tingkat berikutnya adalah memahami enterpreneur sebagai orientasi atau cara pandang. Mereka adalah orang-orang yang berorientasi pada peluang untuk kebaikan sesama. Beberapa abad silam, penemuan-penemuan berjalan lambat. Kini, di era modern, setiap detik ada penemuan baru yang menakjubkan di berbagai bidang kehidupan, mulai dari sistem informasi, dunia kesehatan, hiburan, dan sebagainya. Negara akan terus bertumbuh kembang jika makin banyak orang yang berorientasi pada peluang, kesempatan, dan rekayasa untuk memperbaiki hidup masyarakat (baca: enterpreneur).

Puncak pemahaman dari enterpreneur adalah memaknai sebagai nilai. Kewirausahaan adalah sebuah nilai yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Sebuah keyakinan yang melihat bahwa dunia ini adalah sesuatu yang harus dikelola dan diberi nilai, bukan suatu barang jadi atau sesuatu yang terus dipertahankan tanpa berubah (status quo). Kehidupan pada dasarnya adalah sebuah nilai yang harus diperjuangkan kebaikannya secara terus-menerus.

Oleh karena itu, untuk menjadi wirausahawan, Anda tidak perlu melulu berjualan atau berdagang. Dengan menulis, lalu menciptakan karya masterpiece, Anda sudah merupakan pengusaha. Dengan minat berpolitik, lalu Anda perjuangkan kebaikan kehidupan rakyat, itulah pengusaha. Bahkan dengan posisi sebagai tokoh masyarakat, yang dengannya Anda mampu memengaruhi banyak orang untuk hidup damai berdampingan, Anda sedang berwirausaha.

Sumber gambar: http://media02.hongkiat.com

445 Views