selasar-loader

Novel Baswedan dan Salat Subuh Berjamaah

LINE it!
Ilham  Akhsanu Ridlo
Ilham Akhsanu Ridlo
Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.
Journal May 12, 2017

c_cafO02epQzuQDdN6-qhBpIE4PJWR_W.jpg
Foto via Liputan6.com

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan Shalat isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua Shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak” (HR. Bukhori: 657)

Penaklukan Tastar dan Sebuah Penyesalan

Kutipan hadis sahih di atas mengingatkan kita tentang keutamaan salat subuh dan isya bagi yang umat Islam. Ya, karena saya Islam, maka penting bagi saya untuk menulis artikel ini. Tidak perlu kita ragukan lagi keutamaannya, seperti riwayat Anas bin Malik yang menaklukkan pertahanan benteng Tastarnya bangsa Persia.

Sejatinya riwayat Anas bin Malik merupakan sebuah “tragedi” yang seumur hidup dia sesali. Tastar sendiri adalah satu daerah sentral yang merupakan jantung dari Kerajaan Persia. Pasukan muslim butuh waktu setengah tahun untuk menaklukannya. Penaklukan itu sendiri mengerahkan 30.000 pasukan muslim yang menghadapi 150.000 pasukan Persia. Dari penggambarannya jelas bahwa kota ini bukan kota yang mudah direbut.

Dalam beberapa riwayat, penyesalan Anas bin Malik dimulai saat detik-detik jatuhnya Tastar terjadi menjelang fajar. Benteng yang kokoh itu berhasil direbut. Namun tidak dengan kotanya. Peperangan terjadi di semua sudut kota. Teriakan takbir, derap kuda, dan pedang beradu menggambarkan betapa mencekamnya suasana saat itu.

Atas izin Sang Khalik maka kota berhasil direbut. Saat peristiwa itu terjadi matahari terlanjut muncul, dan kaum muslimin terlambat menyadari bahwa mereka belum menjalankan ibadah sunah salat fajar (salat sunah dua rakaat sebelum salat Subuh). Momentum inilah yang membuat Anas bin Malik tidak berhenti menangis. Ia merasa tidak berguna merebut sebuah kota tapi sudah kehilangan dunia dan seisinya. Bukankah Aisyah telah membawakan sebuah hadits?

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua raka’at fajar, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Shubuh Bukan Milik Kaum yang Lemah

Barangkali kita semua tahu untuk beranjak dari tempat tidur yang hangat dan membasuh tubuh dengan guyuran air wudu yang dingin bukan hal yang nyaman bagi beberapa dari kita. Di saat kita masih melawan rasa kantuk itu, kita harus sadar ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang muslim.

Lebih lanjut pengorbanan sang penjuang subuh nyata tantangannya berkaca dari kasus yang sampai sekarang menjadi perhatian kita semua. Ya, kita yang ada di pihak garis lurus melawan rente koruptor.

Seperti yang disampaikan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar di beberapa portal media elektronik dan media sosial pribadi, bahwa sejak Novel menangani kasus besar mulai reklamasi Teluk Jakarta dan e-KTP, Novel sudah banyak bercerita tentang dirinya yang selalu mendapatkan teror. Penyidik senior KPK tersebut sebenarnya sudah mengubah pola gerakan sehari-hari pascalaporan dari tetangga soal foto beberapa pria yang setiap hari selalu mengawasi rumahnya.

“Ini kan bukan yang pertama. Minggu lalu, Novel ketemu saya di PP Muhammadiyah dan cerita bahwasanya di rumahnya itu sering diintai oleh orang tak dikenal,” kata Dahnil di Jakarta Eye Center, Jalan Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2017). (Sumber: Detik.com)

Sebagai seorang mujahid antikorupsi maka hanya satu pola keseharian yang tidak berubah dari diri Novel Baswedan. Novel selalu menjalankan salat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya. Hal ini dijadikan celah oleh teroris rente untuk menyerang Novel.

