selasar-loader

Rasionalitas Pemilih: Menelaah Downs, Menyanggah Burhan

LINE it!
Iqbal Farabi
Iqbal Farabi
Bekerja di Starqle Indonesia. I write codes for a living. Mostly.
Journal Mar 13, 2017

1zG_GMvufT6rhExXsy-UZ4sCuMAIfjx-.jpg

Pemilih via Qureta

Beberapa hari setelah Pilkada DKI putaran pertama selesai dilaksanakan, Burhanuddin Muhtadi merilis tulisan Rasionalitas Pemilih Jakarta di harian Kompas. Pada tulisan tersebut, Burhan mengulas hasil Pilkada DKI 2017 yang menurut hasil quick count berbagai lembaga survei memprediksikan pasangan petahana mendapat perolehan suara sebesar sekitar 43%.

Terhadap hasil tersebut, Burhan menyatakan, "Menurut data longitudinal Indikator Politik Indonesia, rata-rata kepuasan publik terhadap Ahok mencapai 73,4 persen. Masih banyak proporsi pemilih yang puas atas kinerja Ahok, tetapi tidak sudi memilihnya. Jika benar warga Jakarta rasional, seharusnya Ahok minimal mengantongi suara 70 persen sesuai dengan proporsi warga yang puas terhadap kinerjanya. Dengan kata lain, perolehan suara ketiga pasangan calon di Jakarta tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh faktor rasionalitas".

Pernyataan mengenai rasionalitas inilah yang kemudian menimbulkan berbagai reaksi, baik pro maupun kontra. Saya sendiri merasa ada yang janggal dengan pernyataan tersebut. Namun sebagai seorang yang mengaku berpendidikan, tidak akademis jika saya menyanggah pernyataan Burhan dengan mengandalkan perasaan saja.

Karena itulah saya kemudian berupaya menelaah paper Anthony Downs berjudul "An Economic Theory of Political Action in Democracy" yang dijadikan dasar teori mengenai rasionalitas perilaku pemilih oleh Burhan. Tulisan yang sedang kawan-kawan baca saat ini adalah hasil ngaji saya terhadap paper tersebut.

Dunia yang Sempurna

Pada paper-nya, Downs mengulas mengenai motif ekonomi di balik perilaku politik dalam sistem demokrasi. Hipotesis utama pada paper Downs sebenarnya berfokus pada partai politik.

Hipotesis yang diajukan Downs adalah bahwa aktivitas partai politik merancang dan mengeksekusi berbagai kebijakan publik sebenarnya hanyalah hasil sampingan. Motif utama partai politik adalah untuk memperoleh jabatan publik dan segala benefit yang menyertai jabatan publik tersebut: pendapatan, kekuasaan dan prestise.

Mungkin kawan-kawan sekarang bertanya-tanya dengan sedikit tidak sabar, "Oke, terus apa hubungannya sama rasionalitas pemilih?" Dari hipotesisnya, Downs kemudian mengajukan dua model untuk diulas pada paper-nya.

Model pertama adalah model ideal. Dunia yang sempurna di mana semua pemilih well-informed dan penyebaran informasi sangat mudah dan murah. Dalam model ini, Downs mengajukan beberapa proposisi. Salah satu proposisi tersebut adalah mengenai perilaku pemilih (voters).

Pada proposisi Downs, pemilih memberikan suara berdasarkan perubahan utility income yang disebabkan oleh aktivitas pemerintahan dan alternatif yang ditawarkan oleh oposisi.

Downs kemudian mengelaborasi proposisi ini lebih lanjut sebagai berikut,

Because the citizens of our model democracy are rational, each of them views elections strictly as means of selecting the government most beneficial to him. Each citizen estimates the utility income from government action he expects each party would provide him if it were in power in the forthcoming election period, that is, he first estimates the utility in- come Party A would provide him, then the income Party B would provide, and so on.

He votes for whatever party he believes would provide him with the highest utility income from government action. The primary factor influencing his estimate of each party's future performance is not its campaign promises about the future but its performance during the period just ending. Thus his voting decision is based on a comparison of the utility income he actually received during this period from the actions of the incumbent party and those he believes he would have received had each of the opposition parties been in power.

Berdasarkan kutipan di atas, Burhan memang tidak salah. Menurut Downs, performa petahana memang merupakan faktor yang sentral dalam pertimbangan pemilih yang rasional. Hanya saja, Downs juga menyatakan bahwa tawaran alternatif dari oposisi merupakan pertimbangan yang tak kalah penting bagi pemilih rasional. Sayangnya bagian ini tidak dibahas sama sekali oleh Burhan dalam tulisannya.

Satisfaction vs Loyalty

Dalam dunia bisnis, uraian Downs mengenai hubungan antara kinerja petahana dengan tawaran alternatif dari oposisi terhadap perilaku pemilih mengingatkan saya pada konsep kepuasan pembeli (customer satisfaction) dan loyalitas pembeli (customer loyalty). Kedua konsep ini sering disalahpahami sebagai konsep yang sama.

