selasar-loader

Mengapa Selasar?

LINE it!
Arfi Bambani
Arfi Bambani
Cofounder dan Chief Content Officer Selasar
Journal Dec 5, 2016

Tidak ada fase yang paling menantang bagi jurnalisme selain masa kini. Berabad-abad pers mendapatkan privilese sebagai penyambung lidah penguasa dan di saat yang sama sebagai pelantang suara rakyat, tetapi kini berada di persimpangan sejarah.

Pers bukan lagi pemain satu-satunya, selain aparatus negara dan partai politik yang bisa menjangkau kekuasaan sekaligus bisa blusukan ke kampung-kampung. Pers bisa jadi Pilar Keempat negara, tetapi kini ada Pilar Kelima.

Pilar kelima itu adalah media sosial. Penguasa dan rakyat kini bisa bercengkerama di dunia maya, di dunia yang datar tanpa hierarki, kadang tanpa basa-basi. Cengkerama bahkan debat terjadi di media sosial. Media sosial pelan-pelan mengisi segala sudut kehidupan manusia.

Anda yang hobi membaca berita lebih memilih mendapatkan berita melalui tautan-tautan yang disebarkan di media sosial. Anda yang hobi foto menggunakan media sosial untuk menyaksikan foto atau mengunggah foto.

Anda juga bisa me-mention penguasa di media sosial, menyuarakan kritik atau pujian. Sebaliknya, penguasa juga bisa menyebarkan gagasan kepada khalayak melalui media sosial.

Dulu, hanya jurnalis dan orang-orang pilihan yang disebut sebagai penulis opini atau kolumnis yang bisa menulis dan tulisannya dibaca oleh penguasa.

Kini siapapun yang bisa menulis dan bahkan ada kemungkinan akan dibaca oleh penguasa karena tersedia berbagai platform user generated content (UGC) seperti blog, Wikipedia, facebook, dan lain-lain. Blogger kini bisa sama berpengaruhnya dengan kolumnis kenamaan atau profesor di perguruan tinggi.

Seorang anggota Dewan Pers sampai gundah dengan fenomena ini. “Presiden sudah beberapa kali mengundang makan blogger ke Istana, namun Dewan Pers tidak pernah diundang,” katanya.

Secara implisit, dia menyebut, Presiden pun kini lebih percaya pada kekuatan blogger, bukan pers. “Makanya kami Dewan Pers tak pernah diundang makan malam di Istana,” ujarnya setengah bercanda.

"Secara implisit, dia menyebut, Presiden pun kini lebih percaya pada kekuatan blogger, bukan pers. “Makanya kami Dewan Pers tak pernah diundang makan malam di Istana,” ujarnya setengah bercanda"

Namun media sosial tidak sempurna. Ada cacat bawaan yakni tidak semua informasi yang beredar bisa dipertanggungjawabkan. Kadang cacat di informasinya, kadang di si pembawa informasinya yang tak bisa diverifikasi keberadaannya.

Pada poin ini, seharusnya jurnalisme menjadi semakin relevan, tetapi sayangnya sebagian pelaku jurnalisme justru terjerembap ke alam media sosial yang bergegas tanpa verifikasi itu.

Tiga Platform Konten

Media sosial merupakan bentuk dari salah satu platform konten di Internet yang jika disederhanakan ada tiga ragamnya. Ragam pertama yang muncul di internet adalah platform konten yang dibuat sendiri (in house publishing).

Platform ini bekerja seperti media cetak, mereka membuat produk konten sendiri dan lalu mempublikasikannya. Banyak pemain jurnalisme digital yang mengklaim canggih atau mutakhir, tetapi sebenarnya dalam kerangka ini masih tradisional karena bekerja laiknya sebuah media cetak.

Platform kedua adalah agregator. Platform ini konsekuensi dari teknologi search atau pencarian. Pelan-pelan raksasa teknologi pencarian seperti Google melakukan agregasi konten berdasarkan jenis kontennya. Untuk berita, ada Google News. Untuk buku, ada Google Books.

