selasar-loader

Allah Bertuhan dan Beragama

LINE it!
Nauval El-Hessan
Nauval El-Hessan
Humble servant of God
Journal May 15

AslkObJfpHjXq94leSBYDeEZ_Iy_Xyxl.jpg
Foto via Salon

Pendahuluan

Saya pernah ditanya (diajak berdiskusi) oleh beberapa orang terdekat saya termasuk kakak kandung saya terkait agama yang dianut oleh Tuhan (Allah). Setelah mengalami diskusi yang cukup panjang dan rumit, orang-orang terdekat saya tadi pada akhirnya berpikir bahwa sebenarnya Tuhan itu sendiri tidak beragama, atau ateis.

Alasan mereka adalah bila Tuhan beragama maka apa/siapa tuhannya Tuhan; atau dalam bahasa lain, apa/siapa yang Tuhan sembah? Sayapun pernah mengiyakan pernyataan tersebut. Namun setelah melewati perenungan panjang, saya membantah pernyataan itu. Bantahan itu akan saya paparkan pada artikel ini.

Pada artikel ini, saya tidak hanya berpegang pada Al-Qur’an dan pandangan Islam semata, melainkan juga memakai pandangan dari agama lain (bahkan dari mereka yang mengaku dan dicap sebagai seorang ateis). Namun, pada akhirnya, saya akan tetap cenderung pada pandangan Islam karena menurut saya, padangan itu yang paling bisa mendukung tentang ketidak-ateisme-an Tuhan.

Teisme dan Ateisme

Secara singkat, bila ditanyakan oleh orang-orang saat ini, apa itu teisme dan ateisme maka jawabannya sangat simpel. Teisme didefinisikan sebagai “mereka yang percaya akan eksistensi Tuhan”. Sedangkan ateisme adalah “mereka yang tidak percaya akan eksistensi Tuhan”.

Menurut B. A. Robinson, ateisme itu sendiri dibagi menjadi dua: (1) ateisme dan (2) ateisme akut (strong atheism); ateisme didefinisikan dengan “possessing no belief in deity”. Sedangkan ateisme akut didefinisikan dengan “actively disbelieving in deity’s existence” (Robinson, 2). Namun, apakah memang demikian?

Ternyata, menurut beberapa ahli (selain B. A. Robinson) tidaklah demikian. Misalkan saja kita melihat pemikiran Chapman Cohen. Dalam karyanya, Theism or Ahteism: The Great Alternative, dia membandingkan berbagai argumen yang dikeluarkan oleh para teis dan ateis untuk membuktikan apa yang mereka percaya terkait eksistensi Tuhan.

Saya melihat bahwa Cohen netral, atau mungkin terjatuh ke dalam agnostik karena menilai antara teisme dan ateisme sama-sama tidak bisa membuktikan apa yang mereka percaya tentang Tuhan. Bagi Cohen, perbedaan teisme dan ateisme hanya sebatas pada “kulit” semata atau dalam istilah filsafat, hanya berkutat pada permasalahan aksidental, bukan hal yang substansial.

Teisme percaya bahwa terdapat “kekuatan” di luar sana, di luar diri manusia. Kekuatan itu Maha Tak Terbatas. Akan tetapi, menurut Cohen, ketika mendefinisikan itu, para teis menggunakan sebuah proposisi yang merujuk pada hal yang sifatnya personal.

Dengan demikian, bagi Cohen, teisme adalah “mereka yang percaya akan ‘kekuatan di luar sana’ yang bersifat personal”, “The God of religion must be a person, and it is precisely that, as a controlling force of the universe, in which modern thought finds it more and more difficult to believe,...” (Cohen, 8).

Personal di sini diartikan dengan ketika para teisme mendefinisikan Tuhan, maka definisi tersebut hampir sama dengan ketika kita mendefinisikan manusia. Lalu bagaimana dengan ateisme?

Kita telah melihat sebagian jawabannya pada kutipan di atas. Tuhan menurut ateisme cenderung mengikuti konsep Tuhan para modernis yang sifatnya tidak personal. Apa maksudnya? Bagi Cohen, para ateisme lebih percaya Tuhan sebagai “kekuatan yang berbaur dengan alam” yang bila mengikuti term Spinoza, “Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan”.

