selasar-loader

Percepat Pembangunan Jalur KRL: Meningkatkan Keselamatan dan Kenyamanan

LINE it!
Diniati P Yunitasari
Diniati P Yunitasari
Kepala Biro Multimedia BEM IM FKM UI 2017
Journal Mar 14, 2017

NsoVSRw9ijTtgB5s3bSY0mSQEJ73PMBh.jpeg

Commuter Line via passassiasknowledge - WordPress.com

“Kemacetan lalu-lintas di Jabodetabek menjadi persoalan yang tak kunjung selesai. Tingginya mobilitas masyarakat harus diimbangi dengan fasilitas moda transportasi. KRL (Kereta Rel Listrik) menjadi salah satu solusi. Sebagai transportasi berbasis rel dengan kapasitas angkut penumpang yang tinggi, waktu tempuh terukur, ramah lingkungan, tidak membutuhkan space yang besar, dan tarif yang sangat terjangkau. KRL Commuterline menjadi primadona transportasi publik dengan pertumbuhan penumpang yang terus meningkat per tahunnya.” (PT. KAI Commuter Jabodetabek 2015)

Dikutip dari gambaran umum bisnis KCJ (KAI Commuterline Jabodetabek) tahun 2015 pada laporan tahunan PT. KCJ, pernyataan tersebut sangat sesuai dengan gambaran masyarakat Jabodetabek pada kenyataannya. Kemacetan terjadi di mana-mana akibat banyak faktor, sedangkan kebutuhan akan kehidupan yang serba cepat pun juga meningkat.

Belum lagi pemerintah menggencarkan masyarakat untuk menggunakan transportasi publik yang tersedia sebagai upaya untuk mengurangi kemacetan yang terjadi.

KRL Commuterline memang salah satu solusi tepat apabila dibandingkan dengan kualitas angkutan umum yang ada pada saat ini, pun dengan bermunculannya ojek atau mobil online yang juga ikut terlibat dalam menambah kemacetan di jalan raya. KRL Commuterline dengan berbasis rel merupakan pilihan terbaik dalam mengatasi hal ini.

Seiring dengan sinkronisasi pemikiran masyarakat mengenai KRL Commuterline, tahun demi tahun pengguna KRL Commuterline pun meningkat.

Dilaporkan dari gambaran umum sebelumnya, pada tahun 2015 rata-rata jumlah penumpang KRL Commuterline per hari mencapai 705 ribu jiwa dengan jumlah puncak tertinggi mencapai 914 ribu penumpang pada 15 Juni 2015 dengan jumlah perjalanan 800 dan jumlah rangkaian sebanyak 74 rangkaian kereta, dan targetnya akan ditingkatkan menjadi 1,2 juta per hari di tahun 2019.

Guna mencapai target tersebut diberlakukan perjalanan dengan jumlah gerbong 8-12 kereta. Jumlah armada yang direncanakan pada 2016 mencapai 1.120 unit dan akan terus bertambah 100-160 unit KRL Commuterline setiap tahunnya. (Sari 2016b)

Namun ada yang kurang cocok terkait dengan pernyataan di atas, terkait waktu tempuh yang terukur. Pengguna KRL Commuterline biasanya pernah dan sering mengalami kejadian kereta tertahan beberapa saat sebelum diberangkatkan yang sepertinya telah membudaya.

Budaya kereta tertahan terasa menjadi sebuah hal biasa, yang hanya dengan mengucapkan kata maaf melalui intercomm masalah akan selesai karena anggapan bahwa pengguna KRL Commuterline pasti memaklumi kejadian kereta tertahan ini. Padahal tidak semua pengguna merasakan hal ini merupakan hal biasa yang dapat dimaklumi.

Seperti pepatah yang mengatakan waktu adalah uang, bayangkan apabila yang berada di dalam kereta tertahan itu adalah seorang calon pelamar pekerjaan yang seharusnya hadir tepat waktu ketika interview dan berpeluang besar mendapatkan pekerjaan menjadi gagal dikarenakan terlambat—kalah dengan kereta.

