selasar-loader

Demam Korea di Kalangan Masyarakat

LINE it!
Bob Aditya Hidayat
Bob Aditya Hidayat
Ilmu Komunikasi UI 2014 | Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 Regional Jakarta Putra
Journal Feb 27, 2017

YWEtFG3BdW_hQ1GntODFZtzJU5NI-cRg.jpg

Drama Korea via Brilio.net

Demam Korea merupakan suatu fenomena yang telah menjadi tren di Indonesia, khususnya di kalangan remaja Indonesia. Ketertarikan masyarakat akan budaya Korea membuat gaya hidup sebagian masyarakat cenderung meniru atau mengikuti budaya tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari mulai banyaknya pakaian ala Korea, restoran Korea, dan lain-lain. Yang paling banyak diminati dari masuknya budaya Korea ke Indonesia adalah K-Pop atau Korean Pop yang merupakan genre musik dari Korea. Korean pop inilah yang kemudian menyebabkan peningkatan kehadiran dari boyband dan girlband di Indonesia.

Melihat budaya Korea banyak disukai oleh masyarakat, maka akhirnya industri mediapun menjadi ikut-ikutan dalam menayangkan atau membuat produk yang bernapaskan Korea. Seperti ajang pencarian boyband dan girlband Indonesia, dan lain sebagainya.

Terdapat dua hal—yang berasal dari dua area yang berbeda—yang akan dibutuhkan ketika kita ingin mencapai perspektif global pada saat mempelajari media.

Pertama adalah perspektif internasional terhadap ‘dunia media’, artinya kita terbuka untuk mempelajari media di berbagai negara lain selain negara kita. Kedua adalah pertimbangan teori media global, hal ini membutuhkan pemahaman tentang di mana kekuatan pasar kapitalis, perubahan perilaku penonton, dan teknologi baru yang digabungkan untuk meningkatkan produksi media internasional, distribusi, dan penerimaan.

Walupun berasal dari area yang berbeda, dua hal ini dibawa bersama-sama oleh fokus pada isu media dan identitas.

Fenomena ini sangat erat hubungannya dengan globalisasi. Para cendekiawan Barat mengatakan bahwa globalisasi merupakan suatu proses kehidupan yang serba luas, tidak terbatas, dan merangkum segala aspek kehidupan, seperti politik, sosial, dan ekonomi yang dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia di dunia.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masuknya budaya Korea ke Indonesia adalah hal yang wajar. Karena adanya teori globalisasi yang sangat memungkinkan kebudayaan suatu negara untuk masuk ke negara lain.

Namun, hal yang harus kita lihat dan pelajari adalah apakah dampak dari impor budaya ini membawa dampak positif atau negatif. Apakah demam Korea ini membuat identitas dari bangsa berubah atau tidak.

cpJ7jQRYtufCbo-j7NBdgaJZK7HXaoBL.jpg

Cerita mengenai globalisasi, ironisnya, mengenai kepemilikan yang terkonsentrasi, dengan penyebaran media yang berskala internasional seperti sekarang ini, semakin sedikit negara yang mendominasi industri media.  Karena mengambil kesimpulan darimana suatu produk media berasal sangatlah sulit di era konvergensi global ini.

Industri media yang mulai mengikuti arus dalam pembuatan produk bernapaskan Korea, tidak terlepas dari kapitalisme media. Media melihat fenomena ini akan memberikan keuntungan yang sangat besar dalam industrinya, oleh karena itu industri media memutuskan untuk mengikuti tren ini.

Pertimbangan mengenai teori media global membutuhkan pemahaman bagaimana pasar kapitalis memaksa dan mengubah kebiasaan penonton dan teknologi baru digabungkan untuk meningkatkan produksi, distribusi, dan penerimaan media internasional.

Kapitalisasi media ini dapat mengubah kebiasaan dari masyarakat sehingga masyarakat akan sering melihat produk yang berbau Korea. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat jadi terinternalisasi nilai-nilai dari kebudayaan Korea dan secara tidak langsung mengikuti kebudayaan Korea. Hal ini dikhawatirkan menyebabkan identitas dari masyarakat Indonesia menjadi berubah.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membuat masyarakat semakin mudah dalam mengikuti budaya lain tanpa harus berhadapan secara fisik dengan negara tersebut.

Meskipun sebagian masyarakat pecinta budaya Korea tidak langsung ke Korea untuk merasakan langsung kebudayaan Korea, melalui internet atau media lainnya masyarakat telah bisa merasakan dan mencintai kebudayaan tersebut.

