selasar-loader

Khilaf Anies di Hadapan FPI

LINE it!
Yurgen Alifia
Yurgen Alifia
Master Candidate of Public Policy at University of Oxford
Journal Jan 4, 2017

Xy0GCiCf8Mw_p2m-pCXUiQmpcovvGlu4.jpg

Anies di markas FPI via Tribunnews.com

Sebenarnya saya kurang tertarik bicara tentang Pilkada DKI Jakarta di luar program kerja. Mentok-mentok diskusinya tentang hal remeh temeh atau paling balik lagi ke soal identitas agama.

Namun sesekali perlu rasanya melakukan fact check terhadap pernyataan para calon gubernur dan wakil gubernur saat mereka bertemu masyarakat.

Hal ini penting agar kita bisa mengukur integritas, wawasan, dan keseriusan para calon untuk memimpin ibu kota.

Anies Baswedan. Dari sekian perbincangan di media sosial tentang kunjungan Anies ke Petamburan;  ada satu hal yang belum banyak diperbincangkan yaitu pujian Anies terhadap tradisi akademik FPI.

Bukan pujiannya yang menjadi masalah, itu hak setiap orang untuk memuji, tetapi narasi yang dibangun oleh Anies untuk memuji acara diskusi bertajuk “Ideologi Transnasional di Era Globalisasi” yang digelar FPI saat itu.

Anies bicara tentang jurnal bertemakan lobi Yahudi yang ditulis dua ahli ilmu politik di Amerika. Berikut kutipan pidato Anies terkait hal ini:

…tadi disebutnya jamaah universitas terbuka Petamburan, S2. Tadi saya sampaikan sama Habib Rizieq, bib ini diskusinya berat betul ini. Berat betul. Paper-nya juga berat tadi pak. Saya sempat lihat panjang paper-nya ini 12 halaman, 6 halaman itu catatan kaki. Kalau di dunia akademik, sebuah paper itu kalau catatan kakinya solid itu artinya paper-nya hampir sulit untuk ditumbangkan. Karena semuanya punya rujukan, kalau koran itu ngga ada rujukannya, dibantah sekali langsung dihapus di online itu, karena tidak punya rujukan. Paper ini saya perhatikan 12 halaman, 6 halaman itu catatan kaki.”

“Bib ini beberapa waktu lalu ada dua orang ahli ilmu politik di Amerika Serikat, yang satu dari Harvard, yang satu dari Chicago, menulis tentang Zionisme. Yang satu dekan sekolah pemerintahan Kennedy School, dekannya. Yang satu adalah maha guru ilmu politik, dua-duanya raksasa di dalam kajian ilmu politik. (Mereka) menulis tentang lobi Yahudi di Amerika. Jumlah papernya itu 42 halaman, eh maaf 84 halaman, 42 halamannya catatan kaki. Kenapa? Karena yang ditulis adalah tentang lobi Yahudi yang pasti akan dicari lubangnya. Dan apa yang terjadi? Saat itu begitu paper-nya keluar, saya minta untuk diterjemahkan, dia (?) bilang jangan diterjemahkan. Nanti kalau sudah jadi buku baru Anda terjemahkan. Baru keluar seminggu saya minta untuk diterjemahkan, 42 halaman.

Tahu Pak apa yang terjadi setelah paper ini keluar? Dua-duanya diberhentikan. Karena ga bisa dibantah papernya, akhirnya jabatannya aja yang dicopot Pak. Dan akhirnya buku itu menjadi buku yang luas, bapak ibu bisa baca buku itu. Itu ditulis oleh dua orang raksasa, yang di sana tidak terbendung. Jadi ini (paper di FPI) kalau ada yang mau bantah harus pikir dua tiga kali Pak ini

Saya punya tiga kritik untuk Anies:

1. Paper yang solid

Awam saya, sebuah makalah sulit ditumbangkan bukan soal catatan kakinya panjang atau tidak. Ini soal argumentasi dan pembuktian yang disampaikan di dalam makalah.

Secara umum catatan kaki digunakan sebagai pemenuhan kode etik penulisan ilmiah untuk menghindari plagiarisme. Ia bisa digunakan untuk penunjukkan sumber informasi, penjelasan tambahan yang dirasa perlu dan referensi silang.

Celakanya Anies membandingkan makalah dalam acara FPI dengan jurnal ilmiah yang ditulis oleh peneliti di Harvard University dan University of Chicago dalam peer-reviewed journal yang dipublikasikan oleh the Middle East Policy Council (MEPC).

MEPC adalah lembaga riset terkemuka di Amerika Serikat yang mempublikasi jurnal ilmiah  berkaitan dengan peran Paman Sam di Timur Tengah[1].

Jurnal ilmiah lebih kompleks dari sekedar tugas makalah atau esai. Ada berbagai tahapan yang harus dilakukan peneliti agar tulisannya bisa diterbitkan, misalnya di UI, proses sebuah penelitian masuk jurnal ilmiah nasional memakan waktu 3 hingga 12 bulan[2].

Dalam dunia akademik, saya pikir tidak pas menilai tulisan hanya dari jumlah catatan kaki atau dengan mudah menyamakan esai/makalah dengan jurnal ilmiah.

2. “Koran tidak ada rujukannya, dibantah sekali langsung dihapus di online itu, karena tidak punya rujukan”

Entah dari mana memulainya. Sebuah berita (televisi, koran, radio, daring) pasti telah melalui proses jurnalistik mulai dari rapat redaksi, turun lapangan, penulisan/produksi naskah berita, editing hingga akhirnya publikasi.