Contoh lain apabila yang berada di dalam kereta tersebut adalah peserta ujian yang pada akhirnya tidak dapat mengikuti ujian dan tidak lulus karena dikalahkan oleh kereta yang tertahan dan hanya mendapatkan keterangan maaf oleh announcer melalui intercomm. Estimasi waktu yang diperkirakan setiap orang ketika berangkat menjadi gagal seketika karena dikalahkan oleh kereta.

wmg7kF-Ow_mBm7oh2jL7_2oJueT6E2NS.jpg

“Jangankan surat permohonan maaf ketika terlambat, tatap muka untuk meminta maaf pun tidak ada ketika kereta tertahan. Mereka pikir saya dapat memaafkan apabila hanya diumumkan melalui intercomm? Nada meminta maafnya pun tidak selayaknya orang yang meminta maaf,” ujar salah seorang pengguna KRL Commuterline ketika ditanyakan soal keterlambatan yang disebabkan oleh kereta tertahan.

“Andai bisa keluar dari kereta yang tertahan dan berlari menuju ke stasiun selanjutnya untuk transit pasti akan saya lakukan dibanding harus menunggu keterlambatan hampir setengah jam lebih di dalam gerbong,” ujar salah seorang pengguna KRL Commuterline yang lainnya.

Memang waktu tunggu ketika kereta tertahan bervariasi, dapat sebentar hanya beberapa menit saja, tetapi juga dapat mencapai hampir satu jam. Penyebab kereta yang tertahan dikabarkan karena pergantian masuk menuju ke stasiun selanjutnya.

Untuk kasus kereta yang sering tertahan di stasiun Manggarai, dilansir dari berita kompas.com disebabkan oleh pembangunan yang dilakukan di stasiun tersebut (Sari 2016a). Bagaimana dengan stasiun lainnya? Apakah juga dikarenakan pembangunan?

Ditambah lagi dengan jumlah unit kereta yang akan terus bertambah 100-160 unit setiap tahunnya. Benar sangat berguna untuk menghadapi target pengguna 1,2 juta per hari dengan jadwal perjalanan yang ditargetkan bertambah menjadi 1.400 perjalanan per hari. 

Bagaimana penyesuaian jadwal perjalanan dengan yang telah ada apakah jadwal keberangkatannya akan didekatkan atau dijadikan rangkaian jumlah gerbong menjadi 12 atau lebih kereta?

Apabila dikaji, opsi pertama yaitu perdekat jadwal keberangkatan memiliki kelebihan sebab dengan jadwal keberangkatan yang didekatkan, pengguna akan menjadi lebih puas dengan pelayanan KRL Commuterline karena tidak perlu menunggu lebih lama di stasiun apabila mengalami ketertinggalan kereta sebelumnya.

Kelemahannya, kemungkinan besar tertumpuknya antrean kereta apabila masalah kereta tertahan masih dibudayakan akan menjadi lebih banyak dan lebih horor lagi dibanding sekarang.

Opsi kedua yaitu dijadikannya rangkaian jumlah gerbong menjadi 12 atau lebih kereta mungkin lebih dapat dipergunakan sebab jarak keberangkatan yang masih dapat diukur antarrangkaian sehingga angka tertahan tidak bertambah. Namun apakah seluruh stasiun telah memiliki panjang yang sesuai dengan kereta yang memiliki rangkaian 12 atau lebih kereta?

Selanjutnya terkait jumlah pengguna yang di targetkan 1,2 juta pengguna per hari pada tahun 2019 mendatang, dapat dikalkulasikan jumlah manusia rata-rata yang menggunakan KRL Commuterline sekali perjalanan dalam tahun 2016 lalu sekitar 1.018 orang dalam satu rangkaian.

Artinya dalam satu gerbong kereta kira-kira terdiri dari 100 orang penumpang apabila penumpang dianggap merata. PT. KCJ mengatakan bahwa idealnya dalam satu gerbong kereta maksimal terdiri dari 250 penumpang, 60 diantaranya penumpang duduk.(Rudi 2015)

9GEaqT0CGw72JnmFl6nJs8AHhHeZHh1X.jpeg

Namun pada kenyataannya, sering terjadi penumpukan penumpang pada jam sibuk berangkat dan pulang kerja yaitu pagi (sekitar 06.00-09.30 WIB) dan sore (sekitar 17.30-20.00 WIB)  ketika kapasitas kereta melebih kapasitas idealnya.

