selasar-loader

Jilbab dan Kebebasan Perempuan dalam Islam

LINE it!
Nauval El-Hessan
Nauval El-Hessan
Humble servant of God
Journal Apr 7, 2017

YwtT7WqsUe_Uox6LmH9IkZgvi4YQeOww.jpg

Jilbab Shillouete via Fauzan Al Rasyid.

Pendahuluan

Jilbab merupakan sebuah fenomena yang tidak asing lagi bagi masyarakat dunia. Ketika seseorang mendengar kata jilbab, maka yang pertama kali mereka persepsikan adalah “datang dari Islam” atau “sebuah pakaian Islami”.

Namun, seringkali ketika orang berbicara mengenai jilbab ikut pula perkataan orang-orang mengenai pengekangan hak-hak perempuan. Buruknya, perkataan itu kemudian ditambah dengan kata Islam sehingga menjadi: Islam mengekang perempuannya dengan jilbab-jilbab mereka. Oleh karena itu, dalam artikel ini, ada dua pertanyaan yang saya munculkan dan akan saya jawab:

  • Apa benar jilbab asli budaya Islam?
  • Apa benar Islam mengekang perempuan dengan jilbab?

Apa itu Jilbab?

Jilbab diduga berasal dari kata jalaba yang bermakna, “menutup sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga tidak dilihat auratnya.” (Suhendra, 2013:4).

Sementara itu, ulama seperti Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi mendefinisikan jilbab sebagai, “kain yang lebih longgar daripada khimar, digunakan untuk menutupi badan bagian atas dan tengah.” (Ath-Tharifi, 2015:51). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud jilbab adalah pakaian longgar yang digunakan untuk menutup kepala hingga dada.

  • Jilbab atau Hijab?

Pada era saat ini, antara jilbab dan hijab selalu disinonimkan. Sementara sebagian ulama berusaha memisahkan antara keduanya. Bahkan, ulama seperti Ath-Tharifi membedakan tiga jenis pakaian penutup aurat yang dimaksud oleh Qur’an: (1) Khimar, (2) jilbab dan (3) hijab.

Khimar diartikan dengan penutup kepala, “Akan tetapi pada dasarnya khimar yang dipakai wanita adalah memiliki bagian yang mengelilingi dan bagian tengah, bermula dari kepala dan meliputinya, kemudian turun lagi hingga menutupi wajah, pundak dan dada.” (Ibid, 49).

EZlZkZqWulG1jJsrVxdx73aK6izQocF-.jpg

Khimar via Pinterest

Sepintas, antara jilbab dan khimar tidak berbeda. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan ulama seperti Muhammad Rizvi, “This means that the Islamic dress code for women does not only consist of a scarf that covers the head, the neck and the bosom; it also includes the overall dress that should be long and loose.” (Rizvi, tt:8).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya antara khimar dan jilbab adalah serupa. Bahkan, Ahmad Suhendra menyatakan bila berdasar pada aspek bahasa, jilbab tidak tepat bila diartikan sebagai penutup kepala (Suhendra, 2013:5).

Jilbab bisa saja menjadi penutup kepala, akan tetapi bukan penutup kepala seperti yang kita tahu selama ini, melainkan penutup kepala yang menyambung hingga menutup tubuh bagian atas dan tengah, bersifat loggar.

Khimar merupakan penutup kepala yang kita tahu selama ini, akan tetapi khimar tidak panjang dan longgar seperti jilbab, “Khimar lebih ketat dibandingkan jilbab.” (Ath-Tharifi, 2015:51). Singkatnya, perempuan dapat memakai pakaian biasa seperti saat ini.

Namun, perempuan diperintahkan untuk melapisi dan melengkapi pakaian tersebut dengan khimar sebagai penutup kepala yang ketat dan jilbab sebagai lapisan paling luar guna menutupi lekuk tubuh yang dibentuk oleh pakaian biasa.

Sebagai contoh adik perempuan saya memakai kaos ketat berlengan panjang. Pakaian adik saya tersebut harus dilengkapi dengan khimar di kepala hingga lehernya (atau dadanya) kemudian dilapisi lagi dengan jilbab yang notabene lebih longgar dari khimar dan kaos tadi supaya menutupi lekuk tubuhnya. Bisa juga, jilbab yang telah didiskuiskan disinonimkan dengan abaya untuk saat ini.

Lalu bagaimana dengan hijab?

