selasar-loader

Senja Bercerita

LINE it!
Muhammad Fathan
Muhammad Fathan
Manager Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta
Journal Jul 13

VO4e_h6DYgjMCf6hoDrgIOftIhqjxt9K.jpg

Senja menjadi pembeda. Pemisah antara terang dan gulita. Di kampus yang dahulu dikenal kampus rakyat ini, banyak orang bercerita. Banyak orang sedang mengukir kisah; berusaha membuat sejarah. Tidak sedikit juga yang tenggelam dalam rutinitas; datang dan pergi begitu saja. Tidak ada makna. Tidak ada cerita. Ah, mungkin mereka punya cerita. Namun, cerita mereka hanya untuk dirinya sendiri.

***

Aku datang ke kampus ini dengan tanpa beda; sama seperti cerita (hampir) semua teman sebayaku yang ada disini. 2015. Kamu tahu, masuk kampus ini susah bukan main. Kabarnya, ada puluhan bahkan hampir ratusan ribu teman sebayaku yang menempatkan dalam hatinya harapan untuk bisa berada di kampus ini, dari berbagai penjuru Indonesia. Tentu saja bangga. Menjadi satu dari sedikit orang yang bisa masuk kampus ini.

Aku datang ke kampus ini dengan tanpa beda; sama seperti cerita (hampir) semua teman sebayaku yang ada disini. 2015. Kamu tahu, masuk kampus ini menyusahkan sekali. Belum lama aku merayakan kebahagiaanku karena bisa masuk kampus favorit di negeriku, aku sudah harus dihadapkan dengan bayaran semesteran yang cukup lumayan. Harus kuakui agak melunturkan tekadku untuk membiayai kuliahku sendirian.

Aku datang ke kampus ini dengan tanpa beda; sama seperti cerita (hampir) semua teman sebayaku yang ada di sini. Target utamaku sejak pertama kali aku menjejak langkah di sini adalah beasiswa. Guna meringankan beban finansial dari masa kuliahku.

Aku datang ke kampus ini dengan tanpa beda; sama seperti cerita (hampir) semua teman sebayaku yang ada disini. Penuh hatiku oleh keinginan yang sangat banyak. Memenangi lomba di sana-sini, ikut konferensi ke luar negeri. Menjadi mahasiswa berprestasi.

***

“Ham, ayo buruan! Pawainya udah mau mulai!”

Agak malas aku merespons temanku yang satu ini. Jemari tanganku masih enggan teralihkan dari baris keyboard di laptopku. Aku tidak sedang mengerjakan apa-apa, sebetulnya. Hanya memanfaatkan wi-fi gratis di asrama mahasiswa di kampus ini; sama seperti orang-orang lainnya yang juga sedang asyik melahap kuota. Rasanya tidak begitu banyak yang aku kenal di kurang lebih 6 bulan pertamaku tinggal di asrama ini.

Namun, pada akhirnya aku harus menjawab.

Errr..iya, iya. Bentaran lagi,” ucapku malas.

Ah lo gimana sih? Ntar angkatan kita bisa dihukumi senior! Buruan elaah..” debat David, temanku. “Lo udah lupa kemarin waktu apa tuh, yang lomba seni itu? Apalagi ini lomba olahraga bro, kultur jurusan kita! Bisa makin parah kalau kita dikit yang dateng!” lanjutnya.

Betul juga sih, pikirku. Beberapa waktu lalu, di pawai serupa untuk lomba seni antar jurusan, massa dari jurusan kami tidak sebanyak yang biasanya karena beberapa mahasiswa barunya banyak yang berhalangan hadir. Akibatnya? Hukuman besar-besaran kami dapatkan di agenda orientasi jurusan kami. Apalagi saat ini adalah pawai untuk lomba olahraga; di mana sudah menjadi kultur jurusan kami untuk menang.

Iye. Udah. Sebentar gue matiin laptop dulu.”

Aku segera merapikan laptopku. Aku matikan lalu kutaruh ke dalam tasku. Hari ini aku sudah lengkap berpakaian gelap, sebagaimana dresscode jurusanku. Ya, tepat seperti yang kau tebak. Aku (harus) mengikuti pawai pembukaan kompetisi olahraga antar jurusan di fakultasku. Ini semacam kultur tahunan.