Awalnya, ateisme ingin menolak konsep Tuhan para teis. Mereka ingin menolak bahwa tidak ada yang namanya Tuhan sebagai “penyebab utama (prima causa)”. Akan tetapi, pada akhirnya, menurut Cohen, para ateis pun mencari “penyebab utama” itu dalam bentuk lain, “Here, again, we have the common error that Atheism seeks in some way to explain the ultimate cause of existence. And this in spite of continuous disclaimers that all search for a "first cause," or for a "cause of existence" is midsummer madness.” (Ibid, 56).

Dengan demikian, sudah dapat dilihat bahwa ateisme itu bukan menolak penuh eksistensi Tuhan, melainkan berusaha menolak eksistensi Tuhan yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh mereka (para ateis).

2aDgzivpi1rnD3AVliB0rJJs7UqwccI_.jpg
Foto via Insider Monkey

Hal itu kemudian dibuktikan lagi oleh Cohen melalui dialektika ateis dari masa ke masa. Dahulu, orang-orang pagan menyebut para pelaku monoteisme sebagai pelaku ateisme. Oleh karena itu, Cohen menyebut ateisme adalah “mereka yang menolak konsep ketuhanan yang lama dan membuat konsep ketuhanan yang baru”:

So far then the Atheism of each is just a question of degree or of relation. So far as Atheism involves the denial of deity the follower of one religion is an Atheist in relation to the followers of every other religion. Each religion--among civilised people--is atheistic from the standpoint of the followers of other gods. The affirmation of one god involves the denial of other gods. This would really seem to be the historical significance of the term. (Ibid, 57)

Dengan sudut pandang itu, Cohen melanjutkan bahwa ateisme hanya menolak konsep ketuhanan dari sisi partikular semata. Dalam bahasa lain, ateisme adalah mereka yang menolak tuhan yang sifatnya partikular.

Misalkan, saya Islam, menolak Yesus sebagai Tuhan; saya sebagai orang Islam juga menolak mereka yang disebut Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Shiva) sebagai Tuhan. Pada akhirnya, saya, sebagai orang Islam, hanya memilih Allah sebagai Tuhan Yang Esa; dan itu sudah membuat saya sebagai seorang ateis dari sudut pandang Kristen dan Hindu.

Dari itu juga kemudian Cohen menyebut ateisme dan teisme pada dasarnya sama, menolak tuhan yang lain dan menyimpan tuhan yang terbaik, “In doing this he has the concurrence of all theists in discarding every god save one--his own. The Atheist simply applies the same rule to each, and metes out the same judgment to all.” (Ibid, 59). Ternyata, pandangan ini tidak hanya datang dari Cohen yang “netral”.

Sebelum Cohen, yaitu sekitar tahun 1846, terdapat seorang pemikir bernama Charles Southwell. Dia menulis sebuah buku berjudul An Apology for Atheism. Dalam buku itu, Southwell berusaha mempertahankan posisi para ateis. Awalnya dia menolak para ateis sebagai para pelaku “bid’ah”.

Bagi Southwell, bid’ah hanya berlaku bagi mereka yang mengubah konsep suatu agama sesuai dengan kemauan (hawa nafsu)nya sendiri, “Atheists who do not believe in God, cannot logically or justly be said to blaspheme him. The blasphemer, properly so called, is he who imagines Deity, and ascribes to the idol of his own brain, all manner of folly, contradiction, inconsistency, and wickedness.” (Southwell, 12). Ateis tidak demikian. Ateis justru menolak konsep ketuhanan yang dipakai oleh para teis.

Bila teisme melihat segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan; dan Tuhan adalah sesuatu yang di luar diri manusia, Maha Kuasa, bukan materi, maka ateisme justru menilai segala sesuatu di dunia ini tercipta dari materi, “The Atheist calls it matter. Other persons may choose to call it other names; let them. He chooses to call it this one and no other... The Atheist says, matter is the eternal something, and asks proof of its beginning to be.” (Ibid, 17-8).

Materi membuat materi lain. Materi tidak mungkin tercipta dari non-materi. Selain itu, Southwell membuat analogi berupa imajinasi dan tubuh. Tuhan merupakan imajinasi manusia. Sesuatu yang diimajinasikan tidak mungkin dapat menciptakan yang mengimajinasi (Ibid, 27). Dengan demikian, bagi Southwell, materi lebih dulu ada daripada imajinasi itu sendiri. Singkatnya, Tuhan ada karena adanya manusia.