Bagi sebagian ulama, hijab merupakan pembatas tempat antara laki-laki dan perempuan. Hijab bukanlah pakaian, “Adapun secara istilah, hijâb adalah sekat yang menjadi penghalang perempuan agar tidak tampak oleh laki-laki.” (Suhendra, 2013:3). Dengan demikian, tembok atau dinding dapat diartikan sebagai hijab karena menghalangi pandangan dua subjek di ruangan yang berbeda tetapi bersebelahan.

Oleh karena itu, pada artikel ini, saya akan menggunakan istilah jilbab daripada hijab karena sesuai dengan akar bahasa, jilbab lebih tepat dialamatkan sebagai pakaian daripada hijab.

  • Sejarah Singkat Jilbab

Pra-Islam

Banyak perdebatan mengenai awal kemunculan jilbab. Banyak ahli yang menyatakan bahwa jilbab sudah lama eksis jauh sebelum Islam mengadaptasinya sebagai salah satu pakaian yang diperintahkan oleh Qur’an.

Sejarawan seperti Sami bin Abdullah al-Maghlouth menyatakan bahwa jilbab sudah dikenal sejak zaman Assyria, “… para perempuan keluar dengan memakai cadar.” (al-Maghlouth, 2011:393). Perlu dijelaskan, bahwa antara cadar dan jilbab hampir tidak ada beda.

jQTEVQiuPJA8hJaQaH6IiEo3K06rV7ul.jpg

Chador via Shutterstock.

Cadar atau chador diartikan dengan jubah yang panjang dan longgar menutupi kepala hingga badan bagian bawah. Cadar atau chador ini hampir sama dengan jubah. Sementara, jilbab seperti yang telah kita lihat di atas, pakaian yang lebih longgar dan panjang yang berfungsi menutupi kepala hingga bagian tengah badan.

Kembali ke sejarah jilbab. M. Quraish Shihab pun menyatakan bahwa jauh sebelum Islam muncul dan memerintahkan jilbab, orang-orang di wilayah Asia Barat (Timur Tengah) sudah lama mengenal yang namanya pakaian tertutup. Dengan mengutip beberapa pakar, Shihab menjelaskan bahwa orang Arab diduga meniru orang Persia yang beragama Zoroaster.

Oleh karena agama Zoroaster memandang perempuan sebagai makhluk tidak suci, perempuan diwajibkan untuk menutup dirinya terutama mulut dan hidung agar tidak mencemari api suci (Shihab, 2014:41). Akan tetapi, hal itu masih menjadi perdebatan.

Menurut saya pribadi, orang Arab atau Asia Barat memiliki tradisi pakaian tertutup karena faktor lingkungan mereka. Mereka hidup di lingkungan yang panas dan berdebu pasir. Dengan demikian, wajar mereka melindungi tubuh mereka sedemikian rupa agar terhindar dari ganasnya sengatan sinar matahari padang pasir dan terpaan debu padang pasir.

Islam

Dalam tradisi Islam, perintah berjilbab muncul setelah Nabi Muhammad saw menerima wahyu berupa ayat sebagai berikut:

Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan hiasan mereka kecuali yang tampak darinya dan hendaklah mereka menutupkan kerudung (khimar) mereka ke dada mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan, atau anak-anak yang belum mnegerti tentang aurat wanita; dan janganlah mereka menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang mukmin supaya kamu beruntung. (Q.S. An-Nur (24):31)

Kewajiban berjilbab diduga juga setelah Surah Al-Ahzab (33):59 diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.:

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Ahzab (33):59)

Selain dua ayat Qur’an di atas, perintah jilbab dinilai wajib berdasar pada hadits yang diriwayatkan oleh salah satu isti Nabi saw., ‘Aisyah yang kurang lebih berbunyi demikian:

‘Aisyah r.a. berkata bahwa Asma’ putri Abu Bakr r.a. datang menemui Rasulullah saw. dengan mengenakan pakaian tipis (transparan), maka Rasulullah saw. berpaling enggan melihatnya dan bersabda: “Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan jika telah haid, tidak lagi wajar terlihat darinya kecuali ini dan ini (sambil beliau menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangan beliau).” (HR. Abu Daud dan al-Baihaqi) (Shihab, 2014:129)

Dengan berdasar pada dua ayat dan satu hadits di atas, umat Islam menilai bahwa jilbab merupakan bagian dari Islam. Sejak saat itu, banyak ulama yang menilai bahwa jilbab merupakan salah satu kewajiban yang tidak boleh dilupakan.

Oleh karena itu, banyak dari para ulama yang cenderung memasukkan jilbab sebagai salah satu syarat sah dalam menutup aurat. Dengan demikian, aurat untuk perempuan adalah dimulai dari rambutnya hingga kakinya. Begitu jumhur ulama bersepakat dengan berdasar pada Al-Ahzab (33): 59 dan hadits riwayat ‘Aisyah di atas.