Inilah yang dinamakan dengan globalisasi media yang sangat mudha mempengaruhi masyarakat. Terlebih lagi masyarakat Indonesia yang penggunaan internetnya cukup tinggi dan cukup konsumtif akan hal-hal yang baru.

Sikap mudah menerima hal-hal baru ini bisa menyebabkan identitas masyarakat Indonesia yang mulai mengikuti kebudayaan-kebudayaan negar lain, termasuk Korea.

Pada dasarnya media tidak menentukan identitas kita, tetapi media memainkan peran serta berbagai bentuk pembelajaran yang mempelajari bagaimana manusia menegosiasikan identitasnya menggunakan berbagai metode untuk menghubungkan media pada lingkup yang lebih luas dari kebudayaan  individu, lokal, kelompok, nasional, dan global.

Ditambah lagi, terdapat teori serta riset yang baru-baru ini membahas tentang kemungkinan adanya kegiatan yang tidak dikenal dan “playful” identitas yang ada di lingkup online dan dunia virtual, hal ini menjadi penting untuk dikaji.

Berkaitan dengan demam Korea, semakin seringnya masyarakat mengkonsumsi kebudayaan ini melalui media, kemungkinan pergesaran identitas masyarakatpun akan semakin tinggi karena mulai mengikuti gaya hidup dari kebudayaan tersebut.

Konsep lain yang berhubungan dengan konsep ini adalah glokalisasi. “Glokalisasi adalah budaya luar yang dilokalkan” (McQuail, 2010). Menurut Trijono dalam Duijah (2007:112), glokalisasi adalah gabungan dari globalisasi dan lokalisasi, yang di dalamnya unsur budaya lokal dan global bercampur menjadi satu.

Glokalisasi kebudayaa Korea pernah terjadi di Indonesia, yaitu salah satunya sinetron ‘Kau yang Berasal dari Bintang’ yang ditayangkan di RCTI merupakan peniruan dari drama Korea ‘Man From The Stars’. Sinetron ini hampir meniru semua alur cerita yang ada di drama tersebut.

Dengan kata lain, sinetron ini adalah terjemahan dari Korea ke Indonesia. Semakin lama glokalisasi ini semakin tidak wajar karena sangat melunturkan identitas bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indonesia lebih bangga mempopulerkan kebudayaan dari negara lain dari kebudayaannya sendiri.

Di sisi lain, ada catatan mengenai hibriditas budaya dan ‘glocalized’ media yang lebih penting, dimana kita mengkombinasi gaya budaya, mencampurkan lokal dan global sehingga menjadi lebih kosmopolitan—pandangan tentang 'glocal' ini melihat globalisasi sebagai kekuatan yang baik dalam pengembangan keanekaragaman budaya. Contoh lain dari glokalisasi adalah mulai banyaknya boyband dan girlband di Indonesia.

Musik di Indonesia mulai mengikuti tren Korea dan membuat banyaknya lahir aliran musik yang meniru Korea. Gaya berpakaian dan gaya pembuatan musikpun hampir meniru Korea secara keseluruhan. Hal ini semakin menunjukkan memudarnya identitas dari bangsa Indonesia.

Sejauh pembahasan dari penulisan ini, cukup banyak dampak negatif dari pengaruh globalisasi media terhadap identitas dari masyarakat Indonesia. Kuatnya pengaruh dari media dalam mempengaruhi khalayak membuat semakin kuatnya pengaruh kebudayaan Korea ini terhadap pergeseran identitas masyarakat Indonesia.

Diperlukan adanya penyaringan dalam media agar tidak membentuk khalayak yang mengikuti suatu budaya. Tanggung jawab dari industri seharusnya tidak hanya mencari keuntungan semata akan tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai dari budaya yang ada.

Pengaruh globalisasi media sangat memberikan keuntungan terhadap para pemilik media. Media di Indonesia dilihat sebagai kepanjangan tangan dari kapitalis media.

Konglomerasi kepemilikan media membuat industri media menampilkan produk yang hampir sama di setiap media yang mereka miliki. Tentunya mereka akan menampilkan hal-hal yang membawa keuntungan bagi mereka dan menjadi tren di dalam masyarakat. Inilah yang disebutkan dengan kapitalisme media.

Pada akhirnya, karena semua media menapilkan kebudayaan Korea maka masyarakat akan mengikuti hal ini dan identitas dari masyarakatpun akan mengikuti kebudayaan ini.

Kesimpulannya globalisasi dan kapitalisme budaya saling berhubungan dan dapat menyebabkan pembentukan identitas dalam masyarakat.

870 Views