Argumen serupa juga dapat dilihat dari pernyataan ateis kontemporer sekaliber Richard Dawkins. Serangannya terhadap para pemercaya Tuhan dituangkan dalam salah satu karya fenomenalnya, The God Delusion. Dawkins sama seperti Southwell.

Dawkins menolak semua konsepsi Tuhan terutama konsepsi Tuhan yang sifatnya personal dan supernatural, “I am attacking God, all gods, anything and everything supernatural, wherever and whenever they have been or will be invented.” (Dawkins, 36).

Pada Chapter 2 bukunya tersebut Dawkins memaparkan, beberapa macam argumen tentang Tuhan yang sifatnya supernatural dan dia menyerang itu semua. Bagi Dawkins, Tuhan itu, meskipun masih memiliki kemungkinan untuk dibuktikan eksistensinya, eksistensinya itu hampir tidak ada. Konsepsi Tuhan yang paling diserang oleh Dawkins adalah konsep Tuhan dari teori tentang desain. Bagi pendukung teori ini, semua telah didesain apa adanya dengan tujuan tertentu.

Dawkins menolak itu semua. Bagi Dawkins tidak ada yang namanya desain. Semua adalah produk dari evolusi. Evolusi menjawab hampir keseluruhan permasalahan yang ada terutama tentang asal-usul kehidupan, “The origin of life was the chemical event, or series of events, whereby the vital conditions for natural selection first came about.” (Ibid, 137).

Dawkins juga menyerang konsep Tuhan, karena bagi Dakwins meskipun para teolog dan para teis mengklaim konsep Tuhan adalah konsep yang simpel, dia tetap beranggapan Tuhan itu kompleks; dan mustahil kehidupan berasal dari yang kompleks.

Menurut Dawkins, dengan berdasar pada teori evolusi, kehidupan harus bermula dari yang simpel (Ibid, 155). Kekompleksitasan Tuhan dibuktikan oleh Dawkins dengan memaparkan sifat-sifat Tuhan yang selalu diagung-agungkan oleh para teolog (Ibid, 154).

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa meskipun Dawkins menolak konsep Tuhan religius, dia membuat sebuah konsep Tuhan yang baru, yaitu evolusi itu sendiri dengan 'kekuatan'nya, yakni seleksi alam. Dalam hal ini, Dawkins masih masuk ke dalam kategori yang dibuat oleh Chapman Cohen, yaitu memiliki konsep berbeda tentang Tuhan dari para teis.

Memang, Dawkins menolak penggunaan kata “tuhan” ketika merujuk pada “penyebab utama”. Namun bila kata “tuhan” sendiri didefinisikan dengan sebuah “kekuatan, baik dalam diri kita maupun di luar diri kita, berupa materi ataupun spiritual”, maka teori evolusi dengan seleksi alamnya dapat dikatakan sebagai sebuah konsep Tuhan “yang lain”. Bukti bahwa tuhan tidak selalu didefinisikan dengan “kekuatan di luar diri” akan saya paparkan pada bagian selanjutnya.

Agama

Seringkali agama dikaitkan dengan Tuhan begitu pula dengan konsep ketuhanan, seringkali dikaitkan dengan kepemilikan agama. Maksudnya, mereka yang memiliki konsep ketuhanan pasti memiliki agama tertentu. Misalkan mereka yang memiliki konsep ketuhanan monoteis, bisa saja memiliki agama seperti Islam, Kristen Yahudi ataupun agama lain seperti Qurani.

60-NuQNfVebMD2qWtLpI1NCiP3iMTnQp.jpg
Foto via videezy.com

Begitu pula dengan mereka yang memiliki konsep ketuhanan politeis, seringkali dikatakan memiliki agama seperti Hindu, (kemungkinan) Buddha, Shinto, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa agama selalu terkait dengan konsep ketuhanan; dan mereka yang ateis, dalam artian tidak memiliki Tuhan, maka sudah pasti tidak memiliki agama. Apakah memang demikian?

Pertama, mari kita definisikan “agama” itu sendiri. Agama berasal dari bahasa Sansekerta; terdiri dari dua kata, yaitu “a” dan “gama”. “A” diartikan dengan “tidak”, sedangkan “gama” diartikan dengan “kacau”. Dengan demikian, “agama” dapat diartikan dengan “tidak kacau” atau “teratur” (Tim Ahlulbait Indonesia, 25).