Secara umum, tingkat kepuasan dan loyalitas pembeli memang berelasi positif. Pembeli yang merasa puas terhadap suatu produk cenderung akan loyal terhadap produk tersebut.

Hanya saja, tingkat kepuasan pembeli tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat loyalitasnya. Menurut Frederick F. Reichheld dalam paper-nya, "Learning from Customer Defections" (Harvard Business Review, 1996), sebanyak 60% hingga 80% pembeli yang berpindah ke produk kompetitor menyatakan puas atau sangat puas terhadap produk yang digunakan sebelumnya. Apa sebabnya?

Thomas O. Jones dan W. Earl Sasser Jr. pada paper-nya, "Why Satisfied Customers Defect"(Harvard Business Review, 1995), menemukan adanya pengaruh tingkat kompetisi pasar terhadap hubungan antara tingkat kepuasan pembeli dan tingkat loyalitasnya.

How Competition Affect Satisfaction-Loyalty Relationship

Seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, tingkat kompetisi berpengaruh besar terhadap hubungan antara tingkat kepuasan pembeli dengan tingkat loyalitasnya. Pada pasar yang tidak kompetitif, pembeli yang tidak terlalu puas pada sebuah produk pun akan cenderung loyal karena tidak adanya pilihan lain.

Sebaliknya pada pasar yang sangat kompetitif, pembeli yang cukup puas pada sebuah produk pun bisa beralih ke produk lain yang (baik secara faktual maupun dipersepsikan) memiliki nilai lebih.

Demikian juga dalam konteks Pilkada DKI. Hubungan antara tingkat kepuasan pemilih terhadap petahana dengan loyalitasnya untuk memilih kembali petahana sangat dipengaruhi oleh kompetitor yang ada.

Poin ini sebenarnya disadari penuh terutama oleh tim pemenangan dan lingkaran dalam pendukung petahana. Kalau kawan-kawan jeli mengamati narasi akun-akun utama pendukung petahana di media sosial, kawan-kawan akan bisa melihat pola-pola serangan terhadap calon kompetitor yang dipersepsikan mampu menyaingi petahana.

Upaya mematikan kompetisi ini sudah dilakukan sejak Pilkada DKI belum resmi bergulir. Setiap ada nama yang memiliki tingkat popularitas tinggi seperti Risma atau Ridwan Kamil diwacanakan sebagai calon penantang petahana, akun-akun utama pendukung petahana segera merisak (mem-bully) nama-nama tersebut di berbagai media sosial.

Pada akhirnya dua nama yang muncul sebagai kompetitor terhadap petahana sama sekali tidak diduga-duga: AgusHarimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan. Sampai satu minggu sebelum penutupan pendaftaran pasangan calon peserta Pilkada DKI, tidak banyak yang mengira kalau akhirnya Agus dan Anies akan menjadi calon gubernur penantang petahana.

Korelasi vs Kausalitas

Berdasarkan rujukan-rujukan tadi, menurut saya sangat keliru kalau Burhan menyimpulkan bahwa suara petahana yang hanya 43% sebagai cermin tidak rasionalnya para pemilih yang tidak memilih petahana. Ditambah dengan diksi-diksi semacam "isu-isu primordial" atau "isu-isu abad pertengahan", kesimpulan ini pada akhirnya hanya akan mempromosikan false categorisation.

Indikator

Apalagi jika kemudian Burhan menisbatkan fenomena ini semata-mata hanya kepada efek Al Maidah 51. Argumen Burhan, 51,4% pemilih yang menganggap Ahok off-side dalam kasus Al Maidah 51 memilih Anies.

Argumen ini berbahaya karena akan memunculkan respon balik yang berpotensi sama kelirunya: jika melihat data dukungan berdasarkan sosio-demografi dari Indikator di atas, apakah pemilih dengan demografi suku atau agama tertentu memilih petahana berdasarkan alasan primordial juga?

Baik argumen Burhan maupun argumen yang saya contohkan barusan pada akhirnya hanya akan menghasilkan diskursus yang tidak produktif dan memecah belah masyarakat.

Padahal boleh jadi hubungan antara isu-isu yang tersebut dengan tingkat keterpilihan petahana maupun kompetitornya adalah hubungan korelasi dan bukan kausalitas.

Sementara, secara akademis ada penjelasan yang lebih baik mengenai jebloknya tingkat customer loyalty terhadap petahana dibandingkan tingkat customer satisfaction-nya: adanya kompetitor yang menawarkan nilai lebih.

Nilai Lebih

Tentu kawan-kawan kemudian bertanya, "oke, teorinya emang gitu, emang apa gitu nilai lebih yang ditawarkan sama kompetitor petahana?"

Berdasarkan tulisan Eep S. Fatah yang berjudul "Menangkap Angin Populisme di Jakarta", ternyata menurut Polmark (lembaga survey dan konsultan politik yang dipimpin Eep), "survei-survei preferensi pemilih Jakarta menjelang Pilkada 2017 menemukan data yang relatif konsisten tentang ini.

