Yang Terlihat dan yang Tak Terlihat dalam Kasus Reklamasi Teluk Jakarta

Written 11 months ago | 15 Views

Judul ini secara tidak langsung terinspirasi dari judul buku ekonom Perancis, yaitu Frederic Bastiat yang berjudul "What is Seen and What is Not Seen". Entah kenapa, ketika membaca judul buku tersebut dan sedikit pembahasannya, saya tertarik untuk meminjamnya menjadi judul dalam tulisan ini, meskipun harus saya akui bahwa sebenarnya, saya tidak terlalu menyukai pemikiran Bastiat dalam hal ekonomi yang sangat mendukung kebebasan pasar dan cenderung mengesampingkan proteksi negara terhadap kelangsungan pedagang kecil dalam konteks hari ini di persaingan pasar. Namun, tidak dipungkiri juga, saya terinspirasi oleh pemikirannya mengenai hukum dalam bukunya yang berjudul Hukum: Rancangan Klasik untuk Membangun Masyarakat Merdeka. Dengan demikian, itulah inspirasi yang telah saya sisihkan dari berbagai ketidaksetujuan tentang beberapa pemikirannya. Pemikirannya tentang hukum membantu saya melihat apa yang terkadang tidak terlihat pada sebuah permasalahan yang bersifat makro.

Tidak ingin berlama-lama membicarakan inspirasi tersebut. Saya akan langsung membahas mengenai ketertarikan saya terhadap permasalahan "Reklamasi di Teluk Jakarta". Permasalahan ini, sepengetahuan saya, khususnya isu mengenai reklamasi di Jakarta, telah berlangsung cukup lama, sebenarnya. Bahkan, pada saat tersebut, hal itu telah terlaksana. Ya, kebijakan mengenai reklamasi tercatat telah bergulir sejak tahun 80-an, ketika PT. Harapan Indah melakukan reklamasi di kawasan Pluit dengan cara penimbunan.

Ironisnya,...

Read More using Facebook Account