selasar-loader

Jurnalisme Musik di Indonesia

LINE it!
Idhar Resmadi
Idhar Resmadi
seorang penulis dan dosen. Bisa ditemui di: www.idhar-resmadi.net
Journal Dec 3

SBQdhI84-BaOArnCCMqQewRgmqk_6PhS.jpg

Sejak kapan istilah jurnalisme musik digunakan dan dipakai secara umum memang tidak dapat diketahui secara pasti. Apalagi di Indonesia. Namun, fenomena untuk orang-orang yang menulis musik – sebelum istilah jurnalisme musik digunakan – memang sudah berkembang sejak tahun 1960-an di Amerika dan Inggris sana.

Akar dari jurnalisme musik atau kerap juga disebut jurnalisme rock (rock journalism) dimulai pada tahun 1960-an melalui munculnya penerbitan-penerbitan musik dan budaya populer seperti Rolling Stone, NME, Melody Maker, dan Creem. Rolling Stone yang terbit tahun 1967 oleh Jann Wenner dan Ralph Gleason menjadi tonggak penting perkembangan jurnalisme musik.

Pada awalnya jurnalis musik adalah fans musik itu sendiri atau kerap disebut “fans yang tercerahkan (enlightened fans)” (Gudmondsson et al. 2002). Jika melihat tokoh-tokoh jurnalis musik pada masa itu seperti Lester Bangs, Nick Kent, Robert Christgau, atau Simon Reynolds merupakan orang-orang yang memiliki passion terhadap musik. Tak ada institusi resmi yang mempelajari jurnalisme musik – kecuali, saat ini beberapa perguruan tinggi di Inggris dan Amerika sudah menjadikan jurnalisme musik sebagai disiplin ilmu sendiri.

Seperti halnya ilmu jurnalistik, jurnalisme musik tentu memiliki tugas untuk menyediakan informasi faktual mengenai musik dan tetek bengeknya. Gambaran seperti apa seorang jurnalis musik bekerja ditampilkan dalam film Almost Famous yang diangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara semasa remaja, Cameron Crowe; mewawancarai band, mengikuti tur panjang, dan melihat berkembangnya budaya sex, drugs, and rock’n’roll.

Seiring dengan pertumbuhan industri musik kebutuhan akan informasi mengenai musik rasanya menjadi bagian dalam budaya populer dewasa ini. Rasanya kita masih menemui tulisan-tulisan musik dalam berbagai rubrik hiburan atau seni budaya. Apalagi kita sudah memasuki era spesialisasi dalam media massa. Untuk itu di tengah gegap gempitanya media-media sekarang ini, pertumbuhan media musik memang terbilang lamban meski tidak mati-mati amat. Lantas bagaimana dengan perkembangan jurnalisme musik di Indonesia sendiri?

Perkembangan Awal di Indonesia

Media yang fenomenal dalam sejarah musik Indonesia adalah Aktuil. Hampir selama tiga belas tahun Aktuil menulis peristiwa-peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air. Memang pada masa selepas kemerdekaan corong media yang menampilkan musik lebih didominasi oleh RRI dan TVRI. Namun, kedua media tersebut lebih tepat sebagai “media promosi” dibandingkan “produk jurnalistik” itu sendiri.

Aktuil bukan media atau majalah yang pertama kali menampilkan musik sebagai konten utamanya. Sebelum Aktuil, tahun 1963 di Yogyakarta majalah Discorina terbit. Jauh sebelum itu, tahun 1957, tercatat pernah terbit majalah Musika (Solihun, 2004). Surat kabar pada masa itu juga menyediakan ruang untuk tulisan-tulisan musik, seperti surat kabar Pos Utara dengan pojok musiknya “Salah Sambung” asuhan Ronny Deo, Aneka Minggu dengan pojok musiknya “Nada Sumbang” asuhan Zatako, Sinar Pembangunan dengan kolom “Close Up” asuhan Sariko, Sinar Harapan dengan kolom “Lingkaran Musik” yang diasuh oleh Tjang Abbas.yang muncul tiap Sabtu pada tahun 1962 sampai dengan 1970. Surat kabar sampai tahun 1970-an belum menempatkan musik sebagai tulisan yang rutin. Film dan teater lebih mendapat tempat (Mulyadi, 2009).

