selasar-loader

Cerpen: Di Ujung Pelangi

LINE it!
Muhammad Fathan
Muhammad Fathan
Manager Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta
Journal Jul 19

s6tyXSUyKdXU7iEi283bZfam0Y2YNo4N.jpg

Momentumnya biasa saja. Situasi keliling masih ramai selayaknya di foodcourt biasanya. Makanan yang tersaji di meja makanku juga tidak istimewa, hanya ayam goreng biasa dengan bumbu yang juga biasa. Kalaupun ada yang sedikit istimewa adalah pertemuanku dengan sahabat lama. Dan memang itu yang istimewa. Sebuah cerita yang mengaduk-aduk perasaanku terhadirkan hari ini.

Mungkin ini sinyal dari-Nya. Tinggal aku yang menangkapnya atau tidak.

***

“Jadi akhirnya, lo menikah?”

“Iya, dan alhamdulillah hari ini gue udah punya seorang anak jagoan.”

Aku terkejut. Sosok yang sudah lama tidak aku jumpai ini, hari ini berada di hadapanku dengan sangat berbeda. Rendi namanya. Kami pernah saling mengenal semenjak 8 tahun yang lalu. Tapi kami sudah lama tidak bertukar kabar, semenjak kami lulus kuliah. Aku pribadi tidak terlalu dekat dengannya walaupun kami kuliah di satu jurusan yang sama.

Ahsan, temanku yang lain, yang dulu sering berdiskusi dengan Rendi. Ahsan adalah seorang muslim yang taat, setidaknya lebih taat ketimbang aku yang masih bolong-bolong tilawahnya ini. Kalau shalat wajib sih, alhamdulillah sudah aku paksakan. Hehe. Itupun atas bantuan dari Ahsan yang sering membantuku memaksakannya.

Ahsan sering berdiskusi dengan Rendi, terutama di bahasan tentang LGBT, Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender. Rendi sih sebetulnya, yang sering bertanya tentang LGBT ke Ahsan. Kadang bertanya, seringkali mengajak berdebat. Beberapa diskusi mereka, aku ikut mendengarkan di sana. 

Di satu sisi aku tertarik dengan gagasan Rendi. Ya, sebagai anak Psikologi, sangat mudah untukku menerima argumentasi-argumentasi pro-LGBT. Bahwa LGBT bukanlah sebuah penyakit, bahwa LGBT adalah dorongan alamiah, dan lain sebagainya. Dulu Rendi bahkan sempat terlibat di beragam aktivitas kelompok pendukung untuk LGBT.

Aku baru mengetahui dari Ahsan kalau ternyata memang Rendi adalah seorang gay. Entah kenapa, sejak saat itu aku langsung merinding dan mulai berhati-hati ketika bertemu Rendi. Tapi kata Ahsan, “Santai aja, Bro. Dia juga manusia kan.. Bahkan dia masih sering mengajak gue ngobrol tentang LGBT dalam perspektif Islam.. Artinya, gue masih yakin di dalam hatinya masih ada sedikit cahaya yang potensial buat gue perbanyak.. Hehe”

Aku sempat bingung dengan Ahsan. Ngapain sih mau aja ngurusin beginian, kagak takut dimodusin apa? Demikian pikirku dulu. Tapi Ahsan bilang, “Kalau kita membiarkan perilaku LGBT dengan alasan kemanusiaan, ketahuilah bahwa LGBT itu sendiri merusak kemanusiaan.”

Oke, idealis. Pikirku.

Aku tidak tahu. Sudah 4 tahun aku tidak berjumpa dengan Rendi. Dan kamu tahu? Rendi sudah punya 1 orang anak, sementara aku lebih tertarik mengejar karirku ketimbang menikah buru-buru. Padahal, dulu dia gay. Sementara aku, masih berpacaran bahkan hingga hari ini. Kacau juga gue, pikirku.

“Jadi, elu sudah sembuh, Ren?” tanyaku.

Rendi terdiam. Lalu dengan senyum menjawab, “Sejujurnya belum”. Laaah. Aku terkaget. 

“Berarti lu masih senang sama cowok?” lanjutku.

“Iya, kalau seneng mah masih..” Glek. Serius, aku sangat bingung! Dia masih punya kecenderungan sama laki-laki, tapi saat ini menikah dan sudah punya satu anak. Aku tidak bisa melanjutkan pertanyaan-pertanyaanku. Bingung!

Ga usah bingung,” lanjut Rendi. Seolah menangkap ekspresi bingung dan speechless-ku. 

