selasar-loader

Menimbang Kegiatan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal Jun 28, 2016

Perjuangan melawan permasalahan narkoba terus digemakan, terdapat 247 juta orang di dunia yang menggunakan narkoba tahun lalu, dengan 29 juta di antaranya mengalami penderitaan akibat penggunaan narkoba (World Drug Report UNODC, 2016). Di Indonesia, menurut penelitian BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, prevalensi pengguna narkoba di tahun 2015 adalah 2,2 % dari populasi. Meski pola prevalensi pengguna narkoba tahun 2014 hingga 2020 diperkirakan landai, namun upaya penanggulangan permasalahan narkoba tidak boleh kendor.

Upaya–upaya penanggulangan permasalahan ini dilakukan dengan berbagai pendekatan, baik pendekatan supply reduction yang bertujuan untuk mengurangi jumlah pasokan narkoba yang beredar maupun demand reduction yang menitikberatkan pada intervensi kepada para penggunanya agar tingkat permintaan narkoba berkurang. Pendekatan lain yang juga dikenal adalah harm reduction yang bertujuan mengurangi dampak buruk pemakaian narkoba.

Salah satu upaya demand reduction adalah melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Pencegahan penyalahgunaan narkoba mempunyai fokus utama pada proses pengambilan keputusan secara individu dengan menggunakan perilaku yang sesuai dengan norma sosial, sehingga tujuan dari pencegahan ini tidak hanya untuk mencegah penggunaan narkoba, tetapi juga menunda inisiasi, mengurangi intensifikasi atau mencegah eskalasi penggunaan menuju penggunaan narkoba yang problematik (Prevention of Drug Use, EMCDDA).

Program Pencegahan Saat Ini

Banyak pihak yang telah menyadari pentingnya melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba, sehingga kegiatan pencegahan dilakukan secara masif di masyarakat. Namun demikian, pandangan umum yang ada di masyarakat menganggap bahwa kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba identik dengan sekedar memberikan informasi mengenai efek dari narkoba khususnya bahaya penggunaan narkoba.

Pandangan umum yang lain menganggap pencegahan merupakan kegiatan kampanye dengan menggunakan media massa. Sehingga tidak heran jika, kemudian banyak pihak yang berlomba-lomba menggelar kampanye anti narkoba, lomba duta anti-narkoba dengan menilai pengetahuan peserta mengenai dampak narkoba, juga kegiatan tes urin di sekolah-sekolah  yang diharapkan mempunyai efek penggetar untuk siswa-siswanya. Jika dievaluasi, kebanyakan kegiatan tersebut hanya memberikan informasi yang bersifat sekedar menambah pengetahuan dan bersifat menakut-nakuti.

Yang Terlupakan 

European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA), merilis pernyataan bahwa tidak ada bukti ilmiah kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba hanya dengan memberikan informasi mengenai efek narkoba, memberikan dampak perubahan pada perilaku menggunakan narkoba, begitu pula dengan kampanye menggunakan media massa. Survei nasional prevalensi penyalahgunaan narkoba pada tingkat rumah tangga, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun 2015 menunjukkan bahwa hanya 11 % peserta yang mengerti isi pesan dari kegiatan penyalahgunaan dan penanggulangan narkoba yang diikuti.

Pada kenyataannya, tantangan kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba sebenarnya adalah bagaimana membantu masyarakat, khususnya generasi muda, untuk beradaptasi serta menyesuaikan perilaku dan kapasitasnya dalam menghadapi pengaruh yang multipel dalam kehidupannya, seperti bagaimana menghadapi tekanan dan kondisi sosial, bagaimana berinteraksi dengan rekan sebaya, dan bagaimana menyesuaikan diri dengan ciri kepribadiannya masing-masing. 

Kegiatan pencegahan yang memperhatikan hal ini bertujuan untuk mengurangi perilaku beresiko, termasuk di dalamnya perilaku menggunakan narkoba. Ironisnya kegiatan yang demikian tidak banyak dilakukan sehingga banyak masyarakat yang tidak mengerti. Hasil survei Puslitkes UI di kalangan rumah tangga juga memaparkan bahwa pengetahuan masyarakat di rumah tangga umum untuk menghindari penyalahgunaan narkoba masih rendah berkisar 17 – 58 %.

Upaya Perbaikan

Intervensi dengan program pencegahan penyalahgunaan narkoba haruslah bersifat komprehensif, memperhatikan semua aspek. EMCDDA, mengklasifikasikan tipe-tipe pencegahan yang saling melengkapi satu sama lain. Dan yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana mengenali level kerentanan untuk mengalami penyalahgunaan narkoba, bukan untuk mengetahui seberapa banyak orang menggunakan narkoba atau benarkah seseorang menggunakan narkoba. Secara singkat tipe–tipe pencegahan menurut EMCDDA, yaitu :

1. Pencegahan Universal (Universal Prevention)

Pencegahan universal ditujukan untuk populasi umum yang besar, target dari tipe ini adalah membangun keterampilan dan nilai-nilai, persepsi terhadap norma-norma, dan bagaimana berinteraksi dengan rekan sebaya dan kehidupan sosial pada umumnya.