Aktuil didirikan oleh Denny Sabri, mantan kontributor Diskorina. Denny Sabri mengajak Toto Raharjo, pemilik percetakan di Bandung, untuk menerbitkan suatu majalah musik yang dinamakan Aktuil dan terbit pada 1967. Selain nama Denny Sabri dan Toto Raharjo, nama lain yang terlibat dalam pendirian majalah Aktuil antara lain Bob Avianto, Bernad Jujanto, Deddy Suardi, dan Remy Sylado.

Pada perkembangan selanjutnya tiras Aktuil mencapai 100 ribu eksemplar dan begitu digemari anak muda pada masa itu. Opininya didengar anak muda, dan mampu menampilkan informasi yang berbeda karena kemampuannya dalam menyajikan wawancara atau reportase langsung dengan sejumlah musisi di luar negeri.

Dampak penulisan Aktuil dirasakan oleh band semisal Superkid, The Rollies, dan beberapa grup band asal Bandung, kota asal Aktuil. Mereka mendapat perhatian dari peminat musik rock dalam waktu yang sangat cepat. Penggemarnya ingin membuktikan kenyataan dari publikasi majalah Aktuil tentang kehebatan-kehebatan pemain Superkid seperti kemampuan Jelly Tobing yang digadang-gadang sebagai “Top Drummer of The Year”, kemudian ketergantungan Deddy Stanzah terhadap narkoba, dan aksi-aksi panggung Deddy Dores.

Pembentukan opini dalam Aktuil diarahkan kepada musik-musik rock Barat. Yang paling fenomenal tentu saja perseteruan antara “Rock vs Dangdut”. Rock yang “diwakili” oleh Benny Soebardja (The Giant Step) menganggap musik dangdut yang diwakili oleh Rhoma Irama dianggap sebagai “musik (maaf) tai anjing”. Polemik yang memanas ini seakan diberi tempatnya oleh Aktuil.

Selain itu, kecenderungan Aktuil untuk mengangkat musik-musik rock Barat pernah dikeluhkan oleh seorang pembaca. Surat pembaca yang terbit dalam majalah Aktuil no 124 1975 dari Bambang Sulistyo Yuwono di Temanggung menyimpulkan bahwa Aktuil telah menggiring pembacanya untuk menyukai musik rock Barat seperti The Rollies atau The Peels. Remy Sylado menyebut Aktuil sebagai propagandis budaya rock Barat.

Tulisan di majalah Aktuil yang menarik adalah liputan pementasan-pementasan musik rock di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Malang, Solo, dan Yogyakarta. Aktuil melaporkan persiapan pementasan, profil kelompok musik, tingkah laku musisi, liputan pementasan, dan tingkah laku penonton.

Aktuil juga secara detil melaporkan bagaimana jalannya pertunjukan misalnya Ucok AKA dan Godbless yang membawa peti mati ke panggung, Micky Jaguar menyembelih kelinci dan meminum darahnya, serta Rawe Rontek yang menancapkan paku dan peniti terbakar ke tubuh vokalis dan musisinya. Pengaruh dari liputan-liputan itu mengakibatkan masyarakat menyenangi sensasi-sensasi grup band yang membawa ular ke panggung, membawa peti mati, atraksi gantung diri, dan lain-lain. Akibatnya grup musik yang tidak menyajikan teatrikal dan sensasional di atas panggungnya akan disoraki penonton. Sayang Aktuil bubar pada tahun 1986 selepas mereka mengundang band Deep Purple tampil di Indonesia yang berakibat kerugian finansial dan kemudian banyak ditinggal pergi awak redakturnya.