Memang hal tersebut dikarenakan faktor pengguna yang tidak mempedulikan keselamatan dirinya, tetapi juga tata kelola stasiun yang tidak menjaga keselamatan penumpang yang lebih mementingkan waktu dibanding keselamatan diri.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa salah satu nilai utama yang dimiliki PT. KCJ yaitu keselamatan—penciptaan sistem kerja yang mempunyai potensi risiko rendah terhadap kecelakaan dan menjaga aset perusahaan dari kemungkinan terjadi kerugian—belum terlaksana sebab penumpang yang berdesakkan di dalam kereta memiliki risiko besar terjadinya kematian dan/atau tindak kejahatan juga dengan kelebihan muatan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan serta kerugian aset perusahaan.

Dengan kondisi berdesakkan begitupun kereta masih terus mengalami keterlambatan atau yang disebut tertahan. Bayangkan nasib penumpang yang berdesakkan dengan penumpang lain ditambah dengan kereta yang tertahan beberapa lama. Perasaan kesal dan ingin mengumpat pun tidak jarang terjadi.

Menghadapi kondisi-kondisi tersebut di atas dengan banyaknya kemungkinan yang akan terjadi seiring dengan langkah yang diambil, saya menyarankan untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan jalur KRL Parung Panjang-Citayam agar tidak hanya menjadi sebuah wacana.

Dilansir dari berita okezone.com, pembangunan jalur baru ini memang sudah direncanakan namun masih membutuhkan proses panjang sebab belum dilakukan pembuatan trase karena memerlukan izin dari pemerintah daerah setempat. (Jurnalis 2017)

Pembangunan jalur baru tersebut merupakan sebuah solusi tepat melihat bertambahnya target yang diinginkan seperti jumlah pengguna 1,2 juta dengan bertambahnya target jadwal perjalanan menjadi 1.400 per harinya.

Selain mengurangi jumlah ketertahanan kereta yang masuk ke stasiun arah Jakarta—sebab pengguna KRL Commuterline di dominasi oleh pengguna yang menuju stasiun Bogor dan Jakarta—persebaran  penumpang pun menjadi lebih merata karena tidak semua menumpuk di stasiun Tanah Abang dan stasiun Manggarai.

Pengguna yang menuju ke arah Bogor dapat menggunakan jalur KRL baru ini tanpa harus memutar ke arah Jakarta dan pengguna yang ingin menuju ke arah Jakarta dapat tenang pula karena tidak harus berebut dengan pengguna yang ingin ke Bogor sehingga keselamatan penumpang menjadi lebih diutamakan.

Meskipun terlihat tidak memungkinkan dan membutuhkan biaya yang sangat besar, proyek ini merupakan proyek yang tepat. Budaya 3R (Respect to Time, Respect to People dan Respect to System) pun juga dapat dilaksanakan.

Keselamatan penumpang lebih diutamakan, KRL Commuterline tidak hanya memiliki nilai efektivitas namun juga lebih efisien, otomatis dapat meningkatkan kenyamanan dan kecintaan pengguna KRL Commuterline pada PT. KCJ.

Perubahan besar akan bermanfaat lebih lama meskipun memiliki proses yang terkadang lama, sedangkan perubahan akan dirasakan sementara saja hanya karena dipikirkan secara instan.

DAFTAR RUJUKAN

Jurnalis, 2017. Asik, Jalur KRL Parung Panjang-Citayam Segera Dibangun. Koran Sindo. Available at: http://economy.okezone.com/read/2017/02/07/320/1611379/asik-jalur-krl-parung-panjang-citayam-segera-dibangun.
PT. KAI Commuter Jabodetabek, 2015. Laporan Tahunan - Best Choice for Urban Transport,
Rudi, A., 2015. Agar Nyaman, Berapa Jumlah Ideal Penumpang di dalam Gerbong KRL? kompas.com. Available at: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/12/02/15071151/Agar.Nyaman.Berapa.Jumlah.Ideal.Penumpang.di.dalam.Gerbong.KRL.
Sari, N., 2016a. Pembangunan Stasiun Manggarai Jadi Sebab Keterlambatan Perjalanan KRL. kompas.com. Available at: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/06/20/20280481/pembangunan.stasiun.manggarai.jadi.sebab.keterlambatan.perjalanan.krl
Sari, N., 2016b. PT KCJ Optimistis Capai Target 1,2 Penumpang KRL Per Hari pada 2019. kompas.com. Available at: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/06/20/21395891/pt.kcj.optimistis.capai.target.1.2.penumpang.krl.per.hari.pada.2019.

590 Views

Author Overview


Diniati P Yunitasari
Kepala Biro Multimedia BEM IM FKM UI 2017