selasar-loader

Menjadi Rendah Hati (Being Humble)

LINE it!
Handry Satriago
Handry Satriago
CEO GE Indonesia
Journal Sep 30, 2016

63WT2Jx68iJwdx3O3PXpJ9AE5y-Teb_D.jpg

Saya ingin berbagi tentang hal yang sederhana: mengapa kerendahan hati, sifat humble, diperlukan dalam pengembangan diri, karier, dan organisasi atau perusahaan?

Humble adalah value penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin yang arogan cenderung tidak mempunyai kemampuan mendengarkan. Bagaimana bisa mendengarkan kalau sang leader merasa bahwa dia yang paling tahu dan paling benar tentang semuanya?

Padahal, kunci keberhasilan pemimpin dan pengembangan diri adalah jika kita bisa dan mau mendengarkan orang lain. Tentu, hal ini tidak berarti bahwa kita harus selalu setuju dan mengikuti apa yang dikatakan orang lain. Kita belum tentu setuju dan ikut, tetapi ‘mendengarkan’ akan memberikan perspektif yang luas dalam mengambil keputusan dan sikap.

Menarik bahwa sepanjang pengalaman saya, saya menemukan kesamaan dari para pemimpin yang hebat. Mereka semua humble!

Arogansi itu biasanya tumbuh ketika kita mendapatkan sesuatu yang lebih dari orang lain. Ia juga muncul karena pujian atau karena kepalsuan. Yang repot adalah saat dikelilingi bad followers, orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara memberikan kepalsuan pada kita.

Bad followers adalah kompor top untuk arogansi dan pisau penggerus kerendahhatian yang irisannya sering tak terasa.

Radar saya selalu sensitif jika ada followers yang selalu memuji, setuju, dan tak pernah memberi masukan atau opsi-opsi alternatif. Untuk itu, saya berusaha untuk tidak lupa meminta pendapat berbeda ataupun feedback dalam setiap diskusi dengan tim. 

Banyak orang takut untuk humble karena dianggap pencitraan dan terlihat tak berwibawa atau tegas. Saya tak sependapat. Leadership is about being humble.

Beda antara pencitraan dan kerendahhatian sejati ada di niat. Gampang banget ngaturnya.

Humble bukan soal pakaian yang dipakai, cara berpergian atau makan, dan hal-hal lain yang ada di permukaan. Humble adalah value, nilai. The way we work and achieve goals.

"Humble adalah value, nilai. The way we work and achieve goals"

Orang bisa memakai pakaian murah dan naik kendaraan murah, tetapi tak mau mendengarkan pendapat orang lain, membuatnya tidak dapat disebut humble.

Bos saya berkata: "Handry, the only reason I can survive working in this company for more than 25 years is because I treat everybody the same". Ya, being nice itu tak perlu membedakan orang. Kalau bisa baik pada Bos, kenapa nggak bisa baik juga pada office boy?

Pemimpin perlu rendah hati agar bisa mendengarkan dengan baik dan belajar sebanyak mungkin dari berbagai sumber. Mereka yang sedang mengembangkan karier mereka perlu belajar terus untuk rendah hati, karena people loves helping humble people. Orang-orang senang membantu mereka yang rendah hati.

Namun, menjadi rendah hati (being humble) bukan berarti bersembunyi, tidak berani tampil, dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Anda perlu menunjukkan bahwa Anda belajar, memiliki kapabilitas, siap untuk mengambil tantangan, serta siap juga untuk exposure.

Saat tampil, tampillah dengan percaya diri dan tunjukkan kemampuan yang dimiliki, tetapi jangan oversell dan tak mau dengar kritik. Outputnya siap berubah jika memang diperlukan.

Being humble juga berarti menerima kekalahan dan mengakui kesalahan, serta berani mengatakan "I will learn and will try again". Para pemimpin yang humble tak pernah menyalahkan orang lain atau kondisi ketika harus kalah atau salah. They learn and do reflection.

"Being humble juga berarti menerima kekalahan dan mengakui kesalahan, serta berani mengatakan "I will learn and will try again""

Menjadi humble adalah proses pembelajaran yang tak berhenti. Saya sendiri juga masih belajar, tentu saja. 

 

Tulisan ini telah dikurasi oeh Selasar.com. Simak tulisan penulis lainnya buku #Sharing2

2316 Views