Persaingan antarjurusan bukan hanya terjadi di lapangan pertandingan saja, tapi juga semarak di luar lapangan. Dan setiap tahun pula, mahasiswa-mahasiswa baru di jurusan harus terlibat dalam ritual tahunan ini. Kalau ada yang tidak terlihat, pasti dicari-cari oleh teman seangkatan. Nggak solid!

Masa-masa semester awal, kata senior-seniorku, adalah masa-masa yang paling penting untuk mengonsolidasikan angkatan. Namun, bagiku, masa-masa yang paling meletihkan. Iya sih, kalau dari mata kuliah lebih sedikit daripada waktu di SMA. Namun, kegiatan-kegiatan ekstra dan tugas-tugasnya jauh lebih banyak daripada ketika di SMA. Katanya sih, untuk membiasakan diri dengan tugas-tugas ketika kuliah sudah mulai serius. Aku sendiri sebagai mahasiswa baru, ya ikut-ikut saja.

Lo gak ikut pawai, Ren?” tanyaku kepada Rendra, teman yang baru aku kenal 6 bulan terakhir. Dia tetangga kamarku di asrama.

Nggak, ham.. Mau ke istana!” jawabnya sambil mengunyah sendok terakhir makan siangnya.

“Oh, yang aksi-aksi itu, ya? Aksi apaan sih?” tanya David.

“Tentang kenaikan BBM, Vid.”

Eh, emangnya di jurusan lo nggak kenapa-napa kalau nggak lengkap angkatannya?” selidikku. Tersibak rasa iri karena Rendra bisa seenaknya tidak datang di agenda-agenda jurusan. Kok di jurusan gue doang yang kayak gini, ya? batinku.

“Masalah sih, cuma hidup itu kan pilihan, bro” jawabnya tenang. Dibawanya piring yang sudah tidak tersisa sebutir nasi pun di sana. Ditaruhnya di tempat piring kotor.

Lagian brolo sekali-kali harus ikut aksi, ikut kajian-kajian.. Buat melembutkan hati lo..”lanjutnya. Aku terdiam tidak peduli. “Yaudah bro. Gue duluan, ya!” lanjutnya sambil meluncur pergi dengan berlari. Hingga punggungnya tidak terlihat lagi oleh mataku.

Senja datang. Menjadi pemisah antara benderang siang, dengan gelapnya malam. Aku sedang terjebak dalam aktivitas jurusanku.

***

Hari Minggu ini aku membawa jaket kuningku dalam tas. Iseng saja. Sudah lama aku memiliki jaket kuning, tapi makaranya belum pernah terpasang dengan rapi. Saat harus menggunakan jaket almamaterku untuk acara penutupan ospek tingkat universitas, aku hanya menempelkannya dengan perekat saja karena terburu-buru. Hari ini aku merencanakan akan mampir ke bapak tukang jahit yang setiap hari Minggu selalu terlihat di jalur lari pagiku.

“Permisi, Pak,” ucapku kepada bapak tua yang selalu menarik perhatianku dengan senyum tulusnya. Walaupun dia terlihat sudah sangat tua, tapi dia selalu konsisten membawa perangkat jahitnya dan menunggu di tempat biasa setiap pekannya.

“Iya, Mas” jawabnya. Dengan senyum yang sederhana.

“Pak, saya mau jahit makara dong. Di jaket kuning saya,” lanjutku seraya memberikan jaket kuning tak bermakara.

“Boleh. Boleh, Mas,” jawabnya. Bapak tukang jahit itu pun melihat-lihat jaket kuning yang jarang dipakai itu. Aku terdiam sambil memainkan gadgetku. Kami terdiam beberapa lama. Aku lihat sejenak, bapak itu menjahit makara di jaket kuningku dengan senyum yang sama.

“Ini jaket baru atau bagaimana, Mas? Kok makaranya belum terpasang?”

Nggak kok, Pak. Itu jaket sudah 6 bulan bersama saya. Namun saya lupa terus mau pasang makaranya, Pak. Hehehe.”

Hoo...Pasti sibuk sekali ya, sampai-sampai lupa begitu.”

