selasar-loader

Transjakarta, Upaya Melayani Lebih Baik

LINE it!
Rinhardi Aldo
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta
Journal May 24, 2017

7S-aWkwkWzCWoi1skRbbdSUffKOums2p.jpg
Foto via Tetitah

Sebelum saya menulis tulisan ini, saya melihat status dari Facebook Selasar yang berisi artikel tentang keluhan soal Transjakarta. Secara kebetulan saya kembali teringat tentang kepadatan naik bus Transjakarta yang luar biasa. Sehari-hari ketika pulang dan pergi kerja, saya memakai layanan Transjakarta melewati 2 koridor, Kalideres-Harmoni (3) dan Harmoni-Lebak Bulus (8). Tentu saya tak sampai Harmoni, di mana saya transit di halte Indosiar. Begitu pun sebaliknya.

Kepadatan saat naik bus ini umumnya terjadi ketika pulang dan pergi kerja orang normal (karena pekerjaan saya shifting, jadi pulang dan pergi kerja saya "abnormal"), yaitu pagi dan sore hingga menjelang malam hari. Tak kenal hari, meskipun kita tahu hari macet Jakarta adalah Senin dan Jumat.

Kepadatan yang ada tak kenal jenis bus, baik bus single, bus gandeng, atau bus setengah gandeng (bus jenis ini yang baru muncul beberapa waktu belakangan ini). Hal ini menimbulkan pemikiran saya bahwa naik bus Transjakarta sama seperti mengundi nasib dengan kartu tarot.

Bisa saja ketika saya sampai ke halte, bus sudah datang. Bisa juga saya harus menunggu, dengan waktu yang bervariasi. Ini karena headway (selisih waktu antara satu bus dengan bus lain yang berhenti di halte) yang tidak konsisten antara satu bus dengan satu bus lain.

Kasusnya sering kali begini. Andai ada empat bus yang akan berhenti di halte A, yang dilihat dari monitor posisi bus berdasarkan GPS (baru belakangan ada monitor tersebut, sebelumnya "tebak-tebak buah manggis") dan ini di waktu padat. Saya umumnya menebak beberapa hal sebagai berikut:

  1. Saya baru bisa masuk bus kedua atau ketiga, karena melihat banyak orang yang menunggu di halte yang sama.
  2. ​Saya bisa masuk ke bus pertama yang berhenti, tapi resikonya padat minta ampun, sehingga posisi saya seringkali menempel di pintu bus, yang kebanyakan adalah bus dengan pintu lipat.
  3. ​Saya baru bisa masuk ke bus keempat. Tiga bus sebelumnya isinya padat dan saya memutuskan tak masuk ke ketiga bus tersebut. Lumayan memakan waktu lama kalau menunggu.

Namun, kalau kemungkinan yang terakhir umumnya jarang. Biasanya kemungkinan pertama dan kedua yang lebih mendekati.

GfVonbjLAB5c2IQ9x8jWyF-r9xgZqe99.jpg
Foto via penulis

Saya memaklumi bahwa Jakarta itu macet. Apalagi koridor 2A, 3, dan 8 yang berasal dari halte Harmoni. Khusus koridor 8 dari Lebak Bulus, karena saat ini di daerah sana banyak proyek, dari MRT hingga underpass Kartini, mengakibatkan kemacetan juga. Belum ditambah jalur yang saya lewati yang sesungguhnya belum steril sepenuhnya.

Seperti ketika bus di koridor 8 akan mengarah ke Harmoni, di mana setelah lewat pertigaan lampu merah Green Mansion (dalam peta tersebut saya beri garis merah), jalan antara bus Transjakarta dengan kendaraan lain bercampur dan ditambah dengan adanya penyempitan jalan (jadi seperti "sembelit") yang kemudian melebar kembali ketika akan masuk lampu merah Pesing. Atau, ketika bus di koridor 2A dan 3 harus melewati flyover Pesing yang hanya satu jalur untuk masing-masing arah, baik arah ke Grogol maupun ke Kalideres.

Jadi, kalau ada kendaraan mogok di tengah jalan flyover tersebut, tentu jalan bus akan terhambat. Ini ditambah dengan kebiasaan masyarakat, baik mobil atau motor yang menerobos lewat jalur Transjakarta yang sudah dipisah sendiri. Sehingga kadang ada adegan motor dikejar bus Transjakarta di belakangnya yang terus mengklakson motor tersebut.