“Panjang ceritanya, Budi. Semuanya berawal dari diskusi-diskusi yang sering kita lakukan. Bareng Ahsan. Gue sangat penasaran, tentang gimana pandangan Islam tentang LGBT. Di satu sisi, gue sangat ingin meyakini bahwa Islam adalah jawaban atas semua permasalahan, yang artinya harus mengakomodir kebutuhan khusus dari orang-orang LGBT juga. Tapi beragam kajian yang gue ikuti tentang Islam dan LGBT membuat gue justru makin takut sama Islam; karena gue gay.”

“Kajian-kajian?”

“Iya, gak cuma kajian-kajian saja. Gue sempat juga bertanya ke ustadz macam-macam tentang gimana Islam memandang LGBT. Jawabannya mengerikan! Neraka, dosa, rajam, hukuman, sodom, dan lain sebagainya. Lalu gue mikir, apakah orang kayak gue gak berhak punya tempat di surga? Lalu kenapa Allah membiarkan gue dengan perasaan kayak begini?”

Aku terdiam memperhatikan. “Tapi, waktu diskusi sama Ahsan beda. Awalnya gue sangat tertarik dengan konsep Rahmatan Lil Alamin dari Ahsan. Lalu di mana rahmat Islam buat orang-orang kayak gue? Itu tema debat yang paling banyak gue challenge ke Ahsan.”

“Diskusi dengan nuansa yang berbeda jadi semakin menarik ketika 5 tahun lalu, Ahsan memutuskan menikah padahal belum lulus. Haha. Istrinya entah kenapa sangat nyaman juga untuk diajak berdiskusi tentang hal yang sering gue diskusikan sama Ahsan juga. Kami banyak berdiskusi bertiga, akhirnya. Tapi ujung-ujungnya, diskusi lebih banyak terarah pada bahasan pernikahan. Yang dulu gue pikir, ini ngapain sih anak-anak Rohis bikin acara tentang pernikahan melulu. Kagak ada bahasan lain apa? Eh ternyata hidayah Allah turun lewat bahasan ini.”

“Oh iya? Emang apa yang kalian bahas di diskusi tentang pernikahan itu?”

“Ya, intinya gue mendapat sebuah nilai filosofis pernikahan dalam Islam yang bikin gue mikir kayak, yaa! Inilah rahmatnya Islam buat orang-orang kayak gue!”

“Apaan tuh, Ren?”

“Pernikahan, kata Ahsan, adalah sebuah perangkat dalam Islam. Perangkat yang tujuannya untuk mendekatkan seorang muslim dengan Tuhannya. Tapi, selayaknya perangkat-perangkat lain, pernikahan juga bisa jadi membawa manusia ke arah yang sebaliknya; semakin jauh dengan Allah.”

“Oh iya?” Aku terbingung. Ini belum pernah aku dengar sebelumnya. “Pernikahan kayak gimana yang membuat seorang muslim jadi semakin jauh dengan Allah?”

“Pernikahan yang membuat seorang hamba lebih mencintai yang selain Allah. Bagi seorang suami, istrinya adalah ujian terberatnya. Karena dia harus lebih mencintai Allah ketimbang istrinya. Dan dia harus mendidik istrinya untuk lebih mencintai Allah ketimbang mencintai dirinya. Kalau pernikahan mereka hanya dipenuhi dengan suasana saling mencintai saja; bukan saling mencintai karena Allah, maka pernikahan yang seperti itu yang membawa manusia lebih jauh dari Tuhannya.”

Aku terdiam berpikir. Wah, sulit juga ya kalau mau menikah.

Terus apa yang membuat lu tertarik sama isu itu?”

Di sana gue seakan mendapatkan rasa keadilan. Allah memerintahkan laki-laki untuk menikah dengan perempuan. Nggak peduli dia suka sama sesama laki-laki atau dia sukanya sama perempuan, tapi alasan tertinggi kita buat menikah itu ya karena Allah! Bukan karena perempuannya; atau bukan karena laki-lakinya.”

“Justru gue merasa akan lebih mudah untuk memelihara rasa cinta gue ke Allah dalam pernikahan, karena gue lebih punya kecenderungan ke laki-laki. Gue tidak akan bias cinta dalam pernikahan, sebagaimana orang-orang normal akan mendapatkan bias cinta itu ketika mereka menikah. Bias antara apakah pernikahan mereka karena Allah, atau hanya karena perempuan yang mereka nikahi? Itu yang gue pikirin dalam idealisme gue dulu. Hingga akhirnya gue memberanikan diri buat menikah, dulu.”