Platform ketiga adalah user generated content (UGC) yang menjadi basis bagi media sosial. UGC mengandung intisari internet; membawa sifat kolaborasi dan berbagi sekaligus personal.

Tidak mengherankan jika platform-platform UGC mendominasi ranah digital baik di skala global maupun lokal Indonesia.

Setidaknya, enam dari sepuluh pemain digital terpopuler dunia adalah pemain UGC, sementara empat lainnya adalah agregator yang itu pun tiga di antaranya terafiliasi pada grup Alphabet (Google). Dan media sosial Youtube dan facebook merupakan bentuk UGC paling populer di dunia.

10 Situs Terpopuler Dunia

No

Nama

Jenis Ekosistem Konten

1

Google.com

Agregator

2

Youtube.com

UGC

3

Facebook.com

UGC

4

Baidu.com

Agregator

5

Yahoo.com

Agregator

6

Wikipedia

UGC

7

Google.co.in

Agregator

8

Amazon.com

UGC & In house publishing (e-commerce)

9

Qq.com

UGC

10

Taobao.com

UGC (e-commerce)

Sumber: Alexa.com, per 1 Desember 2016

Facebook adalah contoh terbaik dari UGC, yakni pengguna internet dengan sukarela memproduksi konten, gratis, bahkan tanpa imbalan apapun. Bahkan situs-situs e-commerce yang memfasilitasi pengguna untuk berjualan pun sebenarnya adalah model lain dari UGC.

Para penjual menaruh foto dan informasi soal barang yang dijualnya di platform e-commerce atau e-classified dengan harapan bisa dicari dengan mudah oleh pengguna internet.

Namun ketiga platform ini tidak berarti hidup terpisah-pisah. Agregator hanya bisa hidup jika ada pemain tradisional (in house publisher) atau pemain UGC yang memproduksi konten. Pemain tradisional juga bisa berkelindan dengan pemain UGC untuk meningkatkan penyebaran kontennya.

UC News, sebuah layanan dari raksasa digital dari Cina, Alibaba, misalnya, selain memfasilitasi pencarian dan agregasi konten, kini juga mulai merambah ke ranah UGC.

November 2016 lalu, bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), UC News mengadakan acara kumpul bersama puluhan publisher dan blogger di Pekanbaru.

Secara terbuka, UC News mengajak blogger menulis di platform yang telah mereka siapkan, dengan tawaran pemasaran dan monetisasi yang menggiurkan.

Bagaimana dengan Selasar?

Fenomena menarik terjadi di Indonesia. Situs-situs in house publishing mendominasi daftar terpopuler dikunjungi netizen. Empat dari sepuluh besar adalah portal-portal yang menyajikan konten-konten buatan sendiri. Namun ternyata, jika dicermati, situs seperti detik.com dan Liputan6.com sebenarnya juga memiliki layanan UGC.

Detik.com misalnya, selain memproduksi sendiri kontennya, juga memfasilitasi sejumlah layanan UGC. Salah satu yang populer adalah Detik Travel. Layanan ini menjadi salah satu favorit para pengguna internet untuk menulis kisah-kisah mereka saat berwisata atau berkunjung ke sebuah daerah.

 

10 Situs Terpopuler Indonesia

 

No

Nama

Jenis Ekosistem Konten

1

Google.com

Agregator

2

Google.co.id

Agregator

3

Youtube.com

UGC

4

detik.com

In house publishing, sebagian UGC

5

tribunnews.com

In house publishing

6

Blogspot.co.id

UGC

7

yahoo.com

Agregator

8

tokopedia.com

UGC (e-commerce)

9

Liputan6.com

In house publishing, sebagian UGC

10

Kompas.com

In house publishing

Sumber: Alexa.com, per 1 Desember 2016

 

Sebuah situs juga bisa memiliki ketiga platform ini sekaligus. VIVA.co.id misalnya. Sebagian besar konten VIVA.co.id adalah produksi sendiri, diliput dan ditulis oleh jurnalis-jurnalis. Namun VIVA.co.id juga memfasilitasi agregasi konten blog yang dibuat oleh para blogger melalui layanan VIVALog.