Tidak heran pula kita melihat negara-negara dengan ideologi Islam seperti Republik Islam Iran, Afganistan, Saudi Arabia dan Pakistan cenderung memasukkan jilbab ke dalam salah satu hukum yang wajib.

Dalam artian, setiap perempuan yang ingin keluar rumah, mereka harus memakai jilbab. Ini pun berbeda sesuai dengan penafsiran mereka. Misalkan di Iran, perempuan hanya memakai chador; sementara di Afganistan, perempuan harus memakai burqa; di Saudi Arabia, perempuan biasanya diwajibkan memakai niqab.

Untuk chador, hampir tidak ada beda dengan jilbab biasa. Hanya saja chador lebih panjang, menutupi dari kepala hingga hampir keseluruhan tubuh; sama seperti jubah.

lJ90YTFAfBfKzGGGn0bamDTnoHVuJb0k.jpg

Niqab and Burqa via Cloudmind.info

Niqab dan burqa merupakan pakaian untuk perempuan di sebagian negara Islam yang sampai menutupi wajah mereka. Bedanya, bila niqab masih terlihat kedua matanya, sedangkan burqa tidak terlihat sama sekali wajahnya. Penutup itu diberi seperti jaring-jaring agar perempuan dapat melihat dari baliknya.

Oleh karena itu, di empat negara tadi jilbab menjadi sebuah kewajiban, maka banyak yang menilai perempuan dikekang sedemikian rupa oleh peraturan-peraturan dalam Qur’an.

Bahkan, karena jilbab suatu kewajiban, termasuk ke dalam peraturan resmi negara, maka bila ada yang melanggar, perempuan akan dihukum atau diberi hukuman berupa hukuman cambuk. Jelas, semakin kuat tuduhan para orientalis dan Islam liberalis bahwa jilbab dijadikan sebuah alat dalam mengekang perempuan.

Kesimpulan

Melihat pemaparan singkat di atas, kita bisa menilai bahwa pada dasarnya jilbab bukan berasal dari Islam, melainkan berasal dari budaya manusia gurun. Bisa dikatakan pula, itu budaya Arab dan sekitarnya.

Saya sudah memperlihatkan beberapa pendapat para ahli bahwa jauh sebelum Islam, kewajiban menutupi keseluruhan tubuh bagi perempuan sudah eksis. Bisa dikatakan oleh agama-agama sebelum Islam, bisa juga memang karena fakta geografis. Hanya saja, kemudian dengan dua ayat di atas, Islam mengadaptasi budaya tersebut karena dinilai lebih membawa sisi positif.

Ini sangat logis. Mengapa Islam mengadaptasi budaya sekitar? Hal tersebut karena Qur’an tidak mungkin diturunkan tanpa memperhatikan fakta budaya. Qur’an saja sudah diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, Qur’an juga memilih penanggalan qamariyah sebagai penanggalan dalam Islam.

Jadi, sudah sewajarnya bila jilbab yang notabene berasal dari budaya setempat kemudian diadaptasi oleh Islam karena menurut para ahli, suatu ajaran bisa diterima hanya ketika ajaran tersebut memang menyentuh dasar-dasar suatu penduduk.

Itulah sebabnya ketika para wali datang ke Indonesia, yang mereka lakukan adalah dengan menggabungkan sisi Islam dengan budaya lokal. Hal itu dilakukan agar Islam menjadi lebih mudah untuk diterima oleh penduduk setempat.

Akan tetapi, fakta budaya ini tidak menafikan bahwa jilbab adalah perintah dari Allah. Apa yang menjadi perdebatan adalah batas-batas jilbab tersebut, bahkan definisi dan status hukum berjilbab.

Oleh karena itu, ketika Islam telah mapan, Islam mulai memasukkan perintah berjilbab ke dalam peraturan negara, yang bila ada yang melanggarnya, dapat diberi hukuman berupa hukuman cambuk.

Itu juga yang membuat banyak orang menilai bahwa hukum Islam sangat mengekang kebebasan perempuan terutama perihal berjilbab. Namun, apakah benar jilbab diperintahkan oleh Allah untuk mengekang perempuan khususnya di dalam Islam?

