selasar-loader

Sekali Lagi Pancasila Sudah Final, Titik!

LINE it!
Chandra Simarmata
Chandra Simarmata
Analis | Kolumnis | Blogger
Journal Jun 18, 2017

-LSCbrBEFXc6_RB-TX3G9-tfIqbn7S5_.jpg

 “Maka karena itu jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat dan mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya”.

[Soekarno, Kutipan Pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945]

 

Pancasila sejatinya merupakan ideologi pemersatu dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila merupakan hasil dari pemikiran, penilaian, dan refleksi filosofis dari bangsa Indonesia sendiri.
Tanpa Pancasila rasanya tidak akan mungkin berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang panjangnya dari Sabang sampai Merauke dan terdiri dari bermacam suku dan agama.

Sebaliknya, berkat adanya Pancasila, bermacam suku dan agama itu rela bersatu di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan berkat Pancasila juga, bangsa Indonesia tetap dapat menyelaraskan antara kehidupan beragama dan kehidupan bernegaranya. Itulah kehebatan Pancasila. Ruh-nya mampu menyatukan seluruh elemen bangsa yang berbeda-beda di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun ironisnya, dalam suasana peringatan hari kelahiran Pancasila tahun 2017 ini, kondisi kebatinan bangsa ini justru semakin diliputi awan kerisauan. Kebhinnekaan dan kesetaraan antara minoritas dan mayoritas yang sudah jelas diatur dalam konstitusi kembali menjadi persoalan besar yang menemui jalan terjal. Menurut survei SMRC tahun 2017, ada sekitar 9.2 persen masyarakat yang ingin mengganti dengan ideologi Pancasila dengan khilafah.

Pancasila sepertinya kembali menghadapi tantangan. Riak-riak kecil yang mempersoalkan Pancasila dan keberagaman pun kini mulai kembali bermunculan. Sementara itu, Nilai-nilai luhur Pancasila yang seharusnya menjadi benteng pelindung bangsa justru sedang dihantam oleh berbagai paham yang justru anti Pancasila.

Sepertinya ada yang terlupakan oleh sebagian bangsa ini. Atau apakah bangsa ini sedang mengalami kemunduran sehingga kembali mempersoalkan Pancasila dan kebhinnekaan? Rasanya perlu kita berdiam diri dan merenung pribadi lepas pribadi untuk mencari jawabannya.
 
Menghidupkan Semangat Pancasila

Belum lama ini, dalam pidatonya saat memberikan pengarahan kepada 1.500 prajurit TNI di Natuna, Kepulauan Riau (Jumat, 19/5/2017), Presiden Joko Widodo kembali menegaskan bahwa Negara Pancasila itu sudah final. Jadi, Siapapun yang anti Pancasila akan ditindak tegas.

Pernyataan Presiden Jokowi itu memang sedikit memberi kesejukan di tengah-tengah masyarakat yang pro Pancasila. Namun, untuk benar-benar menyelesaikan persoalan bangsa ini secara holistik, tentu tidaklah cukup hanya dengan kata-kata.

Menurut hemat penulis, Presiden harus bergerak cepat. Saat ini, Presiden terkesan kurang sigap dalam mengambil langkah untuk mengatasi persoalan bangsa yang semakin membesar. Apalagi, Tak dapat kita pungkiri, tingginya tensi politik sebagai dampak dari kerasnya pertarungan saat Pilpres 2014 dan Pilgub DKI Jakarta 2017 telah menciptakan polarisasi yang menjurus pada primordialisme dan rasisme. Bangsa ini pun terbelah menjadi dua kutub yang berseberangan karena berbeda prinsip dan pandangan.

Karena itu, Perlu kebijakan yang tepat dan efektif untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini. Jangan sampai persoalan bangsa ini jadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh “tangan-tangan gelap” sehingga mengganggu keutuhan NKRI.

Selain itu, Presiden Jokowi juga harus jeli melihat musuh. Kini, musuh bangsa ini bukan lagi para penjajah yang datang dari luar melainkan datang dari bangsa sendiri. Kondisi ini sekaligus mengingatkan kita pada perkataan Bung Karno bahwa “Kaum Komprador“ akan muncul di tengah kehidupan NKRI yang merdeka. Para komprador akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjadikan Nusantara menjadi bangsa yang terpuruk. Sementara itu Pemerintah hanya bisa terdiam karena belum mampu memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Intinya, Kini rakyat sedang menunggu aksi nyata Presiden Jokowi untuk menindak tegas para perusak persatuan dan kesatuan bangsa ini. Kebijakan yang akan dikeluarkan Presiden Jokowi jelas akan menentukan arah bangsa ini ke depan. Tanpa adanya Political Will dan kebijakan yang tepat, maka akan sulit menjaga keutuhan NKRI.

Sejatinya, Kita adalah bangsa yang kaya dan beragam. Pancasila dipilih sebagai dasar negara oleh para pendiri Indonesia bukan tanpa pertimbangan matang. Bung Karno dan para pemikir bangsa ini telah menyatukan visi mereka dalam bingkai Pancasila tanpa mempersoalkan perbedaan. Dan kini, para pendiri bangsa itu telah menitipkan Pancasila kepada kita.

Jadi, kita pun harus menjaga dan memegang teguh warisan Pancasila yang sudah dititipkan itu. Bangsa ini tidak boleh terpecah-belah dan hancur begitu saja. Bangsa ini harus bersatu untuk bangkit dari keterpurukan. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan bangsa ini selain bersatu dan kembali mengobarkan semangat Pancasila yang terasa mulai redup. Jika tidak, maka bangsa ini akan kembali terpecah-belah seperti dulu.

Pada akhirnya, Peringatan Hari Lahirnya Pancasila harus dijadikan momentum untuk segera berbenah dan menyelesaikan Persoalan bangsa ini. Para pendiri bangsa kita sudah dengan susah payah dan berdarah-darah untuk menyatukan bangsa ini. Harapannya, dengan mengamalkan dan menjalankan Pancasila secara benar dan holistik, maka bangsa ini akan mampu bangkit dan dapat melawan “kaum komprador“ yang terus berusaha menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa ini.
 
Penulis adalah Periset Independen dan Pegiat Multikulturalisme

319 Views