Blogger mendaftarkan diri, memberikan link blog mereka, untuk diagregasi oleh VIVA. VIVA juga menerima konten UGC dari pengguna internet lewat layanan citizen journalism “Cerita Anda”.

Dengan latar tren global dan lokal ini, kesempatan sebuah start up baru yang fokus pada UGC terbuka lebar di Indonesia, apalagi jika start up tersebut fokus pada penyebaran informasi.

Sebuah survei yang dirilis Baidu pada Februari 2015 menemukan, 81 persen orang Indonesia rutin mengikuti perkembangan berita dan informasi setiap harinya.

Kemudian survei yang sama juga menemukan, telepon pintar merupakan alat paling banyak digunakan untuk memperoleh berita dan informasi (96 persen), baru kemudian televisi.

Dan Selasar adalah start up yang didesain untuk menyebarkan informasi berupa pengetahuan, pengalaman, atau pun wawasan melalui medium internet.

Selasar melakukan kurasi konten (bukan mengedit, menambahkan, atau mengurangi konten) dan mendorong pengguna untuk menggunakan identitas asli.

Selasar mengajak pengguna berbagi pengetahuan, pengalaman, atau wawasan dengan arif dan dilandasi semangat berbagi. Selasar dengan sendirinya juga merupakan media sosial karena memfasilitasi interaksi antarpengguna.

"Selasar mengajak pengguna berbagi pengetahuan, pengalaman, atau wawasan dengan arif dan dilandasi semangat berbagi"

Selasar membuat netizen bisa mengutarakan apa yang dipikirkannya, menyebarkan informasi yang dilihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, atau menjawab tuduhan atau pertanyaan yang tertuju kepadanya.

Dan saat ini terjadi, informasi yang muncul di Selasar jelas lebih otentik karena disampaikan langsung oleh netizen itu sendiri. Jelas, Selasar bisa menjadi mitra bagi jurnalis untuk mendapatkan informasi-informasi yang bernilai jurnalistik. Kekuatan Selasar pada otentisitasnya, keasliannya.

Netizen tidak harus meluangkan waktu khusus untuk menulis secara lengkap dan detail. Fitur “Jawab” yang akan diluncurkan pertengahan Desember 2016 ini akan memancing netizen untuk menjawab berdasarkan pengetahuan, pengalaman, atau wawasan yang mereka punya.

Atau, jika seseorang merasa buntu dengan sebuah hal, bertanya-tanya tentang sesuatu, mereka juga bisa melontarkan pertanyaan melalui fitur “Tanya”. Ke depan, sebuah pertanyaan pun bisa ditujukan pada pengguna lain yang dianggap pakar atau lebih mengetahui.

Memang ada satu problem mendasar dengan UGC, yakni kualitas konten. Perusahaan-perusahaan pers menggunakan jurnalis untuk melakukan kontrol kualitas konten atau juga dikenal dengan istilah verifikasi. Para jurnalis ini bekerja dengan standar jurnalistik dan etik jurnalistik sehingga bisa mengedit atau mengurasi konten dengan baik.

Pertanyaannya, apakah pekerjaan verifikasi ini hanya bisa dilakukan jurnalis? Disiplin verifikasi bukan monopoli profesi jurnalis. Pengacara, penegak hukum, dan ilmuwan/ saintis kadang lebih ketat dalam melakukan verifikasi.

Selasar memfasilitasi verifikasi secara crowdsource atau beramai-ramai sehingga terbuka kemungkinan saling melengkapi atau debat antarpengguna. Verifikasi ala Selasar adalah verifikasi bersama-sama.

Ketika sampai pada titik itu, pengguna-pengguna Selasar sendiri yang memegang lilin. Lilin-lilin pengetahuan, pengalaman, dan wawasan.

Inilah mengapa saya bergabung ke Selasar.com. Saya ingin menjadi pemantik api lilin.

1025 Views