selasar-loader

Female Genital Mutilation Harus Segera Dihentikan

LINE it!
Anditha Nur  Nina
Anditha Nur Nina
Peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 // Mahasiswa FKM UI Angkatan 2014
Journal Aug 14, 2017

http://media.radarbanyumas.co.id/wp-content/uploads/Pelecehan-Seksual-8.jpg?w=640

Setelah membaca novel Desert Flower yang ditulis oleh seorang duta besar PBB untuk menyuarakan Hak Asasi Manusia, yang dulunya adalah korban dari female genital mutilation di Somalia, saya tertarik untuk membahas female genital mutlilation dan praktiknya hingga sekarang. WHO (1997) mendeskripsikan Female Genital Mutilation (FGM) sebagai sebuah prosedur yang melibatkan pemotongan sebagian maupun keseluruhan bagian dari alat kelamin perempuan atau segala bentuk pencederaan terhadap alat kelamin perempuan dengan alasan budaya atau nonmedis. Terdapat empat tipe FGM sesuai klasifikasi WHO (2003) yaitu sebagai berikut.

1.  Tipe I FGM, yang dilakukan dengan memotong sebagian atau keseluruhan bagian dari klitoris pada alat kelamin perempuan. Prosedur tersebut dikenal juga dengan istilah clitoridectomy.

2. Tipe II FGM, ialah tipe pemotongan sebagian maupun keseluruhan bagian dari klitoris dan labia minora, bisa juga disertai dengan pemotongan labia majora.

3. Tipe III FGM, yang merupakan tipe FGM di mana alat kelamin perempuan akan ditutupi dan jahitan kulit luar sehingga hanya menyisakan jalur kencing dan pembuangan menstruasi.

4. Tipe IV FGM, merupakan klasifikasi praktik FGM selain ketiga tipe di atas, seperti-namun tidak terbatas pada-penusukan (pricking), pembuatan lubang anting (piercing), pemotongan (incising), pengguntingan (scraping), dan pembakaran (cauterizing) pada bagian atau keseluruhan alat kelamin perempuan.

Permasalahan ini bukanlah hal baru di masyarakat internasional, terutama dalam kasus mengenai pelanggaran hak terhadap perempuan. Hal yang amat tragis adalah masih banyak penduduk dunia yang menjadi korban dari FGM tersebut. Menurut catatan World Health Organization (WHO) saja, setiap tahunnya, setidaknya ada 2-3 juta wanita terancam kasus FGM, 100-132 juta wanita telah menjadi korbannya, dan rata-rata 4 gadis per menit.

Diperkirakan bahwa lebih dari 6 ribu perempuan menjalani praktik FGM setiap harinya. Praktik FGM terjadi sedikitnya di 28 negara di Afrika dan beberapa negara di Asia dan Timur Tengah, termasuk Yaman dan Irak Utara, beberapa suku etnik di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, dan juga di Amerika Utara, Eropa, serta Australia

Prosedur FGM ini sangatlah menyakitkan, baik pada saat proses dilaksanakan maupun pada masa setelah proses selesai. Namun anehnya, sebagian besar pelaku FGM ini adalah perempuan sendiri dan hanya sedikit kebudayaan yang memungkinkan prosedur ini dilaksanakan oleh laki-laki.

Menurut kajian yuridis Female Genita Mutilation (FGM) dalam perspektif Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Marlinda Oktavia Erwanti, Rahayu, dan Elfia Farida, FGM dapat dilakukan terhadap seorang perempuan pada saat ia masih bayi, anak-anak usia 7-10 tahun, remaja, maupun perempuan dewasa. Pada beberapa masyarakat seperti di Somalia, usia FGM berkisar antara 18-68 tahun; di Ethiopia dan Eritrean, usia FGM berkisar antara 30-52 tahun. Namun, usia paling umum dilaksanakannya FGM adalah 4-8 tahun.

