selasar-loader

Saya Orang Indonesia yang (Terlalu) Sibuk

LINE it!
Ray Rahendra
Ray Rahendra
digital strategist, writer, Juventus, marketeer
Journal May 4, 2017

1*6RK3XpEd6HMYspD7P5lw0w.jpeg

Gambarannya adalah saya, seorang Indonesia, mendekati 30, tetapi tidak mau dibilang “muda”. Lebih pilih disebut “dewasa”. Entah apa beda dan maknanya. Sebagai seorang Indonesia, saya memiliki banyak sekali kesibukan. Kesibukan yang seringkali membuat saya melupakan kesibukan saya sendiri.

Pada hari ini, saya bisa saja sedang sibuk mengurusi kabar berita seorang artis dangdut yang katanya sedang (kelihatannya) menikmati masa-masa penahanan di penjara karena pelecehan seksual. Saya tidak pernah mau terima jika asumsi saya disalahkan atau salah, atau malah melenceng jauh. Karena seperti pada umumnya orang Indonesia, saya terbiasa berkomentar sebelum (atau bahkan tidak mau) membaca dan mencari tahu terlebih dahulu.

Pada hari yang lainnya, saya sedang sibuk ikut memprotes segala hal yang dilakukan oleh Bapak Presiden. Sebenarnya, sih, saya tidak terlalu mengerti apa dan kenapa Pak Presiden terus-terusan diprotes dan dicecar. Namun lagi, sebagai orang Indonesia pada umumnya, saya merasa harus sibuk dengan hal ini. Agar saya terlihat sibuk melebihi kesibukan saya mengurusi diri sendiri.

Sebagai seorang Indonesia, saya memiliki banyak sekali kesibukan. Kesibukan yang seringkali membuat saya melupakan kesibukan saya sendiri.

Hal yang paling saya suka adalah mengurusi sebuah topik yang akan selalu hangat meski tanpa microwave. Mengurus topik agama. Waduh.. Waduh! Sebagai orang Indonesia kebanyakan, saya senang sekali mengurus agama. Agama orang, pun agama sendiri. Sembari ngopi di warung angkringan atau sembari membuka Facebook, menu utamanya ya tentu saja menyerang dan menggunjingi agama.

Salah atau benar adalah urusan belakangan. Yang paling penting, urusi dan bicarakan saja agama orang. Jangan lupa untuk memberi label haram di sana-sini. Duhai rasanya, sungguh asyik masyuk sekali. Memang semua hal yang berhubungan dengan urus-mengurusi itu menyenangkan. Sebagai orang Indonesia, saya dan kami memang menyenanginya. Kami? Iya, segenap orang Indonesia.

Anda pasti tidak akan percaya jika lebaran adalah hari yang saya dan ribuan orang (yang merasa) tua senangi. Terlebih karena saat lebaran, kami bisa dengan bebas mengurusi urusan orang termasuk pilihan mereka untuk single atau menikah. Bibir ini semacam sudah punya tombol otomatis yang aktif tiap kali melihat sepupu, keponakan, om, tante, bahkan orang lain melintas di depan saya saat Lebaran.

bF_9gWozwMvRLHvMCNNtneGa5aGx-Fos.jpg

Foto via LinkedIn

Apalagi kalau bukan bertanya, “kapan nikah?” kepada yang single, “kapan punya anak?” kepada yang baru menikah, dan “kapan, nih si kecil punya adik?” kepada pasangan menikah lainnya.

Tidak hanya berhenti di menikah dan berkembang biak. Saat lebaran, atau juga saat temu keluarga, bibir ini pun aktif menanyakan pertanyaan gak penting dan sebenarnya tidak harus ditanyakan, karena lagi, itu urusan orang. Tapi terserah. Toh, kami Indonesia, senang mengurusi urusan orang, tanpa mau menggemuki.

Alhasil, terbitlah pertanyaan-pertanyaan seperti, “kok, belum kerja?” kepada sepupu dan saudara yang sudah lulus kuliah tetapi masih (terlihat) menganggur. Atau juga pertanyaan, “Duh, gaji berapa, nih?” yang ditujukan kepada siapa saja orang yang terlihat parlente berbaju necis dan wangi kaya.

Iya, kan? Memang seperti itu keadaannya. Kami orang Indonesia, suka-suka mengurusi orang lain. Urusan sendiri? Nanti dulu. Biar kata tidak makan tidak beruang, kami tidak peduli. Lebih baik mengurusi orang daripada diri sendiri.

Si anu membawa pulang pacarnya ke indekos? Lho, ya, barang tentu kami gunjingkan. Kapan lagi dapat bahan materi untuk urus-mengurusi orang? Gratis pun.

Tetangga sebelah ternyata penyuka sesama? Harus diurusi ini! Kalau perlu, pengaruhi orang sekampung untuk mengusirnya, atau bahkan, pukuli. Budaya urus-mengurusi yang membuat kita lupa untuk melihat sejenak, bahwa mungkin si tetangga lebih baik dan lebih bermanfaat dari kehadiran saya.

Si ini tidak pernah bekerja tapi uangnya tampak selalu banyak? Lah itu, sih, pasti jadi bahan urus-urusan di tempat merokok, bersama rekan-rekan yang mungkin juga pada saat yang sama keadaan hidupnya sedang “diurusi” oleh orang lain.

Circle ini begitu jelas. Terlilit rapat dan terlibat. Suka-suka bicara, sampai mengurusi menjadi budaya. Tanpa perlu membuat gemuk.

Ya sudah. Saya mau (lagi-lagi) mengurusi kafe di samping rumah yang tidak terlalu berisik tetapi asik untuk diurusi. Apalagi kalau bukan karena pemiliknya adalah ras lain yang tampaknya belum bayar apa-apa untuk kampung ini.

Ah, baru ingat. Istri, anak dan ibu saya belum makan apa-apa sejak 2 hari lalu, bahkan rumah pun gelap karena listrik belum dibayar. Tapi tak mengapa, mengurusi orang lebih enak dan asyik ketimbang mengurusi diri sendiri.

 

Foto via penulis

2497 Views