Selain Aktuil, beberapa majalah yang sering menulis musik di Indonesia pada periode 1950-1980 adalah Selecta, Monalisa, Diskorina, Variasi, Top, Junior, Violetta, dan Soneta. Tahun 1970-an dan 1980-an muncul majalah hiburan yang menuliskan musik secara rutin misalnya majalah HAI, Gadis, Mode, Vista, FMTV, kemudian tabloid Monitor, Citra, dan Bintang (Mulyadi, 2009). Karakteristik majalah-majalah yang menyajikan musik sebagai sajian utamanya menampilkan informasi berupa profil artis/musikus, kegiatan-kegiatan pementasan, resensi album, tangga lagu, hingga memuat poster album dan tayangan acara radio dan televisi. Majalah-majalah musik itu menjadi media komunikasi yang efektif antara pelaku musik dengan masyarakat.

Periode 1980-an, dapat dilihat iklan-iklan album musik di majalah-majalah yang membahas musik. Selain majalah-majalah yang khusus menuliskan musik sebagai bagian dari beritanya, memang masih terdapat surat kabar yang masih menulis konten-konten mengenai musik. Akan tetapi, musik tidak pernah menjadi sajian rutin surat kabar. Biasanya, hanya untuk mengisi rubrik hiburan atau seni budaya. Selepas Aktuil, tak ada rasanya majalah yang menampilkan musik sepenuhnya.

Era 1990-2000an: Kehadiran Media Franchise dan Media Alternatif

Memasuki tahun 1990-an industri musik Indonesia sedang berkembang menuju “internasionalisasi” melalui masuknya major label internasional dan MTV. Kedua hal tersebut memiliki dampak luar biasa besar bagi perkembangan budaya populer di Indonesia, terutama anak muda. MTV banyak menyajikan informasi-informasi musik hampir selama 24 jam penuh. Tayangan informasi musisi, berita album terbaru, dan video klip-video klip memanjakan anak muda yang disebutnya “generasi nongkrong”.

Pada era ini, majalah musik memang beririsan dengan industri hiburan. Hal ini berbeda dari periode sebelumnya yang menyajikan musik sebagai propaganda budaya Barat. Seperti munculnya tabloid-tabloid semisal Citra Musik. Salah satu media yang masih konsisten dan “cukup besar” dalam menyajikan musik adalah HAI. Namun, HAI juga tak bisa dikatakan sebagai majalah musik. Hanya saja musik masih memiliki ruang paling banyak dibanding lainnya. Konten musik yang ditampilkan pun lebih banyak beririsan untuk remaja.

HAI pada masa itu memiliki akses untuk meliput pemberitaan internasional. Salah satu hal yang paling menarik tentu saja meliput pemberitaan mengenai konser Woodstock 1994 dan 1999. HAI juga memiliki pengaruh besar akan munculnya musik underground/independen seperti Pas Band, Puppen, dan Pure Saturday.

Perubahan paling terasa pada era kebebasan pers yaitu munculnya beragam jenis media. Atau istilahnya media-media kini sudah ter-spesialisasi. Kita dapat menemukan beragam bentuk media dari mulai media otomotif, olahraga, kuliner, gaya hidup, hingga hiburan. Rasanya, media musik pada masa ini lebih banyak beririsan dengan konten-konten mengenai hiburan dan gaya hidup.

Beberapa majalah maupun surat kabar juga biasanya masih menyediakan rubrik khusus musik. Tulisannya memang bukan tulisan mendalam mengenai musik namun sebatas akan resensi album, liputan konser, atau profil musikus. Boleh dikatakan konten musik sebatas rubrik tambahan, dan bukan yang utama.

