selasar-loader

Pelajaran Menyembelih Hewan untuk Penerapan Hukum Eksekusi

LINE it!
Mhd Fadly
Mhd Fadly
Freelancer, penulis
Journal Sep 21, 2016

Setiap tahunnya umat Islam melaksanakan perayaan hari besarnya dengan ritual ibadah  penyembelihan hewan  dalam rangka berkurban. Hari raya yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah tersebut lebih banyak dinisbatkan dalam kisah Nabi Ibrahim, yang hendak menyembelih anaknya, Ismail yang kemudian digantikan oleh Allah dengan seekor kibas/domba yang besar.

Di dunia Barat, penyembelihan secara islami dinilai sebagai suatu tindakan yang “BAR-BAR”. Brigitte Bardot, artis senior Perancis, yang saat ini dikenal sebagai seorang aktivis hak binatang, menyuarakan perlindungan terhadap hak-hak hewan dari kekerasan, mendesak pemerintah Perancis melarang umat Islam untuk melakukan penyembelihan hewan qurban.

"Di dunia Barat, penyembelihan secara islami dinilai sebagai suatu tindakan yang “BAR-BAR”"

“Saya mengimbau jika ini tidak bisa dihentikan, gunakanlah senjata bius untuk melukai hewan tersebut, bukan dengan menggorok lehernya, ini sungguh “horor”,” ungkap Ms. Bardot.

Padahal dalam penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yaitu: Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim membuktikan bahwa ungkapan Ms. Bardot berbanding terbalik dengan kenyataan.

Hewan yang diproses secara stunning (pemingsanan) akan lebih tersiksa dibandingkan dengan hewan yang disembelih secara islami.

Menelisik kepada hukuman eksekusi, sepanjang sejarah, hukum eksekusi mati yang pernah dilakukan umat manusia adalah dalam bentuk tiang gantungan, kursi listrik, penyaliban, suntik mati, tembak mati, maupun yang dipenggal kepalanya.

Hukuman di tiang gantung, disalib, dan dipancung kepalanya dilakukan di depan khalayak ramai, sedangkan hukuman di kursi listrik, suntik mati, dan hukuman tembak biasanya dilakukan secara tersembunyi dan hanya disaksikan oleh eksekutor dan orang-orang yang bertanggung jawab atas pemberi hukuman tersebut.

Namun, hukuman eksekusi yang berlaku hari ini dan dilegalkan oleh pemerintah kebanyakan adalah hukuman tembak mati.

Islam sebagai rahmatan lilalamin telah memberlakukan hukuman eksekusi yang dilakukan dalam bentuk hukum pancung. Hukuman ini dijatuhkan kepada para pelaku pembunuhan, orang yang berzina, dan lainnya.

Hukuman pancung yang dilakukan di tempat umum dapat disaksikan oleh banyak orang. Namun, bagi mereka yang mengatasnamakan penggiat HAM (Hak Asasi Manusia) mengecam bentuk hukuman pancung ini, terlebih lagi dilakukan di depan khalayak umum.

Jika dibandingkan dengan penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh staf ahli peternakan Hannover University, penelitian ini berbanding lurus jika itu diterapkan pada manusia.

"Jika dibandingkan dengan penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh staf ahli peternakan Hannover University, penelitian ini berbanding lurus jika itu diterapkan pada manusia"

Dalam artian, penderitaan akibat rasa sakit yang diderita ketika kepala terputus dari badan, tidak memakan waktu yang sangat lama. Ini lebih meringankan penderitaan korban eksekusi mati, dibandingkan bila eksekusi dilakukan dengan cara ditembak.

Hukuman mati dengan cara metode Barat atau dengan tembakan, algojonya banyak, tetapi senapan yang berisi peluru hanya satu. Itu artinya, yang ditembak hanya satu organ: jantung saja atau otak saja.

Kalau jantung yang ditembak, otak masih berfungsi sehingga orang yang dieksekusi tidak segera mati. Kalau otak yg ditembak, jantung masih aktif berdetak, ia tidak segera mati.

Di Harian Kompas tahun 2005 pernah dibahas bahwa terpidana hukuman mati dengan cara ditembak akan menemui ajalnya 20-30 menit setelah tembakan. Jangan dikira sakitnya seperti apa!

Konon kabarnya, pembantai keluarga dokter di Purwokerto itu menemui kematiannya sekitar 25 menit setelah dieksekusi regu tembak di Nusa Kambangan.

Memang, jika diperhatikan dari sisi orang yang menyaksikan hukuman eksekusi tersebut dilakukan, hukuman pancung akan lebih mengerikan dibandingkan dengan hukuman tembakan.

Orang yang dihukum pancung seakan-akan tersiksa setelah kepala berpisah dengan badannya, sedangkan orang yang ditembak, langsung tidak berdaya.

Namun inilah bukti akan hikmah dari proses hukuman Islam tersebut. Tujuan utama dari memberikan hukuman adalah memberi efek jera kepada pelaku dan kepada orang yang menyaksikan bila hukuman tersebut adalah hukuman eksekusi mati.

Hukuman pancung yang terkesan mengerikan jika dilihat, pada dasarnya memberikan efek takut dan jera bagi orang-orang yang menyaksikan, tetapi ia lebih terasa ringan bagi korban eksekusi mati.

"Hukuman pancung yang terkesan mengerikan jika dilihat, pada dasarnya memberikan efek takut dan jera bagi orang-orang yang menyaksikan, tetapi ia lebih terasa ringan bagi korban eksekusi mati"

 

Tulisan ini dikurasi oleh Selasar.com. Simak tulisan lain penulis di sini.

601 Views