Biasanya agama disamakan dengan sistem. Menurut Jasser Auda, sistem memiliki tujuan, berarti agama juga memiliki tujuan (Auda 70-1), yang dalam bahasa Auda disebut dengan “maqasid syariah”. Dengan demikian, agama dapat didefinisikan secara dengan “sebuah sistem yang mengatur segala macam aspek kehidupan manusia, agar manusia tidak menyimpang dan dapat mencapai tujuan hidupnya”.

Tentu saja, menurut para penganut agama religius, tujuan yang dimaksud adalah “kembali kepada Tuhan” atau seperti yang didefinisikan oleh M. Quraish Shihab, “Agama adalah ketentuan-ketentuan Tuhan yang membimbing dan mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.” (Shihab, 151). Ini berarti agama, menurut para teisme adalah untuk mengantarkan manusia menggapai tujuan dunia dan akhiratnya kelak. Lalu bagaimana dengan mereka yang ateis?

Kita telah melihat bahwa ateis bukanlah tidak memiliki Tuhan, melainkan memiliki Tuhan yang berbeda dari para teis. Mengikuti definisi ateis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya ateis juga memiliki agama. Apalagi telah dilihat bahwa agama pada hakikatnya adalah sebuah sistem yang mengatur manusia demi mencapai tujuannya.

Manusia modern, dengan segala rasionalitasnya tentu saja mendefiniskan pula tujuan hidupnya sendiri. Misalkan seperti para saintis sekaliber Richard Dawkins. Bagi Dawkins, tujuan sains adalah mencari jawaban yang pasti atas asal-usul alam semesta ini.

Dawkins adalah seorang biolog, seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa dia berusaha membantah eksistensi “tuhan” dari evolusi dan seleksi alam dan dia menemukan bahwa kehidupan harus berasal dari sesuatu yang simpel, berasal dari reaksi kimia.

Dengan demikian, bila sains ini memiliki tujuan, berarti dapat dikatakan sains adalah sebuah agama. Dari hal itu sudah terbukti bahwa sesungguhnya para ateis seperti Charles Southwell dan Richard Dawkins sejatinya tetap memiliki agama, tapi bukan dalam konotasi spiritual atau supernatural.

Apakah Allah Tidak Bertuhan dan Tidak Beragama?

Seperti yang telah kita lihat, pada dasarnya ateis bukanlah benar-benar menolak Tuhan, melainkan mengartikan Tuhan dengan konsep yang berbeda. Lantas, apakah Tuhan itu ateis? Bila mengikuti definisi yang telah saya sebutkan tadi, maka pada hakikatnya Tuhan ateis (dalam artian memiliki konsep ketuhanan yang berbeda). Mengikuti penjelasan itu juga Tuhan memiliki sebuah agama. Lalu, bila Tuhan memiliki tuhan, siapa tuhan yang disembah oleh Tuhan?

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita melihat ilustrasi Fir’aun. Banyak dari penguasa Mesir Kuno mengklaim bahwa dirinya adalah titisan dewa atau bahkan dewa itu sendiri. Dengan demikian, kita dapat menemukan bahwa konsep Tuhan di atas bukan merujuk pada “sesuatu di luar sana”, melainkan merujuk pada diri sendiri; dalam hal ini, Fir’aun menunjuk “aku” sebagai dewa, sebagai tuhan.

Tuhan juga demikian. Apalagi Tuhan dalam Islam yang biasa disebut dengan “Allah”. Hal ini tidak perlu dibuktikan oleh akal sehat, melainkan perlu kita merujuk langsung pada kitab suci umat Islam: Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan memiliki konsep ketuhanannya sendiri, yaitu “menuhankan diri-Nya sendiri” atau saya sebut dengan egoteisme (ego = aku, teis = tuhan; sebuah konsep ketuhanan yang menganggap bahwa dirinya Tuhan karena menyandang sifat Maha Pencipta dan Maha Segalanya). Egoteisme ini bukan hanya ditunjukkan kepada Allah itu sendiri, melainkan Allah seringkali menunjuk manusia yang menuhankan dirinya sendiri, seperti kasus Fir’aun, khususnya Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa.

Ayat yang menunjukkan bahwa egoteisme digunakan oleh manusia dapat dilihat pada surat An-Naziat (79): 21-24, “Tetapi dia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru, berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.

Juga dapat ditemukan pada surat Al-Qashash (28): 38: "Dan Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman, kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta”.