Di setiap tahapan itu, wartawan selalu menggunakan data rujukan. Misalnya saat penentuan agenda setting, mereka meramu daftar berita “apa yang penting”.

Saat reporter turun lapangan, mereka mencari narasumber (primer, sekunder, tersier) untuk verifikasi dan memperkuat naskah berita.

Begitu pula saat proses penyuntingan, ada proses crosscheck memastikan tidak ada kesalahan penulisan maupun fakta sehingga publikasi berita sukses.

Kesimpulannya, rujukan dalam karya jurnalistik bentuknya bukan catatan kaki, tetapi dia ada di dalam naskah berita. Wartawan selalu mengutip narasumber dalam membangun fakta-fakta dalam berita.

Tentu Anda harus bedakan dengan situs berita abal-abal yang gemar menyebarkan berita palsu demi pemasukan finansial.

3. Cerita tentang Jurnal Lobi Yahudi

Ini adalah kritik utama dalam tulisan saya. Let’s do some fact checking. Yang Anies maksud dalam cerita itu adalah jurnal berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy” yang dipublikasikan tahun 2006; kini jurnal tersebut telah diterbitkan sebagai buku dengan judul yang sama.

Penulisnya adalah Professor Ilmu Politik University of Chicago, John Mearsheimer dan Professor of International Affairs at Harvard Kennedy School (HKS), Stephen Martin Walt.

Ada dua kesalahan fatal dalam cerita yang disampaikan Anies. Pertama, Walt tidak pernah menjabat sebagai dekan HKS atau di kampus mana pun; saat jurnal tersebut diterbitkan, dekan HKS adalah David Ellwood.

Walt pernah menjabat sebagai wakil dekan Departemen Ilmu Sosial di University of Chicago. Bukan Harvard.

Kedua, baik Mearsheimer maupun Walt tidak pernah diberhentikan oleh universitas masing-masing. Anda bisa dengan mudah mencari infromasi ini baik di situs HKS maupun University of Chicago.

Benar, keduanya mendapatkan tekanan setelah menulis jurnal tersebut, tetapi kebanyakan bukan dari dalam kampus melainkan dari gerakan lobi pro Israel di Amerika.

Sebagai wartawan Voice of America (VOA) di Washington DC, saya pernah mewawancarai Mearsheimer (sumber primer) selama kurang lebih satu setengah jam terkait bukunya tersebut.

Saya dibantu oleh wartawan magang dari Korea Selatan, menemui Mearsheimer pada 25 September 2014 di Hotel Dupont Circle, Washington DC. Berikut kutipan wawancaranya; khusus terkait tekanan yang dialami mereka berdua:

Pertanyaan: “Apakah Anda diserang setelah menulis buku ini? Apa yang terjadi?”

Mearsheimer: Sangat penting untuk dicatat baik saya maupun Walt tidak pernah mendapat serangan dari dalam kampus. Kami tidak diserang oleh sesama peneliti atau pimpinan kampus.

Hal ini bukan berarti tidak ada peneliti yang mengkritik tulisan kami; pasti ada; namun kritik dan debat isu-isu kontroversial adalah hal yang biasa dalam dunia akademik.

Memang ada beberapa pihak di kampus yang tidak suka dengan tulisan kami, namun mereka tidak berusaha menjatuhkan reputasi kami. Kami justru diserang di ruang publik.

Lobi pro Israel menyerang kami dan menyebut kami antisemit serta menuduh kami menulis karya ilmiah yang sembrono. Jelas kami diserang oleh mereka. Inilah cara lobi pro Israel menghadapi kritik. Mereka tidak mampu mendebat kami dari sisi fakta dan logika.

Ini mengapa Anda tidak berdebat secara terbuka tentang Israel-Palestina di Amerika Serikat. Karena fakta dan logika merugikan Israel.

Ketika Anda tidak bisa mengalahkan seseorang dengan fakta dan logika, yang Anda lakukan adalah menjatuhkan reputasi mereka.

Kami dan publik secara umum, termasuk banyak warga Yahudi AS, yang kritis terhadap Israel dan mendukung Palestina; akan diserang.

Warga Yahudi AS yang kritis terhadap Israel sering dituding sebagai antisemit, self-hating Jews, bahkan ada yang disingkirkan dari komunitasnya.

Sangat brutal. Inilah modus operandi lobi Israel, lagi-lagi karena mereka tidak bisa berdiskusi berdasarkan fakta dan logika.”

Penutup

Saya ingin berprasangka baik terhadap Anies, mungkin dia sedang khilaf. Saya mafhum bahwa sebagai tamu yang baik, hal pertama yang ingin Anies lakukan adalah menyanjung tuan rumah.

Namun, sebagai tokoh yang pernah aktif di dunia akademik, terlebih pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies tentu harus memberi contoh yang baik saat memberikan informasi ilmiah.

Saya sepakat dengan Anies bahwa buku yang ditulis Mearsheimer dan Walt tersebut sangat perlu dibaca oleh masyarakat yang tertarik dengan peran Israel mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Semoga Anies punya catatan kaki yang lebih solid lagi!

[1] http://mepc.org/
[2]http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/09/09454290/menilik.pengelolaan.jurnal.di.ui

1420 Views

Author Overview


Yurgen Alifia
Master Candidate of Public Policy at University of Oxford