Jilbab dan Kebebasan Perempuan

  • Jilbab dan Sekelumit Fikih yang Menghiasinya

Sudah diterangkan di bagian Pendahuluan bahwa seringkali kita mendengar pendapat para orientalis dan pendukungnya menyatakan jilbab adalah suatu alat yang dijadikan justifikasi oleh para ulama Islam untuk mengekang kebebasan perempuan. Pernyataan di atas ada benarnya, tetapi juga ada salahnya.

Bila melihat fakta yang ada, memang terdapat beberapa negara yang menjadikan jilbab sebagai alat pengekang kebebasan perempuan. Misalkan saja rezim Taliban di Afganistan yang mewajibkan pemakaian burqa bagi perempuan.

Begitu pula di Aceh, terdapat berbagai macam peraturan yang berkaitan dengan perempuan seperti (1) bila berboncengan dengan non-muhrim (menggunakan sepeda motor), maka perempuan harus duduk menyamping, (2) perempuan diwajibkan memakai jilbab di tempat umum dan (3) biasanya perempuan dilarang berkeliaran di atas jam malam yang telah ditetapkan.

Melihat fakta-fakta di atas, tentu saja hal itu membenarkan apa yang diungkapkan oleh sebagian orientalis dan para pendukungnya. Akan tetapi, apakah fakta Qur’an dan Sunnah memang demikian? Saya berani menyatakan tidak.

Permasalahan pengekangan perempuan bukan ada pada Qur’an dan Sunnah seperti yang seringkali dituduhkan, justru terdapat pada fikih, baik itu fikih klasik maupun fikih kontemporer. Saya akan membuktikannya sebentar lagi. Namun, sebelum itu ada baiknya kita memahami dulu konsep hijab lebih jauh yang kemudian ditambah dengan konsep ikhtilat.

Seperti yang telah kita lihat, bahwa definisi hijab bila merujuk langsung kepada Qur’an adalah “sebuah pembatas ruang”. Dalam surah Al-Ahzab (33): 53, secara literal dinyatakan ketika ada yang meminta keperluan kepada istri-istri Nabi saw., hendaknya mereka memintanya dari balik hijab, “Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi) maka mintalah dari belakang hijab (tabir)...”.

Dengan demikian, bila kita merujuk pada Qur’an secara langsung, ayat hijab sebenarnya berkaitan dengan istri-istri Nabi, bukan perempuan secara umum. Namun permasalahannya, ketika para ulama berbicara menggunakan sudut pandang ilmu tafsir, mereka berbeda pendapat.

Jumhur ulama sepakat bahwa ayat tersebut memang secara literal khusus untuk istri-istri Nabi. Namun, sangat tidak logis bila hanya dipahami secara khusus saja, melainkan harus dipahami secara umum. Oleh karena itu, mereka sepakat bahwa ayat hijab juga ditujukan kepada perempuan muslim secara umum (Subhan, 2015:349).

Konsekuensinya, saat ini kita melihat bahwa dalam kegiatan apapun di dunia muslim, pasti terdapat pemisah ruang antara lelaki dan perempuan. Misalkan saja masjid; di belakang shaf laki-laki diberi sebuah tirai yang menandakan bahwa di balik tirai tersebut sudah memasuki shaf perempuan.

Akibat dari pemahaman tafsir semacam ini, kemudian para ulama bersepakat bahwa ayat hijab berkaitan erat dengan ikhtilat. Apa itu ikhtilat? Secara singkat, ikhtilat diartikan dengan “bercampurnya antara lelaki dan perenpuan di ruang publik” (Qolawun, 2015:163; Ariwibowo dan Fidayani, 2016:73).

Dalam permasalahan Islam kontemporer, biasanya konsep ikhtilat ini kemudian dikaitkan dengan konsep hijab dan jilbab. Oleh karena jilbab berfungsi menutupi tubuh perempuan dan hijab menjadi pembatas ruang antara lelaki dan perempuan, maka konsekuensinya, perempuan dan lelaki tidak boleh bercampur di ruang publik begitu saja, “Islam melarang bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan...” (Ariwibowo dan Fidayani, 2016:73).

Apa konsekuensi lebih lanjutnya? Kita telah melihatnya sebagian di atas. Masjid diberi tirai, lalu ada lagi pemisahan ruang kelas di sebagian besar sekolah berbasis Islam.

Biasanya, pandangan semacam ini berdasar pada hadits-hadits Nabi, yaitu yang berbunyi demikian, “Sungguh kepala salah seorang dari kalian tertusuk potongan besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal bagi dirinya.” (HR. Thabrani dan Al-Baihaqi) (Ibid 74). Hadits semacam itu kemudian menjadi justifikasi bahwa sebenarnya perempuan dan laki-laki tidak boleh melakukan aktivitas bersama di ruang publik.