Pada masa ini ditandai pula dengan munculnya media-media franchise. Era kebebasan pers membuat para konglomerat media lebih memilih berinvestasi dengan membeli hak media franchise. Hal ini dipandang sebagai cara cepat untuk membuat sebuah media dibandingkan dengan meniti perusahaan media sejak embrionya. Kehadiran majalah franchise seperti Trax dan Rolling Stone memberikan pengaruh sangat penting bagi perkembangan jurnalisme musik di Indonesia.

Sebelum kehadiran media-media franchise memang sempat hadir beberapa majalah musik lokal semisal Tabloid MUMU, majalah NewsMusik, tabloid Rock, majalah Popcity, dan majalah Poster. Sayang, majalah-majalah tersebut tidak bisa bertahan lama. Konsistensi Trax dan Rolling Stone yang masih eksis hingga saat ini tak bisa dipungkiri lagi karena menjadi bagian dari konglomerasi media.

Corak karakteristik pemberitaan musik yang muncul pada masa ini lebih cenderung mengikuti arus pasar. Media musik pun seolah menjadi corong bagian dari industri musik itu sendiri. Rubrik-rubrik lebih banyak didominasi oleh band/musikus pop (baca: mainstream) Indonesia. Pemberitaan yang biasa muncul lebih banyak didominasi oleh hal-hal yang bersifat “informatif “dan “menghibur”. Media pers kita lebih banyak memuat peristiwa musik niaga atau musik industri yang galibnya adalah musik-musik hiburan: pop, rock, dan dangdut (Munsyi, 2005).

Namun, di balik tatanan industri media mainstream, munculnya media-media musik alternatif di beberapa kota besar Indonesia. Di Bandung ada Ripple Magazine dan Trolley Magazine, di Yogyakarta ada Sub Magazine dan Outmagz, di Semarang ada Mosh Magazine, dan di Malang ada Common Ground Magazine. Kehadiran media-media alternatif seperti ini lebih cenderung “ideologis” karena konten-kontennya lebih banyak mengangkat musik independen/underground dan menolak musik pasar (baca: mainstream).

Kehadiran media-media alternatif ini seiring dengan perkembangan komunitas independen terutama budaya fanzines yang lebih banyak mengangkat isu-isu identitas dan komunitas (Duncombe, 1997). Namun keberadaan media-media alternatif ini juga tidak bertahan lama. Beberapa media terpaksa gulung tikar dengan berbagai alasan. Trolley terpaksa bubar di edisi ke-11. Paling lama mungkin hanya Ripple Magazine yang bertahan selama sepuluh tahun. Kondisinya saat ini vakum untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.

Kehadiran Internet: Suatu Ancaman atau Peluang?

Kehadiran internet dan terutama media sosial memiliki pengaruh cukup besar dalam praktik jurnalisme musik di Indonesia. Kini media-media musik tak hanya ditemukan melalui media cetak (majalah). Media musik kini juga banyak ditemui melalui format web magazines (webzines), radio streaming, dan video streaming. Kehadiran internet membuat semua orang dapat menjadi “jurnalis musik”. Kemudahan akses itu membuat semua orang tidak perlu berada di suatu institusi pers untuk menulis dan meliput pemberitaan musik.

Kehadiran berbagai media online dan blogger-blogger musik menjadi gairah baru untuk menulis musik. Para penulis musik di webzines biasanya “non-jurnalis” dan seolah mengembalikan keotentikannya bahwa menulis musik oleh orang-orang yang antusias dan memiliki passion terhadap musik.

Kehadiran-kehadiran webzines ini memang menjadi oase di tengah kekeringan informasi mengenai musik. Terutama musik-musik di luar mainstream. Media-media seperti Deathrockstar, Jakartabeat, Wastedrockers, Gigsplay, dan masih banyak lagi mampu menghadirkan konten musik di luar mainstream. Kekurangan dari media-media seperti ini hanyalah masih digerakkan oleh manajemen yang belum profesional. Padahal pencapaian webzines semisal Stereogum atau Pitchfork di Amerika sana merupakan contoh sukses webzines yang digemari dan dibaca oleh pecinta musik.

