selasar-loader

Mengapa Ahok Begitu Memikat? (Bag.1)

LINE it!
Tsamara Amany
Tsamara Amany
Aktivis Media Sosial dan Perempuan
Journal Mar 15, 2017

yTVA87bUPIsXa-SuO030peu6jMs-mhg-.jpg

Foto via penulis

Selama ini saya sering menulis sosok seorang Ahok. Namun saya tidak pernah menulis mengenai bagaimana saya mengenalnya, memahami cara berpikirnya, dan mengapa ia begitu memikat saya. 

Semua ini bermula ketika Ahok membuka kesempatan bagi anak muda untuk berkontribusi. Bahasa sederhananya, Ahok menerima anak magang usia 19-35 tahun untuk ikut memberi saran dan mengawasi kebijakannya. 

Ketika saya ikut apply CV dan esai ke email tim Gubernur, saya merasa agak pesimis. Pertama, saya masih sangat muda. Dari batas umur saja, saya berada di level batas minimal, 19 tahun.

Kedua, latar belakang pendidikan. Tentu karena saya masih sangat muda, saya masih minim pengalaman, S1 saja belum punya, karena ketika batch magang tersebut dibuka untuk bulan Januari-April 2016, saya baru saja menyelesaikan semester 3 di Universitas Paramadina. Masih dua tahun lagi untuk saya lulus.

Apalagi pesaing-pesaing saya banyak yang sudah S2 lulusan universitas ternama di Amerika seperti Harvard, Cornell, UCLA, dan lain-lain. Bagaimana tidak pesimis?

Itulah mengapa setelah saya mengirim email untuk apply CV dan esai, saya tidak lagi membuka email saya. Pikir saya simpel, ah ngapain juga Ahok terima anak magang kayak saya kalau bisa terima yang lebih berpengalaman.

Namun suatu ketika, saya iseng membuka email. Saya kaget melihat email dari tim seleksi magang. 

"Dari evaluasi aplikasi Anda, kami terkesan dan ingin mengenal Anda lebih jauh. Pada gelombang pendaftaran kali ini, Kantor Gubernur DKI Jakarta menerima lebih dari 200 aplikasi untuk posisi magang yang sangat terbatas. Dari sekian banyak pendaftar, kami telah menyaring 50 pendaftar untuk mengikuti tahap Seleksi Wawancara. Tim Seleksi menilai bahwa Anda memiliki kemampuan, potensi, dan motivasi yang eksepsional," tulis tim seleksi magang dalam email tersebut. Saya akan mengikuti wawancara di Balai Kota! 

Namun kesenangan saya tiba-tiba berubah menjadi tegang. Saking pesimisnya saya tidak mau buka email, ternyata saya sudah melewati dua hari yang dipersiapkan untuk wawancara: Kamis dan Jumat. Saya segera menelepon salah satu staf Gubernur yang menjadi penanggung jawab magang.

"Masih ada kok hari Senin wawancaranya, daftar aja ya di Gdocs yang kami kirim," katanya. Lega rasanya sekaligus tidak sabar menanti hari Senin.

Jika sebelumnya saya pesimis, kali ini saya cukup optimis. Saya yakin saya bisa. Kalau saya mampu melewati tahap pertama, kenapa tidak pada tahap kedua?

Hari Senin tiba, pertanyaan fokus seputar mengapa saya ingin magang, apa cita-cita saya, lalu apa yang akan saya lakukan jika jadi gubernur. Saya jawab sesuai dengan yang saya pikirkan. 

Tiga hari berlalu, saya diterima magang di Balai Kota bersama kurang-lebih 20 anak magang. Semuanya anak-anak muda. Banyak yang berasal dari kantor konsultan ternama seperti McKinsey dan BAIN, tetapi tetap rela ambil cuti untuk berkontribusi bagi Jakarta.

Banyaknya anak muda yang diberi kesempatan untuk ikut berkontribusi bagi pembangunan Jakarta sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa Ahok tidak sekedar membangun fisik, tetapi membangun manusia muda Jakarta.

"Banyaknya anak muda yang diberi kesempatan untuk ikut berkontribusi bagi pembangunan Jakarta sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa Ahok tidak sekedar membangun fisik, tetapi membangun manusia muda Jakarta"

Pada hari kedua magang, tanggal 5 Januari 2016, Ahok memberi pengarahan kepada anak-anak magang barunya itu. Ia tidak ingin banyak bicara.

Justru Ahok meminta anak magangnya memperkenalkan diri satu per satu. Ia mencatat nama anak-anak magangnya itu di Iphone-nya. Terlihat Ahok bukan tipe pemimpin sombong yang hanya ingin dikenal, tetapi tak ingin mengenal. 