Selain kedua ayat di atas, egoteisme oleh manusia juga dapat ditemukan dalam surat Asy-Syu’ara (26): 29, “Dia (Fir’aun) berkata, “Sungguh jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara”. Ketiga ayat tersebut sudah menunjukkan bahwa sebenarnya egoteisme sudah ada sejak dahulu dan diafirmasi oleh Al-Qur’an. Namun, apakah Al-Qur’an melarang egoteisme? Tidak. Al-Qur’an tidak melarang egoteisme.

Al-Qur’an sejatinya adalah kitab yang turun untuk membenarkan budaya dan ajaran sebelumnya seperti yang terangkum dalam surat Al-Maidah (5): 48:

"Dan Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan".

Kata “membenarkan” di ayat tersebut bukan hanya memiliki makna “afirmasi” melainkan juga bermakna “membenahi”. Hal itu dapat dibuktikan dari pembenahan sesembahan bangsa Arab pra-Islam.

Orang Arab biasa menyembah tiga etintas tertinggi sebagai representasi Allah, yaitu Al-Manat, Al-Lat dan Al-‘Uzza (Hitti 123; Haekal 122-3). Selain itu terdapat satu dewa lagi yang disembah yang disebut dengan Hubal, “...yang tampaknya merupakan dewa tertinggi di Ka’bah, direpresentasikan dalam bentuk manusia.” (Hitti 125). Al-Qur’an mengonfirmasi itu sekaligus membenahi bahwa ketiganya bukanlah Allah dan bukan juga anak-anak Allah. Bukti itu dapat dilihat dalam surat An-Najm (53): 18-23:

"Sungguh ia sudah melihat tanda-tanda keagungan Tuhannya yang terbesar! Adakah kamu melihat Lat dan Uzza, dan satu lagi, Manat, yang ketiga? Adakah untuk kamu yang jantan, dan untuk Dia yang betina? Ingatlah, itulah pembagian yang tidak adil! Itu hanya nama-nama yang kamu buat-buat sendiri, kamu dan moyang kamu; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuknya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal, sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka".

Sayangnya, surat di atas seringkali menjadi tuduhan bahwa Al-Qur’an mengajarkan politeisme. Sehingga memunculkan sebuah kisah yang dikenal dengan “Kisah Gharaniq”. Mengenai kisah itu, saya akan paparkan pada artikel lain, tapi yang jelas surah di atas memperkuat tafsir saya atas “membenarkan” yang terdapat dalam surat Al-Maidah (5): 48. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan hanya mengafirmasi egoteisme, melainkan juga membenahi egoteisme.

Akan muncul pertanyaan “bila membenahi, berarti Al-Qur’an memberi peluang kepada manusia untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan?” Tidak. Tentu saja tidak. Pembenahan Al-Qur’an atas egoteisme adalah agar manusia meyakini hanya Allah boleh yang mengklaim diri-Nya sebagai Tuhan. Hal itu dapat dilihat dari beberapa ayat yang ada di dalam Al-Qur’an.

Pertama, bukti penggunaan egoteisme hanya boleh digunakan oleh Allah terdapat dalam surat Thaha (20): 14, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.

Pada surat An-Naml (27): 9 juga dinyatakan, “(Allah berfirman): "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Redaksi lain juga dapat ditemukan dalam surat Al-Anbiya (21): 92, “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”.

Terakhir, dari redaksi yang cukup meyakinkan, juga dapat ditemukan dalam surat Al-Ankabut (29): 56, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja”. Ayat-ayat tersebut cukup membuktikan bahwa sesungguhnya Allah memiliki konsep ketuhanan yang lain, yaitu egoteisme; sebuah konsep ketuhanan yang menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan.

Kedua, penggunaan egoteisme itu didukung dengan ide tauhid, yaitu ide tentang Tuhan dan manusia menafikan bahwa ada yang dapat menyaingi Tuhan. Misalkan dalam surat Al-Ikhlas (112): 1-4 dinyatakan, “Katakanlah: Dia Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satupun yang dapat menyainginya”.

