selasar-loader

Merekat Kebhinnekaan

LINE it!
Dadan Rizwan
Dadan Rizwan
Ketua Umum Aliansi Pemberdayaan Pemuda Nusantara
Journal Jul 19, 2017

1YhB-46Z_uueh7GPDPyHWtcPGInNyI3b.jpg

Dari sabang sampai Merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia

Bait-bait lagu tersebut berasal dari lagu wajib berjudul "Dari Sabang Sampai Merauke" karangan R. Suharjo. Lagu tersebut mengajak kita untuk merenung kembali betapa Indonesia merupakan negara besar yang memiliki wilayah sangat luas dan terdiri dari bermacam-macam suku, ras, agama, dan pulau-pulau yang sangat indah. Indonesia merupakan rumah kita bersama, tempat bernaung segala perbedaan yang berpadu menjadi warna yang sangat indah.

Ir. Soekarno, bapak proklamator Indonesia, pernah mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua, dari Sabang sampai Merauke. Bangsa adalah satu jiwa (une nation est un âme). Satu bangsa adalah satu solidaritas yang besar (une nation est un grand solidarité).

Penting untuk diingat, dalam perjalanan “melahirkan” Indonesia sampai bertahan hingga saat ini bukanlah sebuah perjalanan dengan waktu yang singkat, namun memerlukan proses yang begitu panjang untuk bisa memadupadankan sekaligus menyatukan berbagai warna perbedaan menjadi sebuah persatuan. Hal ini pun tidak terlepas dari kedewasaan berpikir serta semangat persatuan, kesatuan, dan kesadaran yang dimiliki oleh para pemuda untuk sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.

Jika melihat realitas secara historis-empiris yang terjadi di lapangan, lahirnya organisasi Boedi Outomo pada tahun 1908 menjadi cikal bakal lahirnya gerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan bangsa. Semangat persatuan, kesatuan, dan kesadaran yang dimiliki oleh kaum pemuda saat itu telah mampu untuk sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.

Sekat dalam Keberagaman

Belakangan ini kita semakin riuh diberi tontonan tentang berbagai fakta yang bisa menjadi pemicu retaknya tenun kebangsaan. Salah satu penyebabnya adalah berita hoaks yang menjadi viral di media sosial. Ini merupakan fakta nyata yang bisa mengancam ikatan persaudaraan kita sebagai bangsa besar yang dibangun atas latar belakang perbedaan.

Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan karakter dari Cortland University, mengungkapkan bahwa "ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran”.

Kesepuluh tanda tersebut, yaitu (1) meningkatnya kekerasan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, (3) meningkatnya perilaku merusak diri (narkotika, miras, seks bebas, dll.), (4) semakin kaburnya pedoman moral, (5) menurunnya etos kerja, (6) rendahnya rasa tanggung jawab individu/bagian dari bangsa, (7) rendahnya rasa hormat pada orang tua/guru, (8) membudayanya ketidakjujuran, (9) pengaruh kesetiaan kelompok remaja yang kuat dalam kekerasan, dan (10) meningkatnya rasa curiga dan kebencian terhadap sesama (Ganiem, 2013).

Ciri-ciri kehancuran sebuah bangsa yang disampaikan oleh Thomas Licona ini nampaknya sudah nyata menjangkit sendi-sendi kehidupan bangsa kita, Indonesia. Membudayakan ketidakjujuran sudah seperti hal yang biasa terjadi, kekerasan remaja sudah seperti hal biasa di negeri ini. Tidak ketinggalan, golongan tua pun banyak melahirkan kelompok-kelompok radikal yang lebih mementingkan golongannya sendiri. Kelompok-kelompok ini suka menebarkan isu-isu kebencian terhadap golongan lain.

Masyarakat sudah semakin permisif, masing-masing mementingkan diri sendiri dengan tidak mempedulikan lingkungan di sekitarnya. Sikap individualis sudah menjadi panutan di negeri ini. Akibatnya, solidaritas gerakan masyarakat semakin mencair ke dalam keakuan masing-masing.

