selasar-loader

Agitasi Ketokohan Ala Soekarno atau Pendidikan Berkelanjutan Milik Hatta

LINE it!
Izzuddin Baqi
Izzuddin Baqi
Mahasiswa Transportasi Laut ITS 2016 | Blogger | Maritime-Concerned
Journal Aug 11, 2017

mA_qHnsZd8VLbFVlyiMZ3jCRkI-52Dyy.jpg

Napak tilas para pejuang kemerdekaan Indonesia tidak akan mengering meski sumur hikmahnya terus menerus ditimba, untuk berkaca kepada sejarah, tentang arah dan jalan juang para pembangun bangsa ini dahulu. Makin kita mendalami, makin banyak kisah-kisah penuh ibrah untuk dipelajari.

Contohnya adalah dari tokoh sentral pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta. Siapa sangka jika ide dasar, alur pikiran, serta tindak tanduk kedua tokoh ini sangat berlainan satu sama lain, bersebrangan malah.

Soekarno dikenal sebagai singa podium yang, setiap kali berpidato di depan khalayak umum, setiap kata dari kalimat yang diucapkannya seolah memililiki nyawa hingga mampu menyihir lautan manusia yang hadir mendengarnya. Dalam biografinya yang diceritakan kepada Cindy Adams, bahkan konon, saat ia berpidato, jalanan akan lengang, setiap warga akan berkerumun di saluran radio, membiarkan dirinya disihir oleh keajaiban kata-katanya.

Wajar jika Soekarno menempuh jalan perjuangan dengan cara mengkader secara instan melalui pesan-pesan dalam ceramahnya yang mampu membakar semangat siapapun yang mendengarnya. Agitasi-agiitasinya tiada duanya kala itu.

Di sisi lain, Moh. Hatta lebih dikenal sebagai sosok yang telaten, tekun, bervisi jauh ke depan, dan beridealisme tinggi. Wajar pula jika selama sembilan tahun masa kuliahnya di Belanda, tak pernah setetes pun beliau menegak bir alias minuman keras. Beliau merupakan seorang akademisi yang dihormati oleh kawan maupun lawan karena ide-ide dalam tulisannya yang krusial.

Fokus utama perjuangannya adalah semangat perjuangan berkelanjutan. Hatta lebih menyukai pergerakan yang tanpa nama, tanpa sosok, sebuah pergerakan yang diharapkan akan mampu terus bergerak ditopang sebuah visi yang kuat, meski para pencetusnya telah dieliminasi, meski kelompok pergerakannya telah dibubarkan. Karena dengan adanya visi itulah, sebuah pergerakan akan tetap langgeng dari masa ke masa.

Gerakan perjuangan ini lebih bersifat eksklusif. Hanya orang-orang tertentu yang mampu diajak untuk bersadar diri, sehingga mereka bersedia menempa diri menjadi kader penerus perjuangan kemerdekaan.

Perbedaan mazhab pergerakan ini makin meruncing di tahun 1930 ke atas, tatkala Hatta telah kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya di Belanda. Hatta mengembangkan partai yang berhalauan pendidikan, yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia, yang ia ambil alih sedemikian rupa sehingga memiliki jalur perjuangan khas seorang cendekiawan.

Sementara itu, Soekarno, selepas keluar dari penjara, mendirikan Partai Indonesia. Melalui surat kabar yang dimiliki masing-masing pihak, PNI dengan Daulat Rakyat, Partindo dengan Persatuan Indonesia, tak jarang terjadi saling serang ide dan gagasan, yang juga dimotori oleh Soekarno dan Hatta sendiri, yang beradu balas dalam kolom artikel surat kabar.

Misalnya kritik Soekarno terhadap Hatta yang telah melukai perjuangan nonkoperatif dengan mendekatnya Hatta ke dewan perwakilan rakyat di Belanda, yang selanjutnya justru Hatta sendiri yang memutarbalikkan tulisan Soekarno sehingga seolah menjadi bumerang. Perselisihan tersebut bahkan berlanjut hingga Soekarno melarang segala anggota Partindo untuk membaca surat kabar harian milik PNI sehingga seolah-olah corong informasi hanyalah dirinya seorang di Partindo.

Sosok Soekarno juga merupakan seseorang yang berambisi penuh atas adanya sebuah persatuan. Wajar jika terdapat sinkretisme pemikiran dari beliau untuk menyatukan berbagai paham dan aliran, meski terkadang buah pikirannya terkesan rentan dan mudah goyah.

Maka tatkala keluar dari penjara, yang pertama kali beliau lakukan adalah usaha untuk berbegosiasi dengan Bung Hatta untuk menyatukan ide perjuangan antara PNI dan Partindo. Bung Karno sendiri yang mengatakan, “Apa gunanya kader ini? Bukankah lebih baik kita mendatangi langsung rakyat jelata dan membakar hati mereka, seperti selama ini telah saya kerjakan?"

Namun apa boleh buat. Karena sosok Bung Hatta yang berjiwa idealis tinggi, beliau memegang teguh semangat perjuangan pendidikannya di PNI hingga Soekarno menyerah. Bung Hatta menegaskan, “Kita sudah berulang kali mempersoalkan dalam Daulat Rakyat bahwa janganlah pemimpin itu terlalu didewa-dewakan dan janganlah kita menggantungkan nasib pergerakan kepada salah seorang pemimpin.

Janganlah mencita-cita adanya pemimpin-pemimpin bagi Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlwan yang tak punya nama. Bukan lagi pemimpin yang satu-satunya itu, melainkan rakyat Indonesia sendirilah yang harus menjadi pahlawan.”

Pertentangan ide antara keduanya bahkan terasa kental di biografi tokoh keduanya. Tak jarang, Ir. Soekarno mengatai Moh. Hatta dengan sebutan aneh-aneh, ataupun sebaliknya, di mana Moh. Hatta mengkritik habis-habisan ide perjuangan Bung Karno yang pinplan.

Terlepas dari peliknya perbedaan tersebut, kedua tokoh sejarah pergerakan kemerdekaan tersebut tetap menunjukkan bagaimana seharusnya jalan yang ditempuh untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Merdeka. Di tengah hitam putih ide keduanya yang berlawanan, keduanya tetap mampu duduk bersamaan memimpin republik ini menjadi negara yang berdaulat. Setidaknya, sebelum Moh. Hatta mengundurkan diri pada 1956.

Mereka menunjukkan bahwa berkolaborasi dengan lawan berpikir bukanlah hal yang tidak mungkin, selama ada satu tujuan bersama. Pertanyannya adalah masihkah tujuan para pemimpin bangsa ini sama?

Sumber gambar: Liputan6.com

409 Views