selasar-loader

Apakah Perubahan Iklim Benar-benar Terjadi?

LINE it!
Journal Apr 13, 2016

Masyarakat di seluruh dunia saat ini sedang 'diajak' untuk heboh dengan isu perubahan iklim. Bukan hanya karena ini menjadi sebuah ancaman bagi keberlangsungan makhluk hidup di bumi, melainkan juga ada banyak 'keuntungan' yang bisa diperoleh. Beberapa kalangan berpendapat, gerakan simbolis untuk melawan perubahan iklim hanya sebuah pemborosan anggaran dan sumber daya.

Terlepas anggapan tersebut, sebenarnya perubahan iklim memang sudah terjadi sejak zaman dahulu, tulis Richard Lindzen, seorang professor Atmospheric Sciences dari MIT. Contoh mudah dari pernyataan tersebut adalah perubahan bumi menuju zaman es yang terjadi dalam siklus 100 ribu tahun sekali. Sebelum zaman es, temperatur bumi lebih hangat dibandingkan sekarang, meskipun konsentrasi CO2 pada waktu itu lebih rendah.

Meskipun demikian, terdapat korelasi positif antara level CO2 dan kenaikan temperatur. Akan tetapi anomali rata-rata temperatur permukaan global yang terjadi saat ini, kembali menurut Lindzen, hanya sepertiga yang bisa dikaitkan dengan greenhouse effect. Hal tersebut terjadi karena tidak terjadi peningkatan temperatur yang signifikan di daerah tropis, sehingga aktivitas antropogenik memiliki pengaruh yang kecil.

Adapun dampak yang kita rasakan saat ini, seperti mencairnya es di kutub, kekeringan dan banjir di beberapa daerah, coral bleaching, badai, wabah malaria, dan juga menurunnya biodiversitas, menurut Lindzen tidak bergantung pada anomali rata-rata temperatur permukaan global, melainkan pada banyak variabel yang terdapat pada suatu daerah, seperti temperatur, kelembaban, persebaran awan, curah hujan, serta arah dan besarnya angin. Kita menyebutnya sebagai variabilitas iklim.

Baiklah, perubahan iklim dulu memang terjadi secara natural, namun apakah aktivitas manusia sama sekali tidak berpengaruh?

Zaman Es Diperlambat
Penelitian terbaru Andrey Ganopolsky dari Postdam Institute for Climate Impact Research di Jerman mengungkapkan, seharusnya bumi akan mengalami zaman es hanya dalam waktu 50 ribu tahun dari sekarang. Namun karena aktivitas antropogenik seperti pembakaran minyak, batu bara, dan gas, menyebabakan meningkatnya akumulasi CO2 di atmosfer sebesar 1000 hingga 1500 Gigaton. Sehingga kondisi ini akan memperlambat zaman es di bumi hingga 100 ribu tahun ke depan.

Ini menunjukkan bahwa meskipun perubahan iklim terjadi secara alami, aktivitas manusia juga berpengaruh terhadap perubahan iklim. Penelitian tersebut diterbitkan di Jurnal Nature pada Januari 2016.

Sebagai informasi, bumi yang kita huni telah mengalami 10 kali zaman es yang diikuti perubahan temperatur panas mendadak setelahnya hingga saat ini. Zaman es terakhir terjadi 12 ribu tahun yang lalu saat es menutupi Kanada, Eropa Utara dan Siberia.

Mungkin saat ini kita sedang berada pada pertengahan antara zaman es 12 ribu tahun yang lalu dan temperatur panas mendadak yang akan datang (entah kapan puncaknya). Kemudian 100 ribu tahun setelah itu bumi akan mengalami zaman es lagi seperti yang diperkirakan oleh Ganopolsky. Entah lah, Wallahua'lam.

Tak Perlu Histeris
Sehingga bijak sekali pendapat seorang aktivis lingkungan yang juga seorang gus, ketika saya temui tempo hari di sebuah pondok pesantren di Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Ia bilang bahwa manusia harusnya tidak perlu menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap perubahan iklim, karena pada dasarnya itu siklus normal bagi bumi. Kita tidak bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan itu.

Saya bukan sedang mewakili kelompok yang skeptis terhadap perubahan iklim, atau alih-alih kelompok yang pro. Saya masih mencerna. Ada ribuan probabilitas mengapa Tuhan menurunkan bencana pada suatu daerah. Ke semuanya bergantung pada individu yang mendiami daerah itu. Yang terpenting bagi kita sekarang adalah tetap menjadi manusia yang sadar diri dan bersyukur karena kita dititipkan di bumi.

Sumber:
Ganopolsky, R., et al. (2016) Critical insolation–CO2 relation for diagnosing past and future glacial inception. Nature. Vol. 529

Lindzens, S. R. (2009) Resisting Climate Hysteria. Quadrant Online. Diakses dari http://quadrant.org.au/opinion/doomed-planet/2009/07/resisting-climate-hysteria/ pada Senin, 04 April 2016: 10.00 WIB

Tulisan ini juga dimuat di Website ITS di sini

671 Views

More Journal from misbahulmunir misbahulmunir


Industri Bahan Bakar Fosil dan Oligarki Politik
4 years ago