Agamaku, organisasiku, idiologiku, dan keaku-akuan yang lain terus ada sehingga memperlebar pendikotomian dari sebuah golongan. Negeri yang notabene mayoritas muslim ini telah mengalami penggerusan identitas. Nilai-nilai luhur bangsa dan agama telah dikesampingkan, diganti dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek yang dapat mengancam persatuan yang telah lama dibangun serta dirawat oleh para founding fathers terdahulu.

Kasus-kasus yang mengarah pada separatisme, baik atas nama agama, suku, serta pelbagai kepentingan yang saat ini muncul ke permukaan menjadi penanda retaknya persaudaraan kita. Belum lagi serangkaian fanatisme buta keberagamaan yang senantiasa menghantui kehidupan kita. Ketika muncul riak-riak gerakan merusak tenun kebangsaan kita, baik dengan motif agama, suku, daerah ataupun motif yang lainnya, kita seperti menyaksikan tangis bumi pertiwi Indonesia Raya yang dibangun dari peluh dan darah para pahlawan.

Meneguhkan Kembali Semangat Persatuan

Kita sadar betul, dalam satu dunia kita berbeda bangsa dan negara. Dalam satu bangsa dan negara kita berbeda suku dan bahasa. Dalam satu suku dan bahasa kita berbeda keyakinan dan agama. Dalam satu keyakinan dan agama kita berbeda paham dan aliran.

Dalam satu paham dan aliran kita berbeda pemahaman. Dalam satu pemahaman kita berbeda pengamalan. Dalam satu pengamalan kita berbeda penghayatan. Dalam satu penghayatan kita berbeda keikhlasaan. Dalam satu keikhlasan inilah kita seharusnya bersatu dalam pengabdian.

Artinya, hal mendasar yang harus kita bangun dalam diri adalah keikhlasan menerima pelbagai keberagaman yang ada di hadapan kita sebagai bangsa. Keikhlasan ini akan tumbuh dalam diri kita, apabila kita bisa memahami dengan baik nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jangkar terwujudnya persaudaraan kita sebagai bangsa yang besar.

Membangun Indonesia memang bukan hal yang mudah. Keberagaman yang begitu banyak akan menjadi ancaman bila tak bisa dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika kita bisa memaknai keberagaman ini, hal ini akan menjadi anugerah yang sangat besar bagi kita sebagai sebuah bangsa, tentunya terhadap kemajuan bangsa kita.

Founding fathers kita telah membuktikan keberhasilannya merekatkan persaudaraan sebangsa dan senegara melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, falsafah Pancasila, dan konstitusi UUD 1945. Akar kebangsaan kita yang dimulai dari hadirnya Sarekat Islam 1905, Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah sejarah panjang perjuangan founding fathers  dalam menegakkan kedaulatan kita sebagai bangsa yang besar.

Meneguhkan kembali semangat persatuan dalam momentum kebangkitan nasional ini sangat penting untuk kita semua sebagai warga negara. Hal ini bisa kita jadikan sebagai ajang refleksi diri untuk kembali meingkatkan wawasan kebangsaan dan kesadaran nasional. Cita-cita persatuan menjadi hal fundamental yang harus kita pegang di tengah maraknya ideologi transnasional yang anti-Pancasila dan terus menggerogoti sendi NKRI.

Tanpa perbedaan, itu bukan Indonesia. Kita hanya perlu ikhlas untuk mengabdi bahwa kita memang dilahirkan berbeda. Dari perbedaan ini kita bisa menyaksikan hadirnya Indonesia Raya yang warna-warni, sebagai simbol keagungan dan kekayaan Tuhan. Kita saudara yang terlahir dari rahim yang sama, yaitu rahim Ibu Pertiwi.

Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/eXusZWoy4J0/maxresdefault.jpg

359 Views

Author Overview


Dadan Rizwan
Ketua Umum Aliansi Pemberdayaan Pemuda Nusantara

More Journal from Dadan Rizwan


Wakil Rakyat Lupa Rakyat
1 year ago

Ironi Bullying di Lingkungan Pendidikan
2 years ago

Top Answers


Apa motto hidup paling keren?
2 years ago

Apa pendapat Anda tentang bullying?
2 years ago

Siapa orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Anda?
2 years ago

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?
2 years ago