"Tanya sajalah apa yang mau ditanya," katanya setelah sesi perkenalan selesai. Semua diberi kesempatan bertanya. Saya tidak mau melewatkan kesempatan ini. Pada kesempatan ini pulalah, saya mulai memahami cara pikir orang nomor satu di Jakarta ini. 

"Pak Ahok, dulu kan Bapak anggota DPR dari partai politik. Kalau di partai itu kan jika melawan bisa di-recall. Dulu Bapak pernah melawan nggak?" tanya saya.

Saya sengaja menanyakan ini. Soal keberanian Ahok melawan dikte partai politik sebagai gubernur memang tidak perlu diragukan.

Ia sudah membuktikan ketika keluar dari Gerindra karena tidak sejalan dengan idealismenya. Namun bagaimana dengan di DPR? Di DPR, konsekuensinya bisa ditarik dari keanggotaan fraksi. 

Ahok kemudian menceritakan ia pernah melawan  ketua umum partai politiknya hingga ia dipindahkan ke bagian yang tidak nyambung sama sekali dengannya.

"Bayangin aja, masa gua dipindahin ke kerja sama antarparlemen Maroko. Lu liat aja, muka cina gini, coba?" candanya sambil tertawa. Ini adalah konsekuensi karena ia tidak taat terhadap kebijakan partai politiknya di DPR. 

Ahok juga menceritakan bagaimana Nurul Arifin, teman partainya, hendak memindahkannya dari komisi II yang membidangi otonomi daerah ke komisi VIII yang membidangi agama.

"Lu mau pindahin gua ke komisi agama? Bagus! Biar gua acak-acak itu dana haji yang selama ini nggak bener," cerita Ahok menirukan percakapannya dengan Nurul Arifin.

Akhirnya, Ahok tidak jadi dipindahkan dan tetap di komisi II. "Pokoknya lu taro gua di mana aja, gua bakal bikin kepala lu semua pusing," ujarnya sambil tertawa lagi. 

Percakapan dengan Ahok sangat mengasyikan, tetapi membuat kita paham banyak hal tentang politik yang biasanya membosankan. Ia sempat mengajak kita masuk ke ruangan kerjanya dan berkeliling.

Bahkan ia menawarkan pisang lampung yang ada di mejanya kepada anak-anak magang. "Nih, katanya kalau makan pisang ini bisa jadi gubernur," ucapnya sambil menyodorkan pisang ke arah saya. Ya, karena saya ingin jadi gubernur, tentu saya makan pisangnya. 

Tiga hari berlalu, seluruh anak magang diberi pengetahuan basic pemerintahan sebelum nanti masuk ke dinas-dinas terkait. Pada hari Jum'at, 8 Januari 2016, saya akhirnya dapat kesempatan makan siang bersama Ahok.

Sebagai anak muda yang senang belajar politik dan pemerintahan, tentu saya sudah tidak sabar untuk bertanya banyak hal kepada Ahok.

Dalam kesempatan makan bersama itu, Ahok terlihat santai sekali. "Pak, kalau makan-makan gini, ada food test-nya nggak sih?" tanya saya. "Ya kan lu semua nih yang jadi food test-nya, kalau lu pada selamat ya gua makan," katanya sambil tertawa. 

""Ya kan lu semua nih yang jadi food test-nya, kalau lu pada selamat ya gua makan," katanya sambil tertawa"

Wah, gubernur ini asik sekali. Saya merasa seperti sedang ngobrol dengan teman. Baru beberapa hari saja bersama Ahok, ia selalu melempar canda dan tertawa.

Beda dengan persepsi sebagian orang yang menganggap Ahok itu tukang marah dan kasar. 

"Ya pokoknya tugas saya itu membuat otak, perut, dan dompet warga Jakarta penuh. Itu aja sebenernya," kata Ahok. Inilah tujuannya di Jakarta. Ahok kerja keras tiap pagi sampai malam untuk memenuhi tiga hal ini. 

Tujuan Ahok ini memang kelihatannya simpel. Ini karena Ahok adalah tipe orang yang to the point. Kalau ngomong, selalu blak-blakan. Sering kali ia menggunakan bahasa gaul lu-gua.

Namun baginya, konsep pembangunan dan cara bicara itu tidak perlu sulit-sulit. Yang terpenting semua orang mengerti dan konsep pembangunan itu dapat segera diimplementasikan dengan kebijakan yang riil di lapangan. 