“Cuma yang tidak berubah itu, cuma satu pola kegiatan dia, yaitu salat subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya. Jadi, kalau yang lain dia berangkat jam berapa, dia naik apa, itu polanya berubah. Satu yang tidak berubah, dia pasti salat subuh berjemaah di masjidnya,” ucap Dahnil.
“Cuma pada pola itulah Novel diserang,” sambungnya. (Sumber: Detik.com)

Lebih dari itu seorang Novel yang dulu sempat dihancurkan karirnya dan dikriminalisasi adalah seorang yang sudah lama diincar karena dia adalah petarung sejati. Berkali-kali diincar untuk dibunuh untuk kesekian kalinya. Penyataan itu dilontarkan mantan ketua umum PP Muhammadiyah Buya Syafi’i Maarif.

“Dia sudah lama diincar karena orang ini petarung sejati. Dan Berkali-kali diincar untuk dibunuh untuk kesekian kalinya.” ujar Buya Syafi’i Maarif.

Sampai saat ini kondisi Novel masih sangat riskan terutama bagian mata kiri, Novel dibawa ke Singapura untuk menjalani serangkaian pengobatan pada matanya setelah dirawat di Jakarta Eye Center. Pada kondisi yang demikian kita hanya bisa memohon doa kepada Sang Khalik agar kesakitannya tidak melemahkan KPK dan disegerakan sembuh dan bertugas sebagai mujahid antikorupsi.

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Sesungguhnya salat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah salat isya dan salat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

“Mas, hanya mereka yang merawat ketauhidan yang berani berjuang untuk kebenaran, dan Tetap berdiri dijalan amar makruf nahi mungkar, kita percaya Ada kekuatan yang Maha besar Yakni Allah SWT, yang lain kecil, orang-orang seperti itu yang bisa menjadi sahabat baik, dalam perjuangan”. (Dahnil Anzar)

Kekaguman kita pada keluarganya yang terlihat sangat tegar dan bangga. Sungguh bangga Ibu yang melahirkan anak dengan integritas dan keberanian seperti Novel Baswedan. Ia adalah wajah keberanian sejati, konsistensi, integritas anak negeri yang tidak pernah kalah dengan teror dari manapun, karena dia percaya Allah SWT adalah pelindung sejati (Anzar Dahnil, 2017).

Pesan dari Bandit Koruptor

Setidaknya ada beberapa pesan yang ingin disampaikan oleh para bandit dan teroris koruptor kepada KPK sebagai insitusi pembasmi korupsi. Pertama, ini sebagai lampu merah, bagi para penyidik yang punya keberanian sejati dan tauhid yang tebal untuk berpikir ulang dan menjadi pesan kuat bagi publik untuk takut. Teroris ini nyata mengancam dan membuat ketakutan publik dengan melakukan gerakan ala preman.

jxgOIYvbcPnMDZAnuoiVsZEjAnvAiI3D.jpeg
Foto via Jawa Pos

Kedua, ada pesan tersirat namun nyata bahwa teroris sengaja membuat ketakutan pada gerakan subuh berjamaah, barangkali pendapat ini terlalu prematur tapi dengan gaya yang demikian pesannya jelas bagi para mujahid bahwa pola keseharian salat subuh berjamaah adalah sebuah pola yang rutin dilakukan para mujahid yang barangkali hanya itu kesempatan untuk menyerang mereka.

Ketiga, tidak sedikit orang yang tidak akan pernah mau menempuh amalan subuh berjamaah bahkan akan kendur nyalinya jika dihadapkan pada teror per teror yang demikian. Novel adalah contoh seorang yang punya nilai integritas kelas wahid pada tauhid dan nahi munkar-nya.

Keempat, sudah saatnya kita sebagai sesama muslim dan sebagai warga bernegara tidak pernah takut pada teror dari manapun, karena sebagai muslim kita harus percaya pada Allah SWT adalah pelindung sejati.

Mari temani Novel Baswedan jangan biarkan semangat melawan korupsi untuk Indonesia yang lebih baik padam oleh teror para bandit.

Bang Novel Baswedan, kami mungkin tidak sekuat dirimu. Abang membuat kami bangga. Orang seperti Abanglah yang sekarang harus dijadikan patron generasi muda bangsa sebagai tokoh panutan sejati. Biarlah kami belajar padamu tentang jiwa tegar seorang mujahid sejati yang tauhidnya ada bersama setiap langkahnya.

3739 Views