Selain alasan-alasan di atas, terdapat pula ayat lain yang menjadi justifikasi bahwasanya perempuan memang tidak boleh keluar rumah, yaitu Al-Ahzab (33): 33. Akan tetapi, konteks pembicaraannya masih berkutat pada istri Nabi saw.. Lalu mengapa kemudian digeneralisasi?

Hal itu dikarenakan pemahaman para ulama atas maksud dari syariah itu sendiri. Mustahil syariah hanya berkaitan pada hal yang khusus, pasti ada tujuan umumnya. Dengan demikian, pelarangan keluar rumah bagi perempuan muslim kecuali terdapat hal-hal yang mendesak dapat dibenarkan. (Shihab, 2014:112—113)

Oleh sebab itu, terkadang terdapat kebijakan di mana perempuan sama sekali tidak boleh keluar rumah tanpa didampingi muhrimnya seperti anak laki-lakinya, suaminya maupun saudara kandung laki-lakinya yang lain. Pembolehan itu terjadi hanya ketika ada hal yang sangat mendesak.

Bila tidak, maka gerak-gerik perempuan sangat dibatasi. Bahkan di Arab Saudi, seorang perempuan dilarang mengendarai kendaraan bermotor, baik yang beroda empat maupun beroda dua. Pandangan semacam di atas membuat tuduhan sebagian orientalis dan pendukungnya semakin benar.

Pandangan di atas sejatinya bukanlah murni datang dari Qur’an dan Sunnah, melainkan murni dari fikih yang notabene, sebagian besar ulama sepakat bahwa fikih hanya sebatas pada pemahaman manusia atas syariat (Qur’an dan Sunnah), “fiqh represents the human part of the Islamic law,...” (Auda, 2016:5).

Bukti lain bahwa masalah-masalah di atas termasuk ke dalam permasalahan fikih adalah fakta terdapat beberapa negara Islam yang longgar dalam hal pakaian seperti Mesir dan Malaysia. Ini membuktikan bahwa permasalahan “jilbab sebagai pengekang” bukan masalah pada syariat (Qur’an dan Sunnah), melainkan pada fikihnya.

Nomv--xovXvtzmPrJaN0TUXdBWFVgDHv.jpg

Woman and Freedom via Gates of Vienna.

  • Jilbab Sejatinya Membebaskan Perempuan

Kita telah melihat bahwa sebenarnya permasalahan jilbab dan pengekangan perempuan hanya ada pada fikih. Ini semakin diperkuat oleh pernyataan Awy A. Qolawun yang biasa disapa dengan Gus Awy, “...sebenarnya kata Ikhtilath dalam interaksi sosial antara lelaki dan perempuan adalah kosakata baru dalam kamus Islam.” (Qolawun, 2015:165).

Untuk membuktikan kebenaran pernyataan semacam ini, bisa dilihat dari ayat-ayat Qur’an bahkan ayat tentang hijab itu sendiri. Bahkan, Gus Awy menyatakan bahwa bila kita melihat hadits-hadits Nabi saw., kita akan menemukan bahwa tidak terdapat hadits yang melarang penyampuran antara laki-laki dan perempuan di ruang publik. (Ibid 166).

Bahkan, ulama India seperti Muhammad Ali dengan tegas menyatakan bahwa hijab diterapkan di ruang publik pun salah sasaran. Ali membuktikan juga dari berbagai macam hadits bahkan hadits ketika terjadinya shalat jamaah.

Pada zaman Nabi, menurut Ali, perempuan shalat berjamaah dengan lelaki tanpa hijab seperti saat ini (Ali 394). Sejatinya, hijab hanya diterapkan pada ruang privat. Hal itu bisa dibuktikan dengan merujuk langsung pada redaksi surah Al-Ahzab (33):53 di atas.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud oleh Qur’an dan Sunnah terkait jilbab? Sebelum mengarah kepada pendapat para ulama dan cendekiawan, ada baiknya kita melihat kembali surah Al-Ahzab (33): 59:

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dari ayat di atas, terdapat redaksi kalimat “Hendaklah mereka menutupkan jilbab... Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.”. Sebagian ulama menyatakan asbab an-nuzul ayat tersebut adalah berkaitan dengan gangguan orang-orang munafik terhadap perempuan muslim merdeka.

Dengan demikian, sudah dapat disimpulkan bahwasanya jilbab bukan untuk mengekang, melainkan untuk membebaskan perempuan dari segala bentuk gangguan. Namun, bagaimana bila disambungkan dengan Al-Ahzab ayat 33?