Warga berpindah perhatian dari persoalan-persoalan besar yang di masa lalu jadi jualan utama kampanye: penanganan kemacetan dan banjir. Pusat perhatian saat ini lebih tertuju ke soal yang lebih dekat dan sehari-hari: lapangan pekerjaan, pendidikan, dan biaya hidup".

Pada tulisan ini saya hanya akan mengulas mengenai Anies-Sandi saja sebagai kompetitor petahana yang tersisa di putaran kedua. Sebagai pasangan yang menggunakan jasa Eep sebagai konsultan, tak mengherankan kalau kemudian program-program Anies-Sandi berorientasi pada ketiga isu di atas dengan program-program seperti OK OCEKJP PlusOK Otrip, dan Program Hunian Terjangkan dan DP 0 Rupiah.

Saya coba ulas salah satunya. Program OK OCE, misalnya. Sebagai penantang petahana, Anies-Sandi perlu "menunjukkan bukti" bahwa mereka bisa memberi nilai lebih. Oleh karena itu tim Anies-Sandi melakukan program pembinaan kewirausahaan ini secara konsisten sejak awal kampanye.

Hasilnya, menurut Sandiaga Uno, ribuan orang sudah tergabung dalam jaringan pengusaha OK OCE. Meski bagi pendukung fanatik petahana program ini barangkali hanya menjadi bahan olok-olok, program OK OCE toh sudah bisa menghasilkan success story dari pesertanya, Hartono dengan brand sepatu 910 miliknya dan Winda dengan usaha laundry-nya

Appeal dari program ini makin tidak bisa dipungkiri jika kita melihat petahana pun sampai mengklaim Jakarta Creative Hub sebagai wujud nyata program OK OCE ketika meresmikan gedung co-working space tersebut.

Kepemilikan Rumah

Demikian juga dengan program-program lain yang saya sebut di atas tadi. Dalam isu mengenai hunian terjangkau, misalnya, rendahnya tingkat kepemilikan rumah di DKI Jakarta adalah masalah nyata yang dirasakan banyak orang.

Di luar bubble fanatisme pendukung petahana, banyak yang sungguh-sungguh tertarik ketika Anies-Sandi datang dengan program hunian terjangkau dalam bentuk program DP 0 rupiah.

Begitu pula dengan isu tentang pendidikan. Di luar trending topic di media sosial, ada 32% anak usia sekolah menengah atas yang putus sekolah sehingga tidak eligible untuk menerima program KJP dengan model yang diterapkan oleh petahana saat ini.

KJP Plus kemudian dihadirkan sebagai alternatif program yang tidak hanya lebih luas cakupan dan besaran manfaatnya, tapi juga memiliki perspektif yang mempercayai penerima manfaaat.

Exit Poll

Apakah berarti tidak ada pemilih yang memilih berdasarkan faktor agama? Temuan exit poll SMRC menyatakan hanya 17% pemilih Agus-Sylvi  (sekitar 3% dari total pemilih putaran pertama) dan hanya 20,3% pemilih Anies Sandi (sekitar 8% dari total pemilih) yang memilih berdasarkan alasan yang berkaitan dengan agama. Kalau dijumlahkan, hanya 11% dari total pemilih non petahana yang memilih berdasarkan alasan agama.

Sisanya? Masih menurut exit poll SMRC, persentase terbesar pemilih Agus-Sylvi (sebesar 27,4% dari pemilih Agus-Sylvi) dan Anies-Sandi (sebesar 39%  dari pemilih Anies-Sandi) memberikan suara dengan alasan program yang meyakinkan.

Ada juga alasan-alasan lain yang masuk sebagai lima besar alasan para pemilih Agus-Sylvi dan Anies-Sandi memberikan suaranya pada kedua pasang calon tersebut.

Tiga alasan yang belum saya sebutkan adalah: karena pilihan keluarga, dianggap memperjuangkan rakyat kecil dan kampanyenya paling diingat. Ketiga alasan ini (beserta alasan program yang meyakinkan dan agama) konsisten muncul sebagai 5 besar alasan memilih pada pemilih pasangan Agus-Sylvi dan Anies Sandi.

Di putaran kedua, tentu pilihan ada pada kita semua. Temuan SMRC ini perlu dicatat terutama oleh kawan-kawan yang terlibat aktif dalam mendukung para kandidat.

Apakah kita mau terus memainkan isu-isu politik identitas? Atau kita mau mempromosikan program-program kandidat yang kita dukung agar menjadi meyakinkan, menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada rakyat kecil dan diingat oleh pemilih?

Apakah kita mau terus bergelut dengan isu yang memecah belah dan mengkotak-kotakan masyarakat seperti "saya rasional, pemilih kubu sana bodoh", "saya muslim sejati, pemilih kubu sana munafik", atau "saya bhineka, pemilih kubu sana intoleran"? Atau kita mau beranjak dan fokus membahas kandidat mana yang program dan kebijakannya akan memberi manfaat terbesar bagi kita selaku warga?

558 Views

Author Overview


Iqbal Farabi
Bekerja di Starqle Indonesia. I write codes for a living. Mostly.