selasar-loader

Jangan Tangkap Habib Rizieq!

LINE it!
Fadhel Yafie
Fadhel Yafie
Mahasiswa UIN Jakarta; Pembelajar yang menggandrungi filsafat dan sains
Journal Jun 5, 2017

 RwEkNA3qvcV-DMWqOGUrFYCOhoyD6rgL.jpg

Saat ini, Indonesia sedang dalam kondisi kalut. Polarisasi semakin menajam. Ditahannya Ahok, membuat para pendukungnya semakin militan dan berani menyuarakan suaranya. Di kubu sebelah, kasus Habib Rizieq yang sedang diproses kepolisian juga membuat para pendukungnya semakin militan. Persepsinya sama, bahwa mereka berdua (Ahok dan Habib Rizieq) sama-sama diperlakukan secara tidak adil oleh negara.

Ahok sudah dinyatakan bersalah karena melanggar pasal 156a KUHP tentang penodaan agama. Setelah melewati 21 kali persidangan, tanpa absen dan terlambat.

Sedangkan, Habib Rizieq dilaporkan dengan berbagai tuduhan. Penodaan agama, penodaan Pancasila, pencemaran nama baik Sukarno, dan pornografi. Sederet tudingan pada Habib Rizieq. Kebalikan dengan sikap Ahok, Habib Rizieq sering kali mangkir dengan berbagai alasan. Dalam kasus pornografi yang saat ini sedang diusut, Habib Rizieq telah mangkir sebanyak tiga kali.

Saat status Habib Rizieq adalah tersangka dalam kasus pornografi #baladacintaRizieq dan dalam kasus penodaan Pancasila dan pencemaran terhadap orang yang sudah meninggal, ia menolak untuk hadir. Bahkan, ia pergi ke luar negeri (Malaysia dan Arab Saudi).

Lewat pengacaranya, Habib Rizieq mengatakan tidak mau pulang ke Indonesia sebelum keadilan tegak di negeri ini. Ia secara terang-terangan mengatakan bahwa ini adalah “kriminalisasi”. Kabarnya, Rizieq juga memohon untuk tidak ditangkap jika pulang ke Indonesia.

Pendukung Ahok geram atas sikap Habib Rizieq. Pada aksi unjuk rasa, di media sosial, dan di mana-mana, mereka selalu mengampanyekan “Tangkap Rizieq”. “Jika Ahok ditahan karena menodai agama, sudah seharusnya Rizieq juga ditangkap!” begitu ungkap mereka. Polarisasi kedua kubu semakin tajam.

Menyikapi Kasus Habib Rizieq

Saya pribadi, meski tidak menyukai Habib Rizieq, tetap tidak setuju jika dia ditangkap. Berikut alasan-alasannya:

Pertama, kasus penodaan agama. Harus diakui bahwa pasal 156a tentang penodaan agama adalah pasal karet yang bisa nyelepet siapa pun. Seharusnya, massa pendukung Ahok dan Habib RIzieq bersatu soal ini untuk memperjuangkan penghapusan pasal ini agar tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan di kemudian hari.

Habib Rizieq hanya mengucapkan kalimat “Jika Tuhan beranak, bidannya siapa?” Lantas, apakah ini termasuk menodai agama? Saya kira tidak. Bukankah banyak anak kecil yang mempertanyakan hal serupa seperti; “Tuhan di mana? Lebih kuat Tuhan atau Superman? Bapaknya Tuhan siapa? Hingga Tuhan ada ngga sih?” Keponakan saya yang masih berusia 4 tahun sering mengajukan pertanyaan semacam ini dan membuat pusing.

Pertanyaan semacam ini hanya keluar dari mereka yang belum mengerti. Kita anggap saja Habib Rizieq tidak mengerti tentang agama Kristen hingga melontarkan pertanyaan semacam ini. Selesai, kan? Tidak perlu tuntut-menuntut. Memang betul Indonesia adalah negara hukum, tapi kok kayaknya kaku banget jika sedikit-sedikit lapor polisi.