Otak, perut, dan dompet. Memang tiga hal itu yang sekarang dilakukan Ahok. 

Untuk membuat otak warga Jakarta penuh, Kartu Jakarta Pintar (KJP) didistribusikan kepada anak-anak tidak mampu. Dengan ini, semua anak tidak mampu bisa sekolah sampai SMA.

KJP bukan hanya saja membiayai uang bulanan sekolah, tetapi juga bisa dipakai untuk membeli peralatan sekolah seperti buku, alat tulis, seragam, sepatu, tas, dan lain-lain. Sistem KJP ini cashless sehingga pengawasannya lebih mudah agar tidak terjadi penyimpangan penggunaan KJP. 

Apalagi sekarang ada pula KJP untuk perguruan tinggi negeri atau lebih dikenal dengan KJP-PTN. Anak-anak tidak mampu pemegang KJP yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri akan diberi biaya Rp18 Juta per tahun oleh Pemprov DKI.

Jadi di Jakarta, anak-anak tidak mampu juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak yang mampu. 

Urusan perut warga ini memang paling utama. Ini juga alasan mengapa Presiden Jokowi mengganti Menteri Perdagangan hingga dua kali di masa kepresidenannya yang baru dua tahun.

Menteri Perdagangan memang harus mampu menstabilkan harga bahan pokok secara nasional. Namun Ahok tidak mau selalu bergantung dan meminta tolong pada pemerintah pusat. Sebaliknya, Ahok ingin membantu pemerintah pusat. 

Ahok sering kali memerintahkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PD. Pasar Jaya untuk melakukan operasi pasar khususnya ke rusun-rusun. Pada bulan Ramadan kemarin misalnya, ketika harga daging melambung tinggi, Ahok memberikan subsidi daging bagi pemegang kartu rusun dan KJP.

Harga daging impor yang mencapai Rp70.000 dapat dibeli hanya Rp39.000. Bahkan, ayam dapat dibeli seharga Rp10.000. 

Selain itu, Ahok juga sudah meluncurkan aplikasi Info Pangan Jakarta yang bisa di-download di gadget. Memang aplikasi ini kesannya simpel, tetapi sangat bermanfaat bagi ibu-ibu. Setidaknya warga dapat membandingkan di pasar mana harga sejumlah bahan pokok lebih murah. 

Bagaimana dompet warga Jakarta tidak sejahtera? Sekolah hingga perguruan tinggi gratis bagi yang tidak mampu, dapat fasilitas hunian layaknya apartemen di Rusunawa, naik bus Transjakarta gratis bagi pemegang kartu rusun, KJP, PNS, lansia, dan karyawan dengan gaji tertentu. 

"Sekolah hingga perguruan tinggi gratis bagi yang tidak mampu, dapat fasilitas hunian layaknya apartemen di Rusunawa, naik bus Transjakarta gratis bagi pemegang kartu rusun, KJP, PNS, lansia, dan karyawan dengan gaji tertentu"

Tukang bersih-bersih yang dulu hidupnya merana, kini digaji UMR oleh Ahok sebesar Rp3,1 juta. Mereka diberi nama PPSU (Petugas Prasarana dan Sarana Umum) atau yang kita kenal dengan pasukan oranye. Pasukan oranye adalah alasan mengapa sungai, kali, dan selokan di Jakarta bersih. 

Apalagi supir bus TransJakarta yang sekarang digaji Rp9,3 juta per bulan. Gaji supir bus TransJakarta ini bahkan mampu mengalahkan gaji karyawan-karyawan di perusahaan swasta besar. 

Tentu masih ada kekurangan. Namun Ahok tidak hanya bicara. Ia membuktikan dengan bekerja. Ketika Ahok bilang ingin buat otak, perut, dan dompet warga Jakarta penuh, itu ia lakukan dengan sepenuh hati.

Saking sepenuh hatinya, ia suka marah besar kalau ada oknum yang berani menghambat tujuannya itu. 

Kita kembali lagi ke meja makan siang ketika saya dan Ahok masih berbincang. "Kamu di tim apa?" tanyanya. Saya menjawab, "Tim PTSP, Pak." 

PTSP adalah Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang melayani perizinan warga Jakarta. Di sinilah saya ditempatkan untuk membantu Ahok, memberikan saran tentang perizinan, melakukan sosialisasi publik, dan mengawasi jalannya kebijakan. 

Apalagi hal-hal menarik yang saya temukan tentang Ahok ketika saya berada di tim PTSP?

Simak tulisan selanjutnya: Mengapa Ahok Begitu Memikat? (Bag.2)

3273 Views