Aku hanya tersenyum tipis.

“Kemarin, akhirnya BBM-nya nggak jadi dinaikkan ya, Dek?”

Aku terdiam sejenak. Teringat Rendra yang kemarin mengabarkan kepadaku dengan wajah yang sangat gembira, bahwa harga BBM tidak jadi naik. “Iya, Pak. Alhamdulillah, ya,” jawabku sekenanya.

“Iya, Mas. Alhamdulillah. Bapak senang sekali.”

Suasana hening. Kulihat si bapak tersenyum sederhana. Lalu mulutnya bergerak melanjut bicara.

“Bapak tidak terbayang kalau nanti jadi naik. Anak-anak bapak di rumah mau makan apa.”

“Memangnya (aku merespon sekadar bertanya) anak bapak ada berapa?”

“Ada banyak, Mas. Ada hampir 20 orang. Hehehe,” jawabnya dengan tawa renyah. Aku terkaget.

Hah? Banyak banget, Pak. Memang bapak punya istri berapa?” lanjutku. Tawa si bapak semakin renyah.

“Istri mah hanya satu. Itu anak-anak ada 20 maksudnya anak-anak yatim piatu yang bapak rawat di sekitar rumah bapak,” lanjutnya. Aku lebih kaget dibuatnya. Bapak penjahit baju keliling ini, merawat sebuah panti asuhan juga?

“Wah, kok bisa. Pak? Memangnya bapak kerja apa saja selain jadi tukang jahit keliling?”

Ndak, Mas. Bapak hanya jadi tukang jahit keliling saja.'”

“Terus itu makan buat anak-anak jalanannya dari mana, Pak?”

“Alhamdulillah. Rezeki mah ada aja, Mas,” lanjutnya sambil tersenyum. Sederhana. “Gara-gara teman-temannya Mas juga banyak yang bantuin.”

“Teman-teman saya, Pak?”

“Iya, anak-anak dari kampus banyak yang sering silaturahmi dan membantu bapak. Bapak merasa beruntung sekali bisa hidup bersama anak-anak yang baik dari kampus yang hebat ini.”

Aku terdiam. Suasana kembali hening. Ada aja ternyata, yang sempat-sempatnya membantu bapak tua ini. Padahal aku, dengan tugas-tugas yang menumpuk ini saja sudah tidak tahan.

“Ini, Mas. Silakan,” ucap bapak tukang jahit keliling dengan senyum sederhana tersebut; dengan memberikan jaket kuning bermakara yang sudah terlipat rapi. Aku ambil dan kusimpan dalam tasku. Lalu kemudian kurogoh kantong celanaku untuk mengambil uang dan membayar bapak tukang jahit keliling tersebut.

“Tidak usah, Mas,” ucap bapak tukang jahit keliling tersebut sambil menghalangi tanganku keluar dari kantong. “Ini sebagai ucapan terima kasih Bapak...,” lanjutnya. Tetap dengan senyum sederhananya. “...untuk harga BBM yang tidak jadi naik.”

Lagi-lagi aku terdiam. Ah, sial! Ternyata dompetku tertinggal dan tidak ada uang di kantongku.

“Semoga Mas makin sukses di kampusnya, jadi orang sukses setelah lulus kuliahnya. Namun, nanti kalau jadi orang sukses, Mas ingat kami-kami yang kecil ini ya Mas, seperti Mas berjuang bersama kami sewaktu jadi mahasiswa,” lanjutnya. Dengan senyum sederhananya.

Aku terbingung mau menjawab apa. “Errr… i… iya, Pak. Aaamiin.”

Rasanya baru sekarang aku merasakan beban berat menumpuk. Seberat seperti ini. Entah seperti apa, tapi rasanya sangat berbeda dengan beban yang kurasakan ketika terlambat mengumpulkan tugas dengan dosen killer, atau teguran-teguran keras dari senior-senior karena tugas Ospek yang keliru. Senyum sederhana itu entah kenapa membebani. Kalimatnya terus terulang dalam persepsi.

***

Itulah senjaku. Tunai sudah ia membawaku dari dunia tenangku. Sejak saat itu aku mencoba memberanikan diri untuk terlibat di beberapa agenda sosial di fakultas. Tujuanku sederhana; aku hanya ingin mendengar lebih banyak lagi cerita.

