selasar-loader

Indonesia Butuh Penjaga Warkop, Bukan Psikolog

LINE it!
Ifandi Khainur Rahim
Ifandi Khainur Rahim
Koordinator BPPK-Nasional ILMPI & Ketua Angkatan IKM F. Psi UI 2015
Journal Apr 23, 2017

GeTqa66oUja3Rn9_2-buGLQ0pHmvU0bM.jpg

Foto via keuangan.blogekstra.com

Mood yang berantakan bisa jadi merupakan momentum bagi manusia untuk mendapatkan ide-ide gila dan inovatif. Kejadian ini biasa juga disebut juga sebagai creative illness (Zausner, 1998). Dibuktikan beberapa kali oleh pengalaman saya.

Biasanya ketika mood sedang berantakan, saya banyak mendapatkan ide-ide gila dan kreatif. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan ide gila saya tentang kesehatan jiwa, penjaga warung kopi (warkop), dan psikolog.

Tiga hari yang lalu saya tidak bisa tidur. Tidak jelas apa alasannya. Saya rasa bagian ketidaksadaran saya sedang dilanda kecemasan yang luar biasa besarnya. Tapi saya sendiri tidak tahu mengapa. Saya terus mencoba untuk tidur, tapi tetap tidak bisa. Susu hangat sudah diminum, cuci muka dan kaki sudah, tetapi tetap saja saya tidak bisa tidur.

Tidak terasa waktu pun sudah jam setengah empat pagi. Akhirnya, saya pun terpikir untuk pergi ke warkop. Saya rasa Indomie goreng telor hangat akan mampu menjadi obat untuk ‘menidurkan’ saya malam ini. Dari pemikiran itu, akhirnya saya pun mencoba untuk bergegas ke warkop terdekat.

Orang pertama yang saya lihat masih bangun saat jam tersebut adalah Mas Doni. Ia adalah penjaga warkop pertama yang saya kenal di dekat kos-kosan. Saya pun duduk. Sambil sedikit tersenyum, saya memesan mie goreng telor. Tak selang setelah itu, ia pun bertanya, “wah, geus lila teu kadieu (udah lama gak ke sini), Van!”

Pikiran saya mengawang jauh setelah mendengar perkataan itu. Tanpa saya sadari, ternyata benar, memang sudah hampir dua tahun saya tidak mengunjungi Mas Doni. Terakhir kali saya mengunjunginya adalah saat masa saya ospek di tahun 2015.

Saya ingat sekali bagaimana waktu itu saya sarapan Indomie goreng telor di waktu subuh. Sudah hampir dua tahun sejak saat itu, di waktu yang sama yaitu jam empat pagi sebelum ospek dimulai pada jam enam. Persis sekali, bahkan dengan gangguan tidur yang sama pula.

dioHdk_WJDoeDEniVffYzfHn20N7ec95.jpg

Foto via cintamerahputih.blogspot.com

Singkat cerita, kita pun akhirnya mengobrol banyak hal. Tentang sepak bola, wanita, pekerjaan, dan tentang pengalaman kita berdua sebagai orang Sunda yang sama-sama merantau di Ibukota. Sekitar satu jam lebih kami mengobrol ngalor-ngidul. Mie saya pun akhirnya habis. Syukurlah, setelah perbincangan panjang, saya akhirnya berhasil mengantuk kembali. Setelah itu saya pun memutuskan untuk pergi ke kos dan tidur.

Hal yang menarik adalah saya tiba-tiba terpikirkan sesuatu di jalan pulang. Ya, tentang warkop! Saya banyak bertanya-tanya pada diri saya. “Apakah tadi saya sedang di-talk therapy oleh Mas Doni? Kok saya jadi bisa mengantuk setelah ngobrol? Jangan-jangan, Mas Doni psikolog yang menyamar menjadi abang warkop? Wkwkwk”.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya jadi teringat lagi kampanye WHO tentang depresi di hari kesehatan se-dunia pada awal April lalu. Mereka mengampanyekan slogan #LetsTalk. Ide simpel dari kampanye tersebut yakni ketika kita stres, depresi, atau mengalami masalah, maka hal pertama yang kita sebaiknya lakukan adalah bercerita tentang masalah tersebut ke orang terdekat kita atau orang yang kita percaya.

Lalu hal pertama yang terpikirkan lagi dari pikiran-pikiran tersebut adalah bagaimana kecemasan saya bisa hilang setelah berbicara dengan Mas Doni. Dari sana, saya mulai memikirkan ide gila. Warkop ini, menurut saya sebetulnya punya fungsi bukan hanya sebagai tempat nongkrong, ngopi, makan mi. Namun juga bisa digunakan sebagai wadah bagi orang dengan permasalahan kesehatan mental, sekaligus juga sebagai agen social awareness kesehatan mental.

Bayangkan, dengan jumlah warkop di Indonesia yang saya tidak tahu berapa banyak. Jika mereka dibekali dengan sedikitnya awareness terhadap masalah kesehatan jiwa yang umum, contohnya stres dan depresi, berapa banyak manusia yang bisa kita sadarkan tentang penanganan kesehatan jiwa? Berapa banyak orang-orang kelas menengah ke bawah yang sering nongkrong di warkop, seperti tukang ojek, tukang kerupuk, gorengan, dan sejenisnya bisa disadarkan tentang pentingnya kesehatan jiwa?