Namun ada kemungkinan lain yang lebih disebabkan oleh faktor selain kemacetan Jakarta dan ketidaksterilan jalur Transjakarta, yaitu pengisian BBG/servis bus/makan siang, yang biasanya dimulai dari pukul setengah 11. Bus-bus hanya melintas lewat dan seringkali bukan satu atau dua bus. Sementara bus yang melayani penumpang bisa dihitung jari.

Hal ini sering saya alami ketika saya transit di halte Indosiar untuk naik bus ke koridor 8. Bus-bus koridor 8 umumnya lebih banyak mengalami hal tersebut dibandingkan koridor 2A atau 3. Entah mengapa demikian. Keluhan ini sebagian di antaranya sudah pernah saya sampaikan langsung ke pihak Transjakarta baik melalui e-mail atau akun media sosial.

Sebenarnya, kalau boleh dikatakan, layanan Transjakarta kini memang sudah lebih baik –sesuai dengan slogannya #KiniLebihBaik– jika dibandingkan dengan masa lalu. Beberapa perkembangan baik Transjakarta sendiri saya amati sendiri selama hampir setahun rutin menggunakan layanan mereka.

Seperti kehadiran monitor posisi bus berdasar GPS yang sudah hadir di tiap halte, tap out saat keluar dari halte (ini mirip dengan KRL, tapi fungsi tap out di KRL lebih maju sebagai penentu besaran tarif progresif yang ditentukan berdasar jauh dekat jarak), siaran radio yang diputar di bus (meskipun kalau boleh diakui sama saja dengan memutar radio di mobil, termasuk suara kresek-kreseknya), dan penambahan armada baru Transjakarta yang ditargetkan merupakan kendaraan berkelas dunia. Perkembangan lainnya adalah penambahan rute-rute baru Transjakarta dengan bus pengumpan.

Meskipun demikian, memang masih banyak hal yang mesti dibenahi oleh Transjakarta sendiri. Tugas pertama tentu soal headway tadi. Saya tentu bisa saja membantah iklan Transjakarta yang sering diputar di siaran radio yang ada di bus, bahwa naik bus Transjakarta lebih cepat dan steril. Tentu soal steril bisa dibantah karena alasan yang tadi saya ungkap. Namun, kalau lebih cepat, belum tentu.

Dari halte dekat rumah saya di Jembatan Gantung hingga ke halte dekat kantor di Kelapa Dua Sasak rata-rata bisa menghabiskan 1 jam, termasuk di antaranya waktu menunggu saat transit di halte Indosiar. Kalau kita mengecualikan transitnya, memang bisa ditempuh dalam 20-30 menit. Ini waktu yang sama dengan ketika saya naik ojek atau mobil. Namun karena harus transit di halte Indosiar, maka memang naik ojek atau mobil masih lebih cepat daripada naik Transjakarta.

Tugas kedua, tentu soal infrastruktur dan sarana prasarana di dalam bus dan halte. Pernah suatu kali menaiki bus Transjakarta, ketika bus berhenti dan membuka pintu di sisi kanan, pintu di sisi kiri yang umumnya jarang dibuka sempat mengejutkan karena membuka sebentar terus menutup kembali. Hal ini berbahaya karena banyak penumpang yang berdiri di sisi pintu kiri.

Beberapa bagian bus juga mulai rusak, seperti posisi pegangan tangan yang mudah bergeser atau bagian bawah bus yang tidak rata. Pada halte sendiri, lembaran besi sebagai lantai halte kadang terbuka sekrupnya atau ketika dilewati sering menimbulkan bunyi yang kurang enak. Tentu buat pengguna difabel atau penyandang disabilitas hal ini sangat tidak ramah buat mereka.

Pembenahan ini pada akhirnya juga mengikutsertakan masyarakat, terutama buat kita-kita pengguna kendaraan pribadi yang sering menggunakan jalur Transjakarta hanya untuk menghindari macet, padahal kadang-kadang kita juga yang menghambat bus Transjakarta untuk berjalan karena sifat egois kita yang berakibat pada pelayanan yang kurang maksimal dan membuat waktu tempuh bus jadi lama.

575 Views