2. Pencegahan Selektif (Selective Prevention)

Pencegahan selektif ditujukan pada kelompok rentan di mana narkoba sering digunakan. Fokusnya pada peningkatan kesempatan dan kemampuan mereka dalam menghadapi situasi kehidupan sosial yang sulit.

3. Pencegahan sesuai indikasi (Indicated Prevention)

Model pencegahan ini ditujukan untuk individu yang rentan, dan bertujuan untuk membantu menangani dan mengatasi ciri kepribadian yang ada pada dirinya yang membuat mereka lebih rentan untuk menggunakan narkoba.

4. Pencegahan lingkungan (Environmental Prevention)

Pencegahan di tingkat lingkungan bertujuan untuk mengenali dan memodifikasi lingkungan sosial dan norma sosialnya, termasuk di dalamnya membuat aturan yang membatasi peredaran narkoba.

Dari tipe – tipe pencegahan di atas, dapat kita pahami bahwa aspek pencegahan meliputi aspek individu maupun lingkungan. Kedua hal ini mesti berjalan secara simultan dan berkesinambungan agar program pencegahan berjalan efektif.

Upaya perbaikan dimulai dengan evaluasi seberapa efektif kegiatan yang selama ini dilakukan, apakah sudah membekali para peserta kegiatan dengan keterampilan yang dapat membentengi mereka dari penyalahgunaan narkoba, ataukah masih berkisar pada aspek pengetahuan saja. Hal berikutnya adalah upaya mendeteksi tingkat kerentanan dan kebutuhan kelompok target program pencegahan. Yang ketiga adalah membuat kegiatan yang berorientasi pada keterampilan dalam berinteraksi pada kehidupan sosial serta pemahaman terhadap ciri kepribadian individu, faktor risiko, serta nilai dan norma sosial yang ada.

Momentum Perbaikan 

Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tahun 2016 ini, merupakan momentum untuk melakukan perbaikan program pencegahan yang telah berjalan. Menariknya tema HANI 2016 yang ditetapkan oleh United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) adalah “Listen First : Listening to children and youth is first step to help them grow healthy and safe.” Tema yang diangkat merupakan sebuah inisiatif yang berorientasi pada pencegahan penyalahgunaan narkoba yang memang banyak dimulai pada usia remaja.

Memang sebagian besar anak dan remaja tidak pernah menggunakan narkoba, namun mereka adalah kelompok berisiko untuk menyalahgunakan narkoba, terkait dengan sifat yang selalu ingin tahu dan bereksperimen, dan faktor risiko lainnya seperti kemiskinan, parental substance abuse, kekerasan secara fisik ataupun mental, kondisi otak yang dalam tahap perkembangan, dan lain sebagainya. Pada usia ini tentu saja program pencegahan tak cukup hanya dengan memberikan informasi  mengenai bahaya narkoba, dan tidak melulu berpusat pada si anak dan remaja itu sendiri.

Program-program yang dapat dipikirkan terkait dengan momentum HANI 2016 meliputi program untuk individu anak dan remaja, program untuk guru dan sekolah, serta program untuk orang tua. Program untuk anak misalnya adalah edukasi mengenai narkoba, hal ini tetap penting dan relevan namun dengan dilakukan dengan gaya yang membangkitkan pemahaman bukan sekedar menakut-nakuti. Berikutnya adalah membangun soft skill untuk dapat bersikap asertif, membangun kepercayaan diri dan pertemanan yang sehat.

Program untuk orang tua dimulai dengan edukasi untuk menjadi role model : tidak menggunakan narkoba maupun bahan-bahan adiktif lain seperti rokok dan alkohol, terutama pada ibu hamil. Yang kedua adalah program parenting skill untuk orang tua, agar dapat berkomunikasi dengan baik kepada anak, terutama dalam hal mendengar, sesuai dengan tema HANI 2016. Yang ketiga adalah menciptakan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak hangat dan  non-judgmental.

Sementara itu, program untuk guru dan sekolah dapat dimulai dengan menciptakan lingkungan sekolah bebas bullying, yang kedua adalah melatih guru untuk dapat mengindentifikasi kerentanan pada siswanya, melakukan konseling terkait hal tersebut, dan komunikasi dengan orang tua tak hanya pada saat anak mengalami masalah. Yang ketiga adalah melatih untuk memanajemen kelas agar proses belajar mengajar dapat berlangsung menarik dan interaktif.

Penutup

Pelaksanaan program pencegahan penyalahgunaan narkoba harus dilakukan pada semua aspek dan bersifat saling melengkapi satu sama lain. Akhirnya mari bekerja sama mengatasi penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

 

532 Views