selasar-loader

Permen Narkoba, Mitos atau Fakta?

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal Oct 25, 2016

Beberapa waktu yang lalu, publik dikejutkan oleh pesan berantai di media sosial mengenai dua anak sekolah yang tertidur selama dua hari dan mengalami gejala-gejala yang disebut seperti nagih atau kecanduan.

Berita tersebut dengan cepat menyebar, bahkan di kalangan tenaga kesehatan. Tak pelak pihak-pihak yang berwenang segera bereaksi, ada yang langsung merazia dan menyita permen-permen tersebut dari pedagang-pedagang, ada pula yang bersikap secara elegan, mencari sampel permen tersebut dan memeriksanya di laboratorium. Lalu apa hasilnya?

Menurut hasil pemeriksaan laboratorium BPOM maupun laboratorium narkotika BNN, permen tersebut tidak mengandung bahan narkotika dan terdaftar resmi sebagai produk makanan impor.

Sikap masyarakat dan aparat yang tanggap terhadap rumor tersebut, menunjukkan tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap narkotika semakin baik, khususnya yang bahaya narkotika terhadap anak dan remaja.

Namun demikian dalam hal respons aparat berwenang perlu dikritisi, terutama pada aparat yang bertindak tanpa mengetahui komposisi bahan tersebut, yang justru menimbulkan keresahan di masyarakat.

Sesungguhnya rumor tentang permen narkoba tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Di Amerika Serikat, rumor atau pesan berantai mengenai para bandar narkoba yang menyasar anak-anak dengan narkoba yang dimodifikasi warna dan rasanya, telah ada sejak lama.

"Sesungguhnya rumor tentang permen narkoba tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain"

Sebut saja rumor mengenai Strawberry Quick, disebut juga sebagai Strawberry Quik atau Strawberry Meth, yang juga dimuat oleh salah satu media di Indonesia ketika menampilkan yang katanya permen narkoba.

Rumor ini telah ada sejak tahun 2007, hampir sepuluh tahun yang lalu, hingga akhirnya lembaga anti narkotika Amerika Serikat – US DEA – dan White House Office of National Drug Control Policy merespon dengan menyebutkan bahwa mereka tidak pernah menemukan hal tersebut dan menganggap bahwa berita tersebut tidak benar.

Salah satu ahli methamphetamine, Tom McNamara – Project coordinator for the Southern Illinois Drug Task Force Group – mengatakan bahwa aparat nampaknya bingung dengan kristal methamphetamine (shabu) yang memiliki warna.

McNamara juga menjelaskan bahwa warna kristal methamphetamine (shabu) tersebut merupakan hasil dari proses pembuatannya. Shabu yang dibuat dari Sudafed atau generiknya (pseudoefedrine) akan berwana merah muda cerah akibat digunakannya pewarna pada pil Sudafed, lebih lanjut dijelaskan juga bahwa shabu yang dibuat dari anhydrous amonia yang diproses menggunakan GloTell – suatu penanda kimia yang digunakan untuk mencegah pencurian – akan berwarna kehijauan atau biru.

Bagaimana dengan Yaba yang dikatakan berbentuk seperti permen karet? Yaba atau Yaa Baa atau Yah Bah berasal dari bahasa Thailand yang berarti obat gila (mad drug atau crazy medicine) atau sebelumnya dikenal dengan nama Ya ma yang berarti pil kuda (horse drug) adalah produk narkotika berbentuk tablet berukuran tidak lebih dari penghapus di ujung pensil, yang berisi campuran methamphetamine dan caffein, yang biasanya juga diberi warna dan logo tertentu, mirip seperti ectasy.

Di Amerika Serikat, tablet ini terkenal banyak digunakan oleh komunitas Asia. Begitu pula dengan Red Ice yang disebut berbentuk seperti permen karet, aslinya adalah sebutan untuk methamphetamine kristal alias shabu.

Para bandar narkoba sering kali menggunakan warna-warna tersebut untuk membedakan dari jaringan mana narkoba tersebut berasal dan juga digunakan untuk menarik pecandu dengan menyebarkan informasi bahwa shabu yang berwarna merah atau biru (bahkan hitam) berkualitas lebih baik.

LSD atau dijalanan dikenal dengan nama elsid juga disebut sebagai permen berbentuk seperti perangko. Informasi ini tentu kurang tepat, LSD adalah suatu halusinogen, memang sering kali dijual dalam bentuk blotter (kertas isap) dengan gambar tertentu yang menarik, tetapi sama sekali bukan seperti permen.

Narkoba lain yang dijual dalam bentuk seperti LSD adalah N-Bomb atau mBome, suatu narkoba jenis baru.      

Jenis narkoba yang sering dicampurkan atau dibuat dalam bentuk makanan adalah ganja. Sebagaimana kasus yang diungkap oleh Badan Narkotika Nasional beberapa waktu yang lalu. BNN mengungkap peredaran brownies ganja, cokelat ganja, dan cookies ganja.

Tentu makanan-makanan yang mengandung ganja ini sama sekali tidak dijual dengan harga murah, tetapi dengan harga yang cukup mahal dibandingkan dengan makanan sejenis yang tidak mengandung ganja.

"Tentu makanan-makanan yang mengandung ganja ini sama sekali tidak dijual dengan harga murah, tetapi dengan harga yang cukup mahal"

Saya sendiri menyaksikan lollipop, permen, cookies, dan brownies semasa studi di negara Belanda, di sana ganja dan produk-produk turunannya dijual di toko-toko atau tempat yang dikenal dengan nama Coffee Shop.

Kewaspadaan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba memang harus dipupuk sehingga menimbulkan kesadaran kolektif di komunitas untuk mengatasi permasalahan narkoba di Indonesia.

Masyarakat memang perlu menjaga anggota keluarganya, terutama anak dan remaja dari penyalahgunaan narkoba sehingga tidak terjerumus pada masalah yang besar akibat kecanduan narkoba.

Namun demikian kewaspadaan tersebut janganlah dilakukan tanpa mengedepankan sikap kritis terhadap berita-berita yang viral di media sosial. Pun dengan aparat yang terkait, BNN, Kepolisian, Kementerian Kesehatan, BPOM, dan yang lainnya agar mewaspadai modus-modus baru yang dilakukan oleh para bandar narkoba dalam upaya memasarkan barang dagangannya.

Tak lupa upaya menjaga peredaran makanan, minuman, obat, maupun kosmetik agar tidak tercampur dengan bahan-bahan berbahaya harus terus digalakkan sehingga masyarakat mendapat kenyamanan dan keamanan ketika menggunakan maupun mengonsumsi produk-produk tersebut.

Akhirnya yuk #StopNarkoba !

 

 

966 Views