Aku ingin mendengar cerita dari bapak tukang jahit keliling yang dengan ajaib juga menghidupi sebuah panti asuhan. Aku ingin mendengar cerita dari bapak ajaib lainnya, atau perempuan-perempuan hebat yang lain, atau anak-anak istimewa yang lainnya. Aku ingin mendengar apa yang mereka ingin ceritakan.

Semakin banyak cerita yang aku dengar, semakin membawa kegelisahan dalam diriku. Membawaku pada semangat untuk melakukan sesuatu. Aku semakin kecanduan untuk terlibat di agenda-agenda sosial. Aku mengenal banyak orang di sini. Banyak orang yang mereka tetap menjaga performa akademis mereka, tapi juga mereka memberikan wilayah sosial ini dalam 24 jam waktunya sehari. Banyak juga yang dengan ajaib mendapatkan pertolongan-pertolongan dari tangan tak terduga.

Sesekali aku ikut demonstrasi. Tujuanku, juga sederhana. Mulanya aku hanya ingin merasa; apa yang mereka rasa ketika mereka berunjuk rasa. Maka kurasa bahagia. Seiring dengan teriakan yang kami lantangkan di medan pergerakan; aku sendiri merasakan dukungan dari orang-orang yang selama ini bercerita. Betapa mereka membuat definisi bahagia itu menjadi sederhana; yakni senyuman mereka yang menjadi penuntas tetes keringat yang bercucuran.

“Aksi memang tidak menjanjikan perubahan, tapi perubahan tidak akan terjadi tanpa ada aksi.”

Senyuman sederhana bapak tukang jahit keliling, yang dengan ajaib mengelola sebuah panti asuhan itu, membuat senjaku semakin mega. Menjadikan dongengku tidak hanya berisi cerita tentangku. Namun, cerita tentang mereka.

Aku sama sekali tidak mengatakan bahwa yang aku lakukan adalah bentuk kontribusi besar terhadap perubahan. Sejujurnya tujuan utamaku juga bukan itu. Ada dua tujuan setidaknya aku bergerak bersama mereka yang suaranya tak tertangkap telinga.

Pertama bagi diriku sendiri, aku merasa penting untuk menempatkan hati-nya masyarakat dalam kehidupanku. Sehingga mahasiswa, tidak hanya memiliki intelektual yang global; tapi juga hati yang mengakar. Kedua, untuk masyarakat. Hanya satu pesan sederhana yang membuatku ingin bergerak disini; bersama mereka. “Biar mereka tahu, bahwa masyarakat Indonesia tidak akan diam saja kalau negerinya diobrak-abrik!”

Senja Makara

M. Adi Nugroho, 2011

Senja telah bergulir di bibir makara
Menghirup semerbak tunas di ujung balairung
Melihat hijau cokelat air danau yang mampat
dan siut angin membawa azan di penggala 

lalu lalang jejak langkah menempuh cita
dari usia yang muda dan kita menjadi saksi
kehidupan yang akan datang
antara harapan dan kecemasan 

ada yang menjelang dan pula menghilang
di tanah bersejarah para kutu buku
melangkah dengan wajah sumringah,
mengira ini tanah hiburan.
Bukan!
Ini tanah perjuangan. 

“Buat apa kau masuk kampus rakyat,
Kalau bukan untuk rakyat, apalagi enggan
Menyebut dirimu bagian dari rakyat!”

Senja menjadi tanda, di antara jeda
Tinggal kau pilih saja.
Akan jadi sinar terang, atau malam yang buram 

Sebentar lagi kita lihat bulan,
Rusa rusa akan kembali ke kandang
Lebih baik pulang bila tak ikut berjuang
Karena makara tak butuh sekadar suara
Tapi tindak nyata.

Sumber gambar: Jakarta Hitam Putih - WordPress.com

71 Views

Author Overview


Muhammad Fathan
Manager Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

More Journal from Muhammad Fathan


Cerpen: Di Ujung Pelangi
4 months ago

Masjid Pusat Peradaban: Sebuah Cerita dari Jogokariyan
2017 years ago

Top Answers


Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?
4 months ago