selasar-loader

Mitos Perubahan Iklim

LINE it!
Journal Apr 14, 2016

Perubahan iklim merupakan sesuatu yang diluar nalar manusia, diluar logika manusia. Jangankan membayangkan bahwa Jakarta akan tenggelam karena reklamasi, membayangkan bahwa Istana Negara kebanjiran adalah sesuatu yang sulit diterima dengan akal sehat manusia 80-an. Membayangkan sesuatu yang akan terjadi pada esok hari, sama sulitnya seperti membayangkan apa yang akan terjadi pada jam berikutnya.

Manusia merupakan mahluk yang memiliki keterbatasan spasial, jarak pandangnya tidak sebaik burung, memiliki keterbatasan memori, beberapa binatang memiliki memori yang lebih baik dari manusia. Namun keterbatasan terbesar dari manusia adalah kelebihannya sendiri. Manusia mampu menarik kesimpulan yang bertentangan dengan logika berpikirnya.

Salah satu contoh yang bisa kita ambil dari keterbatasan ini adalah bagaimana manusia menyikapi perubahan iklim. Menyikapi perubahan iklim artinya melihat sangat jauh dalam skala milyaran tahun, mulai dari terciptanya alam semesta 14 milyar tahun yang lalu, terciptanya bumi 4.6 milyar tahun yang lalu dan terciptanya manusia di 200,000 tahun yang lalu.

Meyakinkan manusia bahwa perubahan iklim terjadi, sama sulitnya seperti menyakinkan manusia bahwa 14 milyar tahun yang lalu dari kondisi tidak ada, tiba-tiba alam semesta tercipta. Ledakannya yang mendingin membentuk bumi 4.6 milyar tahun yang lalu. Tidak ada yang membedakan antara bumi, venus ataupun mars selain merupakan serpihan dari bintang yang meledak.

Lalu tiba-tiba air muncul di muka bumi dengan penjelasan yang belum pernah bisa disepakati oleh para ahli. Kondisi langit bumi yang tidak jauh berbeda dengan planet lain di tata surya ini, dengan tidak ada adanya oksigen, suhu bumi yang panas. Bumi yang tidak ada mahluk hidupnya bertahan hingga milyaran tahun lamanya.

Mitos ini makin membingungkan dengan munculnya benda yang bisa melakukan reproduksi dirinya dari langit bumi yang tidak bersahabat dengan gas methan, letusan gunung berapi dan lempeng tektonik yang tidak stabil dengan banyaknya benda langit yang jatuh ke bumi. Benda ini kemudian tidak hanya bisa melakukan reproduksi namun secara rakus mengkonsumsi energi, dan menyampah dengan semena-mena di muka bumi.

Cyanobacteria adalah mahluk hidup pertama yang menyampah, menghasilkan sampah oksigen sebagai produk samping. Alga biru ini mengubah langit bumi yang tidak memiliki oksigen menjadi planet biru seperti saat ini.

Takdir alga biru mengubah bumi baru dimulai sejak 3.5 milyar tahun yang lalu. Namun hasilnya secara bertahap baru dirasakan setelah milyaran tahun. Oksigen yang terakumulasi dilangit bumi menciptakan keanekaragaman hayati.

Mahluk-mahluk bersel satu lahir kemudian berkembang menjadi mahluk yang memiliki membran sel dalam waktu milyaran tahun. Mahluk-mahluk ini pun selanjutnya berkembang menjadi lebih kompleks di lautan.

Baru dalam hitungan setengah milyar tahun yang lalu. Makhluk ini pindah ke darat. Membangun daratan yang dipenuhi dengan tumbuhan dan binatang yang beraneka ragam. Kehidupan di daratan, di lempeng tektonik ini pun tidak berlangsung lama. Kepunahan-kepunahan satu demi satu menghancurkan kehidupan di muka bumi. Dari asteroid hingga perubahan iklim.

Benarkah mitos diatas?

Grafik di atas menjelaskan mengenai perubahan komposisi oksigen, komposi karbondioksida dan temperatur bumi. Grafik dari Nature (Hessler, 2011) paling sederhana yang bisa saya temukan mengenai siklus naik turunnya kondisi bumi sepanjang usia bumi. Grafik seperti ini sangat banyak bisa ditemukan di Jurnal seperti Science dan Nature, banyak ditemukan dilembaga-lembaga penelitian mengenai iklim dan geologi bumi.

Namun grafik di atas sangat sulit untuk diterima manusia bahwa bumi yang ditempatinya layaknya bejana kimia raksasa yang patuh mengikuti aturan fisika dan biogeokimia. Bahwa bumi tercipta dengan sangat ideal dari kemiringan bumi hingga medan magnet bumi dimaknai suatu pemberian yang datang begitu saja.

Bumi sebagai sebuah siklus saja sulit diterima, bahwa naik turun temperatur bumi dipengaruhi banyak faktor terkesan rumit. Apalagi menerima bahwa proses keanekaragaman terjadi melalui proses yang sangat panjang dan lama.

Di abad 17, orang menyakini bahwa usia bumi adalah 6000 tahun. Usia ini kemudian dibantah oleh Lord Kelvin di abad 19 yang menyatakan bahwa usia bumi adalah dalam skala jutaan tahun. Usia bumi dihitung dari laju mendinginnya logam bumi. Lord Kelvin adalah seorang religius yang taat.

Sayangnya Lord Kelvin tidak tahu bahwa inti bumi adalah cair, hingga Alfred Wagener mengunjungi kutub dan mengambil sample yang menguatkan bahwa inti bumi tidak hanya cair, tapi bumi berbentuk lempeng yang bergerak. Inti cair dan gerakan lempeng bumi ini membuat usia bumi tidak lagi dalam skala jutaan tahun, tapi hingga skala milyaran tahun.

Waktu Wagener mengajukan teori kontinental drift diawal abad 20, dasar ilmiahnya hanyalah kesamaan kontur dan kandungan tanah antara belahan bumi satu dan belahan bumi lain. Bahwa pantai barat afrika merupakan satu kesatuan dengan pantai timur amerika selatan.

Namun kini, gerakan lempeng bisa dilihat dengan lebih akurat dengan skala centimeter lewat citra satelit hingga radio dan komputasi yang lebih baik. Bahkan apa yang terjadi 14 milyar tahun lalu pun kini masih bisa dilihat dasarnya dari gelombang gravitasi yang bisa dideteksi. Apalagi hanya sekedar temperatur bumi yang mulai tercatat secara akurat sejak 1850an dan mulai dicatat secara sistematis sejak 1750an.

***

Mitos perubahan iklim adalah mitos mengenai ilmu pengetahuan. Bagaimana manusia menyikapi perubahan iklim adalah bagaimana mahluk hidup yang life span-nya pendek, diminta berpikir sangat jauh diluar kapasitasnya. Satu-satunya cara untuk untuk mengkomunikasikan perubahan iklim adalah mengkomunikasikan ilmu pengetahuan.

Sebuah kemewahan bagi peradaban manusia.

795 Views