Menurut saya pribadi, apa yang ditujukan oleh ayat tersebut murni kepada istri-istri Nabi, bukan kepada perempuan muslim secara umum. Kita dapat melihat secara keseluruhan ayat tersebut:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (Q.S. AL-Ahzab (33): 33)

Mengapa saya menyatakan ayat di atas sampai kapanpun tetap bersifat khusus?

Hal tersebut karena terdapat kalimat terakhir yang berbunyi “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”. Jumhur ulama sepakat bahwa istri-istri Nabi berbeda dengan perempuan muslim secara umum.

Bahkan, bagi kaum Syiah, ahlul bait Nabi saw. seperti Sayyidah Fathimah dan keturunannya berbeda. Mereka digolongkan suci dari segala dosa dan kesalahan (maksum). Tentu saja, sangat mustahil ini ditujukan kepada perempuan muslim secara umum karena tidak ada jaminan dari Allah bahwa perempuan muslim secara umum akan dibersihkan sebersih-bersihnya. Apalagi terdapat redaksi “Ahlul Bait” (walaupun antara Sunni dan Syiah berbeda pendapat mengenai Ahlul Bait itu sendiri).

Lantas mengapa hanya istri Nabi yang “dilarang” untuk keluar rumah? Itu karena istri-istri Nabi berbeda dengan perempuan secara umum. Mereka bahkan disebut sebagai ummul mukminin, ibu dari orang-orang mukmin.

Oleh karena itu, sangat wajar mereka dilarang keluar rumah. Akan tetapi, faktanya, masih saja terdapat istri Nabi yang keluar rumah. Misalkan ‘Aisyah yang keluar rumah memimpin pasukan pada Perang Jamal untuk melawan kekhalifahan Imam ‘Ali.

Murtadha Mutahhari menyatakan dengan jelas bahwa jilbab atau dalam bahasa yang dia gunakan hijab, bukan sebuah alat yang digunakan Islam dalam melarang perempuan untuk beraktivitas di ruang publik, “Dalam Islam, tidak ada ceritanya hijab melarang perempuan dari partisipasi di dalam kebudayaan, sosial, atau aktivitas ekonomi.” (Mutahhari, 2013:18).

Bila yang dimaksud hijab oleh Mutahhari adalah pembatas ruangan, wajar saja hijab dan jilbab tidak bisa dijadikan justifikasi pengekangan perempuan. Hal itu sudah jelas karena konteks pemakaian hijab hanya pada ranah privat, bukan publik.

Terlebih, hijab diartikan dengan pakaian, maka sangat tidak wajar menjadi alat pengekangan, padahal jelas di Al-Ahzab ayat 59 pemakaian jilbab untuk membebaskan perempuan dari gangguan.

Akan tetapi, permasalahan selanjutnya adalah ketika jilbab dijadikan sebuah aturan baku atau hukum positif. Itu karena mereka membaca bahwa jilbab adalah sebuah kewajiban.

Menurut saya, jilbab dalam artian menutup rambut tidak wajib karena redaksi yang digunakan oleh Qur’an bukanlah diwajibkan, melainkan hendaklah yang hanya bermakna memerintah. Jumhur ulama sepakat bahwa tidak semua perintah bersifat wajib.

Oleh sebab itu, saya lebih menekankan bahwasanya jilbab yang dimaksud oleh Qur’an adalah pakaian sopan. Selain itu, dalam surah An-Nur ayat 31, redaksi yang dipakai adalah khimar, bukan jilbab. Khimar merupakan penutup kepala, yang mana topi pun bisa menjadi penutup kepala.

Di sini saya menolak definisi yang ditawarkan oleh Ath-Tharifi. Ini saya dasarkan dengan kesamaan kata khimar dengan khamr yang bermakna sama, yaitu “menutup kepala”. Khamr memabukkan karena mereka “menutupi” kepala kita.

Selain itu, ketika menyebutkan bagian yang diusap saat wudhu adalah kepala, bukan rambut dan menyangkut kepala ini para ulama berbeda-beda. Ada yang menyatakan seluruh kepala termasuk rambut, ada juga yang menyatakan hanya sebagian kepala.

Dengan demikian, sudah jelas bahwa khimar yang dimaksud adalah penutup kepala, bukan penutup rambut seperti yang lazim saat ini.

Sebagai tambahan, bila kita melihat redaksi surah An-Nur ayat 31, terdapat kata “hingga dada mereka”, ini membuktikan bahwa terdapat hal lain yang harus ditutup, yaitu dada.