“Terus gimana lo sama istri lo ketemu dulu? Istri lo tahu lo masih gay?” tanyaku penasaran. Ini pertanyaan yang sebetulnya sudah ingin aku tanyakan sejak pertama kali tau Rendi sudah menikah.

Rendi tersenyum kecil, lalu menunduk. Sejurus kemudian kepalanya kembali tertegak. “Dia tidak tahu sampai satu bulan kami menikah. Gue ingat banget, momen-momen pertama kali gue memberanikan diri mengaku ke istri gue. Kalau niat gue baik, kenapa harus disembunyikan?”

Wow! Ibarat kata sebuah film, ini adalah klimaks konfliknya!

“Tapi kenyataannya gak segampang itu. Gue ingat pernah menyesal banget mengaku ke istri kayak begitu, karena pertama kalinya gue ngeliat seorang perempuan menangis sehebat itu. Parah, bingung banget gue. Gue bahkan sempat ngerasa lagi kalau orang kayak gue memang gak punya tempat di Islam.”

“Tiga hari istri gue minta pulang ke rumah. Gue sudah gak mengerti lagi harus gimana. Gue udah benar-benar pasrah. Di titik itu gue benar-benar mencoba mengembalikan lagi niat gue ke Allah. Kalau memang pernikahan ini bukan cara yang tepat buat semakin dekat sama Allah, gue ikhlas.”

Aku terdiam menelan ludah. Gile, udah jauh banget nih si Rendi. Gue masih gini-gini aja.

“Lalu setelah tiga hari, istri gue pulang ke rumah lagi. Dan lu tahu apa yang dia bilang?”

Aku terdiam memperhatikan. Mengangkat bahuku, tanda tak tahu.

“Akang, saya siap menerima Akang apa adanya lengkap dengan semua kekurangan Akang. Kalau bagi Akang, bergerak dari kondisi Akang yang seperti ini adalah perjuangan Akang, maka izinkan saya untuk menemani Akang berjuang, kang. Toh kita menikah juga karena Allah, kan?”

“Di sana gue benar-benar speechless. Gak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan rasa haru sekaligus bingung gue, ada seorang perempuan yang baik luar biasa; berhijab rapi, rajin salat malam dan mengaji, mau menerima seseorang yang ‘berbeda’ kayak gue buat jadi teman hidupnya, selamanya! Itu benar-benar jadi titik balik gue. Ya, gue bisa bilang; gue mulai mencintai dia!”

“Sejak saat itu gue benar-benar ngerasa, bahwa rahmat Islam bisa juga didapatkan oleh seorang gay kayak gue. Dan gue akhirnya percaya, gay bisa disembuhkan. Caranya? Ya dengan kita melawan! Sebagaimana seorang suami harus melawan rasa ketertarikannya kepada perempuan yang lain yang bukan istrinya.”

Pertemuan yang luar biasa di hari itu. Aku jadi berpikir keras, tentang aku yang merasa sudah cukup baik. Karena aku selalu membandingkan diri dengan yang lebih buruk dariku. Seperti ketika aku menilai Rendi, dahulu. Aku selalu merasa lebih baik ketimbang dia yang punya kecenderungan yang menyimpang, menurutku. Tapi nyatanya hari ini, aku merasa sangat kerdil di hadapan seorang Rendi yang dulu aku pandang sebelah mata.

Yaa, bisa jadi ini sinyal yang diberikan Tuhan agar aku tidak menunggu-nunggu momentum untuk berhijrah jadi lebih baik. Tapi toh, Allah juga yang memberikanku momentum ini. Tinggal aku yang menjemputnya atau tidak.

+++++

* Tulisan ini adalah fiksi yang terinspirasi dari kisah Kang Rei dari Bandung. Beliau adalah seorang ustadz yang sempat mengalami fase kehidupan seperti Rendi dalam kisah ini, meskipun tidak sama persis. Dari beliau, dan dari fiksi ini, ada sebuah pesan kuat yang ingin disampaikan; bahwa LGBT, juga punya tempat di Surga! Bahwa rahmat Islam juga dapat dirasakan oleh orang seperti mereka; tanpa harus mencari-cari pembenaran palsu dengan dalil dan ayat yang dipermainkan. Cukup ikuti apa yang diminta oleh Allah, maka kita akan rasakan bahagianya perjuangan.

62 Views

Author Overview


Muhammad Fathan
Manager Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

More Journal from Muhammad Fathan


Senja Bercerita
4 months ago

Masjid Pusat Peradaban: Sebuah Cerita dari Jogokariyan
2017 years ago

Top Answers


Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?
4 months ago