Seharusnya para aktivis kesehatan jiwa melakukan gerakan social awareness ini dari akar rumput. Kita buat poster-poster psikoedukasi, dan menempelkannya di seluruh warkop se-Indonesia. Kita bergerak juga secara langsung dengan mengajari ‘mas-mas warkop’, yang banyak diceritakan oleh orang ini sebagai agen-agen perubahan sporadis yang tahu bagaimana mendengar cerita dan melapor langsung ke psikolog ketika ada masalah yang membutuhkan intervensi klinis. Kita bisa jadikan mereka sebagai peer counselor.

Kalau mau merefleksi, sebetulnya kapan kita, mahasiswa psikologi dan psikolog beserta psikiater, terjun langsung ke masyarakat kelas menengah ke bawah? Kapan kita mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa, langsung ke masyarakatnya? Entahlah, mungkin saja sudah, saya tidak tahu. Yang jelas, saya masih menganggap bahwa pelayanan kesehatan jiwa itu masih eksklusif.

Cdh-GBf85EbWWxc8b_UV3zfiz06uoSaw.jpg

Foto via kompas.com

Betul, kesehatan jiwa itu eksklusif! Bahkan bukan hanya eksklusif bagi orang-orang kelas ekonomi bawah seperti tukang ojek, tukang rokok batangan, dan sebagainya. Namun juga bagi saya, mahasiswa psikologi, yang notabene juga adalah kelas menengah ngehe. Kelas menengah ngehe saya definisikan sebagai orang yang tidak bisa disebut miskin maupun kaya, yang tingkah lakunya ngehe.

Psikolog itu eksklusif. Jumlahnya sedikit, sekaligus susah dicari. Data menunjukkan bahwa jumlah psikolog di Indonesia hanya 451 (Ika, 2015). Psikiater juga hanya tidak sampai angka 1000 (BBC, 2016). Selain sedikit dan susah dicari, untuk dapat pelayanan kesehatan jiwa pun butuh kocek yang tidak sedikit.

Menurut Candra (2012), tarif jasa psikiater di kebanyakan rumah sakit swasta di Indonesia saat ini kebanyakan berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 350 ribu tergantung dari ‘kelas’ rumah sakit tempat psikiater bekerja.

Meskipun pelayanan kesehatan jiwa gratis, apakah masyarakat sudah sepenuhnya sadar dan mau pergi ke psikolog/psikiater? Saya saja yang mahasiswa psikologi belum pernah sama sekali konsultasi ke psikiater/psikolog.

Ya, itu ‘dosa’ saya, dan saya akui, ini cukup parah. Saya mempromosi kesehatan jiwa di kampus, membuat tulisan tentang kesehatan jiwa, menjadi penanggung jawab proker di organisasi tentang kesehatan jiwa, tapi saya sendiri belum kenal, belum tahu sepenuhnya, dan belum pernah mencoba pelayanan kesehatan jiwa. Kalau kondisinya begini, masa saya mau mengharapkan masyarakat untuk pergi ke pelayanan kesehatan jiwa?

Saya jadi terpikirkan tentang perbandingan ‘mas-mas warkop’ dan psikolog. Jangan-jangan, setelah ditelisik ternyata mereka lebih banyak mendengar cerita yang butuh penanganan klinis daripada psikolog sendiri? Kalau ternyata hipotesis gila saya itu benar, maka jelas psikolog tidak punya bargaining power apapun di Indonesia. “Lah, orang kalah sama mas-mas Warkop, toh?”

Kalau para psikolog, psikiater, dan dokter jiwa masih belum bisa membumi seperti para penjaga warkop, maka buanglah semua mimpi-mimpi kesehatan jiwa di Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita, mahasiswa psikologi dan juga psikolog-psikolog di Indonesia.

Yaitu untuk mencoba dekat dengan masyarakat. Menginklusifkan praktik-praktik psikologi ke masyarakat menengah ke bawah. Dan membuat gerakan akar rumput untuk menyadarkan masyarakat akan pengetahuan tentang kesehatan jiwa.

Tulisan ini adalah sebuah kritik, baik bagi saya sendiri, mahasiswa psikologi secara umum, dan juga psikolog sekaligus psikiater yang ada di Indonesia. Sudah seberapa jauhkah kita mendatangi masyarakat dan berperan sebagai agen perubahan kesehatan jiwa yang aktif dan memberdayakan masyarakat?

Akhir kata, untuk menyimpulkan substansi dari tulisan ini, saya ingin, dan berani, mengatakan Indonesia Sebetulnya masih belum siap dengan psikolog dan layanan kesehatan jiwa. Bahkan, saya berani bilang bahwa Indonesia saat ini tidak butuh psikolog. Ya, kita lebih butuh ‘mas-mas warkop’.

 

Daftar Pustaka

Zausner, T. (1998). When walls become doorways: Creativity, chaos theory, and physical illness. Creativity Research Journal, 11(1), 21-28.

Ika. (2015). Minim psikolog, ribuan penderita gangguan jiwa belum tertangani. Diakses pada tanggal 20 April 2017 dari https://www.ugm.ac.id/id/berita/9715-minim.psikolog.ribuan.penderita.gangguan.jiwa.belum.tertangani

BBC. (2016). Setidaknya 18.000 orang masih dipasung di Indonesia. Diakses pada tanggal 20 April 2017 dari http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160320_indonesia_hrw_pasung

Candra, A. (2012). Mahalkah tarif psikiater. Diakses pada tanggal 20 April 2017 dari http://lifestyle.kompas.com/read/2012/11/07/08563660/Mahalkah.Tarif.Psikiater

17283 Views

Author Overview


Ifandi Khainur Rahim
Koordinator BPPK-Nasional ILMPI & Ketua Angkatan IKM F. Psi UI 2015