Menurut Muhammad Ali, ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan kebiasaan orang-orang Arab yang menutupi kepala mereka dengan kain panjang tapi tidak menutupi dada mereka (Ali 667).

Dengan demikian, bila seorang perempuam sudah menutupi dadanya bukan dengan khimar yang diartikan dengan menutupi kepala termasuk rambut, apakah khimar masih menjadi kewajiban? Saya menyatakan wajib bagi kepalanya, tetapi tidak wajib bagi rambutnya karena kembali pada kata khimar itu sendiri, yaitu penutup kepala.

Lalu apa kaitannya dengan jilbab dan kebebasan? Tentu sangat berkaitan. Bila merujuk kembali pada Al-Ahzab ayat 59, kita melihat bahwa yang diperintahkan adalah memanjangkan jilbab ke seluruh tubuh.

Bila perempuan sudah memakai jilbab, maka sudah tidak boleh ada paksaan dan terlebih, jilbab yang dimaksud tidak ada kaitannya dengan penutup kepala.

Berbeda dengan definisi Ath-Tharifi karena definisi Ath-Tharifi masih bertentangan dengan Qur’an. Ath-Tharifi dengan jelas menyatakan jilbab hanya sampai pada menutupi tubuh bagian tengah, padahal dalam Qur’an yang dimaksud adalah seluruh tubuh dan tidak berkaitan dengan kepala.

Ini berarti, jilbab lebih dekat kepada jubah seperti daster, abaya, gamis dan sejenisnya. Dengan demikian, sudah jelas bahwa pada dasarnya jilbab justru membuat perempuan muslim untuk bebas melakukan segala akitivitasnya, bukan jutsru mengekangnya.

Sebuah lembaga survei melakukan penelitian terhadap perempuan muslim di Britania perihal mengapa mereka lebih memilih memakai kerudung yang menutupi seluruh kepala bahkan wajah.

Menurut hasil survei tersebut, mayoritas responden mengakui bukan karena dipaksa orangtua, melainkan karena murni pilihan mereka pribadi, “The decision to adopt the niqab was overwhelmingly an individual choice although the surroundings of the interviewees often facilitated it.” (At Home in Europe 29).

Pernyataan sebelumnya dari lembaga tersebut adalah bahwa jawaban yang diberikan oleh para responden mengindikasikan bahwa memakai jilbab atau sejenisnya adalah sebuah bentuk kebebasan dan pembebasan bahkan seperti yang dikatakan oleh surah Al-Ahzab (33): 59, “Freedom was the value most commonly associated with the niqab. A few interviewees alluded to their earlier life as a form of imprisonment, whereas wearing the niqab liberated them from the domination of physical appearances.” (Ibid, 28).

Dengan demikian, sudah semakin jelas bahwa jilbab pada dasarnya memang sebuah alat yang digunakan oleh Qur’an dan Sunnah untuk membebaskan perempuan dari segala bentuk gangguan dan perbudakan.

Muhammad At-Tahir bin Asyur, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Asyur menyatakan bahwa maqasid syariah atau tujuan syariat pada hakikatnya adalah membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan, termasuk perbudakan akal, “The first meaning is the opposite of slavery and refers to the original ability of all rational and mature people to handle their affairs.” (Asyur, 2013:12).

Bila syariat dijadikan alat mengekang, maka itu bukan syariat. Bila memang jilbab yang awalnya hanya sebuah kewajiban memakai pakaian sopan, lalu kemudian menjadi kewajiban menutupi seluruh tubuh yang dipaksakan, hal itu sudah bertentangan dengan tujuan syariat itu sendiri.

Terlebih bila terdapat hukuman ketika perempuan melanggarnya, misalkan dengan hukum cambuk. Dalam hadits, bahkan sekelas Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, tidak pernah merekam hadits-hadits Nabi yang menunjukkan hukuman bagi perempuan yang tidak memakai kerudungnya ketika di ruang publik. Hukum cambuk hanya diberlakukan bagi mereka yang berzinah dan meminum khamr.

Penutup

Sebagai penutup sekaligus kesimpulan, di sini saya ingin menyampaikan bahwa jilbab dalam Islam sejatinya menentang dua jenis manusia: (1) mereka yang menjadikan jilbab sebagai alat pengekang kebebasan perempuan, dan (2) mereka yang menganggap jilbab memang untuk mengekang perempuan sehingga mereka kemudian melarang pemakaian jilbab seperti yang terjadi pada beberapa negara Eropa seperti Perancis.