Dalam surat pembuka, Al-Fatihah, juga dapat ditemukan terutama dalam Al-Fatihah (1): 5, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya pada-Mu kami memohon pertolongan”. Dalam Sunnah juga dapat ditemukan redaksi serupa. Misalkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Kulaini ketika membahas tentang Allah hanya dapat dikenal melalui diri-Nya sendiri:

Alī ibn Muhammad (—) the person whose name was mentioned (—) Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Īsā (—) Muhammad ibn Humrān (—) Fadl ibn as-Sakan (—) Abū ‘Abdillāh (p.b.u.h.) as saying: “Amīr al-mu’minin said, ‘Recognize Allāh through Allāh Himself and the Messenger of Allāh through his messengership (i.e., through the message delivered by him), and recognize those who have been invested with divine authority through their righteous commands, their justice and through their good-doing.’” (Al-Kulayni 216-7)

Dengan melihat bukti-bukti di atas, baik dari Al-Qur’an ataupun Sunnah kita mendapati bahwa sesungguhnya Allah masih meyakini tuhan, yaitu Diri-Nya sendiri. Dengan demikian, Allah dapat dipahami sebagai pelaku egoteisme: “mereka yang meyakini bahwa dirinya adalah tuhan”.

Bukti-bukti di atas juga menunjukkan bahwa Allah memiliki agama. Ketika saya berkata “agama", bukan berarti Allah beragama Islam. Allah tidak berafiliasi pada agama apapun. Dia hanya meyakini bahwa segala keteraturan sudah Dia ciptakan dan untuk memuja Diri-Nya semata. Agama Allah ini juga memiliki tujuan, yaitu menciptakan, memelihara dan mengembalikan yang semuanya hanya memiliki satu tujuan: menyembah Diri-Nya.

Sesuai dengan surat Adz-Dzariat (51): 56, “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Namun, bila kata “Islam” disejajarkan dengan kata “salam” yang bermakna “harmoni”, maka Allah beragama Islam. Maksudnya, agama yang Allah anut adalah agama yang mengedepankan harmoni, harmoni di dalam Diri-Nya.

Kesimpulan

Dari penjelasan panjang lebar di atas, ada kesimpulan yang dapat saya tarik. Kesimpulan itu adalah bahwasanya selama ini anggapan Tuhan ateis dengan konotasi tidak bertuhan adalah salah. Tuhan ateis, tapi dengan konotasi “memiliki konsep ketuhanan yang lain”.

Dengan demikian, Allah juga memiliki Tuhan. Siapa Tuhannya Allah? Tuhannya Allah adalah Diri-Nya sendiri. Allah memilih konsep ketuhanan egoteisme, yaitu meyakini bahwa hanya Diri-Nya Tuhan di alam raya ini. Hanya Allah yang menciptakan dan ciptaan-Nya akan kembali kepada diri-Nya.

Allah juga memiliki agama. Secara sekilas, Allah tidak berafiliasi pada agama apapun. Namun, bila kita teliti lebih lanjut, ternyata Allah beragama Islam. Ini bukan karena dari Al-Qur’an, melainkan dari kata Islam itu sendiri. Islam di sini saya artikan dengan “harmoni”. Sehingga membuat agama yang dianut oleh Allah adalah agama yang mengedepankan harmoni di dalam Diri-Nya.

Referensi

Al-Kulayni, Abu Ja'far bin Ya'qub bin Ishaq. Al-Kafi: The Book of Divine Unity (II). Penerj. Sayyid Muhammad Hasan Rizvi dan Muhammad Rida Al-Ja'fari. Edisi Kelima. Vol. 1. Tehran: World Organization for Islamic Services, 1998. 8 vol.
Auda, Jasser. Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah: Pendekatan Sistem. Penerj. Rosidin dan Ali Abd al-Mun'im. Bandung: Penerbit Mizan, 2015.
Cohen, Chapman. Theism or Atheism: The Great Alternative. The Project Gutenberg (www.gutenberg.org), 2008.
Dawkins, Richard. The God Delusion. London: Bantam Press, 2006.
Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Penerj. Ali Audah. Jakarta: Litera AntarNusa, 2008.
Hitti, Philip K. History of The Arabs. Penerj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semseta, 2008.
Robinson, B. A. Four main beliefs about the nature of God: Deism, Panentheism, Pantheism & Theism. www.religioustolerance.org, t.thn.
Shihab, M. Quraish. Perempuan. Tangerang: Lentera Hati, 2013.
Southwell, Charles. An Apology for Atheism. The Project Gutenberg (www.gutenberg.net), 2005.
Tim Ahlulbait Indonesia. Syiah Menurut Syiah. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia, 2014.

7070 Views