selasar-loader

Niat Baik Saja Tidak Cukup

LINE it!
Sandiaga  Salahuddin Uno
Sandiaga Salahuddin Uno
Former CEO of Saratoga Capital
Journal Mar 24, 2017

ielGhpBaWiw6CJqkZFoxVGC3DpioTaz0.jpg

Sandiaga via BawaBerita

Alhamdulillah virus-virus entrepreneurship mulai menghasilkan buah dalam kurun waktu kira-kira delapan tahun terakhir. Semakin banyak anak-anak muda Indonesia yang memulai usaha mereka sejak di bangku kuliah, ataupun para karyawan yang beralih profesi.

Pendapat saya ini memang belum teruji secara ilmiah, tetapi sekadar pendapat pribadi saya ketika berkeliling dan bersilaturahim dengan generasi muda baik di dalam dan di luar negeri. Ini tentu hasil kerja keras dari teman-teman pegiat kewirausahaan yang tidak kenal lelah berkampanye.

Sering saya bertanya kepada para pengusaha pemula tersebut, apa yang menjadi motif mereka menekuni dunia usaha. Sangat beragam jawabannya, ada yang ingin mandiri, ingin membahagiakan oran tua (membiayai orang tua naik haji misalnya), ingin membantu orang dengan menyediakan lapangan pekerjaan, dan bermacam niat baik lainnya.

Niat-niat yang sangat mulia, dan tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun dalam mengimplementasikan sebuah niat baik pada sebuah rencana bisnis, akan selalu punya tantangannya sendiri ketika dihadapkan pada realitas yang ada di lapangan. Karena belum tentu implementasi berjalan semulus sesuai rencana di awal. 

Kalau boleh jujur, selama dalam perjalanan di group kami tidak hanya satu – dua portofolio bisnis saja yang pada akhirnya harus menyerah pada realitas yang ada. Sudah lebih dari hitungan jari, dan semua itu adalah kenyataan yang pada akhirnya harus kami terima serta menjadi pengalaman yang sangat berharga.

8lJlmd6ZYhkMaSUqN8gCVl6NSnqAXcxC.jpg

Berikut beberapa hal yang mungkin bisa saya sharing kepada teman-teman, supaya bisa lebih mawas diri:

1. Over confidence, terlalu percaya diri dengan hanya mengandalkan perasaan tanpa didukung data tren bisa membuat penilaian kita menjadi bias dalam pengambilan keputusan.

2. Obsesif, dalam berbisnis tentu harus punya idealisme dan visi yang kuat. Tanpa idealisme, bisnis seperti sayur tanpa garam. Yang tidak boleh adalah idealisme yang buta atau obsesif. Jangan lupa bahwa bisnis juga harus bersifat pragmatis, segala sesuatunya dapat berubah di tengah jalan. Sebagai nakhoda, kita harus mampu mengambil keputusan yang paling tepat bagi keberlangsungan hidup perusahaan.

Obsesif bisa justru bisa menarik kita pada langkah yang fatal. Bagaimana cara untuk membedakan antara idealis dan obsesif ? Ada novel klasik yang bagus buat dibaca, judulnya Moby Dick.

ASFRiaOl4IRs1huZVRQjHeTzOJrVRhrm.jpg

Niat baik harus tetap kita jaga, tetapi itu saja belum cukup. Jangan takut mengubah rencana di tengah jalan, untuk menghindari kegagalan. Itu adalah hal yang sangat biasa bagi seorang pemimpin.

“Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang: KEPERCAYAAN”, itu kata Soe Hok Gie yang sering saya ingat. Karena kepercayaan itu adalah amanah. 

Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Terus semangat dan bergerak.

11941 Views