selasar-loader

Jupe, Kanker Serviks, dan Ahok

LINE it!
Doddy Salman
Doddy Salman
Mahasiswa Kajian Budaya
Journal Jun 13, 2017

V56Ae4WTAtngYN5bSo1PChu35wRu1ihp.jpg

Sesungguhnya di antara banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran (Ali bin Abi Thalib).

Julia Perez telah meninggalkan dunia yang fana. Artis serba bisa (akting, menyanyi, komedi, MC) yang akrab disapa Jupe itu wafat 10 Juni 2017 dan dimakamkan sehari kemudian di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Persahabatannya dengan kalangan artis, politisi, dan bintang olahraga membuktikan betapa luasnya pelantun "Aku Rapopo" ini bergaul. Tak heran meski telah pergi, Jupe masih “hidup” dalam trending topic media sosial.

Selama dua tahun terakhir, Jupe menderita penyakit kanker serviks. Kanker serviks, mengutip rubrik gaya Tempo, adalah penyakit berbahaya yang sering tidak disadari kaum perempuan. Penyakit ini menyerang tanpa diketahui penderitanya secara perlahan. Di tahap dini, sulit ditemukan tanda-tandanya. Ketika sudah menjalar ke bagian tubuh lain, barulah disadari telah terjadi penyakit kanker serviks. Hanya pemeriksaan medislah yang dapat memastikan seorang wanita terserang kanker yang akrab disebut kanker leher rahim ini.

Masih menurut rubrik gaya Tempo, gejala yang lazim terjadi kanker serviks adalah siklus menstruasi yang tidak teratur dan keputihan yang tidak normal. Selain itu, ada rasa sakit ketika berhubungan intim, bahkan hingga pendarahan, sering merasakan sakit di daerah pinggul dan nyeri di kelamin ketika buang air kecil.

Agar para wanita terhindar dari penyakit kanker serviks, pencegahan menjadi jalan paling mudah. Pemberian vaksin HPV (human papilloma virus) untuk mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual dipercaya dapat menghindarkan diri dari penyakit kanker serviks. Selain melakukan gaya hidup sehat seperti tidak merokok, rajin berolahraga, dianjurkan pula untuk mengendalikan stres dan banyak mengonsumsi makanan mengandung beta karoten, vitamin C, dan vitamin R.

Namun persoalannya, vaksin HPV terhitung mahal. Untuk sekali suntik, biayanya Rp750 ribu rupiah. Jika UMP Jakarta sekitar Rp3,5 juta maka biaya sekali suntik sudah merogoh kocek sebulan sangat dalam. Lalu, bagaimana solusinya? Apalagi kanker serviks disebut sebagai pembunuh nomor satu perempuan Indonesia. Secara rata-rata setiap satu jam, perempuan Indonesia wafat karena kanker serviks.

Ketika masa kampanye Pilkada DKI, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok memasukkan program vaksinasi sebagai program andalan untuk warga Jakarta. Ahok memutuskan vaksinasi HPV gratis untuk perempuan. Berdasarkan hasil kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, ditemukan bahwa perempuan kelas 5 SD adalah level paling awal yang dapat diberikan vaksin. Rencananya juga, jika anak masuk SD, sertifikat sudah vaksin menjadi syarat untuk masuk sekolah.

Namun apa daya, tanggapan masyarakat tidak semulus yang dikira. Program pemberian vaksin gratis yang sudah diberikan kepada 63.702 siswi dihalangi isu miring. Pemberian vaksin tersebut akan menyebabkan menopause dini. Bukan itu saja, program yang juga menjadi bagian dari Kementerian Kesehatan tersebut diterpa isu merupakan vaksin untuk memandulkan pribumi. Sungguh fitnah yang keji.

Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Supardi, sebagaimana dikutip BBC.com, menegaskan bahwa imunisasi HPV mencegah kanker seviks 100%. Syaratnya, diberikan dua kali kepada anak perempuan yang belum berhubungan seks dengan perkirakan paling muda anak kelas 5 SD.

Keefektifan vaksin berkurang jika diberikan kepada kaum perempuan yang sudah berhubungan seks. Dokter Jane juga membantah bahwa pemberian vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan di bawah usia 40 tahun. Di Amerika, pemberian vaksin HPV direkomendasikan kepada perempuan usia 11 hingga 12 tahun. Sedangkan di Inggris, vaksin diberikan pada anak usia 12 hingga 13 tahun.

Kesimpulan tulisan ini adalah bahwa diperlukan upaya dari pemerintah agar pemberian vaksin HPV kepada anak perempuan terus dilanjutkan. Penjelasan bahwa vaksin HPV tidak membuat mandul atau menopause dini juga perlu disebarluaskan. Para gubernur, walikota, dan bupati perlu menggencarkan pemberian vaksin HPV kepada anak perempuan dengan biaya cuma-cuma.

Cukup Ahok sajalah menjadi korban fitnah keji bahwa vaksin HPV membuat mandul perempuan. Bagaimana pun, kebencian memang membutakan akal sehat. Itulah yang terjadi pada Ahok yang sadar posisi perempuan sebagai makhluk mulia yang harus dilindungi karena keberlangsungan sebuah bangsa bergantung pada kehidupan perempuannya.

Sumber foto: Indo Headline News

654 Views