Di Somalia, praktik FGM disebut dengan istilah Gudniin. Sebagai salah satu wilayah penyebaran FGM, masyarakat di Somalia, tempat tinggal Waris Dirie sang penulis buku Desert Flower, secara aktif menjalankan praktik tersebut. Somalia saat ini merupakan negara yang menduduki peringkat pertama dalam prevalensi praktik FGM di dunia.

Pada tahun 2010, laporan UNICEF mencatat bahwa prevalensi praktik FGM mencapai level 98%. Bahkan, prevalensi praktik FGM pada golongan perempuan usia 35-39 tahun berada dalam level 99%. Lebih lanjut, UNICEF (2010), mengacu pada laporan MICS (2006), memperlihatkan bahwa hampir 80% perempuan Somalia melakukan praktik FGM Tipe III (disebut di Somalia sebagai Gudniinka fircooniga ah), sedangkan 15% lainnya melakukan 26 praktik FGM Tipe II.

Peran ibu dan nenek di masyarakat Somalia sangatlah signifikan dalam menentukan praktik tersebut kepada anak-cucu perempuan mereka. Terlebih lagi, tekanan yang muncul terhadap perempuan ketika melakukan praktik FGM memaksa kaum perempuan menjalani praktik tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai usaha mereka untuk masuk dan menjadi bagian yang dapat diterima dan diakui dalam struktur masyarakat Somalia.

Menurut National Health Services di Inggris, FGM menyebabkan bahaya serius bagi anak perempuan dan wanita, termasuk nyeri terus-menerus, infeksi berulang yang bisa menyebabkan kemandulan, pendarahan, kista dan abses, masalah buang air atau inkontinensia, depresi, memori yang mengganggu, menyakiti diri sendiri, dan masalah melahirkan yang bisa menyebabkan kematian.

Jika kita lihat, di negeri kita sendiri, terdapat beberapa daerah di Indonesia yang masih melaksanakan dan melestarikan praktik FGM, di antaranya adalah Provinsi Banten, Jawa Timur (Madura), Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan masih banyak lagi yang belum ketahuan.

Praktik FGM di Indonesia sampai saat ini juga masih dilestarikan karena masih banyaknya masyarakat yang beranggapan dan percaya akan mitos-mitos dari pelaksanaan FGM, seperti FGM akan mengurangi gairah atau libido perempuan, menjadikan perempuan lebih menurut, dianggap lebih suci, dan lain sebagainya. Seharusnya, pelaksanaannya dilarang karena bersinggungan dengan permasalahan HAM.

Untuk menangani ini, muncul Protokol Maputo pada tahun 2003 sebagai instrumen hukum internasional di benua Afrika yang berisi tentang pemenuhan hak-hak perempuan, di mana salah satu fokusnya ialah eliminasi praktik-praktik yang menyakitkan bagi perempuan, termasuk praktik FGM. Walau sudah banyak peraturan atau instrument hukum yang mengatur tentang GFM, namun ktia tidak bisa menutup sebelah mata bahwa di pedalaman Afrika, bahkan Indonesia, masih ada yang melakukan GFM.

Menurut saya, tugas kita dalam hal ini adalah memberikan pemahaman lewat turun lapangan langsung ke pedalaman-pedalaman guna mengedukasi bahaya FGM bagi para kalangan tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri sehingga kita dapat mengubah persepsi mereka akan GFM. Perempuan tidak seharusnya mendapatkan penyiksaan yang melanggar berbagai peraturan dan hak asasi manusia.

Referensi
https://media.neliti.com/media/publications/19517-ID-kajian-yuridis-female-genital-mutilation-fgm-dalam-perspektif-hak-asasi-manusia.pdf
http://erepo.unud.ac.id/11013/3/a0b8896e6340595877be6985d7c54c93.pdf
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/20046/1/ANA%20PRATIWI-FSH.pdf
http://www.komnasperempuan.go.id/wp-content/uploads/2014/02/PETA-KEKERASAN-PENGALAMAN-PEEMPUAN-INDONESIA.pdf

Sumber gambar:  radarbanyumas.co.id

542 Views