Tantangan cukup berat bagi media-media musik online ini memang persaingan untuk memperoleh iklan. Jangankan untuk memperoleh laba, bisa survive saja masih syukur. Poin penting dari keberadaan media-media musik online ini memang dari sudut demokratisasi media. Kini media-media musik tumbuh beragam jenis, termasuk tak hanya dari kota pusat industri musik saja seperti Bandung atau Jakarta tapi tumbuh di luar dua kota tersebut.

Prinsip Ko-eksistensi dan Ko-evolusi

Media massa saat ini memasuki masa konvergensi media. Arus perkembangan jurnalisme musik itu sendiri kini lebih bervariasi. Beberapa media mainstream masih mengedepankan musik-musik pasar, akan tetapi ada beberapa media online alternatif yang juga masih konsisten untuk menawarkan musik-musik di luar pasar industri musik.

Hanya saja saat ini kalau boleh dikatakan media yang murni disebut sebagai majalah musik, yang memang hampir kontennya dipenuhi hal ihwal tentang musik, boleh dikatakan tidak ada. Media-media yang konten utamanya mengenai musik biasanya beririsan dengan media-media “lifestyle” atau “entertainment”. Hal ini boleh menjadi sebagai prinsip ko-evolusi agar media-media tersebut mampu bertahan.

Seperti yang sudah diuraikan di atas, jikalau dikatakan jurnalisme musik di Indonesia itu mati, sebenarnya tidak juga. Jurnalisme musik dalam pengertian menulis dan memberikan informasi mengenai musik dan peristiwanya masih hadir menemani keseharian kita. Beberapa media musik masih mampu bertahan dengan prinsip dan strateginya masing-masing. Beberapa media mainstream semacam Rolling Stone, Trax, dan HAI juga membuat divisi online. Prinsip konvergensi rasanya yang dapat membuat media musik ini bertahan. Kini bahkan beberapa media musik mampu mengawinkan antara jurnalisme musik dengan teknologi media. Informasi-informasi musik tak hanya ditemui melalui media cetak, akan tetapi melalui media sosial, youtube, dan berita online.

Kunci suatu media, termasuk media musik, untuk bertahan di tengah derasnya kompetisi antar media memang inovasi. Kemampuan inovasi yang dikawinkan antara produk-produk jurnalisme musik yang mampu intim dengan teknologi media. Jadi saya pikir selama musik dan peristiwanya masih hadir dan dinikmati masyarakat Indonesia, jurnalisme musik tak akan hilang. Boleh jadi, ia hanya akan berubah format dan cara untuk hadir di hadapan kita.

Duncombe, Stephen. 1997. Notes From Underground: Zines and Politics of Alternative Culture. Verso: London

Gudmondsson, G, Lindberg, U., Michelsen, M., and Weisthaunet, H. 2002. Brit crit: turning
points in British rock critism, 1960-1990, in Pop Music and the Press, ed. S. Jones Temple University Press: Philadelphia

Mulyadi, Muhammad. 2009. Industri Musik Indonesia Suatu Sejarah. Koperasi Ilmu
Pengetahuan Sosial

Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Gramedia: Jakarta

Solihun, Soleh. 2004. Perjalanan Majalah Musik di Indonesia. Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran. Skripsi.

NB: Sebagai catatan tambahan, saat ini ketika makalah ini tayang di blog Majalah Trax sudah resmi berhenti terbit sejak 2016 lalu. Kemudian HAI memutuskan untuk fokus di online dan majalahnya terbit terakhir di Juni 2017 lalu. 

 

165 Views
Sponsored

Author Overview


Idhar Resmadi
seorang penulis dan dosen. Bisa ditemui di: www.idhar-resmadi.net

More Journal from Idhar Resmadi


Membangun Branding Digital untuk Musisi
1 month ago

Menciptakan Bandung Kota Musik
4 months ago