Kedua, kasus penodaan Pancasila dan pencemaran nama baik proklamator, Sukarno. Habib Rizieq mengatakan bahwa sila ketuhanan di Pancasila versi Sukarno ada di pantat. Apakah ini menghina? Saya kira tidak. Memang faktanya, Sukarno meletakkan sila ketuhanan pada sila ke-5. Sila ketuhanan pindah menjadi sila pertama setelah direvisi oleh panitia sembilan[1].

Apakah kita tersinggung dengan kata “pantat” yang diucapkan Habib Rizieq? Lagi pula, Habib Rizieq sudah klarifikasi bahwa kata “pantat” sering kali digunakan orang Betawi sebagai sinonim kata “terakhir”[2]. Dari klarifikasinya, secara substansif tentu tidak ada maksud penghinaan dari Habib Rizieq. Mau sampai kapan kita terjebak dalam simbol kata-kata?

Ketiga, kasus pornografi. Saya menganggap bahwa kasus pornografi yang dialami Habib Rizieq dan Firza Husein ini mirip dengan Ariel Peterpan dan Luna Maya. Terlepas dari benar atau tidaknya screenshot chat tersebut, Habib Rizieq bukan pelaku penyebaran potret bugil Firza Husein. Seandainya chat itu benar, saya kira Habib Rizieq dan Firza Husein adalah korban dari pencurian hak privasi seseorang.

Urusan seksual adalah hak privasi seseorang. Selama tidak diumbar ke publik tentu bukan masalah. Biarlah Habib Rizieq dan Firza Husein menyelesaikan masalahnya secara kekeluargaan. Untuk apa negara mengurusi masalah seksual seseorang? Mau sampai kapan kita tidak dewasa dengan mengurusi masalah rumah tangga orang lain?

Apakah kampanye untuk menangkap Habib Rizieq adalah sikap yang tepat? Apakah pendukung Ahok ingin Habib Rizieq ditahan hanya karena dendam? Hanya karena selama ini Habib Rizieq melakukan sesuatu yang tidak disukai? Bukankah Tuhan memerintahkan jangan sampai kebencian membuat kita tidak adil pada seseorang?

Meredam Polarisasi

Polarisasi antara kubu pendukung Ahok dan Habib Rizieq bisa diredam jika kedua pihak mau bersikap waras. Polarisasi yang tak kunjung reda ini bisa dimanfaatkan segelintir elit politik untuk mendulang suara jelang pesta demokrasi tahun 2018 dan 2019. Mari bersama-sama bergandengan tangan untuk kemajuan negeri ini.

Kedua pihak bisa sama-sama melakukan aksi damai “hapus pasal penodaan agama” agar junjungan kedua pihak bisa lolos dari jeratan hukum. Kedua pihak juga bisa melakukan aksi “stop hak angket DPR untuk KPK” sebagai wujud kepedulian terhadap pemberantasan korupsi.

Masih banyak aksi-aksi lain yang bisa dilakukan bersama untuk kemajuan negeri ini. Daripada terus fokus untuk membela junjungan masing-masing dan menghakimi pihak lain. Mau sampai kapan kita terus bertengkar seperti ini? Tidak bosankah kalian, kawan?

Kita yang merasa waras harus sama-sama menjalani nasihat Yesus: “Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu”. Artinya, balaslah sebuah kezaliman dengan kebaikan.

Seperti kata Mahatma Gandhi: “Cinta adalah senapan paling ampuh untuk merobohkan musuh. Kerasnya hati dan hinanya kebodohan akan lumpuh di hadapannya”. Dengan ini saya mengatakan, “Jangan tangkap Habib Rizieq!” Wallahu A’lam.


[1]http://nasional.kompas.com/read/2016/06/01/09210021/perubahan.urutan.pancasila.dan.perdebatan.syariat.islam.di.piagam.jakarta

[2] https://tirto.id/pantat-dan-buntut-rizieq-shihab-chlg

Sumber foto: Instagram @aganharahap

51624 Views