selasar-loader

Mendaki Gunung: Pembelajaran dan Pendewasaan di Alam

LINE it!
Reni Anggraini
Reni Anggraini
Pelayan Ummat
Journal Feb 13, 2017

_7eK18nr2f-8Fr2rr-Maxztq9ge4npG7.jpg

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah hal yang cukup mengerikan. Berjalan dengan beban yang cukup berat, menempuh medan yang terjal dimalam hari, melangkah ribuan meter, berkemah dan lainnya.

Namun, bagi sebagian orang, naik gunung merupakan ajang belajar di alam, bekerja sama, melatih diri dan kepekaan. Tak sedikit juga yang mendefinisikan Naik gunung sebagai media pendewasaan diri melalui alam.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan ketika hendak mendaki gunung, mulai dari persiapan, perjalanan, hingga turun kembali.

Persiapan. Persiapan yang dilakukan sebelum naik gunung berupa perhitungan budget, manajemen diri dan logistik, koordinasi dengan teman seperjalanan, hingga mengestimasikan lamanya waktu perjalanan.

Persiapan fisik juga tak kalah penting untuk dilakukan, lari sore dan olahraga ringan yang teratur dapat memicu tubuh untuk menjalankan aktivitas metabolisme dengan lebih baik.

Perjalanan. Perjalanan menuju pendakian membutuhkan kerja sama antar tim, koordinasi yang baik, komunikasi yang jelas, dan pembagian tugas yang adil. Masing-masing anggota tim harus saling memahami kebutuhan dan kemampuan dirinya sendiri.

Hingga sampai di lokasi, sebuah tim harus tetap berjalan bersama dan memutuskan untuk berkemah atau sejenak rehat di Base Camp. Sebuah tim yang terdiri dari perempuan dan laki-laki harus memiliki pemandu utama jalannya pendakian.

ScQOG7xRzVxv_Ledzzbg-RElYzUMM6va.jpg

Hal ini dilakukan untuk memudahkan komunikasi, dan menerapkan sistem saat pendakian, apakah sistem yang digunakan adalah sistem komando atau koordinasi.

Pendakian. Proses pendakian adalah proses inti dari sebuah perjalanan mendaki gunung. Umumnya, para pendaki akan membuat urutan tiap anggota yang mendaki, misalnya Ketua tim yang paling mengerti medan pendakian berada di posisi terdepan, diikuti oleh anggota perempuan, dan kemudian dijaga oleh laki-laki dalam tim tersebut.

Proses pendakian dapat dikategorikan dalam dua sistem waktu. Pendakian di malam hari dan pendakian di siang hari. Pendakian di malam hari harus dilengkapi dengan penerangan yang cukup.

Pendaki yang memutuskan mendaki di malam hari akan lebih berhemat dengan air minum yang dibawa, selain itu, pendakian di malam hari yang tidak melihat puncak gunung membuat para pendaki tidak tergesa-gesa untuk mencapai puncak sehingga tidak mempengaruhi kondisi psikis.  

Selain itu, Pendakian di siang hari tidak membutuhkan penerangan lampu, karena kondisinya sudah cukup terang, pendakian disiang hari membutuhkan persediaan air minum yang cukup dikarenakan tubuh memerlukan asupan air lebih sebagai proses metabolisme.

xkhvhuZTvqhjg2Pxb_v9xdjzq6rPbrwr.jpg

Pendakian baik pada malam atau siang hari membutuhkan semangat dan tekad yang kuat untuk mengalahkan rasa ingin turun atau rasa menyerah. Karena ketika sudah sampai di puncak, maka rasa lelah selama proses pendakian terbayar lunas dengan pemandangan yang indah ciptaan-Nya.

Beberapa pendaki memilih untuk berkemah di puncak gunung sembari menikmati keagungan Karya-Nya. Beberapa pendaki memilih untuk berfoto secukupnya, kemudian bersegera untuk turun.

Mendaki gunung bukanlah ajang gengsi-gengsian, ajang keren-kerenan, ada kerja sama tim, ada kerja keras, ada rasa sabar dalam tiap prosesnya. Naik gunung bukan sekedar sampai di puncak, karena pendaki sejati akan memaknai bahwa setiap detail perjalanan nya adalah tentang mengalahkan diri sendiri, menaklukan keegoisan diri, dan memetik hikmah di setiap kejadian yang  ia dapatkan bersama tim pendakian.

Gunung mendewasakan bagi siapa saja yang ingin didewasakan.

 

712 Views