Asumsi orang-orang semacam itu tidak memiliki dasar. Apalagi bagi mereka yang mengaku sekuler dan liberal. Bukankah sekuler sejatinya memisahkan antara politik dan agama, lalu mengapa dalam kebijakan politiknya masih membawa unsur-unsur agama?

Bila liberal diartikan sebagai pembebasan manusia, lalu mengapa perempuan muslim dilarang memakai sesuatu yang memberikan identitas bagi diri mereka?

Dengan berbagai macam penjelasan di atas, kita sudah melihat bahwa pada dasarnya jilbab digunakan untuk membebaskan perempuan bahkan dari “kewajiban” memakai jilbab itu sendiri (bila jilbab saat ini diartikan dengan menutupi rambut). Akan tetapi, itu bukan berarti bahwa yang memilih untuk memakai jilbab melanggar syariat.

Karena jilbab sifatnya membebaskan, maka sangat diwajarkan bagi mereka yang memilih memakai jilbab dengan alasan pilihan pribadi. Terlebih, di era saat ini jilbab diidentikkan dengan identitas seorang muslimah. Akan sangat wajar, bila ada seorang perempuan muslim memakai jilbab karena ingin menunjukkan bahwa dia adalah seorang muslim dan termasuk muslim yang taat.

Sebagian cendekiawan dan ulama bahkan berpendapat bahwa sebelum Islam datang, jilbab diidentikkan dengan perempuan terhormat (bukan budak). Hal itu juga dibenarkan oleh Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59.

Sebagian riwayat menyatakan bahwa orang munafik Madinah tidak bisa membedakan mana perempuan muslim merdeka, mana yang budak, sehingga mereka menganggu secara serampangan. Oleh sebab itu, turun ayat tersebut.

Sebenarnya ini agak rancu. Namun, saya masih bisa menerimanya karena bisa menjadi dalil pendukung mereka yang lebih memilih memakai jilbab; mereka ingin menunjukkan bahwasanya kami memakai jilbab karena kami perempuan merdeka dan karena keinginan pribadi kami. Akan tetapi, bukan mengisyaratkan bahwa yang tidak memakai adalah budak.

Sudah saya katakan, bahwa riwayat tadi secara matan adalah rancu. Baik merdeka maupun tidak, jilbab sejatinya memang untuk membebaskan perempuan muslim karena redaksi yang dipakai oleh surah Al-Ahzab ayat 59 adalah umum, bukan hanya diberlakukan bagi mereka yang merdeka.

Daftar Pustaka
Ali, Muhammad. Islamologi. Penerj. R. Kaelan dan H. M. Bachrun. Jakarta Pusat: Darul Kutubil Islamiyah, 2015.
Al-Maghlouth, Sami bin Abdullah. Atlas Agama-Agama. Penerj. Fuad Syaifuddin Nur dan Ahmad Ginanjar Sya'ban. Jakarta Timur: Almahira, 2011.
Ariwibowo, Agus dan Fidayani. Makin Syar'i Makin Cantik. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016.
Asyur, Muhammad At-Tahir bin. Treatise on Maqasid al-Shari'ah. Penerj. Mohamed El-Tahir El-Mesawi. London: The International Institute of Islamic Thought, 2013.
Behind the Veil: why 122 women choose to At Home in Europe. wearthe full face veil in Britain. New York: Open Society Foundations, 2015.
Ath-Tharifi, Abdulaziz bin Marzuq. Hijab: Busana Muslimah Sesuai Syariat dan Fitrah. Penerj. Askary Shibghotulhaq. Sukoharjo: Al-Qowam, 2015.
Auda, Jasser. What is the Land of Islam? www.jasserauda.net, 2016.
Mutahhari, Murtadha. Teologi dan Falsafah Hijab. Penerj. Rina Tyas Sari. Yogyakarta: RausyanFikr, 2013.
Qolawun, Awy A. Tentang Perempuan: Dari Seks dalam Rumah Tangga hingga Bohong pada Suami. Bandung: Penerbit Mizania, 2015.
Rizvi, Muhammad. Hijab, The Muslim Women's Dress, Islamic or Cultural? Ja'fari Islamic Centre (Tabligh Committee) Canada, t.thn.
Shihab, M. Quraish. Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah. Tangerang: Lentera Hati, 2014.
Subhan, Zaitunah. Al-Qur'an & Perempuan: Menuju Kesetaraan Gender dalam Penafsiran. Jakarta: Prenadamedia Group, 2015.
Suhendra, Ahmad. “Konstestasi Identitas melalui Pergeseran Interpretasi Hijab dan Jilbab dalam Qur'an.” Palastren 